
Tangan Melvin mulai bergerak naik keatas paha Clara tanpa melepaskan perang dari kedua bibir yang saling bertaut.
Sampai mencapai di titik inti dimana hasrat mereka kian membara Clara mendadak mendorong tubuh Melvin dan memuntahkan isi perutnya kelantai. Pasti Clara sudah menahannya sejak tadi.
Tak ayal membuat Melvin sangat kecewa, Situasi itu seketika menyiutkan keinginannya untuk kembali menyentuh Clara.
"Maaf, Vin. Aku merasa mual, apa kau ingin melanjutkannya," Clara menggeser tubuhnya mendekati Melvin.
"Kamu kurang enak badan, kita tunda saja dulu," jawab Melvin.
"Kau yakin?" tanya Clara yang langsung diangguki Melvin.
"Oh, oke." Clara mengenakan bajunya dan meminta Bi Rahma membersihkan kamar itu.
Clara dan Melvin duduk di ruang tamu dalam keheningan. Clara melirik sinis Melvin dan kesal melihat wajah lesu Melvin.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada."
"Tapi kenapa wajah mu di tekuk."
"Emangnya aku harus bagaimana, Clara?"
Clara menghembuskan nafas kasar.
"Besok, temui Papa mu dan mintalah uang."
"Untuk apa?"
"Ya untuk aku lah, kau pikir apa? kau berharap aku yang menghidupi mu."
Melvin menegakkan kepalanya, Ia syok dengan pernyataan Clara. "Jadi selama ini kau keberatan?"
"Bukan begitu, Vin. Coba kau pikir aku butuh nafkah dari kamu untuk shoping dan keperluan pribadiku."
"Kau sendiri tau kan Cla, Papa mengusir aku dari rumah."
"Ya kamu cari cara dong, buat luluhin hati Papa kamu, hoek..."
Clara menghentikan ocehannya merasakan perutnya benar-benar tidak begitu nyaman.
Melvin bangkit dari duduknya.
"Ayo kita ke Dokter!" ajak Melvin.
"Males, ini sudah malam," tolak Clara sambil melipat tangan.
__ADS_1
Melvin menggaruk tengkuknya, kepalanya bisa saja pecah terus menerus berdebat dengan Clara.
...💐💐💐💐...
Pagi itu Hana naik angkutan umum untuk pulang kerumah. Ia akan meminta Bibi Yuna menunggu Paman Roy dirumah sakit sampai pekerjaan nya selesai dan tentunya Hana juga harus berusaha mendapatkan uang untuk perawatan sang Paman.
Hari itu penumpang sangatlah banyak, Hana tidak kebagian tempat duduk. Dengan terpaksa ikut berdiri bersama para pria, baik anak sekolahan atau pun pria paruh baya dengan tujuan masing-masing.
Di saat itu juga Melvin melakukan hal yang sama, Ia menyetop angkutan umum yang ditumpangi Hana dan menyelinap masuk di antara kerumunan.Keduanya saling terhalang oleh banyak orang antara Ia dan Hana.
"Hoooo." Para lelaki itu ribut dan bahkan bahagia tubuh mereka saling berbenturan. Itu momen menyenangkan bagi mereka jika aja cewek cantik ikut berdiri.
Bis itu terhuyung kesamping ketika menaiki tanjakan membuat para pria yang berdiri di sekitaran Hana bolak balik menyenggol tubuh Hana. Kesempatan juga mungkin para lelaki itu menyenggol tubuh Hana. Hana terlalu cantik berada di sana, itu akan menjadi alasan para pria itu mencuri keadaan menempelkan tubuh mereka dari depan, belakang maupun kedua sampingnya.
Hana mengernyit bingung, Ia bisa saja lengah memperhatikan wajah tanpa bersalah dan menikmati situasi itu.
Beberapa detik kemudian mobil Bis kembali terhuyung dan itu melewati pengkolan tajam tak sengaja dada Hana membentur punggung di depannya dengan cepat di tahannya dengan dua tanggan nya, wajah menganga kaget. Lelaki itu menoleh Ia menyeringai nakal kearah Hana mungkin merasakan sesuatu lalu pokus lagi kedepan.
Hana makin terjepit Ia merasa kalau para lelaki itu semakin menghimpit tubuhnya. Tapi tak punya pilihan lain selain bertahan. Hana tidak peduli mau berpegangan atau tidak yang pasti Ia harus melindungi kedua gundukan kenyal miliknya dengan tangan agar tidak terulang lagi.
"Hooo." Para pria itu ribut lagi karena mobil agak miring. Hingga pundak Hana membentur pundak pria di sampingnya.
Hana meleguk salivanya pria itu menatapnya dengan sangat mengerikan Ia hanya bisa nyengir pada pria itu.
Lagi.. entah berapa kali Kali ini dari posisi kanan mobil bis itu agak miring, cukup untuk memacu jantung membuat Hana terdorong ke punggung kursi dan memekik sakit.
Melvin melihatnya kejadian itu, tapi masih belum tahu kalau itu adalah dirinya.
Bukannya mengurang gerakan bis itu kian terombang-ambing salah satu penyebabnya juga karena jalanan naik turun.
"Ahk...." Hana menjerit lagi dan mulai marah.
"Mas, tolong kendalikan dirimu," sentak nya.
Mereka semua memandangi Hana termasuk Melvin menautkan kedua alisnya.
"Biasa aja dong, mbak. Emang mobilnya bikin keder," ketus seorang pria. Gak ada cakep-cakepnya jadi orang.
"Tapi kalian itu sepertinya sengaja melakukan ini padaku," balas Hana.
"Kalau gak mau kesenggol naik taksi sono. Cantik-cantik kok naik angkutan umum, pengen di pegang-pegang ya," sahut pria lainnya membuat Hana melempem.
Melvin tidak tega membiarkan Hana di keroyok para pria hidung pesek tersebut, Ia mencari celah untuk menghampiri Hana.
"Maaf, permisi. Maaf ya dia istri saya."
Mereka semua menyingkir dan memberikan jalan untuk Melvin. Di ulurkannya tangan Melvin supaya Hana kembali berdiri. Hana termangu dan akhirnya menyambutnya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" bisik Melvin di telinga Hana. Kali ini Melvin memeluk Hana dengan satu tangannya sudah pasti tubuhnya cukup besar melindungi Hana dari serempetan para pria itu.
Hana terharu, Ia lebih aman jika tubuh Melvin yang menyenggolnya di banding pria lainnnya. Hana terus menatap Melvin. Melvin bersedia tubuhnya yang berbenturan dengan mereka demi dirinya.
"Terima kasih," ucap Hana.
"Tidak perlu, ini bantuan kecil," jawab Melvin datar tanpa menoleh kearah Hana.
Sesekali Melvin meringis, mungkin benturan orang-orang itu sangatlah keras. Hal itu sudah biasa terjadi dalam sebuah angkutan umum dengan kelebihan kapasitas penumpang.
Tiba di persimpangan jalan, Hana turun diikuti Melvin.
"Han..!" panggil Melvin.
Hana mendongak menatap lekat wajah pria di depannya.
"Ada apa?"
"Bagaimana kabar Paman Roy?" tanyanya.
Hana tersenyum kelu.
"Paman sakit cukup parah, kurasa tidak penting juga kau tahu."
"Han..."
"Vin, terima kasih atas bantuan mu tadi. Aku pergi.."
Hana mempercepat langkahnya meninggalkan Melvin menatapnya.
Melvin berbalik, Ia juga harus menemui Prabu. Ia ingin meminta haknya seperti saran dari Clara.
Hana tiba dirumah dan bertemu Bibi Yuna.
"Sudah pulang kamu, Paman mana?" celetuk Bibi Yuna sembari memetik daun singkong dari kebun.
"Paman sakit parah, Bi. Dia harus dirawat," jawab Hana.
"Dari mana uangnya, emang kamu gak mikirin, Ha?" omel Bibi Yuna. Tak ada ekspresi di wajahnya. Judes dan ketus saja yang terpancar.
"Ini demi kesehatan Paman, Bi. Hana akan mencari uangnya," ucap Hana yakin.
"Terserah kamu sajalah, aku gak mau ikutan pusing. Stress ni otak mikirin belanja tiap hari kalau kayak gini gimana coba mau beli beras," gerutu Bibi Yuna mencibir geram.
"Bibi temani Paman, ya. Nanti malam Hana yang urus," tukas Hana.
"Ya, yang penting bawa uang."
__ADS_1
Hana memilih diam, Ia tak bisa berjanji untuk itu.