Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Paet_68 Tak Berdaya


__ADS_3

Halo reader setiaku..


Terima kasih banyak masih mengikuti sampai dititik ini walaupun Ceritanya dongkol-dongkol anyep tak menyurutkan semangat kalian untuk selalu dukung aku.


Tentu ini juga menyita waktu kalian sampai meluangkan waktu kalian demi membacanya.


Maaf jika dari cara penulisan, penyusunan kata atau apa pun itu yang terdapat di novel ini membuat kalian tidak nyaman. Maaf juga tak bisa ku sapa satu persatu.


Makasih juga atas kesediaan kalian menyumbangkan dukungan berupa Like, comen, vote and bintang limanya ya...


Terima kasih sebanyak-banyaknya dari ku untuk kalian.


Jalan-jalan ke toko buah


Tidak lupa membeli blewah


Kalau hati mu sedang gelisah


Mending baca novel Menikahi istri amanah Kakak ajalah


🤭🤭🤭🤭😜😜😜😜


...💐💐💐💐...


Bingung menjawab pertanyaan Rangga nada dering ponsel Hana membahana.


Hana membuka pengait tas nya dan mengangkat panggilan dari Bibi Yuna.


"Halo, Bi," jawabnya pelan.


"Han, cepat dapatkan uang. Paman Roy kolaps lagi dan harus segera di operasi," jawab Bibi Yuna mengagetkan jantung Hana. Tak kuasa lagi buliran air mata nya berderai.


"Iya, Bi. Hana akan berusaha."


Hana memutuskan sambungannya dan menoleh pada Rangga. Tak ada cari lain selain meminta bantuan Rangga. Walaupun pada dasarnya hati Hana bertolak belakang.


"Tolong pinjami aku uang, Rang. Aku bersedia bekerja di kantor mu seumur hidupku untuk melunasi uang itu," mohon Hana memelas.


Rangga mengembangkan senyum.


"Apa Paman Roy drop lagi?" tanyanya tidak menunjukkan rasa iba barang sedikit pun pada Hana.


Hana mengangguk dan menghapus jejak air matanya. Hana tidak ingin Paman Roy pergi meninggalkan dirinya. Paman Roy adalah pengganti orang tua terbaik bagi Hana.


Hana beranjak lalu memegangi kedua pundak Hana dengan tatapan dalam.


"Katakan berapa uang yang kamu minta?" Rangga sepertinya bersungguh-sungguh bertanya.

__ADS_1


"Dua ratus lima puluh juta," jawab Hana mengungkap angka yang di ingininya.


Rangga justru tergelak menertawakan penuturan Hana. Rangga seolah-olah menganggap itu sebuah lelucon.


"Itu tidak sedikit, Han. Kau becanda ya?"


"Tidak, Rang. Aku mohon bantu aku, Aku tidak ingin Paman kenapa-napa. Beliau terlalu baik, Rang." Hana mengatupkan tanganya mengharapkan keridhoan Rangga.


Rangga tampak berpikir, Ia rupanya punya jalan mulus untuk melakukan penawaran pada Hana.


"Oke, aku tidak ingin kau menjadi anak buah ku seumur hidupmu. Aku punya pilihan yang bisa kau pertimbangkan baik-baik, Han. Jujur aku tidak memaksa mu."


"Apa pilihan itu, Rang. Aku tidak akan menolak jika kau bersedia membantu diriku."


"Kuharap kau pikir dulu, Han."


"Katakan saja, Rang. Aku mohon..."


"Kau yakin?"


Hana mengangguk.


"MENIKAH LAH DENGANKU...."


Hana menganga tak percaya.


"Kau kaget bukan? Han, jika kau menjadi istriku aku akan menjadikan hidupmu bagai di surga. Kau tidak perlu menguras tenaga dan waktu dengan sia-sia jika membayarnya menjadi bawahan ku," tegas Rangga menatap nyalang.


Rangga tersenyum licik.


"Kau tau kan aku sangat mencintai mu sejak dulu dan ini adalah kesempatan ku."


Hana mereeeemas ujung bajunya.


"Kalau begitu aku keluar saja dari kantormu," ancam Hana.


Rangga menyipitkan mata lalu tertawa lagi.


"Hahaha.. jangan begitu, Han. Apa kau punya uang sepuluh juta untuk membayar dendanya kau bahkan belum sebulan bekerja disini. Sadar, Han. Kau hanya lulusan SMA. Mana ada kantor yang menerimamu selain kantor ku ini."


"Kau keterlaluan, Rang. Kau memanfaatkan kelemahan ku," kesal Hana.


"Ayolah, Han. Kau pernah menikah dengan Melvin tanpa Cinta apa sulitnya kau juga menikah denganku. Dengan begitu kau akan bahagia," tilas Rangga.


Ponsel Hana menggema lagi, Bibi Yuna kembali menelpon.


"Han, cepetan. Dokter menunggu kamu untuk segera bertindak."

__ADS_1


Hana memeras air matanya dengan bulu mata berulang-ulang. Ia tidak tahu harus bagaimana. Rasanya Ia ingin mati saja. Ia tidak mencintai Rangga haruskah Ia menyetujui keinginan Rangga untuk menikahi dirinya sebagai balasannya.


Rangga mengitari tubuh Hana dalam kebingungan. Nafasnya seakan menyerang seluruh saluran darahnya. Ia tidak menyangka hidupnya dalam membangun rumah tangga tanpa cinta akan terjadi lagi meski Cinta itu tak pernah ada di hatinya.


Hana takut perpisahan nya dengan Melvin dan bersatu dengan Rangga bukan jalan terbaik.


"Han, sampai kapan kamu begitu. Kau ingin Paman mu berakhir jika kau tak segera mengambil keputusan sekarang?" Rangga membumbui kemalangan wanita di depan matanya makin menjulang.


"Oke, Rang. Oke.. aku akan menikah dengan mu. Demi Pamanku. Tapi ingat, Rang. Jangan paksa aku untuk mencintai kamu. Karena itu tidak akan pernah mungkin," ucap Hana jelas mengatakan itu. Sejenak Hana meleguk liurnya. Ia ingin sekali memaki Rangga tapi tidak berdaya.


"Aku tidak percaya kau sekejam ini padaku, Rang. Kukira kau adalah sahabat yang baik. Tapi kebaikan mu hanya karena kamu memang ada maunya," imbuh Hana lagi. Hana marah pada Rangga tapi hanya bisa Ia simpan.


"Dunia ini memang kejam, Han. Aku tersiksa mencintai mu setiap waktu tapi kau mencintai orang lain. Aku tidak akan pernah lagi membuang kesempatan untuk memiliki kamu. Satu hal yang kamu harus tahu, Melvin akan aku enyah kan dari muka bumi ini. Kau ada rasakan padanya?" tebak Rangga setengah kesal.


Hana menatap tajam kearah Rangga.


"Jangan ganggu dia!" mohon Hana. Ia tak rela Melvin mendapat masalah.


"Oke, itu tidak terjadi jika kita menikah," janji Rangga.


"Sekarang aku kalah, Rang. Ayo kerumah sakit supaya Paman ku segera di tolong!" ajaknya mengakhiri obrolan tak bermutu itu.


"Baiklah, kau tanda tangani ini dulu." Rangga menyodorkan selembar kertas tulisan pada Hana. Mungkin Rangga sudah menyediakan itu sejak awal.


"Apa ini?" tanya Hana sembari menerima dan membacanya.


"Surat perjanjian, aku tidak ingin kau menghindari persetujuan mu. Seminggu setelah operasi Paman Roy hidup atau mati, kau harus tetap menikah dengan ku," ungkap Rangga.


"Kau pikir aku pembohong?" ketus Hana.


"Tanda tangani saja jika kau mau mendapat uang itu secepatnya!" Paksa Rangga menekan Hana.


Hana meletakkan kertas itu di meja lalu meraih bolpoin dan menanda tangani nya di hadapan Rangga.


"Good, ayo kita pergi sekarang!" ajak Rangga setelah Hana sudah tidak berkutik.


Paman Roy mendapat penanganan darurat setelah Rangga membayar lunas biaya yang dibutuhkan untuk Paman Roy.


Dengan perasaan cemas mereka menunggu di depan pintu ruangan operasi. Operasi di lakukan secara mendadak karena lemahnya kondisi Paman Roy.


Rangga berbunga-bunga Ia tidak peduli kan Paman Roy selamat atau tidak, tapi yang pasti Ia bahagia karena Hana tidak akan punya alasan lagi melepaskan diri dari ikatan janji itu.


Di tambah Rangga tahu kalau Melvin sudah melarat, satu hal yang harus Ia kerjakan adalah membuat kantor Prabu berada dalam kuasanya secepat mungkin agar nantinya jika Melvin berencana menggagalkan pernikahan mereka dan meminta bantuan Prabu. Prabu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.


"Mati saja kau, Roy. Yang penting aku akan menikahi Hana. Uang sebanyak itu tidak ada artinya juga bagiku." batin Rangga sepuas-puasnya.


Hana menggigit jari ibunya berulang-ulang. tergambar sekali kalau wajahnya sangatlah tegang. Beda dengan Bibi Yuna. Bibi Yuna terlihat tenang bahkan Ia saling kode dengan Rangga. Bibi Yuna pasti sudah mengabari Rangga duluan tentang kondisi parah Paman Roy.

__ADS_1


"Paman, jangan pergi, Paman. Hidup Hana membutuhkan nasehat selalu dari Paman." Hana tak berhenti menangis sedari tadi.


Hana duduk menutupi wajahnya dengan tangan. Tidak ada lagi jalan untuk nya kecuali pasrah.


__ADS_2