
Melvin tetap memilih tidak bergeming atas perlakuan Hana yang berani bertindak menantang badai. Ia meraih coffee mocca miliknya yang masih utuh dan langsung meneguknya hingga tandas.
Hana mengerucut sebal. Ia kesal tidak mendapat respon positif dari lelaki yang sedang dalam godaan dirinya.
"Vin, mengapa kau sibuk sekali, ayo kita bersenang-senang?" Hana merajuk.
Melvin kekeh pada kebisuan.
Hana jadi uring-uringan, Ia duduk didepan Melvin dengan menopang kan kedua tangan dibawah dagunya.
"Vin..!" panggil Hana. Hana mengerling cantik.
Melvin yang masih fokus di depan laptopnya akhirnya mendongakkan wajah.
"Vin, ayo kita buat anak," celoteh Hana. Sadar tidaknya Hana telah mengucapkan kalimat mengandung caffein tersebut.
Uhuk! Uhuk!
Melvin tersedat kaget.
Hana menarik nafas dalam-dalam. Makin dongkol dengan sikap Melvin yang masih saja tidak memberikan angin segar untuk dirinya. Ia sudah tidak kuat menghadapi keunikan yang mendadak muncul dari dalam dirinya.
"Kenapa? apa aku salah? kitakan sudah menikah?" Hana bertanya lagi. wajah sedih membias diwajahnya.
Melvin terpaku dalam seribu pertanyaannya kearah wajah perempuan dihadapannya. Hana menjelma jadi sosok perempuan yang tidak terpikir kan olehnya sekalipun.
Hana yang tidak merasa puas berbicara dengan Melvin sejak tadi berdiri mengitari meja. Lancangnya Ia menutup laptop Melvin dan duduk dipangkuan Melvin.
"Vin, apa kau tidak kasihan denganku? Mengapa kau diam saja?" Hana menusuk-nusuk dada Melvin dengan telunjuknya pelan-pelan.
Masih sama, pemuda itu tetap saja hanya memandang wajahnya datar-datar saja. Tidak ada tanda apapun yang bakal membuatnya memulai sesuatu yang istimewa.
Lelah tidak direspon juga, Hana memilih pergi kerena digelayuti rasa kecewa. Baru dua langkah saja berjalan, Melvin menahan lengannya secara tiba-tiba.
Hana tercekat dan berbalik hingga masuk kedalam pelukan pemuda yang sejak tadi mengacuhkan dirinya.
"Kenapa pergi?" Melvin balik bertanya.
Hana mendongak kewajah Melvin yang jauh lebih tinggi dari tubuh mungilnya.
"Bukannya kamu menolak ku tadi, ya?" Bibir ranum itu manyun lagi.
Melvin mengembangkan senyum, Ia ganti memeluk wanita itu dari belakang. Memberikan sentuhan lembut seperti sutra ke lengan wanitanya.
Hana jadi cekikikan geli.
"Ihk, Vin. Kenapa rasanya aneh? kau juga mau ya?" kebahagiaan terpancar diwajah ayunya.
"Kamu mau punya anak berapa?" bisik Melvin lirih hanya terdengar seperti desiran angin yang berhembus membuai Indra pendengaran Hana dengan syahdu.
Hana menganga tak percaya dan membungkam mulutnya dengan telapak tangan mendengar pertanyaan dari Seorang Melvin Prabu Wijaya yang kakunya melebihi besi bangunan.
Wanita itu kian kegirangan hingga mempererat kedua tangan Melvin yang melingkar dipinggang ramping nya.
"Kok malah senyum-senyum sendiri, Yang?" kepala Melvin menyelusup hangat di jenjang leher yang menawarkan sejuta hasrat di relung raganya.
"Enggak..." Hana menggeleng manja.
Hidung mancung yang Melvin dapatkan dari duplikatnya Shah Rukh Khan mulai nakal bermain luas di jenjang leher wanita yang sedang meminta buaian darinya.
__ADS_1
"Ahk, Melvin. Apa yang kau lakukan?" Sentuhan Melvin terasa menggelitik disana.
"Hem? Biarkan aku melakukanya?" Ucap Melvin. Suaranya serak-serak basah memuja insan wanita yang berada dalam dekapannya.
Hana ganti berbalik dan menatap dalam netra pria di depannya.
"Vin, jika aku mau punya anak dua gimana?" dibalut kekehan kecil nya.
"Dua? terlalu sedikit. Kalau aku maunya sebelas gimana?" tawar Melvin antusias.
"Hihihi.. kamu mau bikin kesebelasan ya?" canda Hana yang terkekeh semakin gemas.
"He'emz," jawab Melvin.
"Ha, kalau anak kita sebelas aku gak diajakin ikutan dong?" protes Hana.
"La kok mau ikut, kamu kan wasitnya, Yang?" Melvin menyelipkan helaian rambut Hana yang menutupi wajahnya kebelakang telinga.
Hana mengernyit.
"Wasit?"
"Iya, wasit yang setiap saat meniup peluit untuk membangunkan ku ketika kesiangan, Yang," rayu Melvin.
"Hahaha... aku mau kau jadikan alarm mu ya?" Hana tergelak tak henti-henti.
Melvin mengembangkan senyum.
"Kok tahu sih?" canda Melvin.
"Kan kamu yang bilang?" tandas Hana. Mengamati bibir sedikit tebal milik Melvin.
Cup!
"Ayo mulai!" desis Melvin. Ia ingin cepat bermanja-manja dengan wanitanya.
"Sekarang?" kelakuan Hana menggugah naluri Melvin semakin bersemangat. Semangat pejuang yang dimiliki Bapak-bapak saat hendak mencetak gol.
Melvin mengangguk berulang-ulang.
"Emz, sabar ya," goda Hana.
"Iya, ayolah, Yang. Coba rasakan ini!" Melvin menarik tangan Hana memegang sesuatu yang keras tersembunyi di dalam celan*nya.
"Ihk, apaan itu?" Hana kaget bukan main.
"Milikmu, dia ingin masuk ketempat itu." Melvin melirik kearah milik Hana. Ia menggoyang-goyangkan dua telunjuk yang saling berpadu.
Hana menunduk kearah yang dimaksud, kemudian terkekeh lagi.
Plok!
Hana menepuk lengan Melvin membuat wajahnya berubah merah.
"Hahaha.. kamu bisa saja."
"Kelamaan, ayok!" Melvin menggendong bobot tubuh Hana, beratnya kira-kira lima puluh kilo gram ke atas ranjang.
Melvin mengapit tubuh Hana dalam dua kakinya.
__ADS_1
Membelai bibir merah muda milik wanitanya dengan Ibu jari perlahan-lahan. "Aku mencintaimu," bisik Melvin. Serasa seperti alunan musik romantis bagi Hana.
Lama menukar gambar pada kedua bola mata keduanya, Melvin memangut bibir yang sejak tadi telah menjadi fokus utamanya. Tak ubahnya bak magnet, merekat kuat dalam setiap tarikan nafas yang menyatukan kedua benda yang berbeda tapi saling menikmati.
Cukup lama membius, Hana melepaskan sentuhan kedua bibir tersebut.
"Kenapa berhenti?"
"Sesak, nafasku tertutup oleh hidungmu," jawab Hana memancarkan senyum kecil nan manis miliknya. Hana melingkarkan lagi kedua tangannya ke leher Arjuna nya.
Melvin terkekeh dengan ucapan yang berlapiskan kepolosan seorang Hana Agista. Gadis itu semakin menawan di dalam benaknya. Justru itulah yang Ia damba selama ini. Mencari gadis yang mampu membangkitkan jiwa kesepian di dalam hatinya.
Sedang Dafa dan Rindy dipenuhi kekhawatiran. Mereka menghentikan langkah mereka ke kamar dan duduk di depan teras. Mereka masih menenangkan pikirin telah diburu rasa takut yang hampir membuat keduanya hilang akal.
Prahara yang baru saja mereka lakukan bisa saja menjerat malah mereka sendiri. Seperti pepatah mengatakan karma akan berbalik tergantung pada apa yang mereka perbuat.
Dafa menoleh kearah Rindy dalam diam. Panik, itu yang tercetak di raut wajah gadis bertubuh sedikit berisi tersebut.
"Rin, kau merasakan sesuatu?" desis Dafa.
"Ka.. kau?" tanya nya balik. Bibirnya bergetar.
"Tidak, berapa lama reaksi obat itu?" Dafa berharap bisa tenang jika tahu kecepatan kerja dari obat yang dimaksud.
Rindy hanya menunjuk lima jarin tangan kananya didepan wajah Dafa, Sepertinya Ia benar-benar tidak tenang dan tak kuasa menjawab.
Dafa menoleh lagi pada Rindy.
"Lima menit a.. atau lima jam?" Dafa ingin jawaban langsung.
"Li.. lima menit, Pak," jawab Rindy gugup. Wajahnya pucat pasi.
"Apa?" Dafa cukup tersentak. "Kau yakin? kau pasti salah Rin?" desak Dafa semakin membuat gadis itu makin gelisah
"Be.. benar, Pak. Teman ku pemakainya," jawab Rindy yakin. Ini salah Bapak!" sentak Rindy kesal, akhirnya tersulut emosi pada Dafa. Seharusnya Ia bisa tidur tenang malam itu dengan mimpi-mimpinya tapi Ia malah didera rasa takut yang tidak berkesudahan.
"Ha? kok aku. Bukanya kamu yang bertugas tadi," elak Dafa.
"Tapi inikan perintah Pak Dafa, gimana kalau saya yang mimun. Hwaaaa.... Mama...." Gadis itu menjerit menangis.
"Hey, tutup mulutmu." Dafa membungkam mulut Rindy dengan telapak tanganya. Dafa tidak mau kena sasaran yang bisa saja menyebabkan perkara menyulitkan dirinya jika sampai ada yang tahu.
"Tapi saya takut, Pak. Bapak mau tanggung jawab?" teriak Rindy lagi menepis tangan Dafa.
Dafa kelabakan.
"Di.. diam Rin, nanti ada yang dengar. Kan, kamu sendiri yang bilang reaksinya cuma lima menit, kita hampir setengah jam lo duduk disini." Dafa kesulitan menenangkan gadis lebay itu. "Cup.. cup.. sudah jangan takut."
"Tapi Pak gimana kalau aku yang minum? terus Bapak benar kalau reaksi obat itu lebih lama dari seharusnya bagaimana? harga diriku sebagai primadona kantor akan jatuh dong Pak dan.. dan parahnya lagi aku masukkan obat itu kedalam dua gelas sekaligus. Hwaaaa....." Rindy berbicara tampa jeda dan menangis sejadi-jadinya menggosok-gosokkan kedua kakinya di tanah seperti anak kecil yang meminta permen pada Ibunya.
"Ha? apa?" Dafa tersentak kaget mendengar penuturan Rindy. "Du.. Dua Rin?" Dafa mengangkat dua jarinya.
Rindy mengangguk berulang-ulang.
Dafa menepuk jidatnya dengan raut yang sama khawatirnya.
...🍃🍃🍃🍃...
Maafkan aku ya reader... bukan gak mau up tiap hari. Tapi beginilah anak petani yang mengandalkan uang pas-pasan kehabisan stok melulu. Jangan lupa like, komen, vote and rate bintang limanya ya... buat hatiku girang agar semakin semangat.
__ADS_1
Bagi yang suka cerita komedi jangan lupa mampir juga ke novel temen ku yang satu ini gokil abis dah.