Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_50 Pergi


__ADS_3

Melvin pergi kerumah Dafa, Ia akan menetap disana sampai Ia menikahi Clara. Walau Dafa hanya asisten yang terbilang konyol bin ooons. Dafa sudah punya rumah pribadinya sendiri yang Ia beli dari hasil selama bekerja di kantor Wijaya Cooperation.


"Eh, Bos tumben di mari, ada apaan?" seringai Dafa setelah membuka pintu.


"Aku mau menginap dirumah mu," jawab Melvin yang langsung masuk dan merebahkan tubuh di sofa.


Dafa membuka kulkas dan menuangkan sebotol air mineral dingin kedalam gelas yang Ia sajikan pada Melvin.


"Ada masalah, Bos?" Dafa ikut duduk di sofa lainnya.


Malvin masih diam dan menerima gelas dari tangan Dafa. Ia hanya meneguknya dua kali setelah itu Ia letakkan lagi diatas meja.


"Bos bertengkar sama Om Prabu? kenapa Bos gak ke kantor tadi?"


"Berhenti bertanya, Dafa. Kenapa kau bawel sekali. Hari ini aku menceraikan Hana," ucap melvin mengaku.


"Ha?" Dafa melongo cukup lama. "Kau becanda Bos? wah, Kau pasti bangun dari tidur atau kau sedang mabuk ya?"


Dafa bangkit dan mendengusi tubuh Melvin mengira Melvin meminum alkohol.


"Ihk, Dafa.Berhenti kurang ajar!" bentak Melvin terusik dan menepis tangan Dafa yang memegang bajunya..


Dafa kembali duduk dan memukul keningnya sendiri.


"Parah lo, Bos. Yakin kau tidak punya perasaan pada Nona Hana selama tiga bulan bersama dia dalam satu kamar?"


"Apa?" Melvin menyipitkan matanya.


"Ya ampun, Bos. Coba buka matamu baik-baik. Dari segi cantiknya aja. masih cantikan kan Nona Hana lo Bos ketimbang Clara. Aku gak percaya Bos memungkiri kenyataan itu, heh." Dafa jadi kesal dibuatnya.


Plok!


Melvin melempar bantai mini yang ada dikepalanya kearah Dafa dan langsung ditangkap oleh Dafa.


"Emang cantik ukuran, ha?"


"Ya enggak sih Bos, tapi Nona Hana punya nilai plus yang tidak dimiliki oleh pacarmu Clara."


"Sok tau kamu."


"Ck, terserah kamu lah Bos. Yang penting Bos jangan datang padaku setelah Bos menyesal dan Nona Hana sudah jadi milik orang lain," ketus Dafa.


"Bodo' amat," sahut Melvin cuek.

__ADS_1


"Liat aja nanti."


Dafa tidak menduga usahanya mendekatkan Melvin dan Hana berakhir sia-sia. Secepat itu Melvin mengambil keputusan gegabah tampa memikirkannya terlebih dahulu.


Hana mulai memasukkan semua baju miliknya dulu kedalam sebuah tas. Ia tidak akan membawa satupun baju pemberian dari Melvin. Untung waktu itu Ia tidak mengabulkan keinginan Melvin untuk membuang bajunya yang Ia simpan di bawah kolong tempat tidur dalam sebuah Kardus.


Masih sama seperti tadi, air matanya terus saja terjun bebas tanpa bisa berhenti. Malam itu juga Ia memutuskan akan meninggalkan rumah Prabu Wijaya. Ia tidak ingin menunggu esok karena Ia menganggap bukan lagi bagian dari keluarga itu.


Prabu dan Maya baru saja pulang dari sebuah pesta, Mereka lagi-lagi terkejut melihat Hana sudah berdiri di depan pintu sambil menenteng tasnya.


"Loh, loh. Nak, kamu mau kemana sayang?" tanya Mama Maya.


"Mama..." Hana memeluk Mama Maya yang sudah seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Ada apa, nak. Ceritakan sama Mama!" Mama Maya mengusap air mata menantu nya itu sambil melirik kearah Prabu.


"Maafkan Hana, Ma. Hana sudah tidak punya hak tinggal disini."


"Apa maksudmu, Nak. Kau adalah menantu dirumah ini."


Hana memperlihatkan maff di dalam pegangan tanganya.


Maya segera membukanya dan membulatkan mata sambil menutupi mulutnya yang ikut menganga.


"Dasar anak tidak berguna, nekat juga dia melakukan ini." Darahnya mudah sekali bergejolak jika sudah mengenai urusan Melvin.


"Kenapa anak itu tidak berpikir dahulu, apa yang ada di otaknya." Mama Maya akhirnya dikecewakan setelah berulang kali membela dia didepan Prabu.


"Kau lihat kan, Maya! Begitu dangkalnya otak anakmu itu hingga mudah sekali di racuni oleh Si Clara," hardik Prabu menahan amarahnya.


Maya mendengar ponselnya berdering di periksa nya isi chat itu membuatnya hampir tersungkur lemas ke lantai.


"Mama." Hana menahan tubuh Mama Maya.


"Ada apa lagi Ma?" geram Prabu melihat reaksi Maya.


"Huhuhu... Melvin akan menikahi Clara di KUA besok, Pa."


Serta merta Hana jadi ikut melemas.


"Menikah?" ucapnya lirih.


Prabu menghela nafas untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Anak itu benar-benar keterlaluan. Awas kalau kau sampai masih membela anak blangsakkan itu dan ingat satu hal, Aku tidak sudi Ia menginjakkan kaki dirumah ku lagi."


Prabu sudah kehabisan kesabaran, Ia tidak akan lagi mau memperdulikan Melvin dalam keadaan apa pun.


"Ayo masuk, ma. Jangan berlama-lama diluar nanti Mama sakit." Hana menuntun Ibu mertuanya duduk di kursi.


Mama Maya memegangi tangannya, Ia berharap Hana tidak meninggalkan rumah itu dan dirinya.


"Tetaplah disini, Nak. Aku akan kehilangan semuanya jika kamu pergi. Sudah cukup Arya saja yang tidak akan pernah kulihat lagi tapi tidak dengan dirimu."


"Iya, Han. Kau boleh tinggal disini sebagai anak perempuan kami," Imbuh Papa Prabu.


Hana tersenyum simpul.


"Pa, Ma. Maaf kalau Hana tidak bisa mengabulkan keinginan Papa dan Mama. Tapi, Hana merasa tidak lagi pantas tinggal disini. Papa dan Mama jangan khawatir, kalian tetap orang tua Hana. Hana janji, Hana akan sering mengunjungi kalian untuk melepas kangen atau Papa dan Mama yang malah sudi menemui aku nantinya."


Mama Maya menarik kepala Hana di pundaknya.


"Melihatmu terasa sama seperti melihat Arya, Nak. Mungkin cintanya tertanam pada dirimu."


"Pa, Ma. Mungkin hanya sampai disini jodoh Hana dan Melvin. Karena kita tidak ditakdirkan berjodoh sampai ke janah."


"Mulia sekali hati mu, Hana. Aku menyesal pernah menentang hubungan mu dengan Arya. Seharusnya Arya sempat bahagia bersama mu jika pernikahan kalian di lakukan lebih cepat dari hari dimana Arya memintanya."


Hana memegang kedua tangan perempuan paruh baya itu dengan lembut dan di tatapnya manik hitam yang disekelilingnya mulai sedikit ada keriputan.


"Ma, Jangan ingat lagi masa lalu. Kita kubur saja dalam-dalam ya. Mama jangan bersedih, Mas Arya sudah bahagia disana."


Maya mengangguk lalu mencium kening Hana.


"Semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Melvin, nak. Aku yakin kau akan menemukan lelaki itu secepatnya."


"Makasih, Ma. Hari semakin larut. Hana pergi ya.. Papa dan Mama sehat-sehat. Hana tidak bisa mendampingi kalian setiap waktu. Tapi, Hana akan selalu kirim doa kesehatan dan kebahagian untuk Mama dan Papa. Maaf juga kalau Hana sudah menjadi menantu yang tidak sesuai dengan keinginan Mama dan Papa atau malah sikap Hana pernah menyakiti Papa dan Mama."


"Tidak, Nak. Kau adalah menantu yang baik. Terimakasih sudah mendoakan Papa dan Mama."


Hana memberikan senyum terakhirnya dirumah itu. Meski hanya sesaat ada dirumah itu. Rumah itu telah mengukir banyak kisah perjalanan hidupnya. Baik saat berpacaran sama Arya maupun menjadi Istri dari Melvin Prabu Wijaya."


Hana melepaskan air mata yang tersiksa untuk menumpahkan gamang yang terlalu erat membekuk hatinya.


Melangkah dengan kaki tertahan.


Hana menoleh lagi melihat kedua orang tua itu masih memandanginya membuat Ia merasa berat melepasnya.

__ADS_1


Hana menggeleng-gekengkan kepalanya, Ia harus kuat menghadapi situasi singkat yang meremuk redamkan jiwanya dalam sesaat. Di gapai nya tas itu dan di pegangnya erat-erat lalu berlari kecil kearah pagar agar secepatnya menjauh dari rumah kesakitan itu.


__ADS_2