
Hana cekikikan. Ia paham maksud perkataan Melvin.
Perasaan itu seolah melambung tinggi, kikuk dan malu berbaur jadi satu.
Melvin menghela nafas panjang alih-alih menetral kan perasaan agar tak canggung lagi lalu bergeser duduknya mendekati Hana.
"Boleh aku minta?" tanyanya pias dan suaranya terdengar sangat kecil di telinga Hana.
Hana menoleh Kan kepala sedikit. Ia tidak tahu mengapa badannya jadi terasa dingin.
"Minta apa?" tanyanya tak berani melihat secara langsung.
"Pura-pura gak tahu ya, Sini biar aku kasih tahu."
Melvin menarik tubuh Hana pelan-pelan hingga terlentang di ranjang Kemudian merangkak naik keatas tubuh Hana. Ia pandangi seluruh wajah wanita di depannya.
Wajah Hana memerah persis seperti udang di panggang. panas-panas merekah.
"Aku ingin punya anak," ucap Melvin merayu. "Apa kau bersedia?" tanyanya lagi. Di usap-usapnya wajah Hana dengan lembut lewat jari jemarinya.
Gegas Hana menutup wajahnya.
"Ihk, apaan sih?" suaranya menjadi serak.
Melvin mengambil gelas air putih di meja dan memberikannya pada Hana.
"Ayo duduk, minum dulu," titahnya tegas.
Hana menurut saja melakukan perintah suaminya.
Usai minum, Melvin menarik kepala Hana menyandar di pundaknya. Rasa bersalahnya pernah mengabaikan Hana membuat nya masih terbayang-bayang.
"Maaf ya, Sayang. Kamu pasti tersiksa belakangan ini."
"Hm? tidak, Vin. Aku anggap ini hikmah kok. Paktanya aku bersama kamu sekarang," jawab Hana seraya memegang dada Melvin yang secepatnya di Pegang Melvin agar tangan itu tak beralih.
Ia tarik ke bibirnya dan mencium tangan Hana lalu memindahkan anak rambut yang bertaburan di wajah teduh istrinya.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dan bersama mu adalah hadiah terindahku hari ini," ujar Melvin nanar.
Hana tak menjawab dan hanya bertukar tatapan dengan Melvin.
Keduanya menjatuhkan diri di ranjang. Melvin mulai melepaskan kancing piyama itu hingga satu persatu terurai menampakan buah kenyal kencang yang menggairahkan tersimpan sebagian di dalam bra.
Melvin mulai memangut bibir Hana dan sedikit mendorongnya agar Hana mau membiarkan lidahnya menyapu kedalam sana.
Ia menoel-noel lidahnya mengajak Hana perang badar.
"Ayo balas, Sayang. Jangan malu," tutur Melvin memohon.
__ADS_1
"Aku tidak bisa," timpal Hana hingga cukup sulit meneguk salivanya.
"Belajar, pelan-pelan saja," ujar Melvin yang merongrong lagi ke bibir Hana.
Hana menjulurkan lidahnya yang segera di sesap oleh Melvin.
Hana tak berdaya menerima serangan Melvin bertubi-tubi dan berusaha membalasnya tapi nyatanya Ia memang tak lihai dalam tehnik seperti itu.
Melvin yang lebih menguasai mengendalikan Hana diikuti gerakan tanganya mengeluarkan buah dada Hana dari dalam bra-nya dan mencengkram perlahan-lahan.
"Melvin," cicit Hana seolah tak bisa bernafas.
"Nikmati saja jika tak mau membalasnya," tutur Melvin semakin di sibuknya dengan hasratnya.
Melvin gencar berlomba dengan raganya mendengarkan dengan syahdu suara-suara kecil terlepas dari mulut istrinya yang seakan membuai nalurinya.
Melvin memberikan cecapan-cecapan kecil di bawah telinga Hana membuat Hana semakin mendera asa.
"Melvin.." Ucapnya lagi menahan wajah Melvin untuk tidak meneruskan nya.
Di bawah sana sudah basah akibat madunya tumpah ruah gegara Melvin membuatnya menggeliat kesana ke mari dan tak mau diam.
Rasanya memang membuat orang ketagihan ingin lagi dan lagi.
Melvin tersenyum menatap Hana, nafas nya sudah seperti baru di kejar Anjing menggonggong.
Melvin melanjutkan melepas seluruh pakaian Hana tak tersiksa membuat Hana jadi malu dan berbalik.
"Lepaskan, Sayang. Jangan kaku, kau ingin kita cepat punyak anak kan?" katanya lagi mendesis lara di telinga Hana.
Hana mengangguk.
Ia mengalah memposisikan tubuh nya seperti semula.
Melvin menindih lagi tubuh Hana dan memainkan game pergulatan di ujung buah dada Hana dan sedikit menekan-nekan pangkalnya yang menggelenyar padat sempurna.
Sesaat kemudian merayap turun seperti semut mencari yang lebih manis dan menantang.
Daging merah muda seperti pemisah Amazon dan selat sudah membuatnya ingin menyelami beberapa waktu.
"Melvin, lanjutkan!" ucap Hana berteriak tanpa sadar dan benar-benar membuatnya hilang akal karena menikmatinya.
Melvin suka akan wanginya hingga cukup lama sampai Hana mengangkat pinggang nya ingin sesuatu yang lebih besar.
Melvin menaikkan kedua kaki Hana ke pundaknya dan menjelma menjadi orong-orong kecil mencari lubang dalam timbunan rumput liar yang hanya tumbuh kecil di tepian.
Mematut kan kepala si gundul kearahnya lalu Ia dorong dengan kuat.
Ssrttt...
__ADS_1
Ada sesuatu di dalam tubuh mereka yang bergerak nikmat.
Genjotan pompa mulai menghentak-hentak memecahkan keheningan ruangan itu.
Plak! Plak! Plak!
Hujan keluar membuat becek tanah tak bernoda sampai Hana mengeluh nikmat.
Melvin berpindah dengan gerakan mengungkit ban dari sisi samping sembari memijat buah melon milik Hana. Menggiurkan jika di tambah gula dan es.
"Hem? ini enak, Sayang. ssss..." Ucap Melvin sampai lama.
Kali ini meminta Hana tengkurap dan dimainkannya pompaan ritme cepat karena miliknya sudah mulai naik ke ujung hingga berakhir tumpah di dalam rahim Hana.
Aaahkk..
Melvin nampaknya puas hingga Ia menjatuhkan diri di tubuh Hana.
Hana membisu setelahnya membiarkan cairan hangat di rahimnya bergejolak dan melekat abadi di sana agar pembuahan segera terjadi walau tidak mungkin secepat itu setidaknya di pupuk sering-sering agar semakin subur.
Seusai melepas kelelahan nikmat, Melvin memeluk Hana dan menyelimuti tubuh keduanya sampai ke dada.
Melvin melabuhkan ciuman terakhirnya di bibir Hana sebagai rasa sayang dan cintanya pada sang istri.
"I Love you, Sayang. Sudah memberikan ini untukku," ujar Melvin lembut.
"Sama-sama," jawab Hana yang menyelubung kedalam dada Melvin. Kebahagiaan tersendiri tercipta dalam raganya untuk Melvin.
Memberikan miliknya memang bukan kali pertama tapi Malam ini terasa berbeda karena bumbunya lengkap ada micin, penyedap rasa dan balado. Eits... salah! bumbu cinta dong tentunya.
Malam itu keduanya sangat lelap tertidur. Hingga matahari sudah meninggi barulah Melvin terbangun.
"Euh.. " Ucapnya merentangkan kedua tangan. Melihat Hana adalah pokus utamanya. Hana masih saja terlihat cantik meski dalam tidurnya.
Ya ampun Kenapa hatiku terus berdebar-debar melihat istriku... Kenapa juga aku baru sadar kalau dia sangatlah cantik..
Tiba-tiba terlintas ide di benak Melvin, Ia berencana memberikan kejutan pada Hana pagi ini.
"Tunggu ya, Sayang. Hari ini kamu tidak boleh ngapa-ngapain," gumam Melvin semangat.
Lekas Ia turun dan membersihkan diri lalu bergelut di antara panci, kuali dan berbagai bahan masakan.
Siapa sangka Ia adalah pria yang sebenarnya ahli memasak. Siapa lagi yang masak di Eropa waktu itu kalau bukan tangannya sendiri.
"Sayang, masak apa?" tanya Mama Maya heran dan melirik bahan-bahan yang disiapkan Melvin.
"Memasak, Ma?"
"Ha? Emang kamu bisa?"
__ADS_1
Melvin hanya tersenyum percaya diri.