
"E.. eh.. mau apa?" teriak Hana memukul dada Melvin.
Melvin mengangkat tubuh Hana dan menurunkannya di sebuah lemari unik berukiran bunga-bunga di sudut ruangan kamar itu.
"Apa ini?" tanya Hana mengernyit heran.
Melvin membuka isi lemari di depannya dan menunjukkan betapa banyaknya pakaian yang Melvin sediakan untuknya.
Hana melongo kearah Melvin.
"Sejak kapan kau sediakan ini?" tanya Hana keheranan. Bagaimana Ia tidak bertanya kalau dirinya waktu itu belum tentu menyetujui untuk menerima tawaran orang suruhan Melvin.
Melvin menekan kepala Hana dan seperti biasa Ia usil membuat rambut Hana semakin berantakan.
"Jangan banyak tanya dan segera pakai baju mu kecuali kau_." Melvin mengedip-ngedip kan matanya kearah ranjang di sertai tatapan nakal.
"Is.. dasar," ketus Hana memilih pakaian yang Ia inginkan.
Melvin memperhatikan gerakan Hana kearah baju yang mungkin akan nyaman untuknya namun Melvin menahannya.
"Itu khusus baju mu dirumah. Pakailah pakaian yang pantas untuk pergi ke Dokter," ucap Melvin mengesalkan.
"Apa kita tetap akan ke Dokter? aku merasa lebih baik sekarang," kata Hana yakin.
Hana hendak pergi ke kamar mandi seketika Melvin bergerak menghadang langkahnya.
"Mau kemana?" tanyanya penuh tekanan.
"Ganti baju," jawab Hana balas melotot.
"Disini saja!" paksa Melvin.
"Tidak," bantah Hana.
Melvin menyilang kan tangan mengamati Hana. Wanita itu tidak bisa Ia mengerti.
"Kau anggap aku apa?" tanya Melvin tegas.
"Erum... bukankah kau sudah menikahi ku?" tanya Hana ragu.
"Kalau begitu status ku apa bagi mu?" tuntut Melvin.
"Suami," jawab Hana nyengir.
"Kau tahu tidak dimana kau bisa mendapatkan surga setelah menikah?"
"Dari ridho suami."
"Oke, cerdas. Pakai sekarang!" paksa Melvin lagi.
"di.. disini?"
"Iya, cepetan!"
Hana yang di selimuti rasa malu memutuskan mengalah dan memakainya di depan Melvin sambil sesekali melihat Melvin menahan senyum memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Selesai berias, Melvin mengajak Hana untuk sarapan.
"Sayang, kamu cicipin hasil masakan aku ya!" Melvin mengulurkan satu sendok nasi beserta lauknya kemulut Hana.
Hana melahap nasi itu dan mengunyahnya perlahan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Melvin menanti penilaian ratu hatinya.
Hana menggerak-gerakkan kedua anak matanya mencoba menela'ah rasa dari masakan Melvin dilidahnya.
Cukup Lama Melvin menunggu Hana untuk menjawab pertanyaan darinya.
"Sayang, kau mengunyah atau berpikir?" tanya Melvin bosan.
"Kok rasanya beda ya?" kata Hana menganggukkan kepalanya.
"Asin ya?" tanya Melvin lesu.
"Baru kali ini aku merasakan masakan lengkap sekali didalamnya. Kau pasti sudah menaburi nya bumbu cinta ya tadi atau pelet cinta?" Hana terkekeh menyaksikan reaksi Melvin berubah.
"Benarkah? kau sudah bisa merasakannya ya sekarang. Anggap saja Ini adalah media penyampai hati ku," balas Melvin puas.
Hana menerima lagi suapan daging pindang ikan nila dari tangan suaminya tapi urung. Perutnya kembali bergejolak sat sesuatu terdeteksi dari Indra penciumannya.
"Huek...Vin, jauhkan aku mual bau ikan itu." Hana mendorong sendok itu kearah Melvin.
"Kenapa? perut mu sakit lagi?" Melvin yang merasa khawatir membantu Hana berdiri. "Kita ke Dokter ya sekarang!"
Hana tak menolak juga tak mengiyakan. Tubuhnya memang terasa lemah sejak semalam dan itu tidak Ia pedulikan.
Hana menyipitkan bola matanya untuk mempertajam pengamatan di dalam bagasi itu. Sudah di pastikan bagasi itu ada beberapa buah Mobil mewah.
Hana melebarkan pandanganya ke sekitaran rumah itu tapi Ia tidak melihat orang lain selain mereka berdua.
Benarkah ini semua milik Melvin? jika Ia, kenapa tidak ada orang yang mengurus rumah sebesar ini?
"Sayang, ayo!" Melvin menggandeng Hana ke pintu dan membukanya untuk Hana. Hana semakin takjub kala melihat Melvin membukanya menggunakan remote.
Sejenak Ia tertegun dan belum bisa percaya semua yang Ia lihat.
"Sayang, ayo. Ini sudah siang!" ajak Melvin agar sang Istri tidak mengulur waktu mereka.
Hari itu rumah sakit sangat ramai dan memaksa mereka untuk mengantri cukup lama. Hana yang merasa pusing hanya menyender kan kepalanya lemas di pundak Melvin.
"Kamu kuat, sayang?" tanya Melvin menyentuh kening Hana.
"Gak papa," jawab Hana sabar.
Dokter Litha salah satu Dokter rumah sakit itu mengerutkan dahi melihat Melvin ada di barisan antrian panjang. Dokter Litha adalah teman Melvin saat di Eropa.
"Vin, ini beneran kamu 'kan?" tanya Dokter Litha setelah mendekat untuk menghilangkan rasa penasarannya seraya mengulurkan tangan dan melabuhkan cipika-cipiki di pipi Melvin.
"Litha, kau tugas disini?" Melvin agak terkejut juga bertemu Dokter itu dan gegas menyambut tangan Dokter cantik itu secepatnya.
"Kau mau periksa?" tanya Dokter Litha mengakrabkan diri.
__ADS_1
"Tidak, bukan aku. Istri ku sedang sakit," jawab Melvin sembari mengusap kepala Hana.
Dokter Litha mengalihkan tatapannya pada Hana.
"Halo, Nona. Saya Dokter Litha teman seperjuangan Melvin di Eropa dulu!" sapa Dokter Litha ramah.
"Dokter bisa panggil saya Hana," jawab Hana sekenanya di sertai senyuman.
Hana mengamati tingkah Dokter Litha. Ia merasa Dokter Litha seolah-olah tidak melihat keberadaanya. Selalu saja mencari momen menyentuh Melvin suaminya.
Bolak-balik Dokter Litha menepuk gemas pundak Melvin.
"Kenapa tidak menelpon ku tadi, biar ku atur jadwal pertemuan mu dengan Dokter Mila secepatnya?" tukas Litha kemudian.
"Oh iya, mana aku tahu kau ditugaskan di negara kita sendiri," jawab Melvin sedikit tak enak mengobrol hangat dengan Dokter Litha di depan Hana.
Hana tak menggubris percakapan keduanya karena Hana juga tidak dapat mencerna bahasa yang berbaur dalam obrolan keduanya.
Dokter Litha baru berhenti menanyai Melvin sampai tiba giliran Hana.
"Nyonya Hana Agista!" panggil seorang suster.
"Oh.. oke, Litha. Sampai bertemu lagi!" ucap Melvin mengakhiri.
Dokter Litha kembali mencium pipi Melvin dan berpamitan.
Melvin tak mungkin menolak karena Ia tidak ingin mempermalukan Dokter Litha di hadapan orang disana.
Hana memilih tersenyum, tapi Melvin merasa senyuman itu bukanlah sesuatu yang biasa Ia lihat.
Melvin sangat perhatian, Ia menggandeng lagi Istrinya masuk kedalam.
Keduanya duduk di hadapan Dokter Mila spesialis bagian dalam.
"Apa keluhan Nona Hana, Tuan?" tanya Dokter Mila menatap keduanya bergiliran.
"Mual, Dok," jawab Melvin yakin karena memang itu yang Ia lihat sejak semalam.
Dokter Mila mengarahkan Hana ke ranjang pasien untuk melakukan USG bagian dalam.
Entah apa yang di berikan Dokter Mila di perut Hana. Rasanya sangat dingin. Hana juga tidak tahu benda apa yang di gerak-gerakkan Dokter di daerah perutnya.
Melvin ikut mempertajam pandanganya kearah sebuah layar berwarna di atas kepala Hana.
"Kau lihat ini, Tuan?" tanya Dokter Mila pada sesuatu yang sedang bergerak-gerak kecil di dalam perut Hana.
"Itu apa, Dok. Kenapa_?" Melvin tidak yakin dan menghentikan kalimatnya.
"Ajaib, terlihat jelas di sini ada dua. Jantungnya juga sudah membentuk ya Pak Melvin," papar Dokter Mila.
Repleks Hana terkejut mendengar ulasan sang Dokter.
"A.. apa, Dok? jantung?"
...🍀🍀🍀...
__ADS_1
Komen yok.. !!!