
Malam itu, Clara telah pulang Ia membuka pintu terdengar deritan yang membuat Melvin menoleh. Melvin beranjak dari tiduran dan menghampiri Clara meletakkan tas di atas meja.
Melvin menarik lengan Clara cukup kuat untuk memberitahukan Clara kalau dia sedang marah dan tidak menyukai sifat buruk yang sering menjadi kebiasaan dirinya.
"Cla, dari mana kamu?" tanya Melvin datar tapi tatapan matanya menyimpan ke kecewaaan.
"Main, aku bosan di rumah," timpalnya nya cuek.
Dilepaskan nya high heels miliknya dengan kasar di depan Melvin lalu masuk kekamar mandi.
Melvin tertegun melihatnya, Ia hanya seperti orang yang tidak berarti di mata Clara.
Melvin memutuskan menunggu Clara selesai dan akan menanyakannya lagi.
Di rumah Paman Roy, malam dingin seakan menusuk pori-pori kulitnya mengakibatkan paman Roy di serang batuk-batuk.
"Uhuk... uhukkk....."
Bi Yuna menggeliat sebal, Ia terganggu akan suara Paman Roy.
"Bu, tolong Bapak. Nafas bapak sesak Bu," Melas Paman Roy
memegangi kerongkongannya.
"Alah, bapak ini aku capek palingan masuk angin suruh aja Hana yang Kerokin!" ketus Bibi Yuna malah memeluk guling dengan tenang.
"Bu, Ibu kan ada kasihan Hana seharian kerja harus di bangunin. uhuk.. uhuk...," tutur Paman Roy mengambil posisi duduk sambil terus terbatuk-batuk.
Bibi Yuna akhirnya turun dan menghentak-hentakkan kakinya kelantai menuju ruang tengah guna mengambil balsem dan uang recehan.
Batuk Paman Roy semakin parah dan tak mau berhenti sampai Ia memuntahkan darah dari mulutnya kelantai membuat Bibir Yuna yang baru masuk melotot marah.
"Bapak, kok jorok banget sih? emang Bapak abis makan apa?" Teriak Bibi Yuna sampai ke telinga Hana.
Hana penasaran, Hana masuk kekamar Paman Roy dan Bibi Yuna. Betapa terkejutnya Ia melihat kondisi Paman Roy.
"Ya Allah, Paman. Paman sakit, ayo kita ke dokter Paman," tawar Hana karena Paman Roy sangat pucat.
Bi Yuna melirik sinis ke arah Hana.
"Emang kamu punya uang, Han. Itu uang tiga ratus ribu buat makan tiga hari kedepan," oceh Bibi Yuna.
"Bibi tenang saja nanti Hana cari uangnya," jawab Hana. Hana menggandeng Paman Roy ke arah jalan untuk mencari angkutan lewat karena hari sudah malam sulit juga mendapatkannya tetapi Paman Roy tak juga berhenti batuk dan terlihat nafasnya tidak beraturan.
"Sabar, Paman. Tunggu sebentar lagi ya..."
__ADS_1
"Iya, Han. Uhuk.. uhuk..." rupanya Paman Roy tak kuasa menahan sakit hingga Ia jatuh pingsan.
Hana benar-benar panik, Ia bingung harus berbuat apa.
"Bibi Yuna, Paman Roy, Bi!" teriak Hana. Bibi Yuna tak menggubris panggilan Hana.
Saking bingungnya, Hana meraih ponselnya. Di geraknya naik turun nama-nama kontak di ponselnya. Menimang siapa yang pantas di mintai tolong.
Sejenak Hana menghentikannya pada nomor ponsel Melvin tapi hatinya ragu Ia tidak yakin Melvin bersedia datang malam itu. Pasti Melvin sedang menikmati malam-malam bersama istri barunya Clara.
Hana menggeser lagi kebawah dan tidak punya' pilihan lain selain memohon bantuan Rangga.
Tut!
Tut!
Tuk!
Tak ada jawaban mungkin Rangga sedang sibuk atau sudah terlelap tidur.
"Ya Allah, Paman. Bangun Paman, Apa yang harus Hana lakukan, Paman? Aku harus bagaimana sekarang perlukah aku menelpon Melvin tengah malam begini?"
Tangan Hana terasa berkeringat di tekannya dengan paksa nama kontak Melvin.
Melvin terkesiap mendengar ponselnya berdering, di ambil nya handphone itu dan sedikit tercekat pada orang yang menghubunginya.
"Halo..." ucapnya lirih tak ingin di dengar Clara.
"Vin, aku butuh bantuan mu?"
"Ada apa? ini sudah malam?"
"Paman Roy sakit dan dia pingsan aku sedang di tepi jalan sekarang."
"A.. apa? baiklah aku kesana sekarang."
Clara keluar dari kamar mandi dan merampas ponsel Melvin.
"Heh, wanita jal*ng apa kau tidak punya malu, berani nya kau menelpon suamiku malam-malam begini. Kau tidak tahu kami sedang melakukan hubungan surga sekarang ini."
Clara mematikan ponsel Melvin dan melemparnya keranjang dengan sangat kasar.
"Apa yang kau lakukan, Cla?" protes Melvin melihat melesatnya ponsel itu.
"Apa urusan mu, dia bukan siapa-siapa mu lagi. Bukankah lebih baik kita bersenang-senang sekarang, Ayo!" Clara menarik lengan Melvin jatuh ke ranjang. Melvin tak menolak tentu itu adalah sesuatu hal yang menjadi kebutuhannya sebagai seorang pria dewasa.
__ADS_1
Hana gelimpungan seorang diri, Ia menangis tak tega melihat keadaan Paman Roy.
"Paman, ayo bangun Paman. Jangan bikin Hana takut Paman, Paman!" Hana terus berteriak-teriak menggoyangkan tubuh Paman Roy.
Dari kejauhan sebuah cahaya lampu mobil mendekat kearah mereka. Hana tak menyiakan kesempatan meletakkan kepala Paman Roy ketanah perlahan untuk menghadang mobil itu.
"Tolong, Pak. Tolong...." Hana melambai-lambaikan tangan di depan mobil itu Ia pikir pengemudinya seorang laki-laki.
Mobil itu berhenti dan keluarlah seorang perempuan tak lain adalah Diandra.
"Ada apa, Nak?" tanya wanita itu.
"Tolong saya, Tante. Paman saya sakit dan dia pingsan!" melas Hana di barengi air mata.
"Oh, Oke. Ayo aku bantu..." Keduanya memapah Paman Roy.
Hana bernafas lega kedatangan si perempuan mulia itu membuat hatinya menjadi teman.
Sesampainya dirumah sakit Paman Roy langsung mendapat penangan khusus untunglah Dokter yang bertugas malam itu belum pulang usai melakukan operasi pada seorang pasien.
Dokter perempuan itu meletakan telapak tangan nya di perut Paman Roy lalu mengetukkan dua jarinya di bagian lambung pelan. Jelas sekali terdengar perut Paman Roy sudah seperti nangka masak.
"Kurasa dia sakit sejak lama ya?" tanya Sang Dokter pada Hana.
"Saya kurang tahu, Dok. Paman tak pernah memperlihatkan keluhannya," jawab Hana.
"Perutnya lumayan parah dia menderita asam lambung dan beberapa penyakit kronis lainnya," papar sang Dokter.
"Maksud, Dokter?"
"Paru-parunya rusak banyak tumpukan lendir di dalamnya dan jantungnya membengkak. Dia harus benar-benar di rawat dengan pemeriksaan secara mendetail."
"Lalu apa yang harus di lakukan, Dok?"
"Kita cek lab besok melalui sampel darah, jika masih bisa di obati maka Pak Roy harus rutin minum obat dan jika tidak memungkinkan terpaksa Pak Roy harus segera di operasi."
Hana tak bisa berkata-kata lagi, semenderita itu Paman Roy selama ini. Begitu pandai nya Ia menyembunyikan kesakitan nya dari keluarganya. Pasti Paman Roy tidak ingin menyulitkan kebahagiaan keluarga nya yang menjadi prioritas utama.
Diandra memeluk Hana, tak tega melihat Hana bersedih. "Sabar, nak. Ini adalah ujian untuk mu."
"Makasih, Tante. Tante sudah baik mau menolong Hana."
"Tidak masalah, Tante tidak mungkin sejahat itu membiarkan seseorang dalam kesulitan."
Di dalam kamar tadi, Melvin dan Clara sudah memulai ritual untuk menumbuhkan gairah mereka hendak bercinta. Keduanya saling membalas gerakan pemanasan.
__ADS_1
Melvin mulai menyingkap handuk cuma lima jengkal dari sela***kaangannya.