
"Jadi mau makan, tidak? kenapa malah bertengkar?" rutuk Melvin membulatkan bolamatanya.
"Is, bukankah kau yang membuat keinginan ku hilang, ya sudah aku pergi saja."
Hana bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi, Melvin malah bingung sendiri dibuatnya. Alih-alih Ia yang marah justru malah sebaliknya.
"Iya, iya, maaf, Sayang. Ayo duduk lagi!" Melvin menarik lengan Hana tapi Hana menepisnya. Siapa yang tak marah jika di perlakukan seperti itu oleh suami gara-gara cemburu tidak jelas.
"Gak mau, aku sudah kenyang sekarang," tolak Hana. Ia ngambek dan membuang muka.
"Iya, Maaf. Aku kan cuma gak ridho kamu di sentuh laki-laki lain, Han. Apa lagi dia mantan mu," ucap Melvin bersungut-sungut.
"Itu kan gak sengaja, Vin. Aku tadi manjat kursi dan kepeleset untung ada dia nolongin," ketus Hana.
Hana benar-benar sudah melupakan Arya, Ia mulai enggan memanggil nama pemuda itu. Sama seperti Melvin, Hana tidak sepenuhnya percaya kehadiran Arya.
Bahkan tidak ada getaran sedikit pun saat Hana menatap bola matanya. Tatapan pemuda yang mengaku Arya itu sangat berbeda dengan tatapan Arya dulu yang tajam dan menawan.
"Vin, aku kan sudah bilang. Aku hanya mencinta kamu, sekarang. Apa kamu tidak percaya?" Kali ini suara Hana melembut.
Cup!
Melvin mencium pipi Hana dan tersenyum.
"I love you, Sayang. Aku percaya kok sama kamu, dan itu selalu. Ayo kita makan kasihan kan Dedek bayinya," kata Melvin merayu.
Hana balas tersenyum, keduanya kembali ketempat semula. Hana meraih garfu lalu di tusukkannya ke potongan mangga itu. Siapa yang tidak tergiur mencelupkan ke sambal gula merah jika pemadu rasa ada di depan mata.
"Jangan banyak-banyak ya, nanti sakit perut."
Seperhatian itu Melvin pada Hana, Ia sudah tidak pernah lagi bertindak kasar pada wanita itu. Kini Cinta dan ketulusan telah melekat besar.
Hana paham sebenarnya Melvin sangat baik, tapi sikapnya yang lalu itu semua bentuk kekecewaannya pada Papa Prabu.
"Vin, apa kau tidak ingin menemui, Papa lagi. Setidaknya kau menelponnya?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.
"Untuk apa? diakan sudah bahagia dengan keluarga barunya," jawab Melvin datar.
Terbersit sebuah ingatan pada ucapan Rangga saat Ia mencaci dirinya dan mengatakan kalau Prabu mengalami Struk.
Ahk.. apa Papa sudah membaik sekarang...
Disebelah dunia lain, Diandra yang menyuapi Prabu menjejel kan makanya ke mulut Prabu dengan kasar. Makin Hari, Prabu makin tidak berdaya. Tubuhnya kurus kering dan sangat lemah.
__ADS_1
"Cepetan makan, nyusahin aja kerjanya. Kenapa gak sekalian aja kau mati sana biar gak ngeropotin aja kerjanya," gerutu Diandra kesal.
"Kenapa, Mom?" sahut Rangga. Ia baru saja masuk dan mlihat keadaan Prabu.
"Malang sekali nasib mu, Papa. Lihat sekarang!" Rangga menunjukkan vidio pernikahan Melvin dan Hana yang baru Ia tunjukkan pada Prabu. Tentang pengakuan Melvin di khalayak umum yang menjabarkan asal muasal kekayaanya.
Prabu mengekor kearah vidio itu, Ia menangis tersedu-sedu melihat kesuksesan Melvin namun ada rasa bangga karena Melvin bersatu lagi dengan Hana.
"Anak yang kau buang ternyata sangat kaya. Ia memiliki Deller mobil yang terkenal di Eropa. Dia balas dendam dan membiarkan kamu nelangsa di rumahku, hahaha...."
Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa...
Prabu benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan putra hebat seperti Melvin dan kini Ia menuai balasannya.
"Kau mau lihat yang lain lagi, Pa?"
Rangga memperbesar sosok seorang laki-laki seusianya ada di pesta itu.
"Ga_ Gany," ucap Prabu terbata.
"Ya ampun, Mas. Kau masih ingat selingkuhan Maya rupanya," decak Sandra picik.
"Ke_ kenapa Di_ dia?"
"Astaga, itu artinya mereka akan bahagia ya." Sandra menimpali agar Prabu memanas.
Prabu bukannya marah tapi Ia meratapi kesalahan yang sudah Ia perbuat pada Maya dan Melvin.
Maafkan aku Maya, Melvin.. Mungkin Gany memang yang terbaik untuk kalian...
"Ck, bosan melihat pria tidak berguna ini, Mom. Bagaimana kalau kita kirim saja ke panti jompo," ujar Rangga mengusulkan.
"Wah, ide bagus, Sayang. Mom setuju, Mom jadi gak perlu repot lagi kan."
"Iya, Mom. Sayang kalau dia hanya makan gratis disini," imbuh Rangga.
Ia menarik Prabu dari ranjang dan merangkulnya dengan paksa.
"Ayo bangun, aku muak melihat wajahmu, lelaki tidak berguna!"
Se sadis itu Rangga memperlakukan Prabu. Wajar saja mengingat Prabu bukanlah Ayah kandungnya.
Hari itu Prabu resmi menjadi salah satu penghuni panti Jompo. Ditinggalkan oleh Diandra dan Rangga di tempat itu tanpa rasa Iba.
__ADS_1
"Yang betah ya, Mas. Disini, lihat tu banyak cewek-cewek yang bernasib sama seperti kamu. Siapa tau kau mendapat jodoh disini agar tidak terlalu menderita," bisik Sandra di telinga Prabu menunjuk kearah penghuni lainnya yang kurang terurus memperhatikan dirinya.
"Ayo, Pak. Kita masuk!" perawat itu mendorong kursi roda Prabu masuk kesebuah kamar. Hanya buliran air mata penyesalan yang tak pernah usai mengungkung batinnya.
Tidak ada lagi yang perduli akan kebahagiannya semua sudah berubah, nasi telah menjadi bubur. Prabu harus menerima kenyataan kalau hidupnya sudah tidak berarti lagi untuk siapa pun.
Selang beberapa hari, Melvin mendapat kabar dari orang kepercayaannya kalau Deller mobilnya makin besar dan Rumah sakit di kota itu pun mulai di bangun.
Kemajuan usahanya tidak main-main meski Ia hanya melakukan pemantauan lewat jarak jauh.
"Sayang, hari ini aku sangat beruntung. Deller di Eropa makin berjaya, aku berniat menyumbangkan sebagian uang kita ke panti asuhan dan panti jompo," ucap Melvin girang.
"Syukurlah, Vin. Itu artinya usaha mu selama ini benar-benar berhasil karena kerja kerasmu."
Sebagai seorang istri tentu Hana beruntung menjadi istri seorang Melvin. Melvin tidak bisa di tebak. Pemikirannya dalam berbisnis rupanya sangat genius.
"Kamu ikut aku, ya. Kita jalan-jalan ke panti hari ini!" tukas Melvin.
"Iya, iya, aku mau pasti banyak anak-anak kecil yang lucu disana," jawab Hana sumringah.
Maya tidak ikut, Ia lebih memilih menemui Gany di sebuah kafe.
"Kenapa kau mengajak ku bertemu, Mas?" tanya Maya.
"Ada yang ingin ku katakan, May," jawab Gany.
"Soal?"
"Aku ingin menikahi kamu, May," tandas Gany. Wajahnya begitu yakin.
Maya meneguk salivanya, Ia tidak percaya mendengar pengakuan Gany. Dulunya Gany memang kekasih Maya sebelum Ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada Prabu.
Merasa kesepian ditinggal Prabu sering keluar kota membuatnya sangat tertekan. Dari itu Ia sering bertemu Gany secara diam-diam.
Tepat saat kehamilan Maya yang ke tiga bulan, Ia tidak sadar telah di minumi obat tidur.
Maya tidak tahu apa pun, Ia terkejut ketika Ia membuka matanya Gany sudah ada di kamarnya berbarengan pula dengan itu Prabu pulang dan melihat mereka berdua ada di atas ranjang
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Halo reader tercinta, berikan komen yang panjang dong. Biar semangat nulis nya ya.. karena tampa di minta lanjut pun pasti akan lanjut kok. Mohon kesediaannya membantu merelakan sedikit jarinya mengomentari lakon dalam cerita Ini...
Terima kasih atau dukunganya..
__ADS_1
Jangan lupakan like, komen panas, vote and giftnya ya.. πππ