
Melvin berlari mendekat, Ia menoel telinga teman si petak sedang si petak masih terus menggoda Hana.
"Ngapain, Bang?" tanya Melvin pelan dan santai.
"Situ gak liat apa? cewek cakep ni lo gak mau ikutan, No?" Si petak mengira Melvin adalah temennya yang datang.
"Iya, ya mulus banget mau gak, ku kasih tau caranya pemanasan?" ucap Melvin emosi.
Melvin sebenarnya sudah tidak tahan melihat wanita yang duduk di bawah menepis-nepis tangan temennya si petak yang hendak berbuat tidak senonoh.
"Caranya gimana, No?" tanya si petak tidak menoleh.
"Begini caranya." Melvin menendang bokong orang itu hingga terjungkal membuat si petak kaget.
"Sialan, siapa lo?" amuk si petak.
Hana tersenyum setelah tahu jika Melvin yang datang menolong dirinya.
"Melvin..." teriak Hana.
Melvin membulatkan bola matanya. Ia tidak menyangka wanita yang di tolong nya ternyata juga adalah Hana.
"Hana, kau baik-baik saja?" tanya Melvin.
Belum sempat mendapat jawaban si petak menyerang, Melvin semakin mengamuk mendapati Hana korbannya.
Tinjuan si petak yang mengarah padanya langsung di sambut Melvin. Melvin mematahkan tangan si petak ke bawah dan di kuncinya tubuh si petak hingga tulang belulangnya gemeretak.
"Aw.. aw.. ampun, Bang. Ampun," mohon si petak.
Yang satunya tidak tinggal diam. Ia memukul perut Melvin hingga si petak terlepas dari cengkraman nya.
Melvin menggertakan rahangnya, Ia tidak akan mengampuni perbuatan teman si petak.
Dengan langkah tegas Melvin mendekati teman si petak. Teman si petak ketakutan menyaksikan raut garang wajah Melvin.
Melvin meninju dagu teman si petak hingga teman si petak terpelanting kebelakang.
Gelegur!
Suara petir bergemuruh di barengi hujan deras membasahi tanah dalam sekejap.
"Ahk...." Hana ketakutan menutupi telinganya namun tak berdaya untuk bangkit dari posisinya. Kakinya terlalu sakit untuk itu.
Rupanya kedua preman itu juga panik tak di rasa lagi tubuh mereka babak belur mereka segera mencari tempat berlindung.
__ADS_1
Melvin berbalik kearah Hana di seka nya air yang jatuh di wajahnya. Ia duduk jongkok dan mengangkat tubuh Hana. Hana menatap lekat wajah Melvin. Melvin begitu luar biasa. Tanpa sadar Hana tersenyum Ia merasa di lindungi berada dalam dekapan Melvin.
Kilat putih mengagetkan Hana. Gegas Hana menyembunyikan wajahnya di dada Melvin.
"Begitu saja jika kau takut," kata Melvin.
Hana diam dan tak menjawab. Sejujurnya hatinya sedang bertunasan di dalam sana begitu juga Melvin yang diam-diam menyukai itu. Tapi Hana lebih kentara karena wajah Melvin hanya datar saja.
Semakin jauh dari tempat semula, Melvin mulai bingung melihat ke sekililing nya mereka tidak punya tempat untuk bernaung bahkan hujan bukannya berhenti dan malah semakin deras.
"Kamu lelah, Vin?" tanya Hana tidak mengubah posisinya.
"Tidak, kamu tenang saja." Melvin tertuju pada sebuah gudang kosong. Melvin tidak lagi berpikir panjang dan memutuskan berteduh di tempat itu.
Banyak barang-barang sudah tidak terpakai berserakan di lantai. Bahkan tempat itu cukup kotor.
Melvin mendudukkan Hana di atas kardus. Lalu mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk penerangan di dalam sakunya. Melvin ingat kalau Ia membawa ponsel. Melvin memindahkan kedalam mode terbang agar signal ponsel tertutup untuk melindungi dari kilat begitu kata orang.
Hana ingin menggerakkan kakinya tapi Ia malah kesakitan.
"Aduh, sakit," keluh Hana memijit sendiri kakinya.
Melvin memegang kaki Hana dilihatnya kaki Hana membengkak merah sudah di pastikan Hana terkilir cukup
parah.
Melvin tersenyum lagi, Ia merasa ada getaran bergelora. Kali ini Ia yakin perasaan itu sangat berbeda. Tentunya itu adalah perasaan spesial yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya.
Lekas Melvin mengeratkan pelukan di tubuh Hana agar Hana tidak takut lagi.
"Tenang saja, Han. Cuaca ini tidak akan lama. Kamu rebahan saja ya, aku coba mengobati kaki mu," tukas Melvin meminta Hana melakukan itu.
Hana mengangguk, Ia menuruti kemauan Melvin. Setelah Hana sesuai posisi, Melvin memperhatikan kaki Hana yang hanya mengenakan rok sepaha begitu memikat bola mata Melvin membuatnya meneguk saliva.
Wajah Hana memerah, Ia tahu Melvin mengamati dirinya.
Tiba-tiba saja Melvin menarik kaki Hana dengan keras hingga Hana menjerit lepas.
"Aduh, Melvin. Kau mau mematahkan kaki ku, Ha?" teriak Hana kesal.
"Heh, coba kau gerakan apa kaki mu masih sakit?" tanya Melvin menyeringai.
Hana mengkerut lalu menggerak-gerakkan kakinya.
"Oh, ya ampun. Kaki ku sudah membaik," ucapnya takjub.
__ADS_1
Suara petir masih bersenandung tapi Hana malu jika Ia memeluk Melvin lagi. Ia takut Melvin menganggap rendah dirinya.
Melvin turut diam. Ia sadar Ia sudah banyak salah pada Hana tapi kali ini Ia berniat ingin mengajak Hana rujuk namun bibir nya terlalu kaku mengatakan itu.
Melvin melihat Hana memeluk kakinya, Melvin tahu Hana kedinginan bibirnya bergetar dan membiru.
Melvin bingung saat Hana malah makin menggigil. Melvin duduk di hadapan Hana dan menarik tangan Hana untuk di gosok-gosokkan dengan tangannya.
"Apa ini lebih baik?" tanya Melvin pada Hana.
Hana mengembang kan senyum.
"Kamu demam ya?" tanya Melvin seraya menyentuh kening Hana karena merasa kan tangan Hana panas.
Melvin tidak tega tapi Ia bingung harus berbuat apa. Melvin mencoba mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuh Hana. Ia menemukan dua kardus lainnya. Melvin mengebas kardus itu agar debunya berterbangan.
"Han...."
Hana mendongak.
"Aku mengaku bodoh selama ini. Maafkan aku...," ucap Melvin bersungguh-sungguh. "Kamu lepas saja baju mu ya!" tutur Melvin.
Hana mengernyit.
"Untuk apa?" tanya Hana.
"Aku gak akan liat kok, kamu bisa memakai kardus itu untuk menutupi tubuh mu setidaknya sampai besok," tutur Melvin. Menurutnya itu jalan terbaik.
Sejenak Hana berpikir. Lalu melepas semua baju basahnya dengan di tutupi kardus yang di pegangi Melvin dari sisi lainnya.
Melvin mencoba tidak khilaf, Ia bisa membayangkan keindahan tubuh Hana tanpa sehelai kain melekat di sana.
"Sudah, Vin. Terima kasih," ucap Hana mengambil alih kardus itu sebagai pengganti selimut. Hana merebahkan tubuhnya dengan beralaskan benda yang sama.
Melvin duduk menjauhi Hana. Sadar statusnya dengan Hana bukan lagi suami istri.
Melvin menatap Hana sudah terlelap. Wajah cantik itu benar-benar menyakiti hatinya.
"*Seandainya, aku tidak menceraikan kamu. Mungkin kisah ini tidak akan menyisakan luka, Hana."
"Aku terlalu na'if aku baru sadar kalau Kak Arya benar, kau adalah perempuan hebat yang di kirim Tuhan melalui Kak Arya untukku*."
Melvin menitikan air mata, Ia benar-benar telah menyesali kebodohan hidupnya. Tak seharusnya Ia hidup di dunia tanpa ada artinya seperti saat ini.
Melvin mendekati Hana, dengan ragu-ragu Melvin mengelus pipi Hana.
__ADS_1
"Aku mencintai mu, Hana."