Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_31 Ketakutan


__ADS_3

Baru saja masuk Hana disambut oleh teman lamanya selama di bangku SMP.


"Hana?" panggil Tiwi. Ia masih kenal betul dengan Hana.


Wajah Hana girang.


"Tiwi, kamu disini juga? Daf, kenalin ini temen ku, Tiwi." Hana mengenalkan.


Keduanya berjabat tangan.


"Iya, saya jadi MC disini? aku kangen sama kamu. Kamu nyanyi ya, aku ingat betul suara mu merdu!" pinta Tiwi sambil merangkul Hana


"Wah, Nona Hana bisa nyanyi ternyata," sambung Dafa.


"Dulu, tapi suaranya cempreng, Daf. Aku sudah lama tidak bernyanyi lagi, Wi." Hana memandang kedua orang itu bergantian.


"Alah, pokonya nyanyi. Aku gak mau tahu," paksa Tiwi.


Benar saja baru naik panggung, Tiwi memanggil namanya.


Dengan malu-malu Hana menurut membuat semua memandang dirinya. Padahal Ia baru saja masuk belum juga sempat duduk, sudah harus bernyanyi.


Mereka mengamati Hana termasuk Melvin dan Pak Gany.


Hana duduk di depan piano memulai nada yang ingin Ia nyanyikan lagu yang paling Ia suka milik Rossa dan Afgan berjudul KAMULAH YANG KU TUNGGU tapi Ia menyanyikan seorang diri.


🎡🎡🎡


Telah ku menemukan kamu


Yang aku impikan


Kamu yang sempurna


Itu, segala kekurangan


Semua kelemahan


Kau jadikan Cinta


Tampa mu


Aku tak bisa berjalan


Mencari Cinta sejati


Tak kutemukan


Darimu


Aku bisa merasakan


Kesungguhan hati


Cinta yang sejati


Karna mu


Dikirim Tuhan


Untuk melengkapi


Tuk jaga hatiku


Karna mu


Hasrat terindah


Untuk Cintaku


Tak kan cemas


Ku percaya kamu


Karena kau jaga

__ADS_1


Tulus cintaku


Ternyata


Kamu yang ku tunggu


🎢🎢🎢🎢


Usai menuntaskan lagunya Hana langsung mendapat hadiah temukan dari tamu lainnya. Hana turun menuju kearah Melvin dan Dafa.


Melvin merasa kagum tapi bukan Melvin kalau mengaku terpesona.


"Pak Melvin, dimana istrimu?" tanya Pak Gany. Akan tetapi matanya tertuju pada Hana.


"Ini, Pak," sahut Dafa memberi tahu perempuan yang berdiri diantara Ia dan Melvin.


Perempuan cantik yang terlihat sempurna di mata semua lelaki. Tak ada yang menyangka kalau Melvin bisa bertemu dirinya. Begitulah jodoh, datang tampa di undang, pergi meski di cegah.


Mata Pak Gany melanglang buana mengamati setiap lekuk tubuh Hana yang membuatnya meneguk liur. Siapa juga yang mengira kalau Pak Gany ternyata lelaki mata keranjang.


"Wah, you are very beautiful, Nona and suara vokal mu sungguh indah," puji Pak Gany menatap liar.


Hana yang merasa aneh menjadi risih melihat pandangan Pak Gany menjelajah kearah dua gundukan miliknya.


Pak Gany manggut-manggut tidak jelas, pasti ada sesuatu yang Ia pikirkan di dalam otak kecilnya.


Dafa pergi kearah banyak makanan diatas meja dan mengambil makanan mana yang Ia suka. Duduk memangku kakinya untuk menikmati lezatnya sajian itu


"Ayo, Pak Melvin, Nona, kita duduk di meja itu!" ajak Pak Gany.


"Terima kasih, Pak."


Melvin dan Hana mengikuti langkah Pak Gany.


Sialnya Pak Gany sengaja menarikan kursi untuk Hana, membuat Hana semakin tidak nyaman.


Anehnya juga Melvin biasa saja.


"Bagaimana dengan proyek taman nya, Pak?" Pak Gany basa-basi.


Hana memilih menunduk, kondisi itu benar-benar menggangu perasaanya.


"Ayo minum!" Pak Gany menyodorkan segelas air di depan Hana dari nampan seorang pelayan.


"Makasih, Pak," tukas Hana tersenyum ketir.


Pak Gany juga memberi Melvin minum yang di teguk kecil oleh Melvin.


"Pak Gany, apa ada hal penting yang ingin di bahas?" tanya Melvin.


"Oh, no. Aku hanya ingin mengadakan party untuk para rekan Bisnisku," jawab Pak Gany.


Pak Hany mencuri pandang lagi kearah Hana dengan liar setelah itu menatap Melvin dengan gaya cueknya.


Hana benar-benar tidak menyukai bola mata yang selalu mengamati dirinya itu terus menerus membuat Ia memutuskan izin ke toilet.


"Vin, aku ketoilet sebentar," pamitnya dengan lirih.


Melvin hanya diam.


Mengamati Hana pergi, Pak Gany ikut izin.


"Saya tinggal sebentar, Pak," pamitnya.


"Silakan, Pak," jawab Melvin.


Pak Gany berdiri didepan toilet perempuan dimana Hana dan beberapa perempuan telah keluar.


Baru saja Hana keluar Ia di kaget kan oleh Pak Gany.


"Loh, Pak Gany. Ini kan toilet cewek?" Hana berusaha tenang.


"Memang, ada masalah? aku hanya ingin mengenal dirimu lebih dekat," jawab Pak Gany. Bola mata nakal menjelajah lagi.


Hana jadi takut dibuatnya.

__ADS_1


"Maksud Pak Gany, apa?" Hana menatap tidak suka.


"Jangan sok jual mahal." Pak Gany menoel lengan Hana.


"Apa-apaan sih, Pak?" dengus Hana. Mengibas tangan Pak Gany.


"Santai saja, cantik. Mari kita bersenang-senang." Pak Gany mau menyentuh pipi Hana, Hana menepisnya lagi.


"Jangan macam-macam ya Pak atau aku akan berteriak?" ancam Hana.


Pak Gany mengangkat kedua alisnya dengan senyum liar. Tidak takut rupanya dengan gertakan Hana.


Pak Gany terkekeh.


"Lihat saja disekitaran sini sepikan? Aku sudah pasang plat toilet rusak, Kau yakin akan ada yang datang kemari?"


Hana jadi makin ketakutan dan hendak pergi tapi Pak Gany menarik tanganya.


"Lepas, Pak. Lepas." Hana memberontak.


"Sayang nya aku jatuh cinta sama anda, Nona." Pak Gany mendorong tubuh Hana merapat ke dinding sambil mengelus pipi Hana dengan tanganya.


Nafas Hana memburu bukan suka tapi diserang takut yang teramat sangat.


"Jangan macem-macem, Pak!" teriak Hana. Sulit berkutik dengan posisi seperti itu.


"Santai, Nona. Suamimu tidak akan tahu jika kita bermain sebentar," ucap Pak Gany dengan bangganya.


"Tapi anda salah mencari sasaran, Pak," kecam Hana. Keringat dingin memenuhi keningnya.


Pak Gany justru menertawakan ucapan Hana. Pak Gany hendak mencium Hana, Hana menggeleng-geleng menolak.


"Tidak lepasin, Pak!" teriak Hana lagi.


Hana punya ide laku menendang sel*ngk*ngan Pak Gany dengan lututnya.


Bug!


"Aw.." Pak Gany menjerit hingga melepaskan tanganya yang membuat Hana tak bisa melarikan diri. Memegangi barang berharga miliknya.


Kesempatan itu langsung Hana ambil untuk cepat keluar. Kacaunya Pak Gany mengejar lebih cepat dan menghadang dirinya.


"Mau kemana, Nona? Ayolah kita bersenang-senang sebentar!" Pak Gany tampak mengerikan.


"Apa masalah mu, Pak Gany?" amuk Hana.


"Karena kecantikan mu," Singkat Pak Gany.


Pak Gany melangkah maju membuat Hana jadi mundur dan masuk lagi.


"Pergi, Pak. Aku mohon, kau akan menyesal melakukan ini." Hana tak mampu membendung air matanya.


"Tenang lah, Sayang. Ini akan nikmat kok." Pak Gany merentangkan tangan ingin menangkap Hana. Hana melepas H-hill nya dan terus mundur. Tak punya pilihan lain, Ia melempar H-hill itu kearah Pak Gany.


Pak Gany pandai menghindar hingga semua sia-sia. Pak Gany menyergap Hana. Hana menundukkan kepala dan menerobos di bawah ketiak Pak Gany.


"Wah, kau mau main-main dulu rupanya," tukas Pak Gany.


"Jangan mendekat, Pak." Hana menyetop dengan tanganya.


"Dasarnya lelaki mata keranjang!" maki Hana.


Pak Gany yang kesulitan menangkap Hana yang licinnya seperti belut berhenti bergerak lalu berkaca pinggang melihat nafas Hana naik turun tak karuan Masih dengan berderai air mata.


"Ayolah, sayang. Ini tidak akan menyakiti, mengapa kau takut sekali?" Pak Gany menggampangkan.


"Anda itu sudah gila, Pak," sahut Hana sembari berteriak.


"Gila?" Pak Gany linglung berpikir. "Heh, aku memang gila kalau urusan cewek cantik," jawab Pak Gany santai.


"Tapi saya ini tamu anda, seharusnya anda tidak melakukan ini pada saya?" protes Hana. Merasa dilec*hkan.


Bukannya sadar, Pak Gani mengerlingkan mata.


"Em, gimana ya? anggap saja tamu untuk menemani saya bermain, soalnya saya itu paling anti jika menganggur kan cewek cantik seperti anda, Nona," ucap Pak Gany terkekeh.

__ADS_1


Hana membuat ancang-ancang hendak berlari.


__ADS_2