Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_21 Konyol


__ADS_3

Hana mendongakkan kepala menatap punggung Melvin yang semakin menjauh. Ia benar-benar tidak bisa mengerti akan reaksi Melvin barusan. Sedangkan Mama Maya hanya bisa mengurut dada.


Baru saja sampai diambang pintu, Ponsel milik Melvin bergetar.


Drrrrttt! Drrrrttt!


Melvin segera meraih ponsel di saku kemejanya.


"Pak Dikha, mau apa dia?" gumam Melvin seorang diri. Sedikit mengernyit bingung karena kemaren pertemuan mereka sudah diel.


Melvin menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu di daun telinganya.


"Selamat pagi Pak Dikha!"


"Pagi Pak Melvin, maaf mengganggu. Saya ada perlu dengan anda," jawab Pak Dikha yang mendesis lirih ditelinga Melvin.


"Oh iya, ada perlu apa Pak?" Melvin siap mendengar maksud Pak Dikha.


"Proyek kita yang daerah itu kan sudah akan mulai besok, jadi saya berniat mau ikut juga. Rekan bisnis kita Pak Iwan akan mengadakan party di wilayah itu dan dia mengundang anda dan Saya kesana."


"Maksudnya Pak? saya kurang mengerti?" Melvin memijit keningnya mendadak pening.


"Kau ajak istri mu ya, kita akan menginap lama disana. Aku sudah membooking sebuah penginapan yang cukup nyaman untuk kita."


"A... apa? istri?"


"Benar Pak, sekalian kau bawa istrimu. Bapak Melvin tenang saja aku juga membawa serta istriku. Itung-itung kita bulan madu lah," gurau Pak Dikha.


"Sial, mengapa dadakan begini?"


"Halo, Pak Melvin. Kau masih disana?"


"Oh i... iya Pak."


"Cepat berkemas, kita bertemu di sana. Nanti aku share lokasinya."


"Oke Pak, saya akan pergi bersama istri saya."


"Good, saya tunggu."


"Oke Pak."


Setelah ponselnya mati, Melvin celingukan bimbang lalu terpaksa kembali kedalam rumah.

__ADS_1


Mama Maya dan Hana yang sibuk menyimpan kembali menu diatas meja menoleh kearah dirinya.


"Kok balik lagi?" tanya Mama Maya. "Ada yang tertinggal?" imbuhnya.


Melvin ragu untuk mengatakan niatnya.


"Hana, kemasi barang kita!" perintahnya dengan suara berat.


Hana terpaku menatap Melvin, yang enggan melihat kearahnya.


Mama Maya menatap keduanya secara bergantian.


"Memangnya kamu mau mengajak Hana kemana, Nak?" cecar Mama Maya.


"Ada tugas dari proyek yang aku kerjakan dengan Pak Dikha, Ma," jawab Melvin sedikit cuek. Antara mau dan tidak menyampaikan ucapannya.


"Oh...." Mama Maya membulatkan bibirnya cukup lama kemudian tersenyum. "Bagus itu, itung-itung bulan madu," lanjutnya.


"Tolong cepat ya, ini sudah siang!" pinta Melvin lagi. Kali ini Memandang Hana yang masih berdiri di depan meja.


Hana tak menjawab dengan suaranya dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia berpamitan pada Mama Maya untuk kekamar karena belum sempat mencuci piring yang baru saja terpakai.


Melvin mengikuti Hana masuk kekamar guna melihat sendiri kalau barang yang dibawa Hana bukanlah barang rendahan karena itu akan membuat malu dirinya di sana. Meski pun hampir semua baju milik nya hasil jahitan nya sendiri tapi menurut Melvin kualitas kain yang Hana jahit hanya kualitas rendahan.


"Bawa gaun dan dress terbaik yang aku belikan kemaren dan ya, untuk baju tidur kamu gak perlu bawa. Aku akan membelikan yang terbaik nanti," ketus Melvin dengan sombongnya.


Hana menghentikan sejenak aktivitasnya yang menata baju kedalam koper dan menatap lekat kearah Melvin yang enggan melihatnya.


"Vin, baju tidur aku banyak yang bagus kok. Untuk apa menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli baju. Lebih baik uang nya kita tabung buat masa depan kita kan?"


Melvin memijit tanganya dan mendadak bangkit dari tepi ranjang. "Jangan membantah, aku tidak suka itu. O ya satu lagi sesuaikan riasan mu dengan istri dari pengusaha itu. Jangan sekali-kali keluar tampa make-up!" ujar Melvin dengan tegas.


Hana lagi-lagi menunduk takut saat Melvin mulai marah.


"Kok diam, cepetan. Kalau dulu aku menikahi Clara, aku tidak perlu berpesan seperti ini pada mu," jengah Melvin. Tatapannya begitu mengerikan.


Setelah mengoceh, Melvin mengutak-atik ponselnya guna mengirim chat Wa pada seseorang.


Begitu pula Hana yang mempercepat pekerjaannya memasukkan beberapa daun dan dress terbaik. Ia juga sudah memilihkan beberapa steel pakaian untuk Melvin.


Selesai berkemas dan berdandan, keduanya berpamitan pada Mama Maya karena Papa Prabu belum kembali dari luar kota.


Dalam perjalan panjang hari itu, tak ada sedikitpun perbincangan antar keduanya. Keduanya bisu bagaimana patung Pancoran. Tapi Hana yang notabennya agak bawel, tidak betah selama itu dalam diam.

__ADS_1


Hana menyetel musik Disco untuk menghibur hatinya dengan suara yang cukup keras. Melvin memperhatikan gerakkanya lalu melirik Hana di sampingnya, kemudian mematikan Musik tersebut tampa protes.


Hana mengerutkan dahi melihat itu, tapi Ia punya ide lainnya. Ia meraih sebuah gantungan tas mini lucu milik Clara tertinggal disana, Ia ambil dan itu Ia putar-putar ditangannya sambil senyum-senyum sendiri. Melvin lagi-lagi tak suka rupanya dan merebut gantungan kunci tersebut dan melemparkannya pada tempatnya semula.


Hana menjadi manyun sendiri dengan kelakuan Melvin yang melarang apa saja yang Ia kerjakan.


Hana punya ide baru, Ia mengeluarkan sedikit kepalanya keluar jendela mobil lalu merentangkan sebelah kiri tanganya disana. Wajahnya tampa bahagia, tapi lagi-lagi Melvin menarik tangannya.


"Astaga, kenapa sih Vin?" protesnya kesal.


"Apa kau sudah gila, Ha? itu berbahaya untukmu," bentak Melvin.


"Masak sih,ngomong saja kalau kamu gak suka liat aku senang?" Bibir Hana mengerucut.


Melvin khilaf, Ia terpanah dengan bibir merah merona didepannya tesebut. Polesan lipstik nya tidak tebal tapi melihatnya saja membuat Melvin seperti sedang mencicipi madu.


"Apa kau selalu konyol dalam segala hal?" sindir Melvin.


Hana menyipitkan bola matanya.


"Maksud mu?"


Melvin membuang muka.


"Kau sadar tidak? kau tidak pernah melakukan sesuatu dengan becus." Melvin meninggikan suaranya.


Hana menyandar di kursi menempelkan punggungnya.


"Emang iya, baru tahu?" Hana melipat tangan dan memilih menatap kearah jendela karena sungkan melihat laki-laki yang selalu merusak kebahagiaan yang Ia lakukan.


"Heh, aku memang tidak mencintaimu. Tapi aku tidak mau kau terluka selama kau masih menjadi status istriku," tandas Melvin.


Hana kembali menoleh kearah Melvin karena ucapan Melvin yang baru saja Ia lontarkan. Melvin mulai pokus menyetir dan mempercepat laju mobilnya setelah memasuki jalanan bertebing.


Sekitar tiga jam lamanya dalam perjalanan mereka tiba disebuah motel yang sangat asri.


Kedatangan mereka sudah disambut oleh penjaga Motel yang berdiri di samping pintu masuk.


"Dengan Pak Melvin dan Nona Hana?"


Melvin mengangguk.


"Oh iya silahkan masuk, ini kuncinya. Nomor kamar kalian sudah tertera di gantungan itu." Resepsionis menyerahkan kunci yang Ia maksud dan langsung diterima oleh Melvin.

__ADS_1


Baru saja membuka pintu, Melvin dan Hana kaget melihat ranjang di depan mata mereka.


__ADS_2