
Mereka tiba di rumah sakit. Melvin yang hendak memapah Hana langsung di tepis oleh Hana.
"Tidak usah, aku bukan anak kecil," nyinyir Hana. Melvin segera mengikuti Hana karena Hana sudah berjalan lebih dulu.
Keduanya bertemu dengan Dokter perempuan di sebuah ruang pemeriksaan. Serangkaian pengecekkan di lakukan oleh sang dokter untuk memastikan kondisi Hana dan calon bayi mereka.
"Alhamdulilah, Ibu dan bayinya sangat sehat, Tuan. Tolong jangan membawa beban berat ya dan jangan lupa minum terus vitamin nya sampai habis!" pesan Sang Dokter terus mengingatkan.
"Iya, Dok. Saya pasti akan terus menjaga istri saya," jawab Melvin masih ikut melihat USG yang menyala.
"Usianya baru lima bulan tapi jenis kelaminnya sudah terlihat, apa kalian ingin tahu?" tanya sang Dokter.
"Bo_."
"Oh tidak, jangan, Dok. Biar itu jadi rahasia saja," Kata Hana memotong jawaban Melvin.
"Ha? emang kenapa, Sayang?" tanya Melvin mengernyit heran.
Hana mendengkus sinis kearah Melvin dan kemudian tersenyum pada Dokter itu.
"Oke, Kalau begitu. Biar jadi kejutan ya," ucap Dokter itu lagi.
"Benar, Dok. Saya ingin semua nya menjadi hadiah untuk saya sebagai seorang Ibu," jawab Hana nyengir.
"Ini belum seberapa, Nona. Mengandung bayi kembar akan semakin sulit jika bertambah besar usianya. Banyak-banyak mengkonsumsi sayur dan kurangi makanan santan," ujar Dokter menyarankan.
"Siap, Dok. Aku pernah baca di artikel kalau Ibu hamil boleh melakukan senam apa itu aman, Dok?" tanya Melvin antusias.
"Aman, tergantung cara senam nya. Ada yang boleh dan tidak di perbolehkan bagi seorang Ibu hamil. Di lakukan sebaiknya yang ringan-ringan saja terutama jalan santai," ucap Sang Dokter lagi.
"Oh, apakah ada yang lain lagi, Dok?" Pentingnya tahu untuk menghindari sesuatu yang tidak di kehendaki.
"Tidak apa, pada dasarnya semua olah raga seperti berenang, zumba, yoga, menari dan bersepeda itu aman kok. Yang penting Tahu batasannya karena kelelahan juga tidak baik untuk keduanya," jelas Dokter lagi.
"Oke, terima kasih, Dok. Atas nasehat dan sarannya," tukas Melvin.
Tak banyak yang di bahas, Melvin dan Hana berpamitan pada sang Dokter.
Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan. Tidak ada kata ampun jika Hana sudah marah.
Baru saja mobilnya berhenti, Hana langsung membuka pintu dan membantingnya dengan kasar sambil menghentak-hentakkan kakinya melangkah masuk.
"Sa_ Sayang, tunggu!"
__ADS_1
Teriakan Melvin tak di gubris oleh Hana. Hana secepat kilat menghilang di balik pintu.
Melvin tak mau keadaan itu berlarut-larut dan merusak ketentraman mereka selama ini. Namun mengabulkan keinginan Hana tentulah bukan perkara mudah.
Melvin bisa saja membawa Prabu kerumah itu tapi ada perasaan lain yang harus Ia pikirkan yaitu Mama Maya.
Sampai di ruang tamu ternyata Maya dan Arya ada di sana dan memandang kearah Melvin.
Sekejap Melvin melirik Arya lalu meneruskan tujuannya menyusul Hana.
Tidak ada rasa iba sedikit pun pada Arya karna bagi Melvin Arya yang satu ini hanyalah semu di matanya.
"Sayang, Ngambeknya jangan lama-lama dong. Kamu harus tahu perasaan aku," rayu Melvin untuk kesekian kalinya. Mendapati Hana duduk di tepi jendela.
"Percuma kau begini, itu tidak akan merubah keputusan ku, Hana. Coba lihat Mama, apa yang akan Mama rasakan jika Papa di bawa kerumah ini. Kau mau dengan memulangkan Papa, Mama Maya pergi dari rumah. Begitu?"
Hana termangu dan menatap netra Melvin. Apa yang dikatakan Melvin ada benarnya. Kini status Papa Prabu dan Mama Maya bukan lagi suami istri seperti diri.
Hana berkaca-kaca. Ia tak kuasa menyaksikan keadaan Prabu di depan matanya. Kenyataan memang pahit tapi seseorang harus memilih jalannya.
"Vin, apa kau tidak bisa membantu Papa dengan cara lain. Kasihan Papa, Vin," ujar Hana lirih. Memainkan jari jemarinya di atas pangkuan kakinya.
Melvin mengembang kan senyum. Ini yang ingin Melvin sampaikan pada Hana.
Melvin memeluk Hana dari belakang dan mengecup pipi itu.
"Aku pasti akan membantu Papa, Sayang. Tapi tidak sekarang. Aku ingin kita belajar menyadari betapa tidak berguna saat tidak ada keluarga yang perduli."
Hana mendongak kewajah Melvin.
"Bukan karena aku ingin menyiksa Papa, tapi semuanya butuh waktu, bukan?"
Hana mengangguk dan balas tersenyum. Ia bangga pada Melvin. Sosok pria yang dulu selalu meratap dan sedikit arogan secepat itu berubah bagaikan malaikat berhati emas.
"Aku jadi terharu, Vin. Semoga kau menepati janji mu, ya."
Melvin mengangguk.
"Ya sudah cepatlah mandi ini sudah hampir gelap!" titah Melvin lagi.
"Gak mau ahk, Males...," ucap Hana manja.
"Eits.. perempuan hamil harus rajin, ayo mandi. Nanti bauk kecut lo!" Melvin menggandeng Hana ke arah kamar mandi dan melakukan mandi bersama-sama.
__ADS_1
Hal itu sudah menjadi salah satu pekerjaan pokok bagi keduanya setiap waktu membersihkan diri.
Malam kian merayap, suara mesin-mesin perusahan masih terdengar. Hidup di tengah kota harus siap mendengar kebisingan itu sebabnya Melvin memilih membuat tembok kamarnya kedap suara.
Mereka makan malam bersama dengan berbagai menu lezat tersaji di meja.
Sesekali Arya mencuri pandang pada Hana dan itu tidak di sadari Melvin dan Hana yang saling suap-suapan.
"Melvin, Hana, Arya ada yang ingin Mama sampaikan pada kalian." Maya memecah kesibukan masing-masing.
"Soal apa, Ma?" tanya Melvin. Mereka pokus kearah Maya.
Maya memandang mereka satu persatu Ia gugup menyampaikan maksudnya. Ia khawatir mereka tidak akan menyukai keadaan itu.
"Begini nak, Mama Sebenarnya_."
Ketiganya menunggu lanjutannya tanpa berkedip. Hal itu pasti sangatlah penting.
"Ehemz." Maya meraih gelas berisi air putih dan meneguknya. Ia harus siap mengatakan hal itu.
"Katakan saja, Ma. Kenapa Mama gugup sekali," kata Hana tak sabar.
"Iya, Ma. Jika Mama tidak bicara bagaimana kami tahu," sambung Arya bersuara.
"Ini sebenarnya Om Gany mau mengajak Mama menikah," ungkap Hana.
Uhuk.. uhuk..
Melvin tersentak kaget.
Hana sangat peka, Ia gegas menyambar gelas agar Melvin meminum airnya.
"Terima kasih, Sayang," kata Melvin.
Maya menggaruk pelipisnya, Ia sudah yakin Melvin pasti tidak akan menyetujui hubungan itu.
"Vin, Mama tidak akan meminta kalian setuju, Kok. Mama cuma menceritakan niat Om Gany pada Mama," kata Maya setengah tersenyum dan melanjutkan menyantap makanan di piringnya.
"Ya udah terima saja, Ma. Toh Mama kan bukan lagi gadis yang harus meminta pendapat," sahut Arya terkesan cuek.
Melvin dan Hana menatap Arya. Mereka tidak percaya Arya semudah itu berargumen.
"Kenapa? emang bener kan?" Tambah Arya lagi pada Mereka.
__ADS_1
Bukan soal itu tapi Maya dan Melvin tahu persis Arya dulunya sangat menyayangi dan menghormati Prabu. Tidak mungkin rasanya Arya semudah itu menyetujui hubungan Maya dan Gany yang jelas-jelas pernah menjadi perusak di keluarga Mereka.
"Jangan sok bijak, kak," Kata Melvin tidak suka.