Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_36 Terjadi lagi


__ADS_3

Terlanjur basah, Melvin tak pedulikan lagi akibat dari hubungan yang bisa saja membuat lupa dirinya akan seorang Clara.


Hasrat itu menyiksa relungnya hingga Ia harus segera melepaskan itu secepatnya. Baik setuju tidaknya Hana, Hana juga tentu menginginkan hal yang sama.


"Vin, vin. Tolong kendalikan dirimu." Hana menahan dada Melvin agar menghentikan aksi kasarnya. Melvin tidak menghiraukan ocehan Hana dan semakin memperdalam Sentuhan bibir mereka.


Memaksa Hana agar membalas miliknya.


Celah itu akhirnya terbuka dan membiarkan Melvin leluasa bermain mengitari ruang dan waktu disana. Seorang lelaki mungkin lebih kuat insting na***su nya jika dibandingkan perempuan kalaupun Ia tidak terjerat akan dorongan yang membuatnya mengalami keadaan seperti saat ini. Lelaki punya hasrat yang kuat apa lagi itu sudah memuncak angan dalam bayangan bercinta.


"Vin, Vin... ." Hana ingin menolak akan tetapi desiran dari tubuhnya menikmati suasana itu.


Melvin melepaskan pangutan nya menatap dalam manik bening perempuan cantik dalam setiap gerakan bola matanya.


Hana mengulum bibir dan membalas pandangan itu dalam seribu pribahasa.


Melvin menyelipkan anak rambut yang terlihat telah berantakan olehnya. Menggerakkan perlahan tangan kearah baju tidur itu untuk dilepaskan.


Hana masih dalam isakan nya tidak mengerti akan dirinya sendiri. Ia menginginkan itu tapi ada rasa yang mengganjal di dala sanubari nya.


Melvin benar-benar terpesona melihat keindahan tubuh polos Hana Agista. Sudah pernah Ia lihat sebelumnya. Akan tetapi hanya seperti sebuah mimpi yang berlalu dan itu menjadi yang kedua kalinya Hana berada dalam pengaruh dirinya.


"Hana..," ucapnya pelan. "Jangan menangis, aku hanya ingin kita terlepas dari keadaan ini. Aku tidak mau menahan diri hingga membuat kita mati karenanya. Izinkan aku melakukannya." Melvin juga sebenarnya tidak ingin melakukan itu karena Ia tidak bisa berjanji akan kebahagian dari istrinya itu.


"Hana...," ucapnya lagi. Meraih dagu indah sang istri.


"Vin, aku minta maaf. Tapi aku tidak ingin_."


Hana tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Melvin mengembangkan senyum. Ada kebahagian tersendiri melihat Hana dalam kegelisahan. Sangat menarik menurutnya.


"Kau bersedia kan?" tanya Melvin menunggu jawaban Hana.


"Apa tidak ada yang bisa menghentikan ini, Vin. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kalian, aku tidak mau Clara menganggap aku sebagai perampas. Hiks..." Hana menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Melvin menggeleng, ada diantara keraguan dan tidak tapi rasa itu bisa saja membunuh mereka jika mereka tetap bertahan.


"Tolong jangan bodoh, Hana. Aku ini suamimu kan?" Melvin geram karena Hana tak kunjung setuju dan malah memikirkan hal lainnya ditengah situasi gawat darurat.


Hana mengusap air matanya dan akhirnya menganggukkan kepala berkali-kali.


"Kau yakin?" tanya Melvin mengharap kepastian.


Hana mengangguk lagi. Ia pasrah menyerahkan lagi mahkota itu pada Melvin suaminya meski Melvin belum mencintai dirinya atau mungkin tidak akan pernah.


"Hana, aku tahu aku bukan orang yang baik itu sebabnya Papa sangat membenci aku. Aku tidak tahu mengapa takdir selalu membuat kita melakukan ini dalam kondisi keterpaksaan. Aku jahat Han, itu benar. Tapi aku tidak sanggup menahan lagi."


Melvin segera menggendong Hana keatas ranjang.Sebenarnya Ia kasihan Juga pada Hana bila nanti wanita itu akan menderita olehnya setelah kejadian itu tapi apalah daya itu lebih sakit dari sayatan silet jika dibiarkan.


Tak ubahnya berada dalam lingkaran bola api jika bertahan terbakar dan jika nekat keluar pun akan tetap terbakar.


Melvin mengesampingkan Semua yang tersirat dan memilih yang tersurat didepan matanya, Ia membuang penutup miliknya dan langsung menancapkan kunci nya kembali pada gembok yang masih sama seperti dulu.


Rupanya kunci dan gembok itu tetap saling setia dan tidak sempat berpindah ke lain hati. Gembok lainya susah payah dihadirkan nyatanya tidak berguna. Kunci itu akan kembali pada pemilik sejatinya.


"Han, aku merasa lebih baik sekarang," desis Melvin memberi tahu.


"Aku juga, ahk.. Vin. Pelan-pelan." Hana memejamkan mata merasa kan gerakan Melvin terlalu kuat.


Melvin mengikuti Hana dan memperlambat pacuan kuda liar yang sedang dalam kendali tenaganya. Cukup lama mereka melakukan permainan hentakan tubuh.


Malam itu mereka menghabiskan waktu memadu kasih melelahkan dan menuntaskan raga mereka dalam penyatuan panjang.


...☘️☘️☘️☘️...


Pagi-pagi sekali tak ada yang aneh dan perasaan bersalah, Dafa datang dengan percaya diri mengetuk kamar dua insan yang mungkin saja masih terlelap dalam satu selimut usai menghabiskan energi.


Tok! Tok! Tok!


"Selamat pagi. Bos, Selamat pagi!" Dafa memanggil berulang-ulang didepan pintu supaya mereka segera bersiap untuk berangkat. Hari itu atas keinginan Melvin mereka akan kembali ke kota lebih cepat dari seharusnya.

__ADS_1


Melvin sebenarnya sudah bangun sejak pagi tapi membiarkan Dafa berteriak-teriak sesuka hati. Melvin marah pada Dafa, Pasti karena ulah asisten sed*ngnya itu Ia harus kembali merenggut mahkota Hana untuk kedua kalinya.


Melvin memandangi wajah Hana dan duduk di tepi ranjang. Ada perasaan bersalah dalam hati Melvin memperhatikan wajah itu.


Melvin tidak ingin kejadian buruk yang juga sudah dua kali menimpa Hana akibat hampir diperk*sa bisa saja terjadi lagi ditempat asing itu. Wajar saja Hana memiliki paras cantik dan imut apalagi dibalut make-up tentu semua lelaki hidung belang akan terobsesi dengan dirinya.


Melvin rasakan getaran berbeda untuk kesekian kali dihatinya, tapi Ia membuang jauh-jauh rasa itu dan menganggap itu hanya sebatas iba saja.


Ia sangat yakin kalau Ia hanya mencintai Clara seorang dan tidak akan mungkin berpindah ke lain hati apa lagi Hana Agista kekasih Arya kakaknya.


Tiba-tiba saja Melvin tersenyum getir mengejek dirinya sendiri. "Dia terlalu sempurna untuk laki-laki seperti aku Kak. Seharusnya kau menyerahkan pada lelaki yang lebih tepat dari diriku seperti Rangga. Kulihat Rangga sangat mencintai wanita mu itu dan bahkan bisa dipastikan Rangga akan menjaga dia seribu lebih baik dari diriku."


Melvin pura-pura sibuk dengan ponsel dalam genggamannya saat melihat Hana mulai menggeliat dan terbangun.


Hana berpijar dalam hening melihat Melvin ada disana. Hana melempar batu sembunyi tangan menutupi rasa malunya lalu melilit tubuhnya dengan selimut menuju kamar mandi.


Hana berjinjit-jinjit merasakan sakit disana. Meski pernah Melakukan hubungan dengan Melvin tapi tetap saja sakitnya sama seperti malam itu.


Melvin melirik Hana telah masuk diruangan kecil itu guna membersihkan diri. Melvin meleguk salivanya dan semakin terkungkung dalam sebuah ikatan.


"Maafkan aku Hana, Maaf." Melvin bergegas bangkit dan membuka pintu untuk Dafa dari pada sibuk dengan kemelut didalam otaknya.


"Ada apa?" Dafa langsung diserang dengan bahasa sadis dari Melvin.


"Hehehe.. udah siap, Bos?" tanya Dafa cengengesan.


Melvin yang menyandar di tiang Pintu melipat tangan dan menatap tajam kearah Dafa. Dafa mengkerut melihat itu dari wajah si Bos. Habis sudah dirinya kali itu tampa ampunan.


"Jangan pura-pura sok baik, Daf. Kau akan menerima hukuman terbesar mu setelah tiba dikota nanti," ancam Melvin. Melvin tersulut dendam pada asisten ngawur yang sudah berani-beraninya mengerjai Tuannya.


Dafa menganga tampa suara.


"Tutup mulutmu, jangan sampai lalat masuk dan membuat wajahmu semakin kusut," ketus Melvin.


"A.. ada apa sih Bos kok pagi-pagi udah marah saja sih?" Dafa bertingkah seolah tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2