Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_75 Di Kurung


__ADS_3

Hormat ku Untuk mu!!!


Pembaca tercinta ku, novel ini banyak adegan menegangkan. Silahkan hayati perlahan dan jangan membaca terburu-buru ya. Agar kalian juga bisa menikmati emosi dari isi cerita ini.


Terus terang kemungkinan novel ini tidak bisa di baca Maraton seperti novel-novel lainnya.


Maklum author nya tidak pandai merangkai kata-kata atau karena isi nya yang kurang di mengerti.


Jangan lupa sertakan like, komen, Vote, Rate bintang lima dan gift nya ya. Semangat nya seorang penulis baru seperti saya terlahir dari dukungan semacam ini.


Selamat membaca, semoga kalian selalu setia mengikuti hingga di kisah akhir nanti.


...🍀🍀🍀🍀🍀...


Rangga melepaskan jas yang melekat di tubuhnya tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun dari Hana.


Hana beringsut mundur, Ia bisa menebak tujuan Rangga melakukan itu. Sudah pasti Rangga ingin melakukan sesuatu padanya. Sesuatu yang tidak diinginkan oleh wanita di seluruh dunia.


"Hana, kemari lah, Sayang? Kau bisa jatuh nanti," ucap rangga lembut.


Hana merinding takut.


"Tidak, pergi dari sini jangan dekati aku!" teriak Hana mengusir Rangga.


Rangga duduk di tepi ranjang seraya tersenyum. Ia cukup menoleransi kepanikan Hana.


"Hana, sudah di pastikan kita akan menikah. Kenapa kamu sangat ketakutan? Jangan jual mahal dong!" Rangga menyipitkan sebelah matanya.


Rangga mulai mendekat.


"Rangga, tetap disana!" pinta Hana berteriak.


Rangga tak peduli malah semakin mempercepat gerakannya menarik tangan Hana yang hampir jatuh.


"Lepas, Rangga. Lepas.. Jangan sentuh aku. Aku tidak mau," Hana marah dan tak dapat mengendalikan diri.


Lekas Ia menggigit tangan Rangga yang memegang erat tangannya sampai Rangga mengerang.


"Ahk...."


Hana berhasil terlepas. Hana mencari sesuatu untuk mempersenjatai diri tapi Ia tidak menemukan apa pun.


"Ya ampun, Sayang. Kau cari apa? jangan aneh-aneh begitulah," ucap Rangga dengan santainya. Rangga melompat turun kearah Hana.

__ADS_1


Secepat kilat Hana menyambar sebuah pot bunga di atas meja yang terbuat dari beling lalu Ia pecahkan kelantai.


Prang!


Rangga membulatkan mata melihat aksi nekat Hana.


Hana meraih pecahan beling berukuran besar itu, Ia tak akan segan jika Ia tidak bisa lagi memiliki pilihan. Meski air matanya juga tak mampu tertahan dari bola matanya akibat terserang panik maha dahsyat dari goncangan yang di buat oleh Rangga.


Rangga mengembuskan nafas.


"Sayang, apa yang mau kau lakukan? Aku hanya ingin mengajak mu bersenang-senang, Sayang?" tukang Rangga berusaha tetap mendekat.


Hana mengarahkan pecahan beling itu kearah Rangga. Rangga pikir Hana akan menyerang dia tapi itu mustahil. Hana terlalu naif untuk itu. Hana tidak mungkin punya nyali melukai dirinya.


"Ayolah, Han. Kau tidak mungkin berani melakukan ini padaku. Tidak bisakah sekali saja kau mengalah untuk membahagiakan aku?" tawar Rangga. Sempatnya tersenyum picik dan tetap mengikuti langkah Hana yang bergerak mundur.


Hana terkekeh di sela tangisnya.


"Kau benar, aku tidak akan berani melukai kamu karena aku takut masuk penjara.Tapi aku bukan perempuan bodoh yang mau memberikan tubuhku untuk dirimu." Hana mengarahkan pecahan piring itu kebagian perutnya sendiri.


Rangga menghentikan langkahnya.


"Kau lihat ini, jika kau nekat maju. Maka kau akan menikahi seorang wanita yang sudah jadi mayat," ancam Hana bersungguh-sungguh. Hana mengayunkan pecahan beling itu membuat Rangga akhirnya mengalah.


"Oko, oke. Aku tidak akan memaksa. Tapi tolong buang benda itu, Hana." Rangga takut jika Hana tetap nekat.


"Iya, aku berjanji. Tolong buang ya, aku tidak mau kehilangan kamu. Kita akan menikah, Sayang. A.. aku akan menahan diri sampai kita benar-benar syah," kata Rangga merayu. Mana mungkin Ia membiarkan Hana mati sia-sia.


"Bohong, aku tidak percaya." Hana masih ragu kalau Rangga berbicara palsu.


"Tidak, Hana. Aku mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan kamu."


Hana mulai luluh dan menurunkan pecahan beling itu.


Rangga memegang Hana dan mengambil alih benda tajam itu. Gegas Rangga memeluk Hana. Rangga takut Hana membunuh dirinya sendiri di depan mata Rangga.


Rangga menggandeng Hana keluar dan membawa Hana kesebuah rumah di ujung kota.


Rangga memasukkan Hana pada kamar di atas lantai tiga.


"Kau akan ku kurung di sini. Sampai ijab Qobul kita tiba. Mulai besok akan banyak yang datang menyiapkan pesta itu. Ingat satu hal Hana, jika kau melarikan diri, maka kau benar-benar akan kehilangan Melvin untuk selamanya."


"Bagaimana dengan Paman Roy, Rangga. Siapa yang akan menjaga nya menggantikan Bibi?"

__ADS_1


"Itu urusan ku. Paman Roy sudah sadar. Dia lah yang akan jadi wali nikah mu nanti," ucap Rangga gamblang.


Rangga menjaga ketat pintu kamar Hana. Ia benar-benar sudah merencanakan semua dengan matang. Bahkan untuk bernafas saja Hana kesulitan.


Ia menangis memeluk kakinya. Pikiran nya berkalang resah pada keselamatan melvin. Hana tidak tahu keadaan Melvin saat ini.


Hana sudah pasrah jika Melvin tidak akan bisa datang untuk menyelamatkan dirinya. Tiga hari bukanlah waktu yang lama. Melvin sendiri tahu pernikahan itu akan terjadi minggu depan.


"Sudahlah, selamat tinggal, Melvin. Mungkin sampai disini nasib kita. Aku tidak akan bisa bersama kamu lagi selama hidupku."


Dua hari berlalu, sepanjang waktu air mata itu tak juga mengering. Hana juga tidak mau makan dan minum yang di berikan ART padanya karena Ia tidak punya keinginan.


Rasanya semua mimpi-mimpi dan kebahagian itu sudah menghilang dari hidupnya. Menyisakan derita berkepanjangan.


Hana melamun memandangi pelataran rumah Rangga dari lantai atas. Hanya ada orang-orang aneh yang berdiri disana.


Rangga tiba, Ia turun dari mobil membawa serta Rindy si asisten Melvin. Rangga sengaja memilih Rindy karena Rindy tidak menunjukkan pembelanya pada keluarga Prabu.


Mendatangkan Rindy bertujuan membujuk Hana agar mau mengisi perut. Mungkin sesama perempuan Hana mau membuka diri.


Satu hal pasti yang Rangga lakukan, Ia memasangkan sebuah jam tangan yang sudah di pasang alat pendeteksi suara obrolan keduanya di tangan Rindy.


Rangga tidak mau Ia kecolongan kalau ternyata Rindy telah berkhianat.


"Han, kau lihat ini. Aku membawa teman perempuan untukmu untuk menemani kamu di hari pernikahan kita besok," tutur Rangga mendekati Hana. Diciuminya rambut Hana dari belakang.


Rindy hanya berpaku di depan pintu menunggu reaksi Hana saat Hana melihatnya.


Hana menoleh kearah Rangga dengan tatapan kosong. Ia tidak pedulikan hal itu.


"Kau yakin tidak mau lihat? Jangan menangis terus, Sayang. Aku akan marah nanti," ucap Rangga lirih.


Hana menelisik kearah Rindy, Hana agak kaget melihat Rindy disana.


Rangga mengembangkan senyum.


"Sekertaris Papa Prabu adalah orang yang ku pilih untuk mu. Dia nampaknya bisa di andalkan menjadi temanmu," kata Rangga lagi.


Setelah itu Rangga keluar dan masuk keruangan lainnya. Ia duduk dengan tenang dan memasang headset untuk mulai mendengarkan.


"Ri.. Rindy, ke... kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Hana gugup.


Rindy tersenyum dan mendekati Hana.

__ADS_1


"Mbak, kudengar kau tidak mau makan. Sekarang Mbak makan ya, aku akan menemani Mbak, jadi Mbak gak akan kesepian."


"Ta.. tapi Rin. Gi.. gimana dengan_?"


__ADS_2