Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_45 Ribut


__ADS_3

Halo reader MENIKAHI ISTRI AMANAH KAKAK. Jangan lupa sertakan like, komen, Vote and rate bintang lima sebanyak-banyaknya ya. Aku juga menerima saran dari para reader untuk membantu mengembangkan cerita ini. Saran dan kritik amatlah penting.


Tak pernah lelah juga aku selalu ucapkan terima kasih sudah setia menyumbangkan dukungan kalian. Tampa reader penulis bukanlah penulis sama halnya mengumpulkan tulisan sampah yang tidak berguna.


O ya aku juga akan selalu menunggu ke kompakan kalian di novel ini. Semoga Allah memberikan kesehatan selalu untuk para reader dan keluarga dirumah. Supaya bisa terus baca dan baca setiap bab perbab selanjutnya.


Oke, I Love you to reader!!! emuaachh.. emuaaaach.... 🤭🤭🤭😊😊😊🙏🙏


...🍁🍁🍁🍁🍁...


Melvin dan Clara menghabiskan waktu berjalan-jalan di Pantai. Mereka asyik menikmati nyiur angin sepoi-sepoi dari lambaian pohon kelapa dan juga hembusan dingin dari hempasan air laut. Sesekali terdengar suara ombak menderu kuat menabrak batu karang. Malam itu Ia telah melupakan istri yang tengah menunggu dirinya pulang. Tampa menyadari dua orang memperhatikan mereka dengan kesal.


Prabu duduk di kafe bersama seorang perempuan seusia denganya. Tubuh perempuan itu dibalut pakaian minim dengan potongan-potongan hiasan bergelambir di bagian pinggangnya. Wajahnya dipoles make-up tebal sedemikian rupa lengkap beserta aksesoris mahal di seluruh tubuhnya. Kafe mini Hourse adalah singgahan terakhir para pengunjung setelah lelah berwisata keliling tempat itu. Pengunjungnya terbilang ramai termasuk para turis dari berbagai belahan dunia yang diantaranya hanya mengenakan Bra dan celana segitiga di bagian bawah perut.


Lebih luar biasa lagi mereka tidak malu dengan tubuh eksotis mereka. Yah, mereka orang turis kebarat-baratan memang sangat lah terbuka dalam berpenampilan.


Kata mereka Indonesia mataharinya sangat terik apalagi di musim panas seperti saat ini. Jadi mereka lebih nyaman jika berpakaian demikian.


Diandra perempuan yang duduk didepan Prabu terheran-heran melihat tatapan Prabu tertuju pada sepasang kekasih tengah duduk diatas hamparan pasir.


"Mas, kau lihat siapa?" tanya perempuan itu. Rasa ingin tahu membuat Diandra ingin mendapat jawaban.


Prabu menyeka bibirnya sehabis mengunyah kue tar coklat kedalam mulutnya. Pancaran matanya menyeramkan dan tegas. Sikap itu Ia turunkan pada Melvin Prabu Wijaya. Satu hal yang membuatnya tidak pernah akur dengan Melvin adalah kesalahan patal yang pernah di lakukan Maya hingga membuatnya benci dengan kelahiran Melvin.


"Anak tidak berguna ku," sahut Prabu. Prabu menyimpan marah pada sosok Melvin. Bisa-bisanya Melvin berduaan dengan Clara tampa memikirkan keadaan Hana yang baru saja pulih dari sakit demi dirinya.


"Oh, jadi itu putra istri pertamamu?" Perempuan itu menopang dagu. Tersenyum tipis tampa menunjukkan kecemburuannya.


Prabu mengangguk sembari meraih sisa jus dari cangkir berkaki bundar lalu menegak nya tampa sisa.


"Mas, kau akan pulang malam ini?" tanya perempuan itu lagi.


Prabu menatap dalam manik hitam di depannya.


"Maaf, Sayang. Tapi aku mau memberi hukuman anak itu."


Diandra kembali mengembangkan senyum anehnya.


"Ada apa dengan mu, Mas? Dia itu ingin mengikuti jejak mu memiliki dua istri," tutur perempuan itu mengejek Prabu.


Prabu bangkit dan meninggalkan kecupan di kening Diandra.

__ADS_1


"Itu bukan urusan mu. Pulanglah sendiri, aku harus kembali menemui Maya."


Diandra menahan lengan Prabu.


"Oke, baiklah. Tapi ingat, kau harus empat hari bersama ku dalam satu minggu."


"Iya, aku tahu itu." Prabu mengecup lagi kening si perempuan dan berlalu pergi.


Diandra terkekeh dengan sikap egois Prabu. Ia boleh memiliki istri lain namun melarang anaknya berbuat demikian.


"Dasar Bapak aneh, bukankah ada darah mu yang mengalir di tubuh anak itu." Si perempuan menyeringai picik. Ia melihat lagi kearah Melvin dan Clara.


Melvin dan Clara mengobrol sejenak dan beralih meninggalkan tempat itu.


Usai memasangkan sabuk pengaman, Clara semakin mengulur waktu menghabiskan waktu bersama Melvin. Disandarkannya dengan gemulai kepalanya di pundak Melvin.


"Vin, aku minta kau urus surat itu besok ya?"


Melvin tersenyum menyetujui keinginan Clara. Sudah saat nya Melvin mengakhiri pernikahan omong kosongnya dengan Hana.


Malam itu Melvin tiba dirumah Prabu usai mengantar Clara pulang. Ia akan menyampaikan tujuan yang diambil nya pada Hana malam itu juga.


Menunggu lebih lama lagi malah akan mengekang hidupnya.


Prang! Prang!


"Cukup menyalahkan anak ku, Mas. Ia memang tak sempurna tapi jangan kau jadikan alasan untuk terus-terusan memojokkan aku dan dia." Maya histeris melihat Prabu sama halnya dengan orang kesurupan.


"Alah, kau itu selalu memanjakan anak pembangkang itu. Lihat, Ia sangat memalukan." Prabu melempar lagi sebuah pot bunga. Hampir saja terbang kearah Maya namun Maya buru-buru menghindar.


Maya sudah cukup sabar menghadapi keburukan Prabu selama ini sebagai alasan untuk balas dendam dari kekhilafan Maya dimasa lalu.


"Mas, aku sudah mengikhlaskan kamu menikahi wanita Jal****ng mu itu karena kesalahan ku. Tapi kurasa kau sudah cukup melakukanya untuk menghancurkan hidupku, Mas."


"May, aku tidak akan pernah berhenti melakukan ini dan tutup mulutmu itu sampai aku puas membalas rasa sakit hatiku. Aku berhak menikah lagi dengan banyak wanita mana pun yang aku sukai. Tidak dengan kamu, kamu hanya Ibu rumah tangga yang bisanya menghabiskan uangku untuk berfoya-foya!" Prabu Menunjuk wajah Maya dengan amarah yang berkobar-kobar.


"Iya, Mas. Aku memang melakukan itu tapi setelah Arya meninggal aku tidak pernah lagi melakukannya, Mas. Aku juga lelah Mas. Kau lebih mementingkan istri kedua mu ketimbang aku." Maya duduk menghapus jejak air mata yang tak henti-hentinya tumpah secara li*r.


Hana jadi terisak-isak di dalam kamar tak berani keluar. Tidak disangkanya ternyata Papa mertua punya wanita lain. Begitu rapinya Maya menyembunyikan kesakitan dan lukanya pada Ia dan Melvin. Sudah tiga bulan Hana disana. Prabu dan Maya tak terlihat ada masalah, tapi hari ini Hana mendengarnya langsung dari mulut mereka begitu pula Melvin.


Melvin menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya mendengar drama dirumahnya. Ternyata masalah orang tuanya jauh lebih pelik dari masalahnya sendiri.

__ADS_1


Kondisi itu menghantam jiwanya sebagai seorang anak. Ia mulai paham sesuatu yang tidak Ia ketahui terjadi dirumah itu selama Ia di Eropa.


Melvin turun dari mobil untuk melihat langsung kejadian didalam rumah dan berinisiatif menghentikan kekacauan.


Melvin mengamati barang-barang yang terbuat dari marmer pecah tak berbentuk.


"Mama.., ada apa Ma?" Melvin memeluk sang Mama. Melvin tak kuasa melihat duka pada Wanita yang sudah melahirkannya.


Prabu menggertakan giginya, orang yang ditunggunya sudah datang. "Sini anak bangs*t!" Prabu menarik lengan Melvin dengan kasar dan memberi Melvin kepalan tinjuan cukup keras.


Melvin tidak menghindari, Ia terkejut dengan aksi Sang Papa. Di balasnya tatapan Prabu dengan sorot kebencian.


"Ayo pukul, Pa. Pukul lagi wajah ini jika itu mengurangi beban hati, Papa. Ayo lakukan, Pa. Ayo...." Melvin menampar wajahnya sendiri menanti tangan Prabu untuk menyentuh pipinya untuk kesekian kali agar Prabu terpuaskan. Sudah kebal rasanya Ia menerima sakit mendapat hadiah sentuhan tangan dari Papanya.


Prabu melunak Ia menarik nafas beratnya dibarengi berkaca pinggang.


"Vin, Jangan mencoba melakukan sesuatu yang akan membuat mu menyesal seumur hidup."


Melvin tertawa childish.


"Why Dad... what's is your problem?" (Kenapa Pa, apa masalahmu?


"Because, I care about your happiness, Melvin." ( Sebab, Aku peduli tentang kebahagian mu, Melvin)


"What kind of happiness? You just want to see me suffer!" (Kebahagian apa? kau hanya ingin melihatku menderita)


Prabu menggeleng.


"Dasar keras kepala, apa otakmu sudah tidak berfungsi lagi, Ha? itu sebabnya aku tidak peduli pada anak seperti kamu!"


Prabu kembali keluar meninggalkan rumah itu.


"Mas, kamu mau kemana lagi, Mas?" teriak Maya berharap Prabu kembali. Tidak, bahkan menoleh pun Prabu enggan.


Melvin mengambil bantal sofa dan membantingnya kelantai. Ingin sekali Ia ikut menghancurkan rumah yang sudah seperti gudang rongsokan.


Tampa menuntut pertanyaan pada Maya, Melvin masuk kekamar dan menutup pintu sekeras-kerasnya hingga bergetar dan bertemu Hana dalam keadaan membisu.


...😉😉😉😉😉...


Jangan lupa mampir juga kesini y kakak

__ADS_1



__ADS_2