
Melvin memilih menyendiri di parkiran rumah sakit dalam ketidak tenangan. Bahkan untuk duduk saja Ia tidak bisa. Sesekali memijit batang hidungnya untuk menghilangkan capek. Urat-uratnya seakan berdenyut riang.
"Papa!" teriak Melvin menendang ban mobil miliknya menumpahkan emosi yang mengungkung hingga memeras kinerja otak kecilnya. "Apa aku sangat tidak berarti bagimu? aku ini anakmu atau bukan? Seolah-olah aku hanya menyulitkan hidupnya?" Melvin memukul-mukul kan tanganya ke atap mobil Toyota hitam.
Ditekannya kepalanya dengan kasar berharap bebannya segera berkurang, sejenak dalam diam menutupi wajahnya Melvin teringat Clara. Ia memutuskan menemui Clara dirumahnya.
Dalam perjalanan kerumah Clara, Melvin berpapasan dengan mobil Rangga ketika keluar dari jalur satu arah. Melvin mungkin tidak melihat Rangga tapi Rangga mengenali kendaraan Melvin.
"Dari mana dia, kok keluar dari jalan itu bukankah disana hanya ada rumah sakit besar dan perumahan-perumahan elit. Apa mungkin Melvin menemui koleganya malam-malam begini?" Rangga diburu rasa ingin tahu. Tidak malam itu Ia akan kembali esok hari agar bisa menyelediki dengan jelas.
Melvin tiba dirumah Clara mengetuk pintu segera. Niatnya bertemu Clara adalah agar Clara bisa menghibur hatinya.
Tok! Tok! Tok!
"Cla, ini aku!" teriak Melvin.
Seorang asisten rumah tangga membuka pintu. Asisten rumah tangga mengenal baik seorang Melvin. Melvin sudah beberapa kali datang untuk sekedar menjemput Clara.
"Eh, Den Melvin. Cari siapa, Den?" sambut Si bibi ramah.
"Clara nya ada, Bik?" tanya Melvin.
Bi Rahma nampak bingung.
"Emang Non Clara gak pamit sama Aden?" tanya Bi Rahma balik.
Sudah pasti Melvin turut tercekat.
"Enggak Bi, Emang dia kemana?"
"Non Clara keluar negeri sama Mas Leo dua hari lalu."
"Sama Leo?" Melvin sedikit kurang senang mendengar nama Leo tapi Ia percaya kalau Leo adalah saudara Clara.
"Oke, Bi. Aku permisi kalau begitu."
"Baik, Den."
Melvin menuju kearah mobilnya dan memutuskan menghubungi Clara secara langsung. Panggilan telponnya masuk tapi Clara mengabaikannya. Ia asik memadu Cinta bersama Leo diatas ranjang.
__ADS_1
Melvin semakin kesal dibuatnya mengacak-acak rambutnya adalah sesuatu yang replek Ia lakukan ketika menghadapi permasalahan.
Melvin membuka pintu mobil dan menutup nya dengan kasar meninggalkan rumah Clara untuk kembali kerumah sakit. Ia berharap Prabu tidak lagi ada ditempat itu.
Baru saja terparkir, Melvin melihat Prabu keluar dari rumah sakit dan masuk kesebuah mobil sedan putih yang baru tiba.
Melvin memperhatikan dengan seksama, sangat yakin itu Prabu dan seseorang meski lampu halaman cenderung temaram.
"Papa bersama dengan siapa?" Sekilas Melvin melihat sang Papa cipika-cipiki dengan perempuan mengenakan pakaian kantor. Keduanya masuk kemobil tak tahu jungjrungan dan rimba nya.
Melvin enggan memikirkan itu, Ia memutuskan cuek dan menemui Hana. Hana memang belum ada dihatinya tapi Melvin bertanggung jawab atas hidup Hana berkat permohonan Arya.
Melvin masuk dan melihat Hana terlelap. Maya mengutak-atik ponsel miliknya.
"Ma..!" panggil Melvin pelan.
Serta merta Maya menoleh mengamati wajah putranya.
"Mama, pulang saja biar Melvin yang disini," saran Melvin.
Maya tersenyum akan ucapan sang putra.
"Tak apa, Nak. Mama nemenin kamu aja ya."
Maya mengusap pucuk kepala Melvin bertabur kasih sayang tampa sadar setitik air bening dari kelopak matanya jatuh di kepala sang anak.
Melvin mendongak dan mengusap pipi sang Mama. Sekeras-kerasnya watak Melvin Ia tidak ingin wanita berharganya menderita.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis?"
"Hu.. hu.. hu.. Mama terharu nak akhirnya kamu balik lagi, Mama mohon jangan sakiti Hana ya, Nak." Maya menangis tersedu-sedu. Maya tidak ingin pernikahan yang pernah rusak semasa Ia muda dulu menimpa anaknya.
"Mama, berhenti membuat Melvin tidak bisa berjanji dengan permohonan, Mama. Itu memberatkan Melvin, Ma."
Maya membingkai wajah Melvin dengan telapak tangan, menatap dalam dua bola mata tajam bagaikan elang didepannya.
"Anakku kamu pasti tahu Mama sangat menyayangi kamu. Besar harapan Mama ke kamu, Nak. Buktikan pada Papa kalau kamu juga layak di banggakan." Air mata wanita paruh baya itu meluncur lagi dipeluknya erat-erat sang anak.
Melvin merasa semakin bersalah, justru ucapan Mama membuatnya kian tak bermakna.
__ADS_1
"Maafkan Melvin, Ma. Maaf..."
Maya sebenarnya menutupi sembilu, kemudian tersenyum kepada Melvin.
"Baiklah Mama pulang, jaga Hana ya, Nak!" Berapa kali sudah ucapan itu terlontar dari mulut Maya terpaksa nya Melvin angguki.
Maya meraih dompet nya di meja, keluar dalam segala asa.
Melvin melangkah mendekat keranjang Hana menatap dalam-dalam rona perempuan yang terlihat masih saja pucat.
Gelombang perasaan bergejolak bagaikan batu karang terhantam badai. Tak bisa di lukis kan betapa sulitnya posisi dirinya saat ini. Antara Cinta, pesan dan juga kedua orang tua tidak sejalan dengan harapan. Jika tidak kuat-kuat menumpu kaki mungkin tubuhnya sudah tidak bisa di kendalikan lagi.
Melvin tersenyum kelu, hatinya merasa tersentuh akan pengorbanan seorang Hana Agista demi melindungi dirinya.
"Seandainya kamu menempati posisi Clara saat ini, aku tidak akan sesulit ini menerima kehadiran mu, Hana. Arya sungguh beruntung mencintai perempuan yang rela sakit demi orang yang dicintainya."
Melvin membenahi selimut Hana, tampa mengalihkan tatapannya sedetik pun. Lelah dalam sebuah titik buntu di dalam otaknya Melvin memilih merebahkan tubuh di kursi dengan kaki menggantung kelantai.
Hana rupanya tidak benar-benar tidur dan bisa mendengar setiap obrolan Melvin dan Maya. Dibukanya matanya perlahan-lahan memastikan kalau Melvin benar-benar telah tertidur.
Begitu mudahnya matanya berkaca-kaca memenuhi Indra penglihatannya. "Maafin aku, Vin. Seharusnya pernikahan ini tidak perlu terjadi. Aku tahu kehadiran ku terlalu membebani hidupmu."
Hana ingin ke kamar mandi dan lebih baik nekat sendiri agar tidak lagi menyulitkan suami nya.
Baru bergerak sedikit, tulang punggungnya terasa ngilu.
"Ya Allah, apa Hana tidak akan sembuh mengapa sakit sekali. Hiks..."
Sedari kapan Hana terkejut, tidak sadar jika Melvin tengah berdiri dihadapanya.
"Mau kebelakang?" tanya Melvin.
Hana tersipu, Ia mendadak malu mendapat penawaran itu.
"Ayo..!" Melvin melepaskan botol infus dari tempatnya meminta Hana memegangnya. Diangkat nya tubuh Hana sudah seperti pahlawan tangguh tentu dengan sigap Hana mengalungkan tanganya ke leher Melvin. Hana mengamati wajah tampan Melvin. Tidak terlihat sedikitpun kalau Melvin merasa keberatan dengan bobotnya.
Itu wajar, Melvin sudah beberapa kali melakukan itu padanya walau dalam keadaan setengah sadar.
Sampai diambang pintu.
__ADS_1
"Melvin, biar aku masuk sendiri."
Peduli apa, Melvin ikut masuk dan menurunkan Hana sampai didalam. Hana mematung menanati Melvin pergi tapi tidak ada gerakan sedikit pun dari pemuda itu.