
Di rumah mewah di daerah Y. Diandra sedang menyiapkan secangkir susu coklat untuk Prabu. Masalahnya bersama Maya dan Melvin membuat Prabu cukup tertekan. Prabu duduk menyandar di sofa sembari memijit kepalanya yang pening.
Ia memutar lagi ingatannya pada kata-kata Melvin dan Maya tadi. Ada sesal dihatinya namun di kalahkan oleh amarah. Semua sudah di kubur bersama masa lalu. Prabu harus menerima kenyataan kalau Ia dan Maya telah berpisah.
Wanita yang pernah Ia dan Gany perebutkan semasa muda.
Rasanya Ia sudah cukup bersabar hidup bertahan bersama Maya selama itu tanpa cinta lagi hanya kebencian yang membumbung di dalam dasar hatinya.
"Minum, Mas. Selagi masih panas," tukas Diandra di serta senyuman manis.
Prabu menurut dan meminum air itu. Beberapa menit menelan dua tegukan tubuhnya terasa keram. Prabu tidak curiga mungkin efek kelelahan. Prabu teguk lagi susu itu sampai habis tiba-tiba tanganya terasa kaku menjalar ke seluruh tubuhnya. Cangkir dalam genggamannya jatuh kelantai.
"Di..Diandra apa yang terjadi dengan ku. Ke.. kenapa tubuhku kaku. Ba.. Bahkan kerongkonganku terasa terbakar?" tanya Prabu terkulai di sofa tak bisa bergerak.
"Mungkin karena kamu sudah tua, Mas," jawab Diandra tersenyum miring. Diandra sudah merencanakan itu dengan Rangga setelah Diandra berhasil membujuk Prabu menceraikan Maya.
"Mang, bawa kekamar belakang!" perintah Diandra pada anak buah nya.
Prabu melotot tak percaya. Diandra rupanya iblis betina. Diandra sengaja melakukan itu tentunya.
"Ka... kau ." Prabu ingin mengangkat tangan dan menunjuk serta mengumpat Diandra yang sudah menipu nya tapi Ia tak berdaya.
"Sudahlah, Mas. Kau itu lumpuh, kau tidak akan mampu bergerak lagi," ucap Diandra santai sambil menopang dagunya. "Kau pikir aku sungguhan mencintaimu selama tujuh belas tahun. Aku gak mungkin sudi kalau bukan karena uang mu," kata Diandra. Menjentik-jentikan kukunya di depan Prabu.
Prabu ditidurkan di kamar pembantu pada ruangan sempit. Ingin protes pada Diandra tapi bicara saja kesulitan.
"Kau keterlaluan Diandra, jadi selama ini kau hanya ular berkepala dua. Aku sudah buta menikahi dirimu itu dan menceraikan Maya. Oh Tuhan apa ini? Tubuhku serasa mati," batin Prabu merutuki kebodohannya.
Pembantu Diandra menyelimuti Prabu di awasi oleh Diandra.
Diandra nampaknya puas memperhatikan kelemahan Prabu Wijaya.
"Mas, Mas, malang sekali sih nasibmu. Kau harus terbaring tak berdaya seperti ini demi mulusnya rencana Rangga," kata Diandra membelai wajah Prabu. Prabu ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Mulutnya hanya bisa menganga tak bersuara.
"Sudahlah kau tidak usah bicara kesulitan seperti itu. Aku tahu hatimu ini, Mas. Aku bisa menebak apa yang akan kau sampaikan. Kau menangis darah, bukan? Hahaha....."
"Katamu Melvin itu bukan anak mu, anak siapa? Gany
ya Mas? jadi bolehlah kalau dia di bikin khek oleh Rangga agar tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungannya dengan Hana," tambah Diandra dengan wajah culas.
"Apa? jadi Rangga punya niat terselebung..?"
__ADS_1
"Mas, jangan melotot gitu ahk, aku gak takut soalnya. Kamu terlalu lemah lo, aku senggol dikit aja kamu pasti jatuh," senyum Diandra sekarang kentara jelas. Diandra telah mengatur segalanya sedemikian rupa membuat Prabu merasakan akibatnya.
"O ya, Mas. Aku tak jalan dulu jangan nakal ya. Aku ditungguin pacar ku ni, bay," Ucap Diandra lagi tanpa bisa dijawab Prabu yang kian geram.
Diandra berlalu meninggalkan Prabu dan bersenang-senang di luaran sana.
Rumah Sakit
Lampu ruang operasi telah padam. Itu menandakan operasi Paman Roy telah usai. Dokter dan beberapa rekanya sesama profesi keluar di sertai wajah bahagia.
"Syukurlah, operasi sesuai harapan. Semoga Pak Roy secepatnya pulih," ujar Dokter pada Hana dan yang lainnya.
"Alhamdulilah, syukurlah. Terima kasih, Dok," jawab Hana seraya bernafas lega.
Rangga melirik Hana. Jujur saja Ia tidak sabar ingin memiliki Hana. Seminggu rasanya setahun. Itu pasti sangat menguras pikirannya untuk segera menikahi Hana.
"Hana, setelah ini bersiap-siaplah," tilas Rangga mengingatkan. Wajah Hana yang semula cerah kembali redup. Ia mengangguk membalas ucapan Rangga.
Malam itu Hana menolak pulang dengan Rangga dan memilih pergi sendiri. Rupanya cuaca akan hujan, angin berhembus begitu dingin. Bahkan suara petir juga tampak mengerikan meski pun takut, Hana terus berjalan sampai Ia mendapatkan tukang ojek.
Tapi entahlah tidak ada tukang ojek satu pun lewat di sana. Mungkin mereka enggan narik malam karena cuaca nya cukup ekstrim.
Hana lewat di depan sebuah gang, ada beberapa lelaki berwajah urakan melihat dirinya.
"Hayuk lah, sayang nganggurin cewek bening."
Keduanya menghampiri Hana dan menoel dagu Hana yang dengan cepat ditepis Hana, Hana semakin ketakutan dan memeluk tangannya. Dua orang itu seperti nya sedang mabuk atau sedang kendali barang sejenisnya. Tampang mereka sedikit kurang waras.
"Mau apa kalian?" teriak Hana gemeteran sambil memperhatikan gerakan mereka takut di terkam.
"Ayolah Hany bany Sweeetot.. ehk apa Jang?" tanya seorang pada temannya.
Si petak menyungut si yang bertanya.
"Dasar goblok, Hany bany swekty bacanya," tutur se orang tak sadar sama bodohnya.
"Hahaha....," keduanya cekikikan.
Aji mumpung, Hana punya kesempatan kabur dari mereka yang fokus berbincang. Perlahan Ia melangkah mundur dan melepaskan sendalnya lalu berlari sekencang-kencangnya.
"Wah, Jang. Dia kabur ayo kejar...! ajak si petak.
__ADS_1
"Ayok, cepetan!"
Hana terus berlari tanpa henti berusaha menghindari mereka di tempat itu, Ia celingakkan mencari orang untuk dimintai tolong tapi tidak ada satu pun orang disana.
"Hei cantik tunggu dong, kamu mau ngajak kita pemanasan dulu ya?" tanya salah seorang lagi yang mengejar Hana sama cepatnya.
"Iya, kalik. Biar berkeringat," jawab si petak lagi-lagi melebarkan jenjang kakinya mengejar Hana.
"Tolong! Tolong!" teriak Hana semakin diburu rasa panik.
Bruk!
Hana terjatuh, kaki nya masuk kedalam jalan berlubang.
"Aw..." Hana meringis bisa jadi kakinya terkilir.
Dua orang itu tertawa lagi, Hana ngeri melihatnya bagaimana tidak mereka sudah seperti anjing menggonggong.
"Mau apa kalian? pergi!" usir Hana.
Hana nekat bangkit tapi Ia terjatuh lagi.
"Sudahlah, Sayang. Kamu nyerah aja aku gendong ya," tawar si petak.
"Aku ajalah liat otot ku besar," tawar seorang lainnya menunjukkan atraksi menaik turun kan lengan seolah mengangkat barbel.
"Tidak, pergi. Tolong...!" teriak Hana lagi berharap ada pahlawan malam itu. Bahkan hujan mulai turun rintik-rintik menambah gelora kedua lelaki preman itu.
"Wah, asyik ni. Dingin-dingin bisa angetan. Hehehe...."
"Tidak jangan sentuh aku, pergi!" Tergurat wajah ketakutan di dalam bola matanya.
Di jalan lainnya, Melvin merasa kesal Ia tetap tidak bisa menemukan pekerjaan yang sudi menerima dirinya hingga akhirnya Ia habiskan waktunya di sebuah taman di daerah E.
"Sial, mengapa sulit sekali mencari pekerjaan. Apa kurangnya aku, padahal aku bisa menggunakan laptop tapi mereka benar-benar tidak punya hati. Apa aku seburuk itu." Melvin terus ngedumel sepanjang jalan dongkol membuatnya terus mengomel tanpa henti.
Gelegur..!
Melvin mendongak kelangit tanpa sadar tersenyum Ia ingat sekali ketika Hana memeluk erat tubuhnya saat ada cuaca seperti ini.
"Sedang apa dia? apa dia sedang di peluk orang atau memeluk guling? ahk, Bisa jadi dia sedang bersembunyi di dalam lemari," gumam Melvin pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Melvin menatap jauh kedepan. Ia melihat dua orang itu menggoda seorang wanita.
"Brengsek, bisa-bisanya hujan, gelap dan sepi begini mereka mau berbuat bejat!" maki Melvin kesal.