
Kehidupan itu benar-benar mendung, Malam kian gelap membuat Hana harus menyeret kaki dengan paksa karena sedikit kaku.Tampa memberikan ruang untuk berhenti terisak dari tangisnya.
Pupus sudah semua hubungan yang mengikat Ia dan keluarga Arya Prabu Wijaya. Di kalahkan oleh sejuta kenyataan. Di hancurkan oleh perbedaan hati yang dipaksa menyatu atas ijin waktu hingga berkeping-keping.
Awalnya Hana selalu berharap pernikahan itu akan menjadi pernikahan abadi untuk selamanya walaupun belum dihadirkannya kalimat cinta yang tercetak di dalam diri keduanya.
Rupanya Melvin terlalu besar mencintai kekasihnya dan tetap memilih melepaskan Ia yang hanya sesaat menyandang status seorang istri.
Hana mengusap air mata yang belum usai dengan telapak tangannya. Ingin sekali Ia menjerit dan meluapkan kedukaan hatinya.
Hana memutuskan pulang kerumah Paman Roy. Ia tidak punya tujuan lain selain kesana. Pastinya Ia harus siap dengan segala Omelan Bibi Yuna.
Benar saja setelah Ia mengetuk pintu Bibi Yuna yang membukanya. Bibi membulatkan matanya melihat barang bawaan Hana dan langsung menyerang Hana dengan sumpah serapahnya.
"Apa-apa ini, Han? Kenapa kamu pulang kesini? Apa suami mu telah membuang mu atau kau malah memiliki tabiat buruk hingga keluarga orang kaya itu mengusirku ditengah malam begini? jawab, Han!" Bibi Yuna menekan bahu Hana sembari menggoyang-goyangkan tubuh itu dengan kasar sampai tasnya terlepas dari genggamannya.
"Bibi..." Bukan Itu yang Ia mau dari Bibi Yuna. Ia butuh sebuah pelukan untuk menegarkan hatinya
"Han, makanya jadi istri itu harus benar. Jangan banyak tingkah? kau mau menyulitkan Paman Roy lagi? Sudah cukup dia membesarkan kamu sampai makan pun sulit."
Di tonjol-tonjolnya kening Hana dengan tatapan marah. Tak peduli Hana tersakiti atau tidak oleh tindakannya.
Tepat jam sepuluh malam Paman Roy pulang dari lemburnya sebagai kuli. Ia agak kaget mendengar Bibi Yuna berteriak-teriak menghardik Hana.
"Apa Hana ada disini?" Paman Roy masuk dan melihat Bibi Yuna mendorong-dorong tubuh Hana kelantai dalam keadaan Menangis tanpa suara.
"Ibu, apa yang kamu lakukan, Bu?" Paman Roy membantu Hana dalam ketidak berdayaan. Dipeluknya penokkan kesayanganya itu sambil mengusap-usap pucuk kepala Hana.
Bibi Yuna mengepalkan tangan, keadaan itu lah yang membuatnya tidak menyukai kehadiran Hana. Paman Roy sangat menyayangi Hana sudah melebihi cara dia pada Naina.
"Bela saja terus, Pak. Abaikan anak perempuan mu dan urus dia sana!"
"Bu, berhenti berkata kasar. Hana ini ponakan kita," tutur Paman Roy tak kalah emosi dengan kelakuan Bibi Yuna.
__ADS_1
"Ya, kamu selalu membela dia dari pada istri mu. Seolah-olah dia memberikan kehidupan itu untukmu," maki Bibi Yuna. Di ambilnya tas Hana dilemparkan didepan Hana sekuat tenaga.
"Lihat ini, Pak. Dia di buang oleh keluarga suaminya karena apa? karena dia tidak berguna."
"Cukup, Bu. Dia ini anak Abangku. Abang juga banyak berkorban untukku jadi wajar aku membalasnya dengan merawat Hana."
Bibi Yuna memandang sinis.
"Terserah Bapak, tapi ingat. Aku gak mau sampai tidak makan gara-gara anak ini." tunjuk Bibi Yuna lagi di wajah Hana.
Paman Roy meminta Hana masuk kekamar, Hana menurut. Ia duduk ditepi ranjang sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan. Ia tidak ingin makin tenggelam dalam lumpur derita.
Masih di dengarnya dengan jelas Malam yang seharusnya dimana semua keluarga tertidur, Paman Roy dan Bibi Yuna malah menghabiskan waktu bertengkar lewat adu mulut tanpa henti akibat dirinya.
Hana memeluk bantal dan di peras nya lagi air mata yang mengumpul memenuhi bola matanya hingga kering sudah terlalu banyak air mata miliknya mengalir.
Sesekali Hana mendengar Bibi Yuna melempar barang pasti karena Ia benar-benar tidak menyukai kedatangan Hana.
Klonteng!
"Urus saja anak itu, Pak. Asal Bapak ceraikan aku!" amuk Bibi Yuna.
"Bu, tolong mengerti. Hana tidak punya keluarga lain selain kita, Bu. Tolong jangan membenci anak itu, Bu."
"Kita ini orang miskin, Pak. Kalau kaya masih mending. Tapi mana? kerjamu hanya buruh kasar bahkan untuk biaya Naina kita kesulitan."
"Oke, Bu. Aku akan carikan Hana kontrakan dan akan kubawa dia pergi besok.
"Heh, uang nya dari mana? emang keluarga suaminya ngasih dia duit?"
Paman Roy terdiam. Kalah suara Ia dengan Bibi Yuna.
Esok harinya, Hana berniat membantu Bibi Yuna memasak dan hendak meraih sayur kangkung didalam baskom untuk di petik. Belum juga sampai Bibi Yuna menepis tanganya.
__ADS_1
"Jangan sentuh, nanti makanan ku ini terkena Bakteri dari tanganmu itu," ketus Bibi Yuna.
Tak ada sarapan hari itu, Paman Roy juga sudah pergi kerja. Hana bertekad untuk kembali mencari pekerjaan. Tidak mungkin Ia akan berdiam diri dan membebani Paman Roy seperti yang dikatakan Bibi Yuna..
"Mau kemana?" tanya Naina. Naina tak kalah sengit. Ia pasti sudah mendengar cerita Bibi Yuna. Sepupu satu itu duplikat dari Bibi Yuna.
"Kerja, Nai," jawab Hana lirih.
Naina menatap kearah maff digengaman Hana.
"Kasihan banget sih kamu. Ijazah SMA jaman sekarang buat apaan? Paling buruh nyuci," ejek Naina memicing kan mata.
"Gak papa, Nai. Yang penting kan halal."
Selesai mengobrol dengan Naina sebentar, Hana melanjutkan niatnya. Sulitnya mencari kerja di kota Metropolitan tak membuatnya mudah menyesah.
Capek berjalan, Hana memesan teh sejenak kemudian berjalan lagi tanpa makan dan minum. Peeih dan gemetar tak lagi dirasa demi mencapai satu tujuan mendapat pekerjaan.
Sudah lima kiloan berjalan dan sudah dua puluh tempat pekerja Ia kunjungi. Belum juga ada yang bersedia menerima dia meski sekedar mencuci piring.
Kala Ia beristirahat lagi disebuah taman, Ia tidak sengaja melihat Melvin dan Clara sedang bermesraan di sebrang jalan.
Hana mengulum bibir Ia harus mampu meredam sinergi buruk yang bisa saja membuatnya semakin lemah menyaksikan pemandangan itu.
"Oh, Tuhan. Ada apa denganku? Kenapa hati ku sakit melihat wajah bahagia mereka didepan mata? jangan buat aku mulai menyimpan rasa dengan pria itu, Ya Allah. Sekarang aku bukan siapa-siapa lagi. Itu artinya, aku tidak berhak atas dirinya."
Hana menundukkan kepala, Ia tidak ingin Melvin dan Clara melihat dirinya disana. Melvin dan Clara masuk kemobil dan tujuan nya utamanya kemungkinan adalah KUA.
Rapuh dan Sakit Hana rasakan, takdir tidak ingin Ia bahagia. Hingga kesulitan demi kesulitan harus diterimanya. Rasanya Kehidupannya seorang diri begitu hina sampai tak ada yang mau menerima dia dari segala kekurangannya.
Hana menapaki lagi langkah kakinya. Setidaknya usaha dan semangat harus tetap Ia terapkan demi menunjang hidupnya.
Baru juga mau melewati jalan Hana dikagetkan oleh sebuah mobil yang sepertinya kehilangan kendali.
__ADS_1
"Awas, Minggir!" teriak seseorang dari daun jendela pengemudi disertai lambaian tangan serta merta Hana menjerit dan tak mampu berjalan.