
Penyajian menu-menu makanan di restaurant itu tertata sangat rapi dan berkelas di atas meja berukuran jumbo. Laki-laki dan perempuan punya tugas masing-masing.
Ada yang menyapu, ada yang menata di atas piring atau mangkok bahkan ada juga yang sibuk mengangkuti wadah sisa makan orang-orang yang mereka layani di sana.
Melvin dan sepuluh orang lainnya bertugas menyediakan makanan pesanan pada pengunjung yang baru datang.
Bertepatan itu Melvin melayani satu keluarga besar berjumlah empat orang pasangan suami istri dan kedua anak lelakinya.
Mereka pasti kalangan orang berada begitu pikiran Melvin.
"Mau pesan apa Pak, Bu?" tanya Melvin lembut.
"Apa menu utama disini?" tanya lelaki seusia Prabu.
"oh iya ada sashimi, onigiri, Ramen_."
Orang itu menyetop ucapan Melvin.
"Ada makanan Indonesia, gak? kita harus mencintai budaya sendiri," ucap orang itu.
Melvin menghela nafas.
"Ngapain tanya kalau mau makanan Indonesia," batin Melvin.
"Ada, Pak. Ada sate kambing, iga sapi, sop buntut_." Orang itu menyetop lagi dengan tanganya.
"Bebek bakar empat porsi beserta nasinya," tukas orang
itu seenaknya.
"Astaga, kalau bukan karena aku pelayan sudah ku bejek ni orang."
"Baik Pak, Bu. Tunggu sebentar." Baru saja Mau berbalik Ia di stop lagi.
"Tunggu!" cegah orang itu.
Melvin kembali menghembuskan nafas kasar. Dongkol dan emosi jadi satu. Rupanya orang itu cukup iseng mengerjai dirinya hari itu.
Melvin memutar tubuhnya sembari tersenyum. Senyumnya cukup memaksa juga pada mereka.
"Jangan lupa, es buah empat," ucap orang itu menunjuk keempat jarinya tanpa ekspresi. Melvin merasa di jadikan jongos beneran oleh orang itu.
"Baik, Pak. Ada lagi?" Melvin khawatir diperlakukan seperti tadi. Orang itu sangat menyebalkan membuat dia bolak-balik di tahan.
"Sudah, itu aja." Sang istri itu baru bersuara.
Beberapa menit berlalu Melvin kembali membawa pesanan mereka pada sebuah nampan.
"Silakan, Pak!" ucapnya sembari menata satu persatu di hadapan mereka.
Si kecil iseng, mereka menempelkan permen karet di rambut Melvin.
"Hahaha...." Kedua anak itu menertawakan Melvin sambil menunjuk atas kepalanya.
Melvin menautkan alisnya melihat kedua bocil itu.
"Kenapa, dek?" tanyanya.
__ADS_1
Keduanya membungkam mulut dengan kedua tangan.
Melvin berpindah menyambut tamu sepasang kekasih.
"Pesan apa Mas, Mbak?"
"Sashimi dua porsi dan just melon dua," jawab pemudanya.
"Oke, di tunggu."
Sepasang kekasih itu bisik-bisik mendapati dua permen Karet di atas rambut Melvin.
"Jorok amat sih, itu atraksi pa gimana?" tanya ceweknya.
Pemuda itu mengangkat bahu tak mengerti.
"Dah, biarin ajalah. Paling narik perhatian pelanggan," jawab si cowok.
"He'emz, cakep gitu orangnya," puji si cewek."
"Mulai deh, ada pacar ni," ucap si cowok cemburu."
"Iya, iya, Yang. Lagian dia kan cuma pelayan gk kayak Yayang dah mapan," tukas Si cewek nyengir.
Melvin datang dan menyiapkan pesanan mereka.
"Silakan, Mas, Mbak."
"Makasih, Mas," tukas pemuda itu.
"Bos...? Halo Bos."
"Saya sudah di halaman suruh para pekerja itu menunggu saya di depan pintu!"
"Oh, oke Bos." Monica mengode semua pelayannya menyambut kedatangan Bos mereka. Itu adalah kunjungan pertama si Bos. Tentu saja Melvin ikut berdiri mensejajarkan diri.
Tap!
Tap!
Tap!
Melvin terkejut melihat kedatangan Bos Besarnya.
"Rangga.."
"Hana..."
Mulutnya menganga lebar.
"Mon, ini semua pekerja kita?" tanya Rangga pada Monica.
"Iya, Pak," jawab Maya seraya hanya menunduk.
Melvin membuang muka tak disangka Ia bekerja pada restaurant milik keluarga Rangga.
Rangga menyisir melihat satu persatu wajah mereka. Rangga mengerutkan dahi melihat Melvin malah menyembunyi kan wajah dari arah berlawanan dengannya.
__ADS_1
Hana mengikuti Rangga melihat kemana mata Rangga tertuju.
"Hey, bung. Apa masalahmu menyimpan muka kearah sana. Apa ada pacarmu di sana?" tanya Rangga agak sinis. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan gaya tegas.
"Hey, Vin. Vin..," desis Monica meminta Melvin untuk menghormati Bosnya.
Rangga tersenyum picik, Ia merasa geram dan tidak di hargai. Rangga menarik paksa dagu Melvin kehadapanya.
Rangga tersenyum kecut begitu juga Hana. Ia juga tidak percaya jika Melvin bekerja sebagai pelayan di restaurant baru milik nya.
"Dasar jongos, Belagu. Gak ada bedanya dengan keset kaki," bisik Rangga di telinga Melvin.
Melvin mengatupkan giginya, hawa panas tercurah dari dadanya. Ia tidak akan sudi ada di tempat itu jika Ia tau Rangga adalah sang empunya restaurant itu.
"Sayang sekali ya, saya tidak mempekerjakan lelaki bodoh dan jorok seperti dia. Tolong pecat dia sekarang Mon," ucap Rangga datar namun menusuk telinga Melvin.
"Loh, ke.. kenapa, Bos?" tanya Monica gagap.
"Alasannya aku tidak mau memberikan uang ku untuk membayar dia," tunjuk Rangga kewajah Melvin yang langsung di tepis Melvin.
"Kalau aku tahu, kau adalah pemiliknya. Aku juga gak kan mau bekerja disini, Rangga," balas Melvin melotot. Lalu melirik Hana sesaat. Kenyataan memang menyakitkan. Melvin baru tahu ternyata Hana sudah dekat dengan Rangga sebelum masa iddah nya habis.
Melvin meninggalkan tempat itu. Ia sengaja menabrak pundak Hana cukup keras bahkan Hana terenyuh dan mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tega bicara begitu, Rang?" protes Hana tidak suka.
"Kenapa? bener kan adanya dia hanya sampah sekarang," dengkus Rangga berdecak.
Peresmian restaurant hari itu membuat mute Hana menghilang. Ia bahkan tidak perduli Rangga selalu menyebut namanya dalam pidatonya pada pelanggan itu sebagai ide terbesar tercetusnya Restaurant Ranggista EGN.
Hana kecewa, Rangga sudah membuat nama Restaurant itu diambil dari penyatuan namanya dan Rangga tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu.
"Rangga sudah membohongi aku," gumamnya seorang diri.
Hana mengira Rangga sama seperti dulu jauh sebelum Ia mengenal Arya mau pun Melvin. Rangga baik dan selalu pengertian padanya. Hari ini Ia kembali melihat dengan mata kepalanya sendiri bahkan Rangga memanglah sangat angkuh.
Sesaat waktu terlewati Hana merasakan getaran ponsel dari dalam tasnya. Bi Yuna menelpon dan memberi tahukan kabar kalau Paman Roy anpal dan harus di operasi.
"Han, cepat usahakan uang itu atau Pamanmu tidak tertolong!" ucapan Bibi Yuna mendadak melemahkan setiap saraf-sarafnya.
Ponsel ditangan yang menempel di daun telinganya hampir jatuh diiringi oleh deraian air mata. Bagaimana Ia bisa membantu Pamannya sedangkan Ia tidak punya uang.
"Hana.. kemari!" Rangga memanggil namanya mendapati kemurungan di dalam raut wajah Hana.
Hana bangun dari duduknya dengan langkah malas.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Ada apa dengan mu?" Rangga memutar balikkan pertanyaan.
"Gak papa," jawab Hana. Lelehan air matanya tidak pandai berbohong. Rangga yakin sesuatu menimpanya.
"Izinkan aku pulang dulu, Rang," mohon Hana.
"Kenapa? inikan baru jam satu siang."
Hana mengulum bibir dan tidak menjawab.
__ADS_1