
Gany memegang tangan Maya di atas meja, Ia akan berusaha sebisanya mendapatkan hati Maya. Bagaimana pun juga, Maya adalah wanita yang sangat dicintainya.
"Maya, kasih aku kesempatan untuk menjadi kan kamu istri ku, setidaknya membuka hati mu sedikit saja."
Tatapan Gany tampak memelas, Ia tidak ingin menipu perasaan yang Ia pendam selama ini. Bertemu Melvin saja adalah anugerah dalam hidupnya.
Sangat di sayangkan, Ia dan Maya memang melakukan kesalahan tapi itu benar-benar tidak di sengaja. Bukan Ia yang menjebak semuanya tapi keburukan menimpa mereka hingga di pergoki Prabu.
"Aku menang bersalah, May. Aku bersalah telah membuat Prabu tidak pernah mempercayai mu lagi sejak peristiwa itu, itu sebabnya aku memilih pergi agar kalian bahagia."
Sejenak Gany menunduk dan mengusap matanya yang mengembun.
"Aku menderita, karena cinta ku pada mu tidak pernah terbalaskan. bahkan aku rela kau jadikan tempat bersandar saat Prabu tidak memperhatikan mu."
Maya mematung dan hanya mendengarkan keluh kesah Gany.
"May, sekarang kalian sudah bercerai kan? Apa kau tidak ingin menempatkan aku di hati mu seperti dulu?" tanya Gany lagi.
Maya terkekeh kecut, masa itu memang menorehkan cerita hitam dalam keluarga kecilnya. Prabu sendiri tidak pernah mengakui Melvin adalah putranya.
Kekerasan dan sikap kasar selalu prabu tujukan pada anak malang itu, dan Maya harus bersabar. Baru juga melahirkan Melvin. Prabu malah menikah lagi.
Diandra juga menggendong Rangga yang masih seusia Arya. waktu itu. Anak kecil yang mampu menggeser keberadaan Melvin sebagai orang yang lebih berhak sebagai anak di mata Prabu.
Jika Mengenang itu, ingin rasanya Maya menghukum Prabu atas ketidak adilan yang Ia berikan.
Pernikahan Prabu dan Diandra cukup lama, tapi Maya tak pernah sekali pun melihat Rangga dan baru akhir-akhir ini Ia membuka mata kalau Rangga adalah musuh kedua putranya.
"Mas Gany, aku tidak tahu harus menjawab apa? yang aku pikirkan sekarang hanya ingin pokus mengurus anak-anak dan calon cucu kembar ku," jawab Maya seraya tersenyum.
"Kembar? jadi menantumu Hana sudah mengandung?"
"Iya, Mas. Dulu mereka pernah menikah tapi mereka belum menyadari perasaan masing-masing membuat keduanya bercerai. Tapi untunglah Melvin lebih cepat menyadari kebodohannya sebelum Rangga anak tiri Mas Prabu merebutnya," ungkap Maya gamblang.
Maya meneguk just didepannya, agar bebannya sedikit berkurang. Kehidupan yang Ia lalui cukup menguras air mata, emosi dan kesabaran.
Mulai sekarang Maya ingin melupakan semuanya dan memulai lembaran baru.
"Mas, kau pasti tidak percaya," kata Maya lagi.
"Soal Arya?"
"Arya? bukanya dia sudah meninggal kata Melvin. Itu yang membuat Ia cepat pulang ke Indonesia waktu itu?" tanya Gany sembari mengernyit heran.
__ADS_1
"Entahlah, aku sama seperti mu masih kurang yakin. Tapi Arya menceritakan semuanya padaku kalau yang mati itu adalah Adit yang salah melakukan operasi plastik memakai wajahnya," sambung Maya.
"Oke... jadi Arya sekarang dirumah mu?"
"Iya, Mas. Baguslah, semoga kalian bahagia. Tapi May, aku akan tetap menunggu jawaban dari pertanyaan ku tadi," kata Gany mengulangi.
Maya hanya tersenyum, Ia belum terpikirkan kearah sana. Ia sudah cukup bahagia melihat anak-anaknya hidup rukun seperti saat ini.
Hari itu, Melvin, Hana, asisten perempuannya juga si Dafa mengelilingi beberapa panti asuhan dan panti jompo untuk menyalurkan dana bantuan.
Meski bertabur uang, Melvin tidak pernah lupa akan kewajibannya membantu orang yang membutuhkan.
Bahkan Ia juga meminta Dafa membagikan lembaran uang saat mereka berhenti di lampu merah pada pedagang asongan, pemulung, penjual koran maupun pengemis.
Doa-doa mereka menyertai langkahnya mencapai kebaikan. Ia tidak suka di puji tapi cukup melihat mereka tersenyum adalah anugerah terbesar yang di berikan Tuhan padanya.
Hana melirik Melvin penuh kekaguman, Ia tidak salah memberikan hatinya pada pria yang kini menyandang status suaminya.
"Terima kasih ya, Vin. Banyak uang tidak membuatmu lupa akan orang lain," ucap Hana terharu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami yang nyaman melebihi bantal.
"Mereka juga ingin hidup, Sayang. Aku ingin melihat mereka bisa merasakan kebahagian juga," jawab Melvin di sertai tangan yang merambah ke atas kepala Hana.
"Aku beruntung bisa menjadi istri mu seperti saat ini, kalau tidak aku tidak tahu nasibku."
"Jika anak kita laki-laki aku ingin Ia menjadi pria tampan dan berhati Mulia seperti Papa nya."
Hana mengelus perutnya yang kini semakin menonjol besar.
"Aamiin, jika perempuan aku ingin Ia seperti Mamanya cantik dan penyabar orangnya," tambah Melvin sembari menoel hidung Hana.
Asisten perempuan tersenyum sendiri memperhatikan tingkah kedua Tuannya.
"Haduh, jadi iri gue, kapan ya aku bisa romantis-romantisan," sahut Dafa. Ia sudah kembali menjalankan tugas.
"Ada nanti, Dafa. Aku punya hadiah untukmu," tukas Sang Bos.
"Asyik, aku tunggu lo, Bos," canda Dafa.
Tin! Tin! Tin!
"Ayo Dafa, jalan!" titah Melvin karena kendaraan di belakang mulai protes.
"Oke, Bos."
__ADS_1
Arya di rumah seorang diri, Ia mengedarkan pandanganya kesemua ruangan tapi tidak ada siapa pun. Ia tergiur melakukan aksi setelah yakin kondisi aman.
Si Arya mengambil beberapa barang mewah di rumah itu Ia masukkan kedalam kantong besar agar mendapat banyak uang jika barang-barang itu Ia jual.
"Bodo amatlah, ngapain juga ngurusin si Bos. Banyak ngaturnya.. mending gue cari seseran," ucap orang itu seorang diri.
Di rasa cukup banyak, Arya bergegas keluar dan berniat menjualnya untuk berpesta.
Tak butuh waktu lama, Arya berhasil mendapatkan uang sebanyak lima juta.
"Enak ya tinggal di rumah orang kaya, Makan enak, minum ambil di kulkas tidur juga empuk apa lagi beh, pakaian ku bagus-bagus, wangi lagi. nah yang ini buat jajan dah."
Si Arya ini mengipas-ngipas uang berwarna merah itu kewajah nya saking senangnya sambil mengoceh tidak jelas.
Kunjungan ke panti asuhan hampir usai tinggal satu panti lagi yang mereka singgahi.
"Ini adalah panti jompo, Bos. Semua orang tua di asing kan kemari oleh anak-anak mereka karena enggan mengurusnya," ujar Dira si asisten perempuan itu.
Asisten Melvin yang Ia usung dari Eropa namun asli orang Indonesia.
"Anak-anak seperti itu memang tidak punya adab, bukanya ganti mengurus malah menelantarkan orang tua," rutuk Melvin tidak suka.
Melvin dan yang lainnya menyalami semua orang tua itu.
"Mas ganteng, boleh cium!" pinta seorang wanita lansia.
Melvin mengerjab-ngerjabkan matanya menatap Hana.
"Kasih aja, jarang-jarang lo dapet ciuman dari nenek," bisik Hana mengerjai.
Melvin tidak ingin mengecewakan dan mengangguk.
Perempuan lansia itu menarik kepala Melvin setengah menunduk lalu mencium di beberapa titik wajah Melvin.
"Aku juga Mas ganteng, aku mau lah cium kamu," kata wanita lainnya seraya mendekat.
"Aku, aku." Seorang lainya mengacungkan tangan dan berlari kearahnya. Totalnya ada sepuluh orang wanita lansia yang mengantri.
...💞💞💞💞...
Nah penasaran gak apa yang akan di lakukan Melvin selanjutnya.
kalau gitu komen yang rame ya pasti aku like.. maaf jika tidak sempat membalas komentarnya satu persatu tapi aku baca semua kok.
__ADS_1
I love You to reader!!!💗💗💗