
"Kau dengar itu, anak kita jagoan. Ini adalah anugerah terindah, Sayang. Terima kasih banyak ya. Aku benar-benar merasa bahagia."
Melvin mengecup lagi beberapa bagian wajah istrinya sampai Ia puas.
Hana merasakan sama, Ia beruntung bisa mengenal dan hidup bersama Pemuda sehebat Melvin. Kelahiran kedua putranya adalah bonus teristimewa.
Melvin menengok keduanya di dalam kotak penghangat tubuh si bayi. Keduanya terlahir dengan berat badan Dua koma empat kilo gram.
Melvin mengamati keduanya. Ia melihat bahwa anak yang satunya memiliki tanda lahir di belakang telinga.
"Jadilah anak yang Sholeh ya, Nak. Jadilah tumpuan Papa dan Mama saat besar nanti."
Doa dan harapan tercurah untuk kedua bayi kembar yang lucu itu
Ditempat di daerah G, Rangga dan Diandra tampak bingung. Mereka sedang menanti kabar baik dari Leo. Ia berharap bayi dalam kandungan Hana tidak akan tertolong untuk memudahkannya mendapatkan Hana kembali.
"Mom, kenapa Leo lama sekali? Dia belum juga memberi kabar sampai saat ini?" Rangga bolak-balik melihat jam tangan yang terus bergerak memutar di lengannya.
"Sabar, Rangga. Mungkin Leo masih menjalankan perintah mu, sekarang," jawab Diandra santai. Tidak dengan Rangga ada kegelisahan yang menggelayut di dalam dadanya.
"Sial, apa Leo mengalami kegagalan. Seharusnya dia sudah menyelesaikannya sekarang."
Rangga menyandarkan tubuhnya di sofa, dipijatnya batang hidungnya yang berdenyut sakit.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa, Mom? apa itu Leo? Mungkin dia mau memberi kabar baik?" Diandra dan Rangga segera membuka pintu. Bola mata mereka membulat lebar mengetahui kedatangan empat orang berseragam polisi.
Jantung Rangga berdetak cepat, pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
"A_ ada apa, Pak?" tanya Mama Diandra.
"Apa benar anda saudara Rangga?" tanya komandan polisi menatap tajam kearah Rangga.
"I_ iya, Pak. Ada apakah gerangan?" tanyanya takut.
"Kami membawa surat perintah penangkapan terhadap anda. Anda terbukti bersalah atas tuduhan pembunuhan berencana," jawab komandan itu.
"Ta_ tapi, Pak. A_ apa maksudnya?" Rangga saling berpandangan dengan Mama Diandra.
"Iya, Pak. Anda pasti salah orang." Diandra membela.
"Kami sudah ada buktinya, anda tidak bisa mengelak lagi. Kematian Arya lima belas bulan lalu juga adalah ulah mu, Rangga. Kau juga sudah memaksa memindahkan surat kekuasaan Wijaya Cooperation dengan paksa. Cepat tangkap dia!" Komandan itu memerintah kedua anak buahnya.
"Ta_ tapi, Pak. Biar aku jelaskan dulu." kali ini Rangga tak bisa berbuat apa-apa.
Mereka segera membekuk Rangga dan menggiringnya ke dalam mobil.
"Pak, jangan bawa putra saya. Dia tidak bersalah, Pak!" Diandra menggelayut di kaki Pak komandan.
Pak komandan melepas cekalan tangan Diandra.
"Silakan melakukan pembelaan ketika di kantor polisi, Bu."
Diandra memeluk dada menyaksikan sang putra semata wayang kini jadi tahanan.
Dafa tersenyum melihat sinis kearah Rangga yang kini berada dalam jeruji besi.
__ADS_1
"Kau puas, Rangga. Ini tempat ter layak untukmu. O ya, masih ada satu tugasmu. Cepat tanda tangani surat ini jika kau tidak ingin membusuk di penjara!"
Dafa menyodorkan surat pengalihan kekuasaan pada yang berhak.
"Tidak, kantor itu milikku. Jangan coba-coba merebutnya karena Papa Prabu sudah memberikan kantor itu sebagai warisan," tolak Rangga mentah-mentah.
"O ya, dengan cara melumpuhkan Pak Prabu dan mengirimnya ke panti jompo. Kau pasti sudah tahukan Pak Prabu telah meninggal?"
Dafa mendekati Rangga dan menarik tangan Rangga.
"Aw, sakit Dafa."
"Cepat tanda tangani atau Bos semakin marah."
"Oke, Iya. Aku tanda tangani." Rangga tak bisa menolak kecuali menurut.
Dafa merasa puas, semua tugasnya berjalan mudah. Dafa memang agak lebay tapi Ia sangat bisa di andalkan dalam hal apa pun.
"Baik-baik disini jika kau ingin mendapat reward tahanan untuk mempercepat proses bebas mu."
Dafa tertawa mengejek dan pergi dari tempat itu. Rangga meluap-luap. Ingin rasanya Ia hancurkan tubuh Dafa jika bukan karena ada di tempat terkutuk itu.
Pagi hari yang cerah. Hana dan lain sudah terbangun. Ia juga sudah mandi dan selesai sarapan. Selang infus masih merekat di lengan kanannya.
Kasih sayang Melvin selalu Ia berikan untuk sang istri. Segalanya akan Ia limpahkan demi kebahagiaan Istrinya.
"Vin, kok anak kita belum di bawa kesini sih?" Hana tak sabar ingin melihat bayi imutnya.
"Belum, Sayang. Semalam kan anak kita di masukkan equibator.
Dokter Leni masuk dan memeriksa kondisi Hana. Suatu keajaiban Hana sudah membaik.
"Makasih, Dok."
"Anak aku mana, Dok?" Hana berharap Ia segera mendekap si buah hati.
"Tunggu ya, perawat masih mengambilnya."
Sekitar lima menit kemudian, dua orang suster datang dengan nafas terengah-engah. mereka hanya menggendong satu bayi saja.
"Dok, Dokter!"
"Kenapa, Lin?" Dokter Leni mengernyit heran.
"Bayi Tuan Melvin dan Nona Hana yang satu lagi tidak ada di tempat," jawab Mereka mengejutkan Orang tua bayi.
"A_ apa maksud kalian, Sus?" tanya Hana panik.
"Iya, tabung equibator satunya kosong," jawab mereka kompak.
"Apa ini? apa kalian tidak menjaganya. Aku bisa menuntut rumah sakit ini karena telah lalai menjaga putra ku." Melvin kecewa akan cara kerja mereka.
"Maaf, Pak. Tadi subuh jam lima masih ada, kami gak tau hilangnya," jawab mereka lagi.
"Aku gak mau tahu, kalian harus menemukan Anakku!" Melvin marah besar.
Hari itu, mereka disibukkan mencari anak Melvin. Bahkan pihak kepolisian turut datang mencari.
__ADS_1
Sampai sebulan berlalu, putra Melvin dan Hana tidak di ketemukan.
Hana meradang, tangisnya seolah enggan berhenti. Ia tak bisa memeluk anak yang lainnya.
"Kamu dimana, Nak? Mama kangen..."
Hana memeluk erat tubuh putra yang ada bersamanya itu, takut jika Ia harus kehilangan lagi.
"Maafkan aku, Hana. Sampai saat ini. Aku belum bisa menemukan anak kita." Melvin memeluk Hana. Segala usaha sudah Ia lakukan tapi tak membuahkan hasil sama sekali.
Malam itu Melvin mendapat kabar dari Eropa. Melvin di harapkan segera kesana untuk mengurus Delernya.
"Ahk, apa aku harus pergi. Mana mungkin aku meninggalkan mereka?"
Kebingungan menyemayangi Melvin. Hana menangkap kegelisahan itu.
"Kenapa, Vin?"
Melvin tak ingin mengatakannya tapi Ia tak bisa membiarkan Deler mobilnya bermasalah.
"Aku mendapat telpon dari Eropa, aku diminta pergi kesana, Sayang. Seandainya anak kita tidak hilang. Aku berencana memboyong kalian pergi."
Tak sampai hati Melvin mengungkap gelisah di hatinya.
Hana tersenyum kelu, Ia tahu apa yang di hadapi Melvin tidaklah mudah.
"Maafkan aku, Vin. Kita akan pergi bersama," kata Hana.
"Tidak, Sayang. Aku akan menundanya." Melvin mengecup kening Hana.
"Tak apa, Vin. Kita pergi setelah Mama dan Om Gany menikah. Toh kita sudah mencarinya' kan? tapi mungkin takdir berkata lain."
Sekuat hati Hana menegarkan jiwanya mengikhlaskan hilangnya sang putra.
"Kita lupa 'kan. Bahkan putra kita yang satu ini. Belum juga kau kasih nama." Hana mencium gemas bayi mungil dipangkuan nya.
"Iya, Sayang."
Hari-hari telah berlalu, Mama Maya dan Om Gany akhirnya mengikat hubungan pernikahan dan hari ini Melvin dan keluarga kecilnya melakukan penerbangan ke negara tujuan.
"Berbahagialah, Mama Maya, Papa Gany. Mungkin kami. akan lama di sana untuk melupakan kesedihan kami. Jika Tuhan menakdirkan putra kami yang hilang kembali suatu saat pasti akan datang pada kami."
Kata- kata itu yang tertinggal di negara tercinta mereka. Suara Melvin menyayat hati Mama Maya. Ibu mana yang tak menangis melihat anaknya sakit karena kehilangan seperti yang Ia rasakan pada Arya sewaktu meninggal dulu.
...ππππSELESAIππππ...
Cerita Ini akan ada kelanjutannya dengan judul yang berbeda. Jika penasaran kemana hilangnya putra Melvin dan Hana bisa ikuti kisahnya di bulan Maret.
Saya haturkan terima kasih banyak telah mengikuti cerita Melvin dan Hana sampai disini. Terima kasih juga pada para pembaca yang sudah rela meluangkan waktunya untuk membaca bahkan ada yang sampai begadang semalaman.
Saya sebagai penulis amatiran merasa terharu memiliki pembaca seperti kalian. Terima kasih juga sudah merelakan poin-poin, vote , like, komen dan bintang limanya yang sudah di berikan pada Novel ini secara ikhlas.
Hanya itu yang bisa saya ucapkan karena saya tak memiliki apa pun sebagai timbal jasa.
Sambil menunggu kelanjutannya. Author berharap kesediaan kalian untuk singgah pula di novel author yang satu ini.
Kisah yang tak kalah menarik dan memilukan hati.
__ADS_1
Seorang pemuda terjangkit HIV akibat tertular dari wanita yang dicintanya. Derita dan air mata untuk bersatu dengan orang yang dicinta di hadang badai dan kesakitan.