Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_44 Akal Clara


__ADS_3

Melvin mulai masuk ke kawasan Bandara, Ia memarkirkan segera mobilnya. Matanya menyapu sekeliling ruas dimana banyak manusia lalu lalang memenuhi tempat itu guna mencari Clara diantara ribuan orang.


Sesaat matanya terpantik pada Sosok tubuh yang membelakanginya sedang berciuman bibir dengan seorang laki-laki. Melvin sangat yakin kalau yang dilihatnya memang kekasihnya Clara.


Melvin melebarkan jenjang langkah kaki yang panjang menghampiri. Benar saja kalau yang dilihatnya memang sosok Clara dan Leo.


"Ehem...."


Melvin membuat keduanya tersentak kaget dan gugup. Gegas Clara mendorong tubuh Leo karena masih menempel pada dirinya


"He.. hey, Sayang. Kamu sudah disini rupanya, dari tadi?" Clara memeluk Melvin dan mengecup pipi Melvin.


"Iya, sejak kapan kalian pergi?" Melvin menatap Clara dan beralih pada Leo.


Leo mematung membalas tatapan Melvin.


"Satu hari perginya kamu sama Hana," sahut Clara. Clara mengalungkan tangan nya dileher Melvin dan memandang mata elang itu penuh hasrat. "Aku bosen tampa kamu, Yang. Makannya aku mengajak Leo berlibur ke Singapura. Bukankah kau juga baru kembali hari ini?" Clara memainkan kancing baju Melvin memasang wajah sedih.


"Aku pulang lebih cepat," jawab Melvin dingin.


Clara mengernyit.


"Maksud mu?"


"Aku pulang beberapa hari yang lalu bahkan aku pergi ke rumahmu tapi kamu malah pergi tampa pamit."


Clara menyenderkan kembali kepalanya di pundak Melvin. Xlara tak kehabisan akan untuk merayu.


"Maaf, Vin. Aku pergi tampa pamit. Jangan marah ya, kamu percayakan sama aku." Clara membelai wajah Melvin dengan telapak tangannya sambil terus memandangi setiap lekuk wajah Melvin.


Leo membuang nafas kasar, hatinya cemburu kala Clara berani bermesraan di depannya pada Melvin. Terbakar sudah jiwanya entah sampai kapan itu berlangsung hanya sebagai kekasih gelap Clara.


"Oke, Vin. Karena Clara sudah bersama mu aku pergi sendiri saja." Leo menyembunyikan perasaan sakitnya.


"Terima kasih, Leo. Sudah menjaga Clara disana."


Leo tersenyum, lalu berlalu pergi menyetop taksi.


"Yang, kita mau kemana?" tanya Clara.


"Pulang," jawab Melvin singkat.


Clara manyun, mana mungkin Ia menyiakan kesempatan bersama Melvin.


"Kok pulang sih? kita makan dulu deh? ya, Yang." Clara mengerling manja.


Melvin tak sampai hati menolak dan akhirnya setuju. Melvin dan Clara memasuki sebuah restaurant bintang lima dan memilih menu terbaik disana.


Melvin menahan tangan Clara saat Clara hendak melahap makanan khas Italia kesukaannya. Clara membulatkan mata tak percaya akan ulah Melvin.


"Kenapa, Vin?"

__ADS_1


Melvin mengusap kening nya dengan tisu lalu menempatkannya lagi keatas meja dan belum juga memberi jawaban.


Clara merasa aneh Melvin kelihatan marah padanya. Bagaimana pun juga Ia salah tidak menemui Melvin beberapa hari ini dan itu mengakibatkan sesuatu menimpa Melvin.


"Vin, ada dengan mu kau marah?"


"Aku tidak suka kau terlalu liar pada Leo," ucap Melvin tampa jeda.


Clara menganga.


"A... apa? emangnya kenapa? dia kan sepupuku?"


"Tapi kamu terlalu berlebihan pada Leo, Clara. Apa kau tidak memikirkan perasaan ku saat kalian berciuman bibir?"


"Ck.." Clara berdecak kasar. "Lalu bagaimana dengan mu, apa kau aku rela kau pergi bersama perempuan itu hanya berdua." Kali ini Clara yang marah. Ia punya senjata memukul balik diri Melvin.


"Tapi aku bekerja, Cla," elak Melvin tegas.


Clara tersenyum sinis.


"Heh, yakin? atau kau malah bermain denganya?"


"Cla..." Melvin tersulut.


"Cukup, Melvin. Aku sudah sabar selama ini. Mana janjimu mau menikahi aku. Kau belum juga menepati janjinya sampai saat ini, apa aku tidak capek?" Clara menangis di depan Melvin seolah-oleh Ia yang tersakiti.


Melvin mengusap wajah nya kasar, tak sampai hati melihat Clara bersedih. Benar ada nya dialah yang bum bisa memenuhi permintaan Clara.


"Cla..." Melvin menggapai pundak Clara tapi Clara menepis tanganya.


Melvin menunduk kemudian mengitari meja dan merengkuh tubuh Clara dari belakang menyelusupkan kepalanya di leher yang Ia anggap adalah gadisnya. "Maaf, Sayang. Memang aku yang salah."


"Vin, Leo saudara aku dan itu sering kami lakukan tapi kami kan tidak melampaui batas." Clara terisak-isak.


"Iya, Maaf. Aku cemburu melihatnya. Maafkan aku ya."


"Gak mau, harus ada syaratnya?"


Melvin mengedip-ngedipkan matanya.


"Syarat apa?"


"Cepat ceraikan Hana dan nikahi aku," jawab Clara.


Melvin melonggarkan tangan dari tubuh gadis itu.


Ia mendadak bingung dengan permintaan Clara.


"Tu kan, kamu keberatan? Sudah kuduga?" sungut Clara Membuat Melvin terdesak.


"Bukan begitu, Cla. Kasih aku waktu," ucap Melvin. Belum siap rasanya Ia melakukan itu pada Hana yang baru saja pulih dari sakitnya.

__ADS_1


Clara langsung berdiri dan melotot kearah Melvin.


"Sudahlah, Vin. Aku gak mau menunggu lagi kamu ceraikan Hana dan nikahi aku. Kurasa sudah cukup aku memberi mu waktu."


"Cla, tenanglah." Melvin membujuk Clara.


"Enggak, aku gak peduli lagi." Clara hendak pergi tapi Melvin kembali merengkuh nya.


"Oke, oke. Aku akan melakukannya demi kamu, Sayang. Kamu jangan marah lagi ya. Aku gak mau kehilangan kamu." Melvin memeluk erat-erat tubuh Clara.


Clara tersenyum penuh kemenangan.


"Kapan?" tanya Clara yang memutar tubuhnya kehadapan Melvin.


"Secepatnya," tandas Melvin.


"Makasih, Vin. Aku sudah tidak sabar menikah dengan mu." Clara masuk lagi ke dada bidang Melvin dan Melvin mengusap-usap rambutnya.


Hana beranjak ke kamar mandi, Ia ingin mandi karena hari mulai sore.


"Hana..!" Panggil Mama mertua.


"Iya, Ma."


"Mau mandi?"


Hana mengangguk.


"Biar Mama bantu," tawar Maya.


"Gak usah, Ma. Hana bisa kok melakukan nya sendiri," tolak Hana halus. Malu rasanya jika mertua yang mendampingi.


"Kamu yakin?" tanya perempuan paru baya itu tersenyum tipis. Meski sudah tua masih jelas sekali garis kecantikan dari perempuan itu. Tubuhnya juga langsing tentu Mama Maya sangat rajin menjaga keindahan bentuk tubuhnya.


"Iya, Ma." Hana nyengir pada Mama mertua. Hana memegang lengan Maya yang masih bertengger di atas pundaknya. "Papa belum pulang, Ma?" tanya Hana. Pasalnya Hana tidak lagi melihat Prabu sejak pergi dari malam itu.


Mama Maya menggeleng. Ada senyum pahit yang terlukis di dalam wajah itu. "Gak usah kamu pikirkan, mungkin pekerjaan Papa sangatlah sibuk, Nak."


"Iya, Ma. Aku harap Papa punya waktu untuk Mama."


Maya mengangguk sambil tersenyum.


"Sudah gih, mandi. Sebentar lagi Maghrib!"


"Oke, Ma. Mama juga istirahat ya. Maaf, Hana sering sekali merepotkan Mama," tutur Hana. Maya sudah seperti Ibu kandung saja baginya.


"Of course, My girl." Mama Maya bahagia memiliki Hana.


Hana menarik kenop pintu kamar mandi untuk masuk dan membersihkan diri. Mama Maya memeluk tangannya sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Ia sebenarnya menyimpan luka yang sangat dalam namun tidak pernah diketahui oleh siapa pun.


...🌿🌿🌿🌿...

__ADS_1


Apakah tidak ada yang mau kasih Vote ni???


😭😭😭😭


__ADS_2