
Melvin garuk-garuk kepala mendapati reaksi nenek-nenek itu. Ia tak dapat menolak dan hanya pasrah di ciumi oleh mereka secara bergantian.
Meninggalkan beberapa lipstik dan air liur yang membuatnya merasa risih. Meski sudah keriput sebagian dari mereka masih suka bersolek.
"Wah, istrinya hamil ya, Nak. Pasti seganteng bapaknya kalau cowok dan secantik Ibunya kalau cewek," ucap nenek itu. Dia adalah yang paling akhir.
Nenek itu mengusap wajah Melvin dengan sapu tangannya. Barulah Ia sudi mendaratkan kecupan.
Cup!
"Ternyata enak ya cium pipi pemuda ganteng, bersih dan wangi," ucap nenek itu sambil berlalu. Nenek itu nampaknya pembersih dan tidak suka bekas.
Melvin hanya bisa nyengir dan ikhlas menerima setiap kecupan yang datang.
"Wah, menang banyak ni, gimana rasanya?" bisik Hana. Ada kepuasan melihat Melvin tak berdaya di kerjai para nenek-nenek itu.
Hana tak merasakan sedikit pun cemburu karena baginya semua perempuan lansia itu adalah orang yang memang harus di cintai.
Melvin menyunggingkan senyum dan mengatupkan tangan pada mereka.
Agak jauh dari tempat itu menuju ketua yayasan, Melvin mengulurkan tangan meminta tisu basah pada Dafa yang langsung di berikan Dafa dari saku jaketnya.
Bukan jijik, tapi mau menghapus sisa lipstik yang masih ada.
Dafa dan asistennya senyum-senyum sendiri di belakang mereka.
Melvin dan lainnya sudah bertemu si ketua Yayasan dan menyerahkan banyak uang disana. Setelah itu mereka keluar lagi karena hari makin sore.
Melvin tidak ingin Hana kelelahan karena kehamilannya semakin menyululitkan Ia berjalan.
Di saat itu, Seorang perawat sedang menyuapi makanan pada Prabu di sebuah teras berpisah dari yang lainnya.
Kondisinya tak bisa bergerak membuat Ia hanya di beri bubur lembut yang entah rasanya seperti apa.
Hana yang mulai sering buang air kecil meminta Melvin menunggu dirinya sesaat.
"Aku mau kebelakang dulu ya, aku mau pipis gak tahan ni."
Hana malu mengatakan nya dengan nyaring jadi dia hanya mengatakan lirih saja.
"Hati-hati ya, Sayang. Awas kepeleset!"
Tak henti-hentinya Melvin berpesan pada istrinya.
__ADS_1
Hana sudah semakin jauh hanya menoleh dan mengacungkan jari Ibunya.
Cukup lama ada di kamar kecil, Hana selesai. Ia membenahi bajunya yang berantakan kemudian mendongakkan kepala untuk melangkah.
Panti itu cukup besar, Ia melupakan asal Ia sampai disana.
"Lah, aku tadi lewat mana ya. Kok lupa sih?"
Keraguan nya membuat Hana melangkah kearah lain namun belum jauh dari tempatnya Ia melihat Prabu bersama seorang perawat itu.
"Pa_ Papa, kenapa Papa ada disini?" gumam Hana yang segera melangkah mendekat untuk memastikan.
Air mata Hana jatuh seketika saat yakin jika itu adalah Ayah mertuanya. Kondisi sang Ayah begitu memprihatikan. Kepala miring dan mulutnya yang benar-benar seperti orang struk.
"Papa, Papa Prabu benarkah ini Papa?" ucap Hana sontak duduk berlutut di kaki Prabu.
Prabu kaget melihat kedatangan Hana. Mulut itu ingin bicara tapi Ia kesulitan. Buliran bening itu ikut jatuh saking bahagianya melihat sang menantu kesayangan.
"Papa, apa yang terjadi dengan, Papa? kenapa Papa seperti ini dan kenapa Papa ada di panti jompo, Pa?"
"Kami tidak tahu jika Papa mengalami begitu banyak penderitaan," ucap Hana kelu. Sesak dadanya melihat kenyataan itu.
Memang Prabu sering memarahi Melvin tapi Hana tahu persis kalau Prabu sangat menyayangi dirinya dan selalu membela Ia saat Ia di tindas.
Sungguh durhaka rasanya jika membiarkan Prabu di rawat orang lain.
"Sejak kapan Papa ada disini, Mbak?" tanya Hana mendongak pada Si perawat.
Prabu sesenggukan, rupanya menantunya memperdulikan Ia.
"Baru dua hari, Mbak. Ia tidak bisa melakukan apa pun saat ini," jawab si perawat.
Melvin dan lainnya mulai resah, sejak tadi Hana tak kunjung kembali setelah hampir setengah jam.
Bolak-balik Melvin melihat jam di tanganya dan bolak balik pula melihat kearah kemana Hana tadi pergi.
"Mbak, apa kamar mandi dari sini jauh?" tanya Melvin akhirnya pada seorang Pekerja di sana.
"Oh iya, Den. Banyak lorong," jawab Si pekerja.
Apa jangan-jangan Hana nyasar lagi?...
"Oh oke, terima kasih."
__ADS_1
Melvin bergegas berlari dan menyusul, Ia khawatir terjadi sesuatu pada istri tercinta.
Tiba di kamar kecil, Melvin memeriksa ruangan namun tidak ada siapa pun.
Kemana dia? apa dia lupa jalan untuk ke depan?..
Melvin memutuskan mencari di sekitaran tempat itu. Pemikirannya jadi kemana-mana. Tidak ingin sesuatu yang membahayakan menimpa sang Istri.
"Hana! Hana, Sayang!" teriak Melvin nyaring.
Melvin terpaku pada perempuan yang duduk menangis di depan seorang pria paruh baya.
Tak salah lagi itu adalah istrinya, Melvin mendongakkan kepala menyipitkan mata pada pria di depan Hana.
Melvin menggelengkan kepala nya, tak yakin jika itu adalah Ayah yang membencinya.
"Papa..." ucapnya tak sadar.
Perasaan Melvin sakit, membayangkan masa-masa kelam di mana Prabu selalu menghardik dan menghakiminya. Bahkan tak ada sedikit pun kasih sayang yang Prabu berikan untuknya.
Disisi lain Ia merasa orang yang paling jahat melihat sang Ayah sangat menyedihkan. Satu tetes air mata lolos dari bola matanya.
Melvin menghampiri dan menggeret tangan Hana, Ia tak mau lagi berurusan dengan pria itu. Ia harus kuat dan tegas memilih jalannya.
"Ayo pergi, untuk apa kau pedulikan orang yang egois seperti dia, Hana?"
"Melvin..." Hana menahan tangan Melvin dan menoleh kearah Sang Ayah Mertua. Bagaimana pun Ia tidak tega jika membiarkan Mertuanya menderita.
Melvin enggan melihat wajah itu, sakit itu masih terlalu besar di lubuk hatinya.
Prabu mendekap dadanya, sesak melihat sikap Melvin nampaknya membenci dia.
Ia tidak menyalahkan itu karena itu memang salahnya. Kini Ia harus ikhlas jika Melvin tak akan memaafkan dirinya.
"Melvin, kasihani Papa, Vin. Maafkanlah kesalahannya, buka sedikit hatimu memberi setitik ruang kebaikan untuk Papa, dia tidak layak tinggal di tempat ini, Vin. Aku mohon...."
"Berhenti mengasihani orang tua yang tidak pernah mencintai anaknya, Hana," jawab Melvin memanas, matanya merah dan rahangnya mengeras. "Dia layak mendapatkan karmanya karena membuang aku dan Mama demi selingkuhannyaa itu," imbuh Melvin lagi tetap tanpa menoleh.
Melvin menjatuhkan lagi air matanya, sebenarnya Ia sama seperti Hana. Ia sangat rapuh akan keadaan Prabu. Tapi Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan nya di hadapan pria itu.
Cukup sudah Ia bersabar hidup sebagai anak yang tidak di harapkan.
Prabu ingin mengangkat tangan menggapai Melvin, tapi hanyalah getaran yang terlihat di tangan itu.
__ADS_1
"Me_ Melvin..!" Ucapnya sekuat tenaga membuka mulut kakunya.