
Ketika Melvin masih menyibukkan diri memperhatikan Hana dalam kolam renang, Tiba-tiba Ia melihat dari kejauhan ada sebuah mobil berwarna biru masuk ke halaman depan rumah mereka. Itu adalah Rangga dan Mama Maya. Mereka turun dari mobil secara bersamaan. Ada hal yang tidak wajar terbersit di benak Melvin. Mungkin Rangga sengaja mendekati Mama Maya setelah mengakui kalau Ia sahabat Hana untuk memudahkannya bertemu Hana. Entah dimana mereka bertemu, Melvin menebak kalau Rangga punya maksud terselubung.
Mama Maya mengajak Rangga masuk lalu mengantar Rangga ke halaman samping dimana Hana tengah berada.
Melvin melotot tajam menyaksikan itu, Ia tidak menyukai cara Mama Maya.
"Sial, mau apa pria itu?" Melvin menjejaki kakinya untuk turun kebawah. Ia tidak mau Rangga melihat Hana dalam kondisi memakai baju super ketat.
Rangga menyambangi Hana dengan senyum kagumnya. Di amati nya cara Hana berenang.
Prok! Prok!
"Waw, tak kusangka kau pandai berenang, Hana!" Sapa nya disertai tepuk tangan.
Hana menoleh kemudian mengulas senyum.
"Hey, Rang. Sejak kapan ada disana?" tanya Hana balik. Hana kemudian beralih berenang kearah Rangga yang tengah duduk berjongkok.
Rangga terkekeh, Ia tidak mungkin mengaku kalau Ia merindukan Hana. Setiap detik, wajah Hana selalu mengganggu pikirannya. "Tadi aku bertemu Mama mu di Mall. Lalu ku tawarkan diri untuk mengantar beliau," tutur Rangga bercerita.
"Oh..oya? terima kasih ya, Kau sangat baik Rangga."
"Ahk, itu bukan masalah besar, Han."
"Oke, Maaf ya. Aku mau ganti baju dulu. Aku sudah terlalu lama berendam didalam air, takut masuk angin."
Rangga kembali melihat Hana mulai menepi kearah tangga Mini. Baru juga sampai diatas Melvin langsung menyelimuti tubuh Hana dengan handuk.
Hana mendadak berdebar ketika mendapat perhatian dari Melvin padanya. "Terima kasih, Vin," kata Hana.
Melvin mengangguk kecil kemudian beralih memandang Rangga. "Thanks, Rang. Kau sudah baik pada Mamaku," ucap Melvin menambahi penuturan Hana tadi.
Rangga terpaksa mengumbar senyum. Ia tidak ingin menunjukkan kebenciannya pada Melvin didepan Hana.
"Tidak masalah. Aku hanya ingin menjalin silatuhrahmi dengan keluarga mu."
"Terimakasih atas niat baikmu, Rang." Melvin mengakhiri perbincangan nya dengan Rangga lekas merangkul Hana dan membawanya masuk. Entah apa maksud Melvin bersikap demikian, mungkin Ia sengaja membuat Rangga cemburu.
__ADS_1
Rangga jadi kian tertantang untuk merebut hati Hana. Bisa-bisanya Melvin begitu sombong padanya. "It's, Oke, Selangkah lagi semua akan kau rasakan, Vin." Rangga berdecak kesal mengumpat Melvin. Hatinya sudah seperti bongkahan kristal yang membengkak.
Kantor Wijaya Cooperation
Dafa si asisten konyol tengah menata semua berkas di atas meja Melvin. Ia masih menunggu kedatangan Bos angkuh nya itu. "Setiap hari bekerja begini kok gk pernah naik gajih sih yang ada dipotong melulu. Kapan kayanya ni," Oceh Dafa seorang diri sambil menggeleng-geleng kan kepala. Tak habis pikir bisa betah menjadi kacungnya Melvin bertahun-tahun meski gajinya terus di aniaya.
Sesaat Dafa terpaku pada foto Clara yang menjadi pajangan utama diatas meja. "Ck, Bos, Bos. Kapan sih lo sadar dia ini gak pantas sama kamu. Mudah-mudahan Mbak Hana cepat mengandung juniornya Bos Melvin biar Clara nyahok."
Dafa sangat yakin kalau Clara bukanlah wanita yang pantas untuk mendampingi Melvin.
Baru saja mau keluar Dafa dikagetkan oleh kedatangan Clara.
"Dafa, Melvin dimana?" tanya Clara dengan nada marah.
"Lah ini dia si ular betina panjang umur juga rupanya."
Dafa memonyongkan bibir. "Gak tau ya masih mengurus istrinya kalik," jawab Dafa datar tanpa menghiraukan kalau ucapanya mengundang emosi Clara semakin besar.
"What? apa maksudmu Dafa. Mana mungkin Melvin mengurusi perempuan perebut itu," kecam Clara menyangkal.
"I Don't know?" Dafa mengangkat bahu. "Saya kan bukan Istrinya jadi saya tidak tahu," jawab Dafa lagi.
"Dafa, mengapa kau selalu menentang ku, ha?"
Dafa mendekati Clara kemudian menyodorkan bingkai Foto miliknya. "Bawa pergi, ini sangat menganggu," ucap Dafa tanpa mau melihat Clara.
Clara melongo.
"Apa-apaan ini, kau mau dipecat Bos mu ya!"
"No, tapi aku yang mengatur ruangan ini. Jadi aku berhak membuang semua sampah tidak berguna," jawab Dafa.
Clara semakin gerah dibuatnya.
"Hati-hati bicara mu, Dafa. Kau akan mendapat masalah," ancam Clara pada Dafa tapi Dafa tidak terlihat takut sama sekali.
Dafa lebih dulu mengenal Melvin dibanding Clara. Dafa tidak pernah sekali pun melihat Melvin berniat memecatnya selain potong gajih.
__ADS_1
"Aku kasihan padamu, Nona. Kau yakin Bos Melvin akan menceraikan Nona Hana? Em... ." Dafa menjeda kalimatnya sambil mengetuk-ngetuk kan Ibu jarinya dibibir. Harap-harap cemas Clara menanti kelanjutannya.
"Emz.. apa, Daf?"
"Nona Hana hamil," bisiknya sambil melangkah keluar.
Wajah Clara merah padam, berarti Melvin telah menipunya selama ini. Bilang tidak Cinta pada Hana tapi nyatanya membuat Hana sampai hamil bahkan Melvin pun tidak menceritakan kejadian itu.
"Melvin...!" teriak Hana. Dibantingnya foto miliknya sendiri kelantai dan bergegas keluar untuk menemui Melvin kerumahnya.
Hana dan Melvin masih di dalam kamar, Hana memegangi handuk yang melilit di tubuhnya setelah selesai membilas tubuh di kamar mandi. Sedang Melvin masih bertelanjang dada hendak bersiap kekantor.
Sesaat Hana terpaku mengamati tubuh gagah milik Melvin. Hana terpukau menatap lekuk tubuh aduhai tersebut. Melvin memanglah sangat tampan jika dibandingkan dengan Arya. Tubuhnya tegap berotot, aroma yang khas dengan Maskulin membuat seluruh kaum hawa terpesona melihatnya. Mungkin benar kalau dulunya Melvin suka berolah raga hingga membuatnya semakin terlihat segar.
Melvin menyambar kemeja putih di atas ranjang dan mengancingkan pakaian miliknya satu persatu. Kemudian Ia celingukan tidak melihat ada dasinya di sana. Hana pasti lupa menyiapkan semua itu karena sedikit terburu-huru.
Hana memahami hal itu, Hana tidak memperdulikan keadaanya yang hanya mengenakan handuk mini mouse tipis dan segera mengambilkan kebutuhan Melvin. Seperti biasa Hana menyeret kursi kecil untuk menumpukan kaki nya guna memakaikan dasi itu pada Melvin.
Melvin tertegun memandangi wajah Hana tak disadari telah menggugah gairah lelakinya. Rambut basah dan wangi aroma sabun di tubuh Hana yang mulus menelisik geli di Indra penciuman nya. Meski tanpa make over, Hana benar-benar sempurna dan itu membuat hati Melvin bergetar.
Melvin menurunkan pandangannya untuk menghilang kan perasaanya. Ia justru malah makin terbius melihat belahan dada Hana karena handuk yang dipakai Hana sedikit turun kebawah dan memperlihatkan garis pemisah dua gundukan kenyalnya yang padat. Melvin mencoba meleguk salivanya, seakan-akan tidak ingin lengser dari kerongkongannya
Susah payah Ia alihkan pandanganya keatas menunggu sampai Hana selesai. Namun tak sanggup, Ia tidak mungkin membiarkan handuk Hana luruh kebawah dan semakin memacu adrenalin nya dihari yang baru beranjak siang.
Hana sempat terkejut saat tiba-tiba memeluk tubuh Hana erat-erat dan menahan ujung handuk yang sudah terbuka menampakan punggung halus dan sedikit bokong berisi milik Hana. Sambil terpejam-pejam Melvin berusaha menaikkan handuk itu untuk menahan rangsangan yang tidak sengaja tercipta.
"Vin, Apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil masih mengangkat dua tanganya.
"Diam lah, aku hanya ingin membantumu. Kecuali kau ingin memamerkan nya padaku," desis Melvin membuat Hana tersipu.
"A.. apa ha.. handukku lepas?" tanyanya gugup.
"Iya, kau sudah membuatku lapar lagi karenanya," goda Melvin tersenyum tipis di telinga Hana.
"A.. apa?" Bola mata itu kian indah membulat.
Melvin menaikan kedua sisi handuk Hana lalu melepaskan pelukannya hingga Handuk itu menyatu di dada Hana yang langsung diambil alih oleh Hana.
__ADS_1
"Hati-hati. Meski aku tidak mencintaimu aku bisa saja khilaf berkali-kali kan?" Melvin meninggalkan ucapan terakhirnya sembari melenggang pergi.