
Baru juga dua langkah Melvin mendekati daun pintu, Ia merekam adu mulut kedua orang tuanya hingga membuatnya terpaksa menghentikan gerakan kakinya.
"May, kan sudah ku bilang jangan bahas soal masalah anak itu. Dia benar-benar kelewat batas. Menceraikan istrinya hanya demi gadis tidak tahu sopan santun itu."
Ucapan Prabu kedengarannya sangat menusuk, Melvin sendiri tidak mengerti dengan sikap Prabu padanya. Ia menaruh benci pada Melvin tapi sesuka hati mengatur kehidupannya.
Maya terisak-isak lelah sudah menimpali Prabu yang menurutnya begitu keras kepala.
"Pa, tapi Papa tidak berhak mengacuhkan Melvin, Pa. Bukankah dia anak mu juga?" jawab Maya lirih hampir tidak terdengar oleh Melvin.
Prabu Menatap Maya penuh kemarahan, Sudah sering Ia bilang Ia tidak akan pernah respek pada Melvin.
"Suruh laki-laki jahanam itu yang mengurusnya," tandas Prabu dalam dingin.
"Papa keterlaluan, bukan kah Papa sudah membuktikannya melakukan tes DNA pada Melvin saat Melvin baru di lahirkan. Ingat gak Pa, darahnya cocok dengan Papa?" timpal Maya meluruskan kesalah pahaman mereka.
"Cukup, May!" teriak Prabu kembali meninggikan suaranya. "Melihat anak itu aku jijik, Mengorek luka di hatiku atas penghianatan mu. Kamu sadar atau tidak, kesalahan besar apa yang pernah kamu lakukan saat aku dinas keluar kota. Kau sedang hamil Melvin tapi kau menyerahkan tubuh mu pada si bejat itu!" Amarah Prabu memuncak kala harus mengenang lagi masa lalu.
"Aku sudah menyesalinya, Mas. Aku khilaf, aku merasa kesepian dan membutuhkan rasa nyaman dari suami. Tapi kau tidak pernah punya waktu untuk itu," tampik Maya tak terima.
"Aku kan mencari uang untuk keluarga kita, May. Kau rasakan hasilnya kan, sekarang?"
Suara mereka sambung menyambung tanpa henti.
"Oh iya kamu benar, Mas. Tapi aku bukan perempuan munafik. Aku juga perlu perhatian dan kasih sayangmu toh Mas Gany juga sudah pindah keluar negeri, kenapa kau selalu mengungkitnya?" jawab Maya sembari mengusap airnya.
Kaki Melvin bergetar, Ia baru paham apa penyebab Prabu sangat membenci dirinya. Di dorongnya daun pintu itu hingga memperlihatkan wajah keduanya dengan ekspresi masing-masing.
"Melvin, Nak." Maya bangkit dari duduknya dan merengkuh tubuh Melvin.
"Masih berani pulang, Kau?" tegur Prabu dingin. Prabu benar-benar tidak mau menatap wajah Melvin. Hanya ada sorot amarah didalam bola matanya.
Melvin tak kalah kecewa, Ibu tercinta yang selama ini membelanya juga tak sebaik pemikirannya. Ialah sebenarnya biangnya yang tega bermain api ketika tengah mengandung dirinya.
__ADS_1
"Jadi Mama juga tidak lebih baik dari Papa. Mama membohongi Melvin. Ku pikir Papa bukan panutan untukku tapi Mama sendiri adalah salah satu penyebab semua itu. Aku anak siapa, Ma. Aku anak siapa?" tanya Melvin menekankan kalimat nya di barengi lelehan air mata. Di acak-acaknya rambutnya yang sudah memang tidak rapi menunjukkan rasa prurtasinya.
Maya peluk lagi putra kesayanganya, Ia tidak ingin Melvin juga salah menilai dirinya. Kejadian itu sudah Ia kubur bersama rasa bersalahnya.
"Kau anak Mama dan Papa, Nak. Papamu terlalu egois tidak mengakui mu," jawab Maya dengan tatapan kesungguhan.
Melvin tidak percaya dan melepaskan pelukan Maya dengn kasar.
"Bohong! Mama bohong kan? Aku pasti anak haram hasil dari perselingkuhan Mama?" tanya Melvin butuh kejelasan jati dirinya.
"Tidak, Sayang. Itu tidak benar," elak Maya seyakin-yakinnya.
"Sudahlah, Papa pantas membuang aku. Tubuhku telah ternodai di dalam kandungan Mama. Akh...." Melvin memukul kan tangannya ke dinding hingga memar. Ia sudah tak sanggup lagi. Perasaannya berkecamuk perih.
"Aku sudah hancur, aku hancur sekarang. Kalian puaskan?" Melvin menekan kepalanya sudah seperti tertindih beban berat.
"Melvin, Maafin Mama, Nak." Maya memelas agar Melvin percaya padanya.
"Jangan pedulikan Melvin, Ma. Aku juga tidak akan menyalahkan Papa karena ini. Setidaknya aku sudah tahu kalau aku hanya seorang sampah di mata Prabu Wijaya."
Melvin mengusap air mata di pipinya lalu meninggalkan kedua orang itu sembari membawa luka hatinya.
Tiba dirumah Clara, bukannya disambut baik Clara malah mengamuk karena Melvin tak mampu memenuhi keinginnanya.
"Mana uangnya? aku mau keluar!" pinta Clara menengadahkan tangan.
"Aku tidak bawa uang," jawab Melvin agak acuh.
"Ya ampun yang benar saja, anak pengusaha kaya dari Prabu Wijaya sekarang miskin tidak punya uang," ejek Clara sesuka hati.
"Cla, tolong jangan bahas ini dulu, aku pusing," ucap Melvin penuh permohonan.
Clara nenyilangkan tangan seraya memicingkan mata.
__ADS_1
"Terus kamu harus berbuat apa, Vin? coba kasih tau aku? Masak iya sih kau harus mengandalkan makanan dari uang Papa ku, pikir dong pakek otakmu itu!" tunjuk Clara di keningnya.
Melvin terdiam, Ia tidak menyangkal ucapan Clara karena itu ada benarnya. Bagaimana mungkin sebagai lelaki Ia justru numpang hidup dirumah Clara. Bahkan terpikir pun tidak olehnya.
"Aku akan cari pekerjaan?" ungkapnya kemudian.
"What?" Clara cukup kaget mendengar penuturan Melvin.
"Do'akan aku mendapatkannya dengan segera," jawab Melvin.
"Astaga, kau itu pewaris tunggal Melvin. Kenapa kau sangat bodoh tidak menuntut saja hak mu pada Papa Prabu."
"Diam lah, Cla. Aku mohon jangan bawel dan dukung aku. Aku ini kemungkinan bukan anak dia."
Clara kembali tercengang.
"A.. apa? k.. kau bukan anaknya? lalu kau anak siapa? anak pungut dari jalanan? atau anak adopsi dari panti asuhan?" tanya Clara setengah tak percaya dibarengi nada hinaan.
"Tidak begitu juga, Cla."
"Oh... jangan bilang kau anak hasil selingkuhan Papa atau Mama mu, iya begitu? ck, ini sungguh tidak bisa ku percaya."
Melvin berlalu pergi kearah meja dispenser dan memencet tombol untuk mengambil air minum yang di teguk nya hingga tandas. Ingin sekali Ia marah dan berteriak, hatinya dipenuhi amarah, emosi dan kebencian pada orang-orang sekitarnya namun Ia tahan.
Ia salah paham selama ini, Ia mengira Prabu membenci nya cuma karena dirinya bodoh. Tapi hari ini, hatinya bagai di sambar petir setelah mengetahui dirinya hidup di dalam rahim Ibunya akan tetapi tercampur oleh kenistaan.
"Melvin....!" teriak Clara.
Melvin hanya menoleh.
"Pastikan kau mendapat pekerjaan bagus, aku tidak akan sudi jika kau mengambil pekerjaan rendahan."
Satu lagi yang membuat hatinya sakit, perlakuan Clara yang suka marah-marah dan tidak punya waktu untuknya walau sesaat. Sudah dua minggu berlalu tapi Clara terlihat semakin berubah baik sikapnya yang dulu suka bermanja-manja maupun tubuh yang sedikit berisi.
__ADS_1
"Akh, entahlah. Mungkin nasibku tidak baik. Aku baru tahu sikap Clara secara pribadi," gumam Melvin seorang diri.
Melvin mulai berdikari mencari pekerjaan layak untuknya, Dijelajahinya setiap gedung perkantoran yang pernah menjadi rekan bisnisnya. Untuk saat ini biarlah Ia merana dulu, bukan karena Ia tidak bisa melakukan sesuatu tapi hatinya mulai bimbang. Ia tidak ingin memberitahukan Clara tentang kepemilikan pribadinya.