
...Halo reader tak pernah lelah aku menyapamu. Terima kasih selalu ya atas dukungan dan partisipasinya. Aku bukan penulis handal itu benar. Aku juga tidak bisa merangkai kata-kata apa lagi. Di tambah, aku ini hanya mengandalkan Do'a dan tekat. Aku berharap tulisan yang aku ketik ini bisa sampai ke hati para reader....
...Aku juga bermimpi akan banyak pembaca yang sedia mau mampir dan meluangkan waktu untuk membaca cerita yang aku tulis serta yang sudah mampir lebih dulu untuk setia menemani ku hingga kisah ini berakhir dan mengikuti novel ku lainya....
...Jangan lupa like, komen, vote dan bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ nya ya, setangkai mawar juga alhamdulilah....
...Thank you to reader....
...💐💐💐💐💐💐...
Ditengah resah dan gelisah, ponsel Melvin kembali berdering. Melvin tertegun bingung melihat siapa yang tengah menghubungi dirinya.
Dengan terpaksa, Melvin memutuskan menerima panggilan dari Papa nya Prabu.
"Halo, Pa," jawabnya lirih.
"Melvin, aku mau bicara dengan menantuku dimana dia?" tanya Prabu. Prabu pasti sudah kembali kerumah hari itu dan tidak menemui keberadaan Hana.
Melvin mengatupkan bibir, entah mau menjawab apa.
"Melvin, kau dengar Papa?" Prabu kembali bertanya.
"Iya, Pa. Ha.. Hana_." Melvin gugup menceritakan kebenaran tentang apa yang sudah menimpa Hana selama pergi bersama dengannya. Ia harus siap jika Prabu marah lagi padanya.
"Hana kenapa? kenapa nada suaramu bergetar?" Prabu mulai mendesak.
"Ha.. Hana di.. dirumah sakit, Pa." Baik tidaknya berita itu Kedua orang tuanya harus tahu.
"Apa? ada apa denganya?"
"Kami diserang oleh preman dan Hana terkena pukulan preman itu, Pa," jawab Melvin.
"Bodoh! apa kau tidak menjaga dia, Ha?" Prabu mulai meninggikan suaranya.
"Aku menjaga nya, Pa. Ta.. tapi_."
"Ahk sudahlah, dirumah sakit mana dia dirawat?"
Melvin memberitahu kan alamatnya, gegas Prabu menutup telpon dengan kasar.
Melvin menghela nafas kasar. Apapun yang akan Prabu katakan nanti Ia tidak peduli karena mengetahui keadaan Hana jauh lebih penting baginya sat ini.
Dafa menepuk pundak Melvin berulang-ulang.
"Tenang kan diri mu, Bos."
Melvin mengacuhkan Dafa, mengusap peluh keringat menetes di keningnya menggambarkan betapa risau hatinya.
Dokter melakukan pemeriksaan beberapa rangkaiannya. Hana belum juga terbangun dari pingsannya.
__ADS_1
"Tolong, segera selesaikan infusnya, Sus!" perintah sang Dokter.
"Baik, Dok." Suster secepatnya menyudahi tugasnya. Tiga puluh detik kemudian mata Hana mulai terbuka.
"Aw, sakit." keluhnya merasakan tulang punggungnya menyiksa.
"Apa anda merasakan sesuatu, Nona?" tanya sang Dokter.
"Punggung ku sakit, Dok," jawab Hana. Air matanya menetes mungkin saking sakitnya.
"Tenanglah, bagaimana dengan nafas anda? apa terasa sesak?" Dokter mengarahkan Hana untuk menarik nafas panjang.
Hana menarik nafas lalu menghembuskanya kemudian menggeleng kepalanya.
"Oke, duduk menyandar ya. Itu akan membantu keadaan mu," tukas Dokter. Sang Dokter beralih meminta tolong pada Suster pendampingnya. "Sus, tolong panggil suaminya!"
"Baik, Dok."
Suster keluar dan menyebutkan nama dari lelaki yang berstatuskan suami Hana.
"Siapa disini yang bernama Pak Melvin?"
"Saya, Dok."
"Silakan masuk, Dokter membutuhkan anda!"
Melvin hanya mengangguk, Ia tidak sabar melihat kondisi Hana.
"Begini, Pak Melvin. Tulang punggung Nona Hana sedikit cidera jadi saya minta anda jangan membiarkan dia berjalan lebih dulu. Bantu dia saat dia hendak turun agar Nona Hana segera sembuh," terang Sang Dokter.
Melvin mengerutkan dahi.
"Apa? cidera? apa itu berbahaya Dok?" Melvin memperhatikan Hana dalam diam.
"Sejauh pemeriksaan saya tidak, selama anda mengikuti saran saya. Usahakan dia tidur menyandar dengan bantal yang tinggi ya, Pak Melvin!"
"Baik, Dok. Saya akan melakukanya.
"Satu lagi Pak Melvin, untuk melihat kondisinya agar tidak memburuk sebaiknya dia dirawat disini untuk beberapa hari kalau pun nanti ada sesuatu kami bisa menangani Nona Hana secepatnya."
"Iya, Dok. Terima kasih tolong lakukan yang terbaik untuk dia Dok."
"Sama-sama, kalau begitu kami permisi dulu. Kami ada operasi setengah jam lagi hubungi kami jika ada sesuatu!"
"Baik, Dok."
Dokter dan perawat keluar, Dafa juga Rindy berganti masuk.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Bukan Rindy namanya kalau tidak penasaran.
__ADS_1
"Gak papa, Rin. Luka kecil saja," jawab Hana. Meski sakit Ia tidak ingin orang lain tahu termasuk Melvin sendiri. Baginya mengeluh pun tidak berguna.
"Syukurlah, mudah-mudahan orang itu mendapat hukuman setimpal?" culas Dafa.
Ceklek!
Ada lagi orang masuk.
Rupanya Prabu dan Maya sudah tiba. Belum juga membuang nafas tenang dengan gampang nya Prabu menyeret kerah baju Melvin kearah pintu.
Plak!
"Suami macam apa kamu!" Prabu memasang wajah bengis.
Melvin memegangi pipinya menatap balasan sang Papa.
Plak!
Prabu menampar pipi sebelahnya.
"Apa kamu begitu tidak berguna nya sebagai laki-laki, Melvin. Bagaimana bisa kamu membiarkan Hana sampai cidera bagaimana kalau dia mengalami cacat, ha?"
Prabu mau mengangkat tangan lagi namun Hana tidak membiarkannya.
"Jangan, Pa. Berhenti menyalahkan suami Hana, Pa." Kelopak matanya berderai lagi, mana mungkin Hana tega melihat Melvin di perlakukan begitu oleh Papanya sendiri..
Melvin tidak menyangka perlakuan Prabu tidak ubah nya Ayah tiri kejam tampa welas asih. Setiap kali pertemuan mereka baik salah benarnya Ia, Prabu selalu bermain tangan padanya. Sebagai anak Melvin mencoba mengalah dan tidak mau balik membalas.
Maya kasihan melihat Melvin, Prabu begitu membenci dirinya. Maya akhirnya ikut bersuara.
"Mas, kenapa kamu selaku kasar pada Melvin, Mas. Jangan sampai aku juga membenci diri mu karena ini," ucap Maya yang akhirnya geram juga.
Prabu menatap tajam keduanya seperti halnya musuh.
"Aku tidak peduli, Maya. Begitu lah kenyataan yang ada dalam diri anakmu ini." Prabu menunjuk wajah Melvin.
"Cukup, Pa. Aku tahu Aku memang pernah melakukan kesalahan tapi bukan berarti kau melampiaskannya pada putramu, dia itu darah daging mu, Pa" jengah Maya.
Hana ingin turun dan melerai mereka, tapi Rindy menahan tanganya.
"Pa, Ma. Tolong jangan bertengkar ini rumah sakit! Tolong jangan bertengkar karena Hana. Ini murni salah Hana, Pa. Bukan Hana tidak menghargai kasih sayang Papa pada Hana tapi Melvin tidak pantas disalahkan."Hana memohon mengatupkan kedua tanganya.
Prabu membisu menatap menantunya. Prabu ingin berdamai dengan keadaan tapi Ia sulit menerima kenyataan kalau Melvin hadir ditengah prahara keluarganya waktu itu. Melihat Melvin saja Prabu diburu rasa marah dan ambisi untuk melampiaskan kekesalannya pada pemuda itu.
"Maaf kan Papa, Hana. Papa sudah merusak suasana tapi Papa tidak tahu lagi cara mendidik anak bodoh ini," ketus Prabu.
"Cukup, Pa. Papa harus tahu, aku juga menyesal menikahi perempuan itu mengapa Arya harus mati kalau Arya jauh lebih baik untuk menjaga dia dari pada Melvin." Melvin memukul dadanya, sakit hatinya di hina sang Papa terus menerus.
"Pa, Melvin juga punya hidup Melvin sendiri. Melvin bukan Arya yang bisa Papa atur sesuka hati Papa. Ya, Arya memang cerdas dan bijak sedang kan melvin, Melvin sangat bodoh, Pa. Bodoh. Sekalipun Papa tidak pernah merasa bangga dengan apa yang Melvin lakukan," lanjut Melvin mengeluarkan gundukan dihatinya.
__ADS_1
Maya berhambur memeluk Melvin, justru Ialah penyebab retaknya hubungan Prabu dan Melvin. Melvin hanya menerima pelukan itu sesaat dan meninggalkan mereka dari ruangan itu.