Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_64 Restaurant


__ADS_3

"Hahaha....." Diandra tiba-tiba tertawa melihat raut tegang tersirat di wajah Hana. "Tante becanda, Sayang. Kenapa kamu begitu. Wajahmu jadi terlihat jelek dong." Diandra merapikan rambut Hana. Diandra sudah tahu kalau Rangga menyukai Hana.


"I.. iya, Tante. Emang Tante ngomong apa tadi? Soalnya saya baru saja sampai?" Hana mengantisipasi sesuatu yang buruk dari wanita di depannya dengan cara menutupi apa yang tadi didengarnya.


"It's Oke. Ayo masuk, Rangga sedang menunggumu di dalam sejak tadi," tukas Diandra lagi. Tidak ada wajah sadis seperti tadi.


"Iya, Tante. Permisi...." Hana masuk keruangan Rangga dan meletakkan tasnya di atas kursi.


"Hey, sudah datang?" tegur Rangga mendongak menyambut kehadiran Hana. Lalu bangkit kearah rak berkas-berkas penting di atasnya. Berkas itu tertata sangat rapi.


"Iya, Rang. Apa pekerjaan kita hari ini?" tanya Hana masih sambil berdiri.


"Duduklah dulu. Kau lemas kan saja otot-ototmu. Kita akan akan pergi nanti." Rangga berbalik menghampiri.


Hana menuruti keinginan Bosnya. Perasaan Hana jadi takut berdekatan dengan Rangga.


"Oh iya, Han." Rangga memegang tangan Hana di atas meja namun Hana menariknya perlahan. "Oh.. maaf. Aku replek, Han," ucap Rangga terkekeh. Entah sengaja atau tidaknya Hana merasa tidak suka hal itu.


"Oke, emang kita mau kemana, Rang?" tanya Hana. Jantungnya berdegup risau.


Rangga hanya mengulas senyum dan tidak memberikan jawaban.


Di sebuah kamar minimalis di rumah Dafa, Melvin sedang mengenakan baju alakadarnya milik Dafa. Sekarang hanya itu yang dia terima. Dia harus bersabar lebih lama lagi untuk menyelesaikan permasalahan hidupnya.


"Bos, mau kemana sekarang?" tanya Dafa. "Perihal pembangunan taman hiburan itu berjalan lancar tapi aku tetap membutuhkan bantuan mu, Bos," tambah Dafa mengikuti gerakan Melvin berpindah memakai sepatu yang pastinya milik Dafa juga.


"Kau tanya saja pada Papa, Daf. Aku sudah tidak berhak lagi atas pekerjaan yang di serahkan Pak Dikha padaku," elak Melvin datar. Melvin memasukkan beberapa lembar kertas kedalam map yang akan Ia gendong di puggungnya.


Dafa memperhatikan kegiatan itu, hatinya iba. Meskipun Melvin sering marah-marah padanya tapi Ia sangat mengagumi Melvin.


"Bos akan cari kerjaan lagi?" Dafa memandangi wajah Melvin.


"Iya, apa yang bisa kulakukan sekarang, Daf?" timpal Melvin.


"Bos, Bos menginap saja disini ya. Jangan tidur di depan rumah orang." Sejahat-jahatnya Melvin padanya, Dafa tidak akan tega membiarkan Melvin luntang-lantung.


Melvin mengangguk kecil.


"Makasih ya, Daf. Kau masih mau berbaik hati meski aku sering potong gaji mu," tutur Melvin tak enak.

__ADS_1


"Gak papa, Bos. Kan seorang Bos emang harus menjadi pemimpin yang tegas jika bawahan membandel," ucap Dafa penuh keikhlasan.


"Aku benar-benar menyesal tidak mendengarkan kamu, Daf. Sekarang aku dalam kesulitan." Melvin menggendong tas besar di punggungnya lalu melewati Dafa yang masih terarah padanya.


"Kasihan, Bos Melvin. Hidupnya jadi berantakan gara-gara si ular kadut. Aku gak boleh tinggal diam ni. Aku harus bantuin Bos Melvin," gumam Dafa seorang.


Melvin melakukan penjelajahan lagi kesetiap perkantoran mau pun ke restauran ternama di tempat yang belum pernah di kunjungi juga meski sangar jauh dari tempat tinggal Dafa. Melvin cukup tenang karena Ia juga telah meminjam uang Dafa meski tidak seberapa banyaknya. Walaupun nantinya hanya di pekerjakan sebagai OB pun Ia siap.


Melvin tiba di sebuah restaurant, ragu-ragu Ia melangkah masuk. Begitu banyak tamu berkunjung di restaurant yang baru berdiri itu. Ia berniat ingin mengajukan surat lamaran sebagai pekerja apapun di restaurant itu jika diterima.


"Halo, Mbak!" sapanya di meja seorang perempuan. Dia adalah manager di restaurant itu.


Perempuan itu mengamati Melvin dan melihat Map di tangan Melvin. "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Perempuan itu. Namanya adalah Monica.


"Saya ingin mengajukan lamaran di restaurant ini siapa tau ada lowongan, Mbak," ujar Melvin yang sejak tadi menundukkan kepala.


"Oh.. iya ke beneran sekali. Ada sih kerjaan. Saya kekurangan tenaga untuk melayani para tamu yang datang," kata Monica. Ia mematikan laptop di hadapannya.


"Benarkah?" tanya Melvin tak menghiraukan kegiatan perempuan itu.


"Ya, boleh saya lihat map itu?" Gadis itu menengadahkan tangan.


Manager itu sibuk memeriksa isi di dalamnya. Lalu memandangi wajah Melvin.


"Waw, kau lulusan Universitas di Eropa. Mengapa kau tidak bekerja di kantoran?" tanya wanita itu penuh keheranan.


Melvin menyunggingkan senyum.


"Itu hanya sebuah pendidikan. Tidak menjamin mendapat pekerjaan bagus kan," jawab Melvin merendah.


"Oke, tapi kau yakin mau jadi pelayan. Kau terlalu tampan untuk itu," goda Sang Manager.


"Tidak masalah, Mbak. Asal saya di terima."


Manager berusia dua puluh empat tahun itu terkekeh.


"Baiklah, aku suka cowok seperti kamu. O ya, panggil aku Monica." gadis itu mengulurkan tangan. Cukup ramah orangnya. Melvin menyambut tangan gadis itu.


"Vin, ayo aku antar keruangan dimana kamu akan mengenakan seragam khas restaurant ini. Biar ku beri tahu kan kalau restaurant ini adalah restaurant baru. Tentu butuh banyak tenaga kerja di dalamnya," ucap gadis itu melangkah lebih dulu di buntuti oleh Melvin. Ia tahu nama Melvin pasti dari surat yang dibaca nya.

__ADS_1


"Kau beruntung datang tepat waktu, jadi kami belum banyak merekrut pelayan. Ingat ya.. jika ada yang bertanya kau harus tau menu utama restaurant ini adalah makanan dari jepang," ucap Monica lagi.


"Iya, Mbak," jawab Melvin.


"Hari ini Bos ku akan datang dan kalian akan di perkenalkan. Jadi ku mohon lakukan tugasmu sebaik mungkin. Ini semua demi kebaikanmu untuk tetap bertahan." Monica menghentikan langkahnya menatap Melvin.


"Satu lagi, kamu harus bersabar jika nanti bertemu pelanggan bawel yang bisa saja membuatmu kesal , kau mengerti?" panjang lebar Monica menjelaskan pada Melvin.


Melvin mengangguk.


"Bagus, aku menyukai itu. Konsistenlah," tukas Monica hingga mereka di ambang pintu. Monica mendorong pintu itu dan mengambil baju berwarna oranye dari dalam lemari kaca.


Melvin melepaskan lipatan pakaian itu dan melihat nama unit di punggung baju itu. (Pelayan Super?)


Melvin melirik Monica.


"Kenapa bukan nama restaurant yang ditulis, Mbak?" tanya Melvin menggaruk pelipisnya.


"Itu ide dari asisten Bos ku, Vin. Katanya biar beda dari restaurant lain. Kami memakai nama itu karena kami menganggap pelayan itu adalah pahlawan yang memberi penyajian makanan terbaik untuk para penikmatnya," ulas Monica.


"Oh.. oke. Unik juga ya," celoteh Melvin.


"Iya, jenius juga sih pikirannya sampai kesana," tilas Monica. Ia terus memandangi wajah Melvin. Ia terpesona akan ketampanan Melvin walaupun Melvin hanya orang miskin menurutnya. Tapi Wajah Melvin tidak menunjukkan kalau Ia berasal dari kalangan bawah. Tubuhnya putih bersih dan tegap. Sorot matanya tajam namun indah membuat Monica terpana.


Melvin merasa terganggu kala menyadari Monica tak mengalihkan tatapan bola mata nya dari wajah Melvin.


"Maaf, Mbak. Aku mau ganti baju," ucap Melvin membuat Monica tersentak.


"Oh iya,Maaf." Monica keluar dengan wajah malu.


...💐💐💐💐...


Dear to reader


Semoga ini tidak membuat kalian berhenti mendukung dan memberikan support untukku.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya berupa like, komen, Vote and bintang lima. Setangkai Mawar atau koffi hangat juga.


Terima kasih banyak apalah arti diriku tanpa kalian semua 😉😉😉👌👌👌💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2