Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_95 Berseteru


__ADS_3

...Siang-siang makan Bakwan......


...Lalapnya Cabe......


...Dari pada kamu bosan......


...Mending baca cerita aye🤭🤭🤭...


...💥💥💥...


Hari Selasa adalah hari yang manis..


Nungguin Vote ma gift gentayang...


Kemana ya...???


.


.


.


Melvin mengulum bibir, berdesir hatinya mendengar namanya susah payah di sebut oleh Sang Ayah.


"Ma_ Ma_ Maafkan Pa_ Papa, Vin."


Ada kemajuan dalam ucapan Prabu. Ia akhirnya mampu menyelesaikan satu kalimat penting yang sudah lama ingin Ia ungkapkan pada putranya itu.


Hu.. hu.. hu...


"Ma_ Maaf." Satu kata lagi yang tercetus dan itu membuat Hana kasihan.


Melvin berderai air mata dan coba menguatkan kakinya yang terasa lemas.


"Vin, aku mohon. Maafkan lah Papa, Vin. Sejahat-jahat Papa dulu padamu dia tetap Papamu," ujar Hana memelas, Ingin suaminya mau berbesar hati menolong Prabu.


"Pa_ Pa_ Papa tidak mi_ mintak ka- kau menolong, Papa. Pa_ Papa hanya I_ ingin Ma_ Maaf saja," ungkap Prabu. air mata bersimbah dipipi tak mampu Ia hapus, keterbatasan dalam bergerak sangat menyiksanya.


Satu hal yang penting sekarang ini adalah mendapat maaf. Maaf itu begitu berharga untuk mengurangi rasa berdosa nya.


Melvin membisu, Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Sakit yang Ayahnya torehkan sangatlah besar namun hatinya menolak membiarkan.


"Papa menyesal kan sekarang, keluarga yang Papa banggakan tidak lebih baik dari Aku dan Mama. Ya, mungkin dengan ini Papa bisa menyadari kesalahan Papa kalau apa yang Papa lakukan tidak lah benar."


Melvin mengutarakan uneg-unegnya agar hatinya terpuaskan. Ia berbalik dan menatap wajah tua yang sudah tidak terurus lagi itu.


"Pa, aku tidak pernah dendam padamu meski aku dan Mama kau siksa Dua puluh empat tahun lamanya. Sakit,muak dan kecewa mengungkung hidupku, Pa."


"Aku ingin di cintai Papa ku sendiri dan aku memimpikan di nasehati oleh seorang lelaki hebat yang menyandang peran penting dalam keluarga saat aku salah jalan."


"Sayang itu semua hanya lah khayalan yang tidak akan mungkin pernah terwujud, Aku berterima kasih pada mu, Pa. Karena Papa aku mampu bangkit di atas kaki ku sendiri."

__ADS_1


"Lihat aku, Pa. Lihat aku sekarang tanpa uang dari Papa aku memiliki segalanya tapi bukan berarti aku sombong, Pa," kata Melvin menunjuk dadanya.


Dihapusnya air mata itu mendengar Prabu makin menggugu.


"Pa, maafkan aku." Melvin menarik lengan Hana meninggalkan Prabu berupaya melirik menjangkau putranya dan Hana kian menjauh.


Papa, tidak akan memaksamu untuk memaafkan Papa, nak. Kau sudah cukup menderita karena Papa. Semoga hidupmu selalu bahagia, Melvin. Maafkan Papa...


"Melvin, berhenti! Aduh perut ku sakit." Hana melepaskan genggaman tangan Melvin beralih memegangi perutnya.


Hana merasa perutnya keram. Ia lelah mengikuti langkah Melvin yang terlalu cepat.


Melvin baru sadar, kalau saat ini Hana tengah mengandung.


"Apanya yang sakit, Sayang?" Wajahnya berubah panik.


"Ini disini," kata Hana menunjuk bagian bawah perutnya.


"Maaf ya, aku lupa tadi. Kita ke dokter aja ya!"


Melvin menggendong Hana tapi Hana memberontak.


"Tidak mau, aku mau pulang kalau kau mengabulkan keinginan anak mu." Dipukul-pukul nya dada Melvin cukup keras membuat Melvin tak bisa melawan.


Melvin menurunkan Hana lagi dan bertanya apa maunya.


"Kamu mau apa, Sayang. Nanti kita cari dalam perjalanan pulang?" Sabar, itu yang sedang Melvin lakukan pada sang istri.


"Terus apa dong? baju, tas, jam atau perhiasan?" Tanya Melvin tidak segan.


Hana Memicingkan bola matanya, Siapa yang tak kesal jika di anggap menginginkan barang-barang branded itu bukan lah tipikal Hana.


"Kau pikir aku cewek matre, ha? sejak kapan aku seperti itu? ini berbeda, Vin," ketus Hana marah.


"Hahaha.. abis kau tidak kasih tahu, Sayang," gelak Melvin.


"Ini berbeda, Vin. Aku serius, aku mau kita mengajak Papa pulang," ucap Hana mengulangi.


Melvin meneguk salivanya yang mendadak terasa seret di tenggorokan. Ia masih tidak mengerti mengapa Hana terus saja membahas persoalan itu.


"Jangan meminta yang aneh-aneh, Hana. Aku tidak akan mengabulkan keinginan Mu," tandas Melvin. Ia melangkah tegap mendahului Hana.


"Melvin..." Hana berlari mengejarnya.


"Aduh, Sakit!" keluhnya lagi menghentikan langkahnya.


Melvin terpaksa menahan kakinya, Ia hanya menoleh samar. Ia tak ingin Hana belajar menipu dirinya.


"Jangan berbohong, aku bukan tipe orang yang percayaan," kata Melvin.


"Aduh, ini beneran sakit, Vin. Aduh..." Perut Hana memang sakit dan sakitnya bertambah parah.

__ADS_1


Melvin membalikkan badannya dan melihat kening Hana berkeringat banyak. Tanpa kata-kata Melvin kembali menggendong Hana membawanya ke parkiran depan.


"Nona Hana kenapa, Bos?" Dafa bergegas membuka pintu.


Melvin tak menjawab sampai mobil mereka menjauhi lokasi panti jompo.


"Ke rumah sakit, Daf!" titah Melvin, setengah melirik Hana masih meringis.


Hana menatap lekat wajah Melvin yang sedari tadi tidak mau melihat kearahnya.


"Ada apa dengan mu, apa kau marah?" tanya Hana nyalang.


Melvin tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah, abaikan saja aku. Cepat berhenti, Dafa. Aku mau turun disini saja." Siapa yang tak makin kesal jika suaminya mengabaikan.


Dafa dan asistennya hanya saling bertatapan, tidaklah mungkin Dafa mengabulkan keinginan Hana tanpa persetujuan Melvin.


"Dafa, berhenti jika tidak, aku akan memecat mu," ancam Hana sembari memejamkan mata. Dongkolnya sudah mencekam di dadanya.


"Ta_ tapi, Nona?" Dafa mulai memelankan mobilnya, ancaman Hana bisa saja berlaku jika tidak di kabulkan.


"Jika kau menuruti, Hana. Maka kau, aku yang pecat tanpa pesangon seperak pun," tegas Melvin menjadikan Dafa di hinggapi bingung.


"Ya sudah, kalau kau menuruti Tuan mu yang belagu ini, kau tidak akan mendapat uang jajan seumur hidup," sungut Hana lagi melipat tangan.


"Aduh.. jangan Nona. Nanti gajih pokok saya habis dong kalau tidak dapat uang jajan," timpal Dafa manyun.


"Turuti saja aku, atau kau akan kehilangan pekerjaan," sahut Melvin lagi.


Hana menggertakan giginya kian panas. Kali ini Melvin benar-benar mau menantang dirinya.


"Oke, kalau kamu tidak menuruti mau ku, aku tidak akan kasih jatah Malam pada mu, heh," tandas Hana seraya membuang muka.


Melvin menganga kan mulutnya berbalik kearah Hana, kali ini ancaman Hana sudah di pastikan akurat menghilangkan nyali tegas dari sosok Melvin.


"Ja_ jangan begitu dong, Sayang. Itukan ritual pokok," rayu Melvin sebisa mungkin mengembalikan mute sang Istri dan menyandarkan kepalanya di pundak Hana.


Hana melirik sinis dan menggoyangkan bahunya.


"Sana, sana. Pundak ku sakit kau pikir kau tidak berat, ha?"


Alamat si Bos puasa tiga purnama dalam setahun ni, hehehe...


Dafa cengengesan seorang diri mendengar pertengkaran unik kedua pasangan muda itu.


"Sayang, jangan begitu lah. Kamu kan tahu aku dan Papa seperti apa dulu?" ujar Melvin lembut.


"Bodo' amat, aku gak perduli."


Rasain, emang enak. Salah siapa bikin aku marah hari ini, heh...

__ADS_1


__ADS_2