Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_99 Manja


__ADS_3

Malam itu menjadi malam spesial untuk Dafa dan Rindy. Mereka lah raja dan ratunya yang menjadi pokus utama.


Melvin tetap tak mau kalah, Ia menyuapi Hana dengan sangat romantis di antara puluhan lampu yang berpijar terang. Itu mereka habiskan cukup lama.


Sekitar pukul sepuluh malam barulah mereka pulang. Melvin dan Hana melihat Mama Maya masih menonton televisi. Melvin meminta Hana kekamar lebih dulu.


Ia ingin berbicara hal penting pada sang Mama. Ia tidak ingin Hana mendengar jika nanti sang Mama yang telah melahirkannya menolak.


"Ma, belum ngantuk?"


"Belum, Sayang. Jangan sering keluar malam kasihan istrimu. Jangan sampai kurang istirahat."


"Iya Ma, ada yang ingin Melvin sampaikan. Melvin harap Mama tidak marah," ucap Melvin ragu.


Mama Maya tersenyum, Ia tak pernah sekali pun marah pada putranya itu.


"Katakan, Sayang. Mama juga ingin tahu. Apakah itu masalah, Hana?"


Melvin menunduk dan menenggelamkan wajahnya di pangkuan Maya. Tak sampai hati jika nanti kata-katanya menyakiti Sang Mama tercinta.


Maya mengangkat kepala Melvin dan menatap tulus.


"Katakan, Nak. Mama tidak pernah melihat mu takut begini saat kamu ingin bercerita."


"Ini bukan masalah Hana, Ma. Tapi Papa." Melvin kelu.


Maya menghela nafas panjang. Rasanya Ia tak ingin lagi membahas soal pria itu.


"Ada apa dengan nya?"


Melihat perubahan Maya, Melvin duduk di samping Maya.


"Ma, aku tidak akan katakan jika Mama tidak suka. Aku bermaksud ingin menolong Papa, Ma."


Maya menoleh sinis, Lalu beranjak dari duduknya. Sakit hatinya pada Prabu belum sepenuh nya sirna.


"Untuk apa? bukankah dia sudah membuang kita, Vin dan hidup bahagia dengan Diandra?" tanya Maya meninggikan intonasi suaranya.


Melvin menggeleng.


"Tidak, Ma. Papa menderita. Dia mengalami lumpuh dan Sekarang ada di panti Jompo."


Maya tersentak.


"Kenapa?"


"Papa sudah tidak berdaya, Ma. Pasti karena itu, Tante Diandra dan Rangga mengirimnya ketempat menyedihkan itu," jujur Melvin.


"Itu karmanya," geram Maya terpuaskan.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, Vin?"


"Aku ingin memindahkan Papa ke sebuah rumah dimana tempat itu lebih layak untuk Papa, Ma. Dari situ kita bisa merawat Papa agar segera pulih."

__ADS_1


"Membeli rumah baru?"


"Iya, Ma."


"Tidak, kau bawa saja kesini."


"Tapi, Ma_?"


"Aku yang akan merawat pria egois itu dan menunjukkan padanya kalau aku lebih baik dari selingkuhan nya Diandra."


"Mama yakin?"


"Turuti saja."


"Bagaimana hubungan Mama dan Om Gany?"


"Mama sudah memutuskan untuk hidup sendiri, Vin. Itu akan Mama jelaskan pada Gany nanti," jawab Maya sekuat jiwa berbesar hati menerima Prabu.


"Jika itu sudah keinginan Mama, besok aku akan menjemput Papa, Ma."


Maya mengangguk. Dari dulu Maya belum membuang perasaan nya terhadap Prabu namun Ia hanya menyimpannya dalam karena terkikis luka dan air mata yang di torehkan Prabu selama ini.


Kamu lihat, Mas. Betapa hebatnya putra mu ini meski kau selalu menolaknya...


Keesokan harinya. Hana membantu bibi menyiapkan sarapan. Tepat di waktu Hana sendiri Arya menghampirinya.


"Han..!" panggilnya.


Hana terkecoh dan menoleh. Hana hendak pergi tapi Arya menahan lengannya.


Terbalut kesedihan di wajah Arya diiringi satu tetesan air mata.


"Maaf, tapi aku_."


Arya menarik Hana dan memeluknya erat.


"Aku merindukanmu, Han. Setiap hari aku tersiksa. Entah sampai kapan aku bisa menghapus wajahmu dari benakku," tukas Arya.


"Lepas, Mas. Tolong sadar, aku ini sudah bukan lagi milikmu," cecar Hana sambil memberontak.


"Tidak, aku kangen sama kamu, Han. Aku sudah tidak sanggup menyimpannya."


"Mas, jangan gila. Lepaskan aku..." Hana menyikut perut Arya hingga Arya mengaduh.


"Kenapa, Sayang?" tanya Mama Maya yang baru muncul.


"Ti_tidak, Ma. Perut ku mulas." Tentu saja Arya mengelak takut ketahuan Melvin.


Hana mengusap embun dari kelopak matanya dan meninggalkan ruangan itu.


Hana memilih diam di kamar dan menangis benci.


"Kenapa kau kembali sih, Mas? Aku sudah bahagia. Jangan kau rusak kedatangan dirimu itu. Dulu saat aku sangat mencintai mu. Kau meninggalkan aku begitu mudahnya di hari penting kita."

__ADS_1


Hiks.. hiks..


"Kau malah menyerahkan aku pada adikmu seperti barang, sedang aku tidak mengenal dirinya waktu itu."


"Aku benci kamu, Mas Arya. Aku benci!" Hana melempar bantal ke daun pintu dan mengenai wajah Melvin.


"Aduh, Sayang. Ada apa dengan mu? kok pagi-pagi sudah marah sih?"


"Melvin..." Hana berlari dan memeluk suaminya. Ia ingin melupakan rasa marahnya di dada bidang yang kini jadi tempat ternyaman nya.


"Kenapa, ha? kasih tau aku. Apa ada yang sakit?" Melvin memeriksa suhu tubuh Hana. Ia khawatir Hana mengalami yang namanya stress dan bisa membahayakan bayinya.


"Gak papa, aku cuma lagi kesel aja kok. Aku mau makan nasi goreng," ucapnya tak ingin ada perdebatan saudara jika Ia jujur.


"Oh, mau nasi goreng. Kenapa gak bikin, Sayang?" Melvin mengusap air mata di pipi Hana. Ia tidak mengizinkan wanita yang di cintai nya menangis lagi.


"Aku gak mau buat sendiri, Aku maunya kamu yang buat, spesial," rengek nya manja.


"Ya ampun, istriku. Manja banget sih." Melvin mencubit gemas kedua pipi Hana. Ia segera merangkul Hana kearah dapur.


"Bi, ada sosis?" tanya Melvin pada Sang ART.


"Ada di kulkas, Den."


"Ya sudah Bibi sarapan saja dulu, aku mau bikin nasi goreng untuk Istri ku!"


"Baik, Den."


Hana hanya jadi penonton melihat kelihaian Sang suami terhebat yang kini jadi miliknya. Lelaki yang tak pernah Ia pikirkan bisa menjadi pendamping hidupnya.


Terima kasih sudah menjadi suami terhebat, Vin. Aku sangat mencintai kamu dan anak kita Sampai kapan pun...


Hana mengelus-elus perutnya yang kian hari bertambah besar. Melvin melihat sepintas dan tersenyum.


Sayang, aku akan lakukan apa pun untuk kalian. Tak kan ku biarkan seseorang menyakiti kalian seujung kuku pun...


Nasi goreng akhirnya matang, Melvin akan membawanya ke meja makan tapi Hana menahannya dengan cara memeluknya dari belakang.


"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Melvin senang. Kemanjaan Hana menambah besar rasa cintanya.


"Kita makan disini saja ya? sudah lama kita tidak makan sepiring berdua?"


Melvin mengerutkan dahi. Sejak kapan mereka makan sepiring berdua padahal itu tidak pernah terjadi.


"Baiklah, ini kali pertamanya, Sayang."


"Ha? iyakah. Itu artinya mulai sekarang kau harus terus melakukanya," kata Hana.


"Tiap hari?"


"Iya, pagi, siang dan malam," jawab Hana lagi.


"Oke, deh. Ayo makan dulu. Kasihan dedek bayinya kelaparan nanti!" Melvin mengalah dan memanjakan Sang Istri sepenuh jiwa raganya.

__ADS_1


.


__ADS_2