
Merenung
Dulu kita tak pandai memahami ...
Dulu kita selalu merengek-rengek...
Apa yang kita pinta ingin terwujud...
Setelah ku tapaki hari-hari di hidupku...
Seiring bertambah pula usiaku..
Aku mulai sadar...
Begitu buruknya masa laluku...
Seandainya aku tahu lebih awal...
Mungkin aku tidak akan tenggelam...
Dalam jurang kebodohan...
...By : Sobri Wijaya...
...🌀🌀🌀🌀🌀...
Sejak kejadian itu, Melvin terombang-ambing tanpa arah dan tujuan hingga akhirnya Ia memilih jalan untuk kembali meminta bantuan dari mantan asistennya Dafa.
Tok! Tok! Tok!
"Sebentar...," sahut suara dari dalam.
Tak lama pintu terbuka. Rona bola mata Dafa membelalak mengamati penampilan Melvin tak ubahnya sudah seperti gelandangan.
"Ya ampun, Bos. Apa yang terjadi, Bos? kenapa kau sudah kayak pengemis begini?" cecar Dafa miris.
"Aku mau minum, Daf," jawab Melvin.
"Oh, oke. Ayo masuk dulu, sungguh tubuh mu sangat bauk." Dafa mengipas-ngipas lubang hidungnya.
Melvin di persilakan duduk dan langsung di suguhi segelas Air oleh Dafa.
"Daf, kau punya makanan?" tanya Melvin lagi pelan. Ia menyambut gelas dari tangan Dafa dengan sedikit bergetar.
"Ada sih, Bos, tapi cuma lauk telor ceplok sama sambel tomat doang," tukas Dafa takut jika si Bos menolak.
"Gak papa, Daf. Aku sangat lapar," ucap Melvin.
Dafa mengernyit bingung, Ia memang sudah lama tidak berkabar dengan Melvin. "Apa yang terjadi sama siBos ya?" pikirnya sembari berjalan kearah dapur.
Ia muncul memberikan sepiring nasi. Buru-buru Melvin lahap karena Ia sangat kelaparan.
"Ya ampun, apa Bos gak makan-makan ya?" Dafa belum berani bertanya.
"Bos, Mau lagi?" tawar Dafa. Dafa yakin Melvin kurang. Disimpannya dulu pertanyaan nya untuk Melvin yang telah memenuhi isi otaknya seketika.
Melvin mengangguk.
__ADS_1
Dafa mengambil kan lagi dengan porsi sama.
Barulah Melvin merasa kenyang.
"Bos, tolong jelaskan. Kenapa dengan diri mu, Bos?" Dafa tidak sabar ingin tahu.
Melvin menyandarkan punggungnya di sofa, la sudah kelelahan sedari kemaren bahkan tidur saja di teras rumah orang. Itu pun tidak nyenyak. Ia harus sudah bangun saat empunya rumah membuka mata.
"Kau tau kan aku diusir, Papa?"
"Iya itu aku tahu, tapi kan kau sudah menikahi Clara, Bos. Clara juga kan orang berada?"
"Kau benar, Daf. Clara itu ular. Dia berkhianat di belakang ku," tukas Melvin bercerita.
"Apa, Bos?" Dafa tersentak kaget.
"Dia bahkan sudah hamil ketika aku masih bersama Hana," lanjutnya.
Dafa mengusap dada.
"Dugaan ku benar, Bos sih gak mau dengerin. Coba aja sekarang masih sama Nona Hana. Aku yakin Bos gak akan nelangsa seperti sekarang ini," gerutu Dafa.
"Iya, Daf. Aku menyesal. Hana jauh lebih baik dari Clara."
"Percuma menyesal sekarang, Bos. O ya, Bos tau siapa selingkuhan Clara?"
"Kau ingat pada orang yang datang bersama Clara di mall waktu itu?" Melvin mengingatkan.
Dafa tampak berpikir.
"Sepupu Clara?"
"Astaga, mereka bahkan terang-terangan lo, Bos. Bos aja buta," oceh Dafa lagi.
"Sekarang aku harus bagaimana, Daf?" tanya Melvin meminta solusi atas permasalahan yang merundung dirinya.
"Kau masih mempertahankan hubungan mu dengan Clara?"
"Tidak, aku sudah menalak tiga dia."
"Bagus, lebih baik kau kembali rujuk sama Nona Hana, Bos. Aku akan mendukungmu."
"Kesalahanku padanya besar, Daf. Bahkan aku menceraikannya tanpa alasan yang sesuai." Wajah Melvin penuh perasaan berdosa.
"Iya, si Bos. Aku gak nyangka juga Bos lakuin itu. Alangkah baiknya Bos pikirkan dulu baik-baik. Nona Hana itu memang istri idaman, Bos. Aku mengenal dia sejak dia pertama kali bertemu Bos Arya," ucap Dafa mengulangi cerita masa lalu.
Melvin melirik Dafa.
"Apa itu sebabnya kau selalu berusaha menyatukan aku dengan Hana?" tanya Melvin.
"Hehehe..." Dafa cuma nyengir.
"Apa tujuan mu, Daf?"
"Aku berharap kau bisa membuat Nona Hana hamil, Bos. Otomatis kau akan terikat oleh kehadiran anak itu. Tapi entahlah apa rencana ku itu semuanya berhasil atau tidak, pakta nya kau tetap menceraikan Nona Hana secara sepihak." Buntutnya Dafa mengaku juga.
Melvin merenung, dia membayangkan lagi hubungan badan yang pernah dua kali Ia lakukan pada Hana akibat ulah asistennya.
__ADS_1
Mengingat itu, perasaan Melvin bergulat.
"Bos, jujur. Apa kau yakin tidak punya perasaan apa pun pada Nona Hana?" Dafa ingin Melvin menyadari hal itu.
Ia hanya diam dan pergi kekamar Dafa mencari handuk untuk mandi. Tubuhnya begitu lengket dan gerah.
...☘️☘️☘️☘️...
Pagi itu seperti biasa, Hana mulai bersiap pergi ke kantor. Ia harus menjadi asisten yang baik karena Rangga mempercayakan jabatan bagus di kantor miliknya.
Naina sepupunya berdiri di ambang pintu menatap sinis.
"Kak, yang betah kerja disana. Biar nanti aku bisa Kakak saranin bekerja juga disana."
"Iya, Nai. InsyaAllah jika itu pun Kakak tidak di pecat," timbal Hana. Menyampaikan tas mini di pundaknya.
"Baguslah, aku minta uang lagi." Naina tak punya malu terus-terusan menengadahkan tangan.
Hana jadi merasa di manfaatkan.
"Bukankah kemaren sudah Kakak kasih?"
"Ya elah Kak dua ratus ribu dapet apaan, abis lah. Kakak kan tahu semua serba mahal," ketus Naina.
Hana terpaksa memberi Naina uang tips dari Rangga. Entahlah Hana juga tidak tahu baru dua minggu bekerja Rangga sudah memberi bonus tujuh ratus ribu.
Rangga mengatakan akan tersinggung jika Ia menolak terpaksa nya Hana mengalah dan menerima.
"Kakak pergi, Kamu juga jangan lupa jengukin Paman dirumah sakit."
"Bodo amat," tukas Naina kumat-kamit.
...☘️☘️☘️...
Hana menaiki lift menuju lantai atas. Ia keluar dan langsung kearah ruangan Rangga untuk memastikan apakan tempat itu sudah dirapikan OB atau belum.
Hana menghentikan langkahnya mendengar obrolan Rangga dengan seseorang.
"Mom, aku tidak mau tau. Mom harus membuat Prabu memberikan surat kuasa atas Wijaya Cooperation padaku. Aku ingin melihat Melvin menjadi gelandangan seumur hidup."
"Tenanglah my Sweety, Mom pasti akan lakukan itu. Kau lihat sendiri kan Prabu dan istrinya Maya sudah seperti Tom and Jerry setiap hari," ucap Diandra puas.
"Oya? Mom tau dari mana?"
"Mom tau dari cerita Prabu sendiri. Tinggal menunggu detik-detik. Prak..! Mereka bercerai. Maka semuanya menjadi hak kita."
"Good job, Mom. Aku suka ini."
Keduanya tertawa picik.
Hana mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa teriris dengan niat Rangga dan Mamanya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Semua itu hak Melvin dialah yang pantas memimpin Wijaya Cooperation."
Hana tidak tahu Diandra memandang Ia di ambang pintu.
"Sejak kapan disitu? kau menguping ya?" pertanyaan Diandra terkesan memojokkan Hana.
__ADS_1
Hana bingung mau jawab apa.