Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_41 Usaha Rangga


__ADS_3

"Ayolah, Han. Sampai kapan kau berdiri seperti itu. Apa haram jika aku melihatnya?" Melvin memicingkan mata hingga menyipit letih menunggunya.


"Aku malu," jawab Hana disertai nyengir sekilas.


Melvin menyeringai aneh.


"Lupakan, apa perlu aku membantumu membukanya?" Keluar juga amputisi nya.


Hana mengerjap-ngerjapkan bola matanya menganga, gila saja jika Melvin melakukanya.


Melvin menatapi Hana yang tengah menunduk. Ia tidak mengerti mengapa wanita selalu sok suci pada suaminya sendiri.


Di dekatinya Hana, dipegangnya Ujung dress yang menyerupai rok bergelayut mungkin ingin membukanya membuat jantung Hana berpacu cepat.


"A.. apa dia a.. akan melakukanya?"


Melvin tidak tahan lagi, hingga Ia sengaja melakukan itu supaya Hana tidak punya alasan untuk malu.


Pluk!


Hana menepis tangan Melvin. Melvin sudah lancang mau menyingkap kain yang menutupi sari madu tersimpan rapat disana.


"Melvin, apa-apaan sih?" Hana menyungut memandangi Melvin dengan syarat kekecewaan.


Melvin berkaca pinggang.


"Oke, coba ku lihat apa kau bisa melakukan nya sendiri. Jika iya maka aku akan keluar!"


"Gak perlu, aku pasti bisa kok."


"Terserah saja lah jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa padamu." Melvin merebut botol infus dari tangan Hana menggantungkannya diatas sebuah gantungan yang mungkin sengaja disediakan diruangan mini tersebut.


Melvin melangkah kearah pintu tapi belum sepenuhnya keluar Ia menoleh kearah Hana memunggungi dirinya. Dengan susah payah hendak menurunkan kain penutup itu sambil meringis tapi gerakan itu mendatangkan rasa ngilu di punggungnya.


"Aw, sakit!" wajahnya memerah menahan itu.


Melvin tidak tega dan memutuskan kembali lagi.


"Hana..."


Hana mendongakkan kepala.


"Melvin, kenapa kamu balik lagi?"


"Aku hanya ingin membantumu, tolong jangan keras kepala. Aku tidak akan melihatnya, aku janji."


Kesungguhan bola mata Melvin meyakinkan Hana. Menunjukan kalau Ia bukan lelaki ambisius dengan mahkotanya meski Melvin sudah dua kali menikmatinya.


Hana tidak bisa membaca sedikit pun tentang rasa Melvin terhadap dirinya. Masih sama kah bertopeng kan rasa iba atau mungkin ada rasa lainnya. Sejauh ini Melvin tidak se kasar dulu setelah jarang bertemu Clara.


Hana tak punya pilihan lain selain setuju.


Tidak ada orang lain selain Melvin disana.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


Usai membantu Hana membuang hajat Melvin kembali merebahkan Hana di ranjang fasien meninggikan bagian kepala agar Hana merasa nyaman.


"Tidurlah, ini sudah malam."


Melvin selimut kan lagi kain sedang itu ketubuh Hana. Seolah-olah Ia sangat takut Hana kedinginan sudah biasa Hana mengangguk menurut.


Pagi hari matahari bersinar terang, Rangga menapaki lagi dimana Ia bertemu dengan Melvin semalam. Penasaran akan Melvin membuatnya nekad mencari tahu secara detail.


Sesaat kemudian Rangga terpaku pada seorang laki-laki paruh baya dan seorang perempuan turun dari ojek guna membeli buah tangan di toko buah tak jauh dari mobil Rangga menepi.


Rangga memastikan penglihatanya.


"Tunggu, bukankah itu Pamannya Hana. Oh jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Hana?" Penuh pertanyaan di benak Hana. "Bagus, aku bisa menggali informasi dari sana." Rangga melajukan mobil nya ke tukang bawah rencananya adalah Ia pura-pura tidak sengaja bertemu Mereka disana.


"Farzelnya, Pak satu paket buah!" tukas Rangga.


Bi Yuna memandangi Rangga.


"Loh, kamu bukannya Rangga ya?" tegur Bi Tuna.


Rangga menoleh.


"Ya ampun Paman Roy sama Bi Yuna, kok bisa ketemu ya?" tanya Rangga balik.


Plok!


Bi Yuna menepuk pundak Rangga cukup keras juga sembari cengengesan. Maklum Bi Yuna dulunya terobsesi dengan Rangga untuk di jadikan Suami Hana. Ia senang pada Rangga sebab Rangga sering membelikan dia hadiah mewah setiap kali datang. Berbeda dengan Arya, Arya tak pernah sekalipun memanjakan Ia dengan barang berharga paling mentok sebatas makanan Online.


Bi Yuna sangat matrek tak jarang Ia merampas uang Hana saat Mendapat bayaran dari pelanggan yang minta di jahitkan baju. Parahnya lagi mereka sudah menjual butik mini milik Hana untuk sekolah Naina menengah atas.


"Iya, Bi. Maaf, saya sibuk sangat akhir-akhir ini," tutur Rangga.


"Jangan dengarkan Bibi mu itu, Ga. Wajar Rangga tidak mau datang lagi kerumah yang ditemui kan sudah pergi," sahut Paman Roy.


"Iya, Paman benar. Aku jadi kangen sama Hana diakan sahabat terbaikku. Gimana ya kabarnya sekarang?" Rangga tampa telihat sedih.


Paman Roy dan Bi Yuna bertukar pandang.


"Gini, Ga. Sebenarnya Hana sedang sakit jadi kami berencana untuk menengok dia sekarang," cerita Paman Roy.


"Apa, Om? Hana sakit apa, Om?"


"Diserang preman sat ikut suaminya dinas keluar kota, memang ya suami Hana itu tidak berguna. Seharusnya kamu saja yang nikahi. Hana waktu itu," gerutu Bi Yuna.


Paman Roy melambaikan tangan didepan wajah Bi Yuna. Tidak setuju akan ucapan Bi Yuna.


"Hus, Ibu. Gak boleh gitu. Kan itu kecelakaan yang tidak sengaja."


Rangga sedikit memanas pada Melvin. Ia ingin sekaki mencincang Melvin. Melvin tidak layak untuk Hana. Membiarkan Hana celaka, Rangga mendadak khawatir.


"Jika tidak keberatan, boleh Rangga ikut menengok, Paman?"

__ADS_1


"Wah, ya boleh banget yok ikut saja!" anak Bi Yuna senang.


Rangga mengangkat sebelah alisnya menanti jawaban Paman Roy. "Boleh, Nak. Mari ikut kami."


"Ini buahnya!" Sipenjual toko menyodorkan empat kresek buah berbeda pada Paman Roy dan menyerahkan satu paket buah pada Rangga.


"Biar saya bayar semuanya, Pak. Berapa?" tanya Rangga.


"Loh, Nak. Gak perlu, kami bayar sendiri saja," ujar Paman Roy tak enak hati.


"Gak papa, Om," jawab Rangga. Rangga terlihat rendah hati dan royal pada orang lain.


Diperjual mengatakan nominalnya dan dengan cepat Rangga mengeluarkan tiga lembar berwarna merah dari dompetnya.


"Sisanya ambil saja, Pak "


"Oh, iya makasih Den." Si penjual girang.


Rangga menggiring Keduanya kemobil miliknya. Ia juga yang terpaksa sukarela membayar dua orang tukang ojek tadi.


Di ruangan Hana dirawat, Melvin menyuapi Hana. Melvin melakukan itu dalam diamnya. Sama halnya Hana, Hana menerimanya tampa berargumen sedikit pun.


Mama Maya juga sudah datang, dialah yang membantu Hana berganti pakaian sehabis mandi.


Maya bahagia, Melvin sangat bertanggung jawab atas Hana. Besar kemungkinan keduanya suatu saat nanti membuka perasaan masing-masing sebagai suami istri yang saling mencintai satu sama lain.


"Satukan mereka dalam ikatan abadi Ya Allah, kamu melakukan hal benar Arya. Mama beruntung memiliki kamu dalam hidup Mama."


Maya mendongak kelangit-langit menyampai kan isi hatinya pada Sang khalik dan Arya putranya.


Ceklek!


Pintu terbuka.


"Assalamualaikum!" sapa Bi Yuna. Disusul Paman Roy dan Rangga.


Melvin dan Hana menoleh dan sedikit terkejut pada kehadiran Rangga.


...☘️☘️☘️...


Mohon tinggalkan jejak kawan berupa like, komen, vote and rate bintang lima. Setangkai mawar pun sangat berharga untuk penulis seperti aku.


Siang-siang makan duren


Jangan lupa buang bijinya


Dari pada reader pada bosen


mending baca cerita Melvin dan Hana nya


Hehehe garing ya!!!


Sempatkan juga mampir ke karya terbaruku ya

__ADS_1



__ADS_2