Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_53 Menemui


__ADS_3

Setibanya dirumah Clara, Clara menghempaskan tangan Melvin yang mencengkram lengan nya dengan paksa. Melvin tidak tega melihat perlakuan Clara tadi terhadap Hana karena menurutnya itu tidaklah penting.


"Apa masalahmu? kenapa kau menyakiti tangan ku, Vin?" teriak Clara kesal.


Melvin memijit keningnya, kepalanya mendadak pusing.


"Aku tidak suka dengan cara mu tadi, Cla. Apa untungnya kau berbuat demikian? Bukankan yang penting kita sudah bersama?"


"Hah? Emang kenapa? Kau tidak ingin melihat wanita sialan itu bersedih? Apa jangan-jangan kau sudah ada rasa dengannya?" tebak Clara dengan menatap tajam kearah Melvin.


"Cla, apa maksudmu?" Bentak Melvin seketika.


Clara menganga tak percaya mendengar Melvin berkata kasar padanya. Itu terjadi yang pertama kalinya selama Ia mengenal Melvin.


Clara tidak ingin kehilangan cinta Melvin jika Ia membantah Melvin maka Ia memutuskan mengalah lebih dulu. Clara masuk kepelukan Melvin dan meminta maaf.


"Maaf, Vin..Aku khilaf. Jangan marah ya, ini kan hari pertama kita menikah apa kita tidak ingin melakukannya?"


Jangan di tanya Clara sudah fasih merayu hati Melvin. Di kecup nya bibir Melvin lebih dulu cukup lama. Clara kemudian mengajak Melvin kekamar. Keduanya kembali saling berciuman bibir.


Hal yang tidak di mengerti Melvin adalah Wajah Clara seolah menyerupai wajah Hana dan itu membuat nya gagal fokus.


Melvin melepaskan pangutan Nya sedikit kasar membuat Clara menyipitkan mata heran. "Ada apa, Vin?" tanyanya.


Melvin mengucek-ngucek matanya. Ia ingin meyakinkan penglihatannya.


"Vin, kenapa?" tanya Clara lagi.


Melvin menarik tengkuk Clara dengan kasar dan di kecupnya lagi namun Ia kembali melihat bola mata Hana dalam sosok Clara. Melvin akhirnya mendorong tubuh Clara. Hilang sudah hasratnya untuk melakukan hubungan suami istri.


"Maaf, Cla. Aku lelah kita lakukan besok." Melvin melompat keranjang dan langsung memejamkan mata tanpa peduli kan seorang Clara yang memasang wajah sewot.


"Dasar gila, bukannya seru-seruan kok aku di abaikan sih? Bodo' amatlah yang penting pohon uang di depan mata," gumam Clara seorang diri sambil menjentik-jentikkan kukunya. Ia juga ikut tidur dan balas tak peduli.


...☘️☘️☘️☘️...

__ADS_1


Rangga meminta maaf, Ia sudah membiarkan Hana di caci oleh Clara di kafe tadi. Ia menawarkan diri mengantar Hana pulang dengan wajah suram.


Rangga sangat yakin, Melvin sebenarnya ada rasa pada Hana namun belum mengakui nya atau bahkan tidak menyadarinya. "Maaf, Han. Aku tak mengira ini terjadi," ucap Rangga pada Hana. Sedari tadi Hana memilih diam dan itu membuat Rangga tidak nyaman.


Hana mengangguk pelan. Ia keluar dari mobil dan bergegas masuk. Tak terpikirkan olehnya untuk mengajak Rangga singgah sebentar saja.


Rangga tak masalah melihat Hana mengabaikannya. Mendapat kabar dari Bibi Yuna kalau Hana berpisah dari Melvin itu lebih dari cukup baginya.


"Hana, kau sudah di takdir kan jadi milikku. Bersiaplah sayang, kali ini kau tidak akan lepas dari diriku," seringai Rangga penuh kebahagiaan.


Pukul lima sore, Melvin bangun dari tidurnya. Melvin menguam lebar mungkin dalam pengaruh kantuk. Ia baru sadar sepatu yang dipakainya sejak tadi masih ada dikakinya. Ia pikir Clara akan melakukannya seperti yang pernah Hana lakukan padanya.


Melvin memijit lagi kepalanya segala kebutuhannya sudah biasa terpenuhi sebelum dimintanya selama bersama Hana tapi kali ini Ia harus memaklumi Clara.


"Ya ampun, ada apa denganku? Kenapa wanita itu mengganggu otakku?" gumam Melvin dalam hati.


Usai membersihkan diri Melvin turun kebawah untuk mencari Clara. Ia belum melihat istrinya sejak Ia terbangun dan hanya bertemu Bi Rahma sedang menyiapkan makanan.


"Bi, Clara mana?" tanya Melvin sembari menarik kursi dan duduk.


"Masih keluar, Den. Dia meminta aden untuk makan lebih dulu," jawab Bi Rahma. Bi Rahma sepertinya menyembunyikan sesuatu, Ia tahu Clara tengah pergi bersama Leo saat Melvin tertidur tadi.


Melvin menghembuskan nafas kasar Ia tidak mengira Clara pergi tanpa mengajak dirinya. Usai makan, Melvin menyibukkan diri menonton televisi dan membalas salah satu Chat yang masuk dari koleganya.


Hingga tak terasa malam itu telah menunjukkan jam delapan malam. Melvin belum juga melihat tanda-tanda Clara kembali.


Ting!


Sebuah pesan masuk lagi.


(Vin, aku menginap dirumah teman jalanan sedang macet jadi aku tidak mau terjebak nantinya)


Melvin mendengkus kesal malam pertama mereka yang seharusnya memupuk kebahagiaan bersama membuatnya hanya tinggal seorang diri.


"Clara, apa-apaan ini? kenapa kau tega sekali, ha?" Melvin mengacak-acak rambutnya bingung. Rupanya menikahi Clara justru membuatnya semakin kesepian.

__ADS_1


Waktu berjalan beberapa hari Hana belum juga kunjung mendapat pekerjaan. Perasaan putus asa akhirnya harus Ia akui. Kegalauan itu terpaksa membuatnya kembali pada Rangga untuk mendapatkan pekerjaan.


Hana menemui sekertaris, Ia menanyakan perihal keberadaan Rangga.


"Mbak, Apa Pak Rangga ada?"


"Mbak siapa ya? Apakah Mbak ada janji?"


"Tidak, tapi saya sahabatnya," jawab Hana.


"Oke, tunggu sebentar biar saya telpon Pak Rangga dulu."


"Oh iya."


Sekertaris itu menghubungi Rangga, Hana tidak tahu jawaban Rangga apa tapi Sekertaris itu meminta Ia mengikutinya.


"Mbak tunggu sebentar diruangan ini, Pak Rangga sedang rapat dan meminta Mbak bersabar!" ujar sekertaris itu.


Hana mengangguk, Sekertaris itu meninggalkan Hana seorang diri. Hana kemudian duduk di kursi di depan. Karena bosan Ia meraih bingkai foto yang membelakangi dirinya dan terkejut dengan foto itu. Foto itu adalah foto Ia dan Rangga semasa masih sekolah menengah Pertama.


Hana mengulas senyum menertawakan dirinya. Wajahnya begitu imut dan lugu. Bahkan rambutnya saja pendek sebahu.


"Ya ampun Rangga, kok bisa sih foto ini tidak rusak di tanganmu. Kau malah menjadikan pajangan di kantor ini," tutur Hana pada dirinya.


"Ya, itu karena kau sangat berarti," sahut Rangga yang muncul dari pintu. "Kupikir hari ini Do'a ku terkabul ya?"


Hana tersenyum getir.


"Maafkan aku Rangga, aku sok-sok'an menolak tawaran mu padahal aku membutuhkan mu."


Rangga menyeringai, ditatapnya manik indah Hana dalam-dalam. Hatinya tetap sama seperti dulu memunculkan getaran hebat kala memandangi Hana yang sudah di cintai nya dari masih sekolah.


Kemunculan Arya telah membuat kedekatan mereka terpisah. Tapi itu dulu sekarang tidak lagi. Siapapun penghalang nya akan Rangga singkirkan demi cintanya pada Hana.


"Rangga, jangan tatap aku begitu. Aku akan ketakutan nanti," celoteh Hana.

__ADS_1


"Hahaha... Maaf. Wajah mu membuatku melupakan semuanya," elak Rangga sembari membuka sebuah berkas di depannya.


"Han, kau baca syaratnya. Kurasa ini tidak memberatkan dirimu?" Rangga menyerahkan isi di dalam berkas itu yang mungkin Ia sengaja siapkan untuk menyambut kedatangan Hana.


__ADS_2