Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_61 Rumah Sakit


__ADS_3

Leo menyodorkan saru gelas jus lemon ke Clara dan mau mengambil lagi tapi Melvin mau pergi.


"Ehk, Mas tunggu!" Leo terpancing emosi.


Melvin terpaksa mundur.


"Iya, Mas," jawabnya.


"Jadi pelayan yang bener dong. Aku belum selesai mengambilkan jus untuk pacarku," amuk Leo memekikkan telinga.


"Oh.. maaf Maaf, Mas. Say tidak sengaja. Saya pikir Mas sudah selesai," jawab Melvin.


"Dasar pelayan bodoh, seharusnya kau tidak pantas bekerja disini," hina Leo hingga telinga Melvin menjadi panas.


Clara ikut menatap sinis lalu menyiramkan jus di tangannya kewajah Melvin sampai mengundang perhatian tamu lainnya.


Melvin menggertakan rahang akan hina'an itu.


Leo kemudian meraih piring kue tar di atas meja lalu Ia templokan kewajah Melvin untuk menambahi ulah Clara sampai wajah dan baju seragam Melvin kotor.


Melvin mencoba menahan amarahnya, Ia mengepalkan tangannya yang ingin sekali Ia tinjunkan kewajah orang yang memperlakukannya layaknya sampah.


Riman tak kuasa menyaksikan kejadian itu, bisa hancur pestanya gegara itu.


"Ada apa ini, Pak Leo? Kenapa Pak Leo dan Nona melakukan itu pada pelayan saya?" tanya Riman.


Melvin kaget setelah mendengar siapa orang yang di panggil Riman dan jadi tak bisa lagi menahan emosinya. Ia benar-benar tersulut lalu mengusap wajahnya dengan tangan dan mendongak kan kepala pada mereka dengan mata memerah.


Leo dan Clara terkejut.


"Melvin?" ucap Clara sembari menutupi Mulutnya yang menganga.


Pesta Dansa di hentikan, Hana jadi ikut melihat kearah mereka.


"Hahaha.... ya ampun, Cla. Jadi dia merubah propesi nya sebagai pelayan kafe?" ucap Leo tergelak.


Clara menggelengkan kepalanya.


"Memalukan, kenapa kamu bekerja disini, Vin?" ucap Clara meninggikan suaranya.


Seseorang mendekati Prabu.


"Apa masalah mu, Pak. Kenapa anakmu jadi memalukan begitu," sindirnya. Ia sengaja ingin menjatuhkan kewibawaan Prabu.


Tak ayal membuat Prabu semakin menaruh benci pada Melvin, Melvin sudah membuang kotoran kewajah nya di hadapan para koleganya.


"Bagaimana bisa kau memperkerjakan cecunguk seperti dia Pak Riman, saya hendak mengambil air minum itu tapi dia malah pergi," jawab Leo setengah menggelegar lalu kembali merangkul pundak Clara dengan tawa mengejek.


Melvin kian panas, Ia merasa ada yang tidak beres antara Leo dan Clara.


Bug!


Melvin melayangkan tinjuan kuat kewajah Leo hingga pipi Leo memar.


Leo melotot geram dan balik membalas Melvin.


Melvin tersungkur kelantai di bawah kaki para tamu undangan yang menyaksikan itu.

__ADS_1


Melvin bangkit lagi dan hendak kembali menyerang Leo tapi Leo menghindar membuat dia menabrak meja sampai meja itu roboh hingga semua piring dan gelas diatasnya pecah.


"Hahaha.. Kamu itu memang tidak berguna Melvin. Kamu itu hanya anak yang terlahir dari sampah," ejek Leo lagi.


Riman kecewa, semua pesta yang di tata rapi hancur berantakan.


Rangga mengulas senyum puas, Ia telah menjadi penonton betapa terhinanya diri Melvin di depan mereka.


Sedangkan Prabu menghampiri bukannya membantu Ia malah menampar wajah Melvin yang masih tak berdaya di lantai.


Plaaak!!!


"Dasar, anak tidak berguna. Enyah kau dari sini!" amuk Prabu tak dapat mengendalikan emosinya.


Hana tidak tega dan berlari menahan tangan Prabu yang akan mengayun lagi kewajah Melvin.


"Jangan, Pa. Jangan lakukan lagi!" mohon Hana diiringi air mata berlinang. Hatinya ikut sakit melihat Melvin di rendahkan di depan orang banyak.


Prabu akhirnya bangkit dan membawa Diandra keluar dari tempat itu.


"Ya ampun, Vin. Kenapa Papa mu bahkan tidak membela mu!" seru seseorang.


"Iya, pasti Melvin bukanlah anak yang baik hingga Papanya sendiri bersikap demikian," imbuh yang lainnya.


Riman pun ikut ambil bicara.


"Maaf, Vin. Aku terpaksa meminta kau menghentikan pekerjaan mu. Kau sudah merusak nama baik kafe ku malam ini."


Melvin terdiam, lalu kemudian di bantu Hana bangun.


"Maaf, Rim. Bagaimana perasaan mu jika seorang sepupu lelaki mu tidak berprilaku sesuai dengan sepupu perempuanmu apa itu disebut wajar," ucap Melvin membela dan menatap Leo dan Clara dengan sorot menakutkan.


"Aku tahu masalah mu, sobat. Tapi kau telah mengecewakan aku, dan maaf, ku mohon tinggalkan tempat ini!" pinta Riman dengan nada sehalus-halusnya berharap Melvin tidak tersinggung.


Melvin tidak munafik, tentu Ia tersakiti oleh ucapan Riman.


"Tidak masalah, aku memang tidak pandai dalam hal menjadi pelayan yang baik."


Hana mengedip-ngedipkan matanya antara mau mengikuti Melvin atau diam saja. Baru saja hendak pergi, Clara mendadak jatuh pingsan.


"Clara, kau baik-baik saja, Beib?" Leo menepuk-nepuk pipi Clara dalam kecemasan.


Melvin melepaskan tangan Hana yang masih memegangi pundaknya berniat menghibur. Di angkatnya tubuh Clara.


"Dia adalah istriku, jadi kau tidak berhak menyentuh dirinya," tutur Melvin pada Leo.


Leo berdecak melihat Melvin membawa Clara bersama dengannya.


Melvin menyetop taksi tanpa berpikir kalau dirinya tidaklah memiliki uang sepeser pun. Tapi Ia ingat kalau Clara membawa tas. Ia yakin Clara punya uang disana.


"Rumah sakit, Pak!" pinta Melvin.


"Baik, Pak."


Melvin tak peduli kalau kondisinya begitu kotor dan berantakan yang hanya Ia seka dengan lengan bajunya.


Hati Hana gerimis, Melvin bahkan tidak melihatnya meski Ia berusaha membela Melvin di sana.

__ADS_1


"Vin, aku masih berharap kau mau berniat mengajak ku untuk kembali."


"Han..!" panggil Rangga.


"Aku mau pulang, Rang."


"Oke, biar ku antar."


Dalam perjalanan, Hana hanya diam saja. Rangga tau pasti Hana ada rasa dengan Melvin.


"Kau ingin pulang atau_?"


"Ke rumah sakit," sabung Hana secepatnya tanpa menoleh.


"Oh.. oke."


Rangga mengalah, Ia tidak mau mencampuri pikiran Hana sampai Hana menjadi tenang. Tak ada lagi perbincangan setelah percakapan singkat itu hingga tiba dirumah sakit.


"Hana, boleh aku ikut?" tanya Rangga setelah tiba di parkiran.


Hana mengangguk.


Keduanya berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit.


Hana kembali membulatkan mata saat seseorang menabrak pundaknya dari belakang cukup keras sembari berlari-lari kecil.


Hana menoleh sembari memegangi pundaknya yang cukup sakit kearah Rangga seperti ingin bertanya tentang lelaki yang mereka lihat tadi.


"Dia Leo, Han," ucap Rangga memberi tahu.


"Mereka tidak seperti sepupu," tebak Hana.


Rangga hanya tersenyum. Ia tidak akan memberi tahu kan itu pada Hana. Ia yakin Hana akan semakin simpatik pada Melvin jika Ia memberi tahukan kebenaran hubungan keduanya.


Rangga dan Hana masuk keruangan dimana Om Roy dirawat.


"Loh, udah pulang. Kan baru setengah sembilan?" tanya Bibi Yuna lembut. Pura-pura bagaikan malaikat di hadapan Rangga.


Rangga baru mau menjawab tapi di potong oleh Hana.


"Pesta nya hanya sebentar, Bi. Bagaimana kondisi Paman?" ucapnya mengalihkan tema pembicaraan.


"Sudah membaik, tapi hasil lab nya kok belum keluar ya?" ucap Bibi sedih.


"Kapan di periksa nya, Bi?" tanya Rangga.


"Pagi tadi," jawab Bibi. Biasalah cari muka siapa tau Rangga iba dan memberi Ia sesuatu yang menguntungkan.


"Sabar, Bi. Mungkin besok hasilnya keluar," pungkas Rangga.


Dikamar lainnya di rumah sakit yang sama. Seorang Dokter tengah memeriksa perut Clara dengan USG.


"Kenapa harus USG, Dok?" tanya Melvin terheran-heran.


Dokter itu mengembangkan senyum dan melanjutkan kegiatannya mengerakkan benda di atas kulit perut Clara yang sudah di baluri semacam Gel.


...🌿🌿🌿🌿🌿...

__ADS_1


Komen yuk sebanyak-banyaknya....


Kalau mau lanjut...


__ADS_2