Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_67 Terpaksa


__ADS_3

Dafa dan Melvin saling diam. Mereka mengamati Maya mengobati luka-luka di tangan Melvin.


"Bos, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Dafa pada Melvin. Dafa menyeret kursi dan duduk memeluk punggung kursi. Kursi itu terbuat dari pahatan kayu jati. Jika di pandang seperti kursi jaman purba namun sangat indah.


"Aku belum tahu, Daf," tukas Melvin lirih. Yang pasti wajahnya tidak bisa menyembunyikan ke piluannya.


Kehidupan itu telah mengubah dengan cepat mempora-porandakan keutuhan rumah tangga nya dan orang orang tuanya akibat sebuah kebodohan. Melvin bahkan tidak pernah melihat keharmonisan Papa dan Mamanya selama di dekat mereka. Hatinya di timbun


banyak pertanyaan tentang siapa sebenarnya dirinya. Pasalnya Maya bolak balik mengatakan dia adalah putra dari Prabu Wijaya tapi mengapa Prabu selalu menolak kehadirannya.


Ditatapnya dalam-dalam mata seorang wanita yang dipanggilnya Mama. Ia ingin menanyakan sesuatu tapi bibirnya terlalu kaku.


"Aku jadi bingung deh, apa aku risign aja dari kantor Pak Prabu?" tanya Dafa setengah menyanggah kan kepalanya di atas punggung kursi.


"Jangan, Daf!" cegah Melvin seketika.


"La, terus?"


Melvin menghela nafas dalam-dalam.


"Aku butuh bantuan mu, tolong awasi Beliau dari perempuan itu. Aku yakin perempuan ini bukanlah orang biasa."


Dafa mengernyit bingung.


"Maksud, Bos. Bukan orang biasa gimana?"


"Dia licin kayak ular, Daf. Aku takut Papa dimanfaatin nantinya," ucap Melvin menebak.


"Sudahlah Melvin, gak usah peduli in Papa. Dia punya keluarganya sendiri. Pasti kantor itu kelak dipegang oleh anak tirinya," sahut Maya menimpali.


Ganti Melvin menggaruk tengkuknya tak dirasanya tangan yang sakit dibubuhi Betadine oleh Maya.


"Papa punya anak tiri, Ma?" tanyanya penasaran.


"Ya, dia adalah orang yang juga memusuhi Kakakmu," tukas Maya memberitahukan kenyataan yang bahkan Ia sendiri tidak tahu. Kalau anak tiri Prabu sangatlah dekat dengan mereka.


"Mama tau siapa orangnya?" itu penting Melvin pertanyakan.


Maya diam sejenak, Ia ragu menyampaikan itu namun cepat atau lambat Melvin bakal tau juga.


"Rangga Hermawan," Ungkap Maya.


"A.. apa?" Melvin tersentak kaget mendengar nama Rangga.

__ADS_1


Maya mengangguk sedih.


"Dia sangat terobsesi dengan Hana, Ma. Mungkin kah Arya tahu sesuatu?" tanyanya lagi pada Maya.


"Entahlah, Mama baru tahu beberapa hari lalu. Pantas saja Rangga mendekati Mama dan sok Baik menawarkan diri mengantar Mama pulang saat bertemu di mall. Ternyata dia ingin masuk lebih dalam lagi ke keluarga kita," ulas Maya seraya melingkarkan lakban di tangan Melvin. Melvin meringis menahan sakit.


"Bagaimana Mama bisa tahu hal itu?" Pertanyaan itu terus Melvin lontarkan untuk mengetahui lebih jauh masalah orang tuanya dan keluarga baru Prabu.


"Tempo hari, Mama penasaran dengan rumah istri Papa mu. Selama tujuh belas tahun Mama tidak mengetahuinya. Jadi Mama memutuskan mengikuti Papa mu sampai kerumah perempuan itu. Mama melihat sendiri Rangga menyambut wanita itu dari pintu dengan pelukan. Alhasil Mama melabrak mereka saat mereka sudah masuk ke dalam. Rumahnya sangat mewah, Vin. Mama merasa di bohongi Papa. Kejadian Itulah yang menyebabnya Papa marah dan menggugat Mama," Ucap Maya bercerita.


"Wah... gawat, Bos. Gak bisa di biarin ni. Rangga akan jadi biang kerok dong." Dafa memanas lebih dulu.


Melvin meleguk salivanya, cukup membuatnya dirinya makin tak berdaya. Pasti Rangga memanfaatkan keadaan itu.


...☘️☘️☘️...


Rumah Sakit


Hana sudah melihat kondisi Pamannya. Pamannya mengalami koma dan harus membutuhkan bantuan dari berbagai alat kedokteran.


"Han, lakukan sesuatu. Kita butuh biaya untuk perawatan Paman. Kalau tidak mereka akan mencabut alat bantu Paman mu," ketus Bibi Yuna. Mereka sedang duduk di ruang tunggu.


Hana benar-benar bingung. Ia tidak tahu kemana Ia harus mendapatkan uang. Sudah di pastikan biaya Paman Roy tidaklah sedikit.


"Saya akan berusaha, Bi," jawab Hana meski Ia belum menemukan jalannya.


Hana pergi ke tempat pembagian pembayaran. Ia ingin tahu jumlah uang yang dibutuhkan.


"Ini rinciannya, Mbak. Kami harap Mbak dan keluarga segera membayar setengahnya dulu dan membayar Full beberapa hari kemudian," ucap Suster itu menyerahkan jumlah total biaya Paman Roy.


Hana menganga menutupi mulutnya melihat angka yang tertera di sana.


"Sebanyak ini, Sus?" tanya Hana disertai derai air mata.


"Benar, Mbak. Biaya untuk fasien koma memang sebanyak itu karena alat-alat itu sangat penting untuk fasien koma seperti Paman, Mbak," terang sang suster.


"Oke, Sus. Biar ku simpan ini!" izin Hana.


"Silakan, Mbak," jawab Suster itu.


Hana meninggalkan gedung rumah sakit dan memikirkan dimana uang itu bisa di dapat.


"Paman, Hana harus cari kemana uang itu?" pikiran Hana kalut. Ia tak punya keluarga lain selain kelurga Paman Roy. Paman Roy pernah bilang tak ada lagi sanak famili dari Ayah dan Ibunya kecuali Paman Roy.

__ADS_1


"Paman Roy sangat berjasa padaku. Aku gak mungkin diam saja. Tapi kemana aku mencarinya. Bantu Hana Ya Allah!"


Hana menyepi disebuah taman, Ia tidak tahu harus kemana. Uang yang dibutuhkan Paman Roy bukan jumlah uang sedikit berupa ratusan atau pun jutaan. Tapi Uang itu sudah berjumlah ratusan juta rupiah.


"Aku gak mungkin minta bantuan, Melvin. Ia sendiri dalam kesulitan. Minjem ke Papa Prabu juga gak mungkin, Ia masih bersi tegang dengan Mama Maya."


Alih-alih menimang Hana hanya punya satu tujuan yaitu Rangga.


"Iya, Rangga. Kuharap dia mau membantu masalah ku."


Hana bergegas menyetop ojek menuju kantor Rangga sore itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" jawab Rangga.


Hana membuka pintu dan melihat Rangga sedang mengutak-ngatik laptopnya.


"Rang..!" panggilnya dengan perasaan naik turun Tidak yakin Rangga sudi mau membantu masalahnya.


"Hey, Han. Kenapa kembali sekarang?" Rangga menghentikan aktivitasnya.


"A.. Aku ada perlu," kata Hana.


"Oke, duduklah dulu," pinta Rangga menengadahkan tangan kearah kursi.


"Perlu apa?" tanyanya setelah Hana duduk di depannya.


"A.. aku. A.. ku." Hana gugup mengatakan niatnya.


"Hey, katakan saja apa yang bisa ku bantu untukmu, Han?" tanya Rangga diiringi senyum manisnya.


"A.. ku butuh uang, Rang," tukas Hana akhirnya. Dapat tidaknya yang penting sudah tersampaikan.


"Hahaha.. mau pinjem uang aja malu. Santai saja, Han," gelak Rangga sembari bangkit dari duduknya menghampiri Hana.


"Berapa," bisiknya ditelinga Hana. Membuat bulu kuduk Hana begidik ngeri.


"Ini tidak sedikit, Rang," jujur Hana sambil mengernyit merasakan terpaan nafas Rangga di lehernya.

__ADS_1


Rangga kemudian kembali mengitari meja dan duduk di tempatnya semula. Cukup membuat Hana bernafas lega. Hana takut Rangga mengulangi lagi perlakuan bejatnya waktu itu.


"Katakan saja nominalnya," ucapnya. Di ketukannya jari telunjuknya di atas meja sambil leluasa menikmati wajah Hana yang sudah membelenggu hatinya.


__ADS_2