
Hana mengedarkan pandangan bola matanya ke arah semua orang disana, Ia masih menanti kehadiran Melvin sebagai pahlawan untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi nyatanya Melvin tidak terlihat di antara mereka dan itu hanya sebatas angan-angan saja.
Langkah Kaki Hana memelan seolah tak ingin di gerakkan. Wajahnya juga mendung sayu, tidak ada titik cahaya disana.
Apalah daya Ia mengikuti genggaman tangan Rindy menghantar nya duduk di samping Rangga. Rindy juga memasangkan selendang putih di atas kepala keduanya.
"Kau sangat cantik, Sayang," bisik Rangga di telinga itu.
Ingin sekali Hana menjerit dan mengamuk menolak, tapi mulutnya terlalu kaku. Hanya Air lara yang menggenang di pelupuk matanya.
Pak penghulu memandangi keduanya secara bergantian. Ia mengernyit heran menatap wajah Hana nampaknya bersedih.
"Kedua mempelai, apakah kalian sudah siap?" tanya Pak Penghulu pada mereka.
"Siap, Pak," jawab Rangga cepat.
Hana diam dan menunduk, mengundang semua mata tertuju pada dirinya.
Gegas Sang Bibi mendekat dan mengatakan sesuatu di telinga Hana.
"Cepat jawab iya atau kamu ingin melihat Paman Roy di sakiti oleh Rangga," ucapnya mengingatkan.
Hana mengangkat wajah kaget lalu mengganggu kan kepala terpaksa, hingga air mata itu kembali tumpah.
"Oke, kalau begitu. Siapa wali mempelai wanitanya?" tanya Pak Penghulu pada mereka.
"Sa.. saya, Pak," jawab Paman Roy lemah.
"Apa Bapak ingin menikahkan mereka atau_?"
"Bapak penghulu saja, Pak. Suami saya sedang sakit," sahut Bibi Yuna seraya tersenyum.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Pak Penghulu meminta Rangga menjabat tangannya tentu Rangga sangat antusias menyambut itu.
"Akhirnya, hari ini datang juga."
"Kau tau bukan, kalimat apa yang akan kau ucapkan?" tanya Pak Penghulu memegang erat tangan Rangga.
"Tentu, Pak. Bahkan aku mengingatnya diluar kepala."
Melihat Rangga se yakin itu, Hana tak bisa lagi berharap banyak. Tidak ada tanda-tanda pernikahan itu akan gagal. Melvin tidak menepati janji, pasti Melvin mengira pernikahan tidak terjadi secepat itu.
Pak Penghulu mulai mengucapkan janji suci sebagai lambang akan bersatunya Hana dan Rangga dalam ikatan yang mengunci kebebasannya.
"Saya nikahkan Rangga Ramadhan Ardian bin Ardian dengan Hana Agista binti Antony Putra (almarhum) dengan mahar uang sebanyak 260 juta di bayar tunai." Pak Penghulu menghentakkan sedikit tangan mereka.
"Saya terima nikahnya, Hana Agista binti Antony Putra(almarhum) dengan mas kawin_."
"Tunggu..!" cegah seseorang.
Mereka menghentikan aktifitas mereka dan menoleh ke ambang pintu.
__ADS_1
Berdirilah seorang perempuan dengan pakaian formal dan beberapa orang di belakangnya.
"Saya mohon dengan hormat untuk menghentikan sejenak acara ini," ucap wanita itu menegaskan.
Rangga melepas kain putih di kepalanya dan berdiri diikuti yang lainya. Semua tamu pun menyingkir memberi jalan.
"Siapa kalian?" tanya Rangga seraya menggaruk pelipisnya.
Wanita itu menyunggingkan senyum dan melangkah mendekat.
" Aku ingin bernegosiasi dengan anda, Pak," jawab wanita itu.
Rangga mengerutkan dahi.
"Apa maksudnya?" tanya Rangga tak mengerti.
Wanita itu menghampiri Hana dan mengangkat wajah Hana yang menunduk.
"Dia sangat cantik, pantas Bosku sangat menginginkannya," ujar wanita itu.
"Bos?" tanya Rangga lagi.
"Bener, kau menikahi wanita ini karena dia berhutang kan?" ucap wanita itu enteng.
"Sok tahu, anda?" ketus Rangga.
"Jujur, Pak. Bos besar sangat ingin memiliki wanita ini. Jadi bagaimana kalau saya membayar uang yang Bapak berikan pada wanita ini sebagai timpalan," tukas Wanita itu.
"Jangan gila kamu, aku menikahi nya karena cinta," elak Rangga tak terima.
"Tutup mulut mu, orang aneh. Siapa kalian ini? Jangan mencoba merusak acara pernikahan ku?" bentak Rangga tak suka.
"Santai Pak Rangga. Aku punya penawaran menakjubkan untuk anda." Perempuan itu meminta dua bodyguardnya meletakkan dua koper uang di hadapan Rangga.
"Bagaimana dengan uang ini, Pak?"
Mereka yang menyaksikan itu ternganga takjub. Uang itu sangat banyak. Tentu wanita itu tidaklah main-main.
Rangga sebaliknya, Ia marah akan tindakan wanita itu.
"Apa kau ingin menyogok saya? siapa anda ini?" tanya Rangga penuh keheranan.
Wanita itu terkekeh.
"Sudah kubilang. Bos kami mencintai calon istri anda. Jadi kami melakukan ini untuk mendapatkan Nona muda cantik yang di ingini Bos kami," jawab wanita itu.
Rangga terdiam heran.
Wanita itu mengamati Rangga dan kembali berdecak.
"Ck, sudah lah, Tuan. Nego kami tidaklah main-main. Kami tidak bisa menunggu terlalu lama."
Wanita itu meminta tiga orang lainnya meletakan lagi tiga koper lainnya sejajar dengan uang koper sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini? apa ini masih kurang cukup?" tanya wanita itu menanti jawaban.
Hana tiba-tiba mendekati wanita itu.
"Saya bukan barang yang bisa di perjual belikan, Mbak. Mbak pasti salah paham," ucap Hana menatap tajam pada wanita itu.
Wanita itu terkekeh lagi.
"Kau amat cantik, Nona. Itu sebabnya kami rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak. O ya, bukankah kau terpaksa mau di nikahi nya?" ujar wanita itu mengerling gemas pada sosok Hana.
"Tapi ini adalah hinaan bagi saya, Mbak. Saya rasa kalian semua sudah tidak waras," kecam Hana merasa direndahkan.
"Hahaha.. kau benar, Nona. Itu karena diri mu sangatlah sempurna. Sekarang pilihan ada pada diri mu. Mau tetap menikah dengan Pak Rangga atau ikut dengan kami, simpel kan?" kata wanita itu.
Rangga memegang tangan Hana. Ia rupanya kekeh akan pendiriannya.
"Tidak, Han. Aku tidak rela kau ikut dengan mereka. Bisa jadi kau akan di berikan pada seorang mafia atau bahkan seorang penjual para perempuan untuk lelaki hidung belang," ujar Rangga mengingatkan.
Wanita itu memandangi Hana dan meyakinkan ucapannya.
"Nona, apa bedanya kau menikah dengan Pak Rangga atau pun ikut kami. Toh kau sama-sama hanya menikah karena terpaksa. Pikirkan baik-baik, Nona. Kau bisa berpikir jernih."
Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kau hanya terjerat dalam hutang pada Pak Rangga, Nona. Kami siap membayar lebih dan kami pastikan anda dan keluarga tidak akan kekurangan apapun. Bagaimana? apa itu tidak membuatmu tertarik?" tanya wanita itu lagi.
Hana berbalik dan menoleh pada Paman dan keluarga Paman Roy. Hatinya di dera bingung. Ia harus bertahan kah atau ikut bersama orang-orang yang tidak di kenalnya itu.
Air mata Hana luruh lagi, rasanya mata itu sudah tebal dan membengkak.
Rangga kembali memegang lengan Hana, Ia tidak ingin Hana tergiur dengan penawaran orang asing itu.
"Tidak, Han. Kau itu milikku. Percayalah aku mencintai mu." Rangga takut Hana akan memilih pergi.
Hana meghentakkan tangan Rangga dari lenggan nya dan menoleh penuh kebencian.
"Aku tidak sudi menikah dengan orang yang sudah menghancurkan hidupku, Rangga!" ucap Hana mengejutkan Rangga.
"A.. apa? kenapa kau bilang begitu, Hana? Apa kau sama matrenya seperti perempuan umumnya?" hina Rangga tanpa sadar.
Hana melotot lagi pada Rangga cukup lama lalu menoleh lagi pada Paman Roy. Salah satu orang yang di cintai nya.
Semua orang menunggu keputusan Hana, mereka ingin melihat apa yang sebenarnya sedang bergelayut di otak Hana dan menjadi pilihan hidupnya.
Hana sudah menentukan pilihannya dan mendekati wanita itu.
Rangga dan Sandra tercengang melihatnya itu.
"Good, aku suka itu, Nona. Silakan ikut kami!" ajak wanita itu.
Hana mengikuti mereka dan tak lagi peduli dengan masa depannya. Dimana pun Ia berada hidupnya akan sama-sama hancur.
...🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
Mana ni vote ma kembang. Kok gak ada yang nyangkut lagi sih. Cuma dua biji doang. Tambahin ya biar semangat jangan lupa sertakan like and komen sebanyak-banyaknya🤣🤣🤣🤣