
Hana menjimpit gaun panjang dari sisi pinggirnya untuk memudahkan langkahnya di depan wanita itu.
Semua orang ikut serta melihat keadaan di luar. Kesekian kalinya mereka takjub menyaksikan Hana di hantar masuk dalam sebuah mobil mewah.
Beberapa mobil lainya juga mengawal dari belakang. Mereka bukanlah orang-orang biasa melainkan orang-orang hebat dengan harta berlimpah.
Banyak pertanyaan di benak Rangga tentang siapa orang yang sanggup memberi Ia uang sebanyak itu demi mendapatkan Hana yang notabennya hanya wanita biasa dari kalangan bawah.
Sepanjang jalan berliku, seiring air mata melerai terbekas.
Hana tak henti-henti nya terus menangis pilu.
Entahlah, sungguh tak berdaya diri nya hari ini. Ia terjebak dalam luka berkepanjangan. Ia terlalu bodoh atau sudah takdirnya membawa Ia berhadapan dengan situasi hitam yang tak pernah usai.
"Nona, berhentilah menangis. Anda hanya perlu menjadi istri yang patuh dan anda akan bahagia," tutur wanita itu segan.
Hana tidak peduli dan terus terisak-isak. Semua sudah hancur dan tak bersisa. Biarlah sang waktu yang kini menentukan nasibnya.
Ia mengakui kalau Ia hanya lah wanita pecundang. Yang rela memilih lelaki yang lebih kaya dari pada Rangga.
Alasan Hana tidak mau bertahan dengan Rangga, karena ia tidak akan melupakan kejadian na'as yang menimpa calon suaminya Arya yang ternyata adalah ulah Rangga.
Empat puluh menit dalam perjalanan. Mobil mereka berhenti di sebuah rumah mewah dan sangat besar.
Seorang pengawal membukakan pintu dan keluar. Hana mendongak menatap heran bangunan yang berdiri kokoh dan mempesona di hadapannya.
Mobil dan kendaraan mewah tak terhitung jumlahnya. Di tata sedemikian rapi hingga sangat sedap di pandang.
Wanita itu menuntun Hana bergegas masuk. Cukup lama Bos nya menunggu Ia sedari tadi.
Disertai langkah penuh asa dan tanda tanya, Hana nekat melangkahkan kaki menginjak masuk kerumah itu.
Di lihatnya banyak orang berkerumun sedang menyantap makanan memandang kearah dirinya di dalam ruangan pertama. Sepertinya mereka sedang menikmati sebuah pesta besar di rumah itu.
"Apakah itu mempelai wanitanya?" tanya mereka riuh.
"Iya, bener. Wanitanya sangat cantik ya," ucap seorang lainnya.
Hana menundukkan kepalanya, Ia tidak berani melihat mereka seperti mengintimidasi dengan tatapan tajam.
"Hana..!" teriak seseorang dari atas kursi rodanya di dorong Bibi Yuna dan Naina di sampingnya.
Terpaksa nya Hana mencari sumber suara.
"Sejak kapan Paman Roy, disini?" tanya Hana bingung dan duduk berlutut di depan Paman Roy.
__ADS_1
Paman Roy menangis dan memeluk Hana. Ia tersedu-sedu tidak tahu apa maksudnya.
"Kau sudah syah menjadi istri orang lain, nak," ucap Paman Roy mengagetkan Hana membuat Hana membulatkan matanya tak percaya.
"Iya, Paman Roy yang menikahkan kamu sendiri dengan pria itu," ucap Paman Roy seolah bersalah.
Hana menatap lekat wajah Paman Roy kemudian tersenyum. Namun Paman Roy tahu senyumannya mengandung pahit dan kegetiran.
"Tidak apa-apa, Paman. Bukankah Hana sudah memilih kalau Hana akan menghabiskan sisa hidup Hana dengan pria itu," jawab Hana ikhlas.
"Maafkan, Paman Roy, nak. Maaf..." Paman Roy mengusap kepala Hana. Belaian tangan itu menyejukkan hati Hana.
Hana mengangguk mengerti.
Wanita yang membawa Hana membantu Hana berdiri.
"Silakan ikut kami, suami anda sudah menunggu di kamar!" ajak wanita itu.
Hana melirik Paman Roy sejenak lalu mengikuti lagi permintaan wanita itu.
Setibanya di lantai atas. Perempuan itu meminta Hana masuk seorang diri.
"Silakan masuk, Nona. Suami anda telah menunggu. Ia tidak sabar ingin bertemu, anda," ucap Wanita itu. Wanita itu kemudian meninggalkan dirinya.
Hana bahkan tidak pernah berpikir siapa dan seperti apa Pria yang sudah membeli nya dari Rangga dengan uang yang sangat banyak.
"Melvin, maafkan aku. Rupanya cinta itu hanya di hati dan tak bisa saling memiliki."
Hana meraba-raba meraih kenop pintu, tangannya bergetar ria. Ia harus siap dengan sesuatu yang akan mengejutkan matanya di dalam sana.
Ceklek!
Hana mulai mendorong perlahan. Hana menemukan seorang pria yang berdiri tegap membelakanginya.
Pria itu memiliki tubuh perfeksionis dan sepertinya masih muda.
"Selamat datang, Istriku," ucap orang itu. Suaranya menggelegar besar.
Hana mendekati pria itu dan menanyakan apa yang ada di benaknya.
"Siapa anda? mengapa anda rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya demi aku? lalu kenapa kau ingin sekali menikahi aku sebelum melihat langsung diriku?" tanya Hana memberanikan diri.
Pria itu menunjukkan poto Hana dari sisi sampingnya.
"Heh, cukup dengan melihat poto anda, membuatku sudah tertarik sejak lama," jawab Pria itu terkekeh.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Hana bingung.
"Apa itu penting, bukankah yang penting kau sudah menjadi hak ku saat ini," kata Pria itu seraya menoleh membuat Hana menganga.
Wajah pria itu menyeramkan. Tidak ada ketampanan sedikit pun tercetak di wajah pria itu. Wajah nya penuh jerawat dan berlubang bahkan rambutnya berantakan.
Pria itu mendekati Hana dengan tatapan liar hingga tak dipungkiri Hana begidik ngeri dan mundur mengikuti irama kaki pria itu.
"Kenapa, Sayang? apa kau takut melihatku?" tanya Pria itu tertawa miring.
Hana terjebak di dinding. Pria itu mendekatinya dan mengunci kedua sisi tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya.
"Kau sangat cantik, beruntung kau menjadi milikku. Ayo layani aku!" tukas Pria itu hendak mendaratkan ciuman di bibir Hana gegas Hana menampar wajahnya cukup keras.
Plak!
Mata pria itu menodong Hana.
Hana gemetaran dan takut pria itu sudah pasti marah atas perlakuannya.
"Mengapa kau menolak ku, ha? kau itu sudah menjadi milikku sekarang," kata Pria itu membentak.
Ia menarik lengan Hana dan melemparkannya keatas ranjang secara kasar. Hana menangis histeris. Tak di sangka nya ini lebih buruk dari perlakuan Rangga. Ia sudah kehilangan dirinya dihadapan pria aneh itu.
Pria itu melepaskan jasnya lalu merangkak naik keatas ranjang. Hana menggeleng-gelengkan kepala berharap pria itu tidak akan melakukan apa pun pada dirinya.
Sialnya pria berwajah aneh itu malah mengecup barang berharga miliknya dengan buas dari lapisan luar kain pakaiannya.
"Tolong lepaskan saya, saya mohon,Tuan," melas Hana menghiba. Pria itu tak perduli. Pria itu melepas semua hiasan di kepala Hana perlahan-lahan tanpa sisa. Kemudian mendorong Hana ke posisi telengkup dan membuka sleting gaun putih yang melekat pada tubuhnya untuk di lepaskan.
Pria itu sepertinya sudah sangat berhasrat dan tak peduli kan kesakitan Hana akibat ulahnya.
Hana memeluk dadanya, Ia belum ridho jika pria itu merenggut mahkotanya.
Pria itu memaksa menarik tangan Hana dan menekannya dengan kedua tangan lalu memangut bibir merekah itu dengan paksa.
Hana memejamkan matanya, Ia tak berani melihat perlakuan pria itu terhadap dirinya.
Serasa lelah menciumi wajahnya pria itu mulai melepaskan pakaian Hana dan menarik nya kebawah hingga hanya meninggalkan bra dan Celana celana tipis.
Hana merasakan itu dan tidak tahu lagi dengan nasibnya. Nasi sudah menjadi bubur, bukankah Ia yang memilih ini menjadi mangsa orang aneh itu.
...💞💞💞💞💞...
Bersambung.....
__ADS_1