Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_97 Ide Melvin


__ADS_3

"Bukan sok bijak, tapi Mama kan janda. Apa salahnya jika Ada pria yg baik hati mau menawarkan diri jadi Suaminya," jengah Arya percaya diri.


"Tapi Kak_."


"Sudah, Sudah. Kenapa kalian jadi berdebat sih. Mama kan cuma bercerita, Nak," ujar Mama Maya menengahi.


Ning! Nong! Ning! Nong!


Mereka beralih menatap kearah ponsel Arya yang menggema. Ada perasaan curiga di hati Melvin tentang siapa Arya sebenarnya mengingat Ia hanya seperti gembel saat datang.


"Dari mana ponsel itu?" selidik Melvin.


"Oh.. kemaren Mama yang belikan,Vin. Kasihan Arya jika Ia ingin menghubungi kita," jawab Mama Maya.


Melvin manggut-manggut.


"Cepat ya, Kak Arya punya teman. Buktinya sudah ada yang memanggil," celetuk Melvin dengan tatapan tajam kearah Arya yang mematung.


"Ini teman, Ma. Baru kemaren Arya kenal. Boleh aku angkat?" tanya Arya.


"Iya, angkat saja, setelah itu selesaikan makan malam mu," tegas Mama Maya.


"Iya, Ma."


Arya memilih kehalaman belakang. Ia segera menggeser tombol hijau di sebelah kanan untuk menghubungkan panggilan jarak jauh dari seseorang.


"Iya, Bis," jawab Arya lirih.


"Tugas mu adalah mengganggu keluarga, Melvin. Buat Hana keguguran agar Melvin menangis darah," jawab dari sebrang.


"Caranya gimana, Bos?" tanya Arya bingung.


Orang itu memberi arahan, Apa yang harus Arya lakukan di rumah itu. Seseorang misterius yang belum di ketahui identitasnya.


Panjang lebar memberi arahan, Arya mulai merencanakan siasatnya.


Arya mengambil minyak di dalam dirigen kesebuah mangkok yang Ia taburkan di depan kamar Melvin secara diam-diam.


Asyik, ini pasti berhasil. Dapet bonus ni...


Mendengar suara kaki mendekat, Arya segera bersembunyi di balik tembok.


Ya, itu adalah Melvin dan Hana. Melvin menghentikan langkah nya saat tidak sengaja melihat bayangan dari tempat Arya bersembunyi.


Apa ada orang disana?


Arya sangat senang, sesuai dugaan Hana berjalan lebih dulu dari Melvin. Itu pasti akan jadi sesuatu yang menggemparkan rumah itu dalam waktu singkat.


Melvin terpaut pada kilatan di depan pintu. Sesuatu yang aneh.

__ADS_1


"Tunggu, Sayang!" teriak Melvin.


Rupanya Melvin cukup cepat menahan Hana.


Hana terpaksa menarik lagi kakinya sambil berkaca pinggang.


"Ada apa lagi, mau ngerjain ya?" tanyanya ketus.


"Lihat ini!" Melvin berjongkok dan menoel lantai mengkilat itu dengan tangan.


Melvin menggosok-gosokkan jarinya guna mengenali air di lantai itu.


"Kenapa, Vin?" Hana ikut menunduk mengamati bagian bawah kakinya.


"Ini sepertinya bukan air, Sayang. Tapi minyak."


Melvin mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah itu. Bisa saja ada sesuatu yang mencurigakan disana. Melvin berdiri dan memelankan kakinya menuju ke tempay munculnya bayangan tadi.


Ahk sial, bisa ketahuan kalau begini," gumam Arya. Arya tidak mau di pergoki Ia memutuskan meninggalkan tempat itu sebelum Melvin melihat keberadaannya.


Sampai di tempat itu, Melvin tidak menemukan apa pun. Tapi Ia yakin ada seseorang yang ingin sengaja mencelakai Hana maupun anak-anaknya.


Siapa orang itu?..


"Vin, Ada apa sih? aku gak ngerti maksud mu?"


"Gak papa, Sayang. Biar aku cek dulu keadaan di situ. Melvin sengaja melangkah lebih dulu. Ia tak mau ambil resiko jika Hana salah langkah.


"Ha? Siapa? Bukankah kau tidak punya musuh di sini?" tanya Hana takut.


"Tenang saja, lain kali kamu hati-hati ya. Jangan pernah jalan, makan maupun minum jika tidak di dekatku," ucap Melvin mengingatkan.


Bukan tidak mungkin orang itu berulah lagi dan malah membahayakan nyawa mereka.


"Iya, Vin."


Sejak kejadian itu, Melvin makin ektra full time jaga Hana. Hari ini Melvin dan Hana mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk asisten kesayangannya.


Sebuah kafe itu sengaja Melvin booking di peruntukkan untuk Dafa dan seseorang.


Menu makanan semuanya berkelas. Melvin akan memuja Data dalam semalam.


"Good, itu Dafa sudah datang. Ayo nyalakan lampunya!" titah Melvin pada beberapa kelompok yang membantunya menyiapkan semua itu.


Melvin tidak lupa menyertakan Hana selalu disampingnya. Keduanya akan menjadi saksi dari sesuatu yang terbilang langka di hidup Dafa.


Dafa sangat gagah, Ia bergaya menggunakan pakaian kekinian. Itu Ia lakukan atas permintaan Tuannya yang memaksa Ia tampil beda kali ini.


Dafa kagum melihat suasana tempat itu begitu syahdu dan indah. Banyak lampu-lampu berkerlipan dan lilin-lilin cantik di tata sedemikian rupa memenuhi tempat itu.

__ADS_1


Bos kemana ya? katanya ada pesta disini...


Selang beberapa detik, muncul pula lah seorang gadis menggenakan gaun berwarna kuning Langsat memakai topeng dari arah lainnya.


Dafa tercekat menatap kearahnya. Ia mengerutkan dahi dan mendadak deg-degan.


"Mas Dafa, kok sendiri? yang lain mana?" tanya gadis itu tanpa membuka penutup wajahnya. Hanya menampakan Dua bola mata dan bibir seksinya.


"La, kamu siapa? kok suaranya gak asing sih?" tanya Dafa balik. Mengamati dari ujung kaki sampai keatas kepala.


Plok!


Gadis itu memukul manja lengan Dafa membuat Dafa tersentak kaget.


"Ahk, Mas Dafa. Masak lupa sih. Kita kan pernah satu kantor dulu."


"Ha? masak sih? Tapi kok bentuk tubuhnya kayak model sih? Seingat ku semua cewek kantor kan tubuhnya agak melar-melar," jujur Dafa.


"Is, jahat banget sih. Dari dulu juga tubuhku oke. Kamu saja yang buta warna," balas gadis itu kesal.


Dafa nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya. Ia benar-benar lupa akan siapa gadis itu. Di lihat dari posturnya gadis itu sangatlah sempurna di matanya.


"Buka saja topeng mu, dari pada aku penasaran!" pinta Dafa polos.


Melvin terkekeh melihat keluguan keduanya, Hana yang sebenarnya tidak tahu menatap kecut wajah Melvin.


"Cewek itu siapa sih? kok main rahasia-rahasiaan segala," ketus Hana ngambek.


"Sabar dong, Sayang. Kamu lihat saja nanti," jawab Melvin singkat.


Rasa penasaran dan beribu pertanyaan memenuhi otak sang Istri. Hana tidak tinggal diam dia langsung menjewer telinga Melvin.


Ngaku tidak atau kamu saya pecat jadi suami?" geram sudah Hana di buatnya. Telinga Melvin sampai memerah.


"Aduh, Sayang. Sakit ni, nanti juga tahu sendiri," ujar Melvin setengah meringis sakit.


Hana mengalah dan melepaskannya.


Ia kembali pokus pada Dafa dan Gadis aneh di balik topeng emas itu.


"Kamu Meta ya, jangan bilang kamu melakukan program diet karena nekat kayak model?" Ujar Dafa tebak-tebakan.


"Enak saja, aku makan empat sehat lima sempurna dalam sehari. Tidak ada progam seperti itu dalam kamus hidupku. Kecuali berolah raga rajin," jawab Gadis itu sewot dan memicingkan matanya.


"Oke, kita duduk saja dulu disana. Mungkin setelah itu kau akan jujur di depanku!" ajak Dafa menghantar Gadis itu di kursi. Gadis itu menurut meski wajahnya terlihat masam.


"Ayo buka, aku tidak sabar!" pinta Dafa lagi mengulangi.


#Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen and gift yang banyak ya...


__ADS_2