Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_25 Cerita Bu Niken


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Permisi, pesanan Delevery sudah datang."


Melvin beranjak bangkit dari tempat duduknya untuk membuka pintu.


"Pesanan, sudah tiba. Benar atas nama Pak Melvin?" tanya si pengantar makanan.


"Oh, iya Pak?" Melvin mengambil alih dua kotak berisi makanan tersebut.


"Berapa, Pak?"


"Dua ratus lima puluh ribu, Pak."


Melvin merogoh dompetnya, dan menyerahkan uang pas tampa kembalian.


"Oke, terima kasih. Permisi, Pak."


Melvin hanya mengangguk, tidak ada senyuman sedikit pun untuk pengantar Delevery itu. Melvin kembali masuk dan meletakan dua kotak makanan itu diatas meja.


Kedua bola mata Hana mengekor melihat Melvin melangkah lagi ke dapur mini dan keluar dengan dua gelas air putih.


Sesekali saja Melvin melirik Hana, Ia pokus membuka salah satu kotak yang isinya nasi putih, satu Paha ayam krispi yang cukup besar dan sambil merah. Ada juga tumisan sayur yang campur-campur di dalamnya.


Melvin mengarahkan sendok ke bibir Hana yang sudah mengambil posisi duduk sedari tadi.


"Kenapa Ia gemeteran?"


Hana jadi ragu-ragu membuka mulutnya.


Melvin memicingkan mata.


"Sampai kapan kau membiarkan aku mengatungkan tangan begini, ha? ayo buka mulutmu!"


Hana akhirnya menerima suapan dari tangan Melvin dan mengunyahnya dengan hati-hati.


Dring! Dring! Dring!


Ponsel Melvin yang Ia letakkan diatas meja berdering lagi.


Melvin meliriknya tapi Ia mengabaikannya karena ingin pokus menyuapi Hana.


Baru saja Melvin ingin menyuapi Hana lagi, Hana mendorong tangannya.


Melvin sedikit kaget.


"Kenapa?"


"Itu ponsel kamu berdering kamu angkat saja, biar aku makan sendiri." Hana menyerobot nasi kotak dari pangkuan Melvin.


Melvin terperangah.


"Apa maksud mu? Kau tidak suka aku suapi?"


"Bu.. bukan begitu, Vin. Angkat saja dulu telpon mu siapa tau penting" Hana menundukkan kepalanya. Ia khawatir dan takut kalau Melvin akan mengoceh seperti emak-emak karena Ia sudah lancang menolak kebaikan Melvin.


"Dasar, aneh. Terserah kamu saja lah." Melvin menyambar ponselnya dan secepatnya mengangkat ponsel tersebut.

__ADS_1


Melvin yang melihat nama yang tertera di layar ponselnya berinisiatif mengerjai Dafa sekalian membuat Hana menjadi ilfil.


"Kenapa, Sayang?" Melvin mengeraskan suaranya dengan sengaja agar Hana mendengar obrolan mesranya dengan seseorang.


Dafa yang ternyata sudah berada di tempat proyek mengkerutkan dahi.


"Sayang? emang aku pacarnya, apa? ha, jangan-jangan Bos Melvin penyuka sesama jenis lagi, hiii." Dafa begidik ngeri sambil bertanya sendiri.


"Sayang, kau dengar aku? nanti kita bertemu setelah aku pulang dari sini ya? kamu mau oleh-oleh, apa?"


"Ya ampun, Bos Melvin beneran ni?"


Berbeda dengan pikiran Dafa, Hana hanya menghela nafas panjang sambil melanjutkan makannya sedikit demi sedikit.


"Oh, Oke. tas branded ya?"


"Wah, minta di bawa ke psikolog ni kayaknya?


"Dadah, Sayang. Muaaach..."


Melvin tersenyum usai mematikan ponselnya lalu memilih duduk di sofa bergelut dengan laptopnya. Ia mengirim pesan kepada Pak Dikha karena tidak bisa meninjau proyek yang dimulai hari ini.


Dafa melayangkan tinjuan udara ke arah layar ponselnya, belum juga berbicara dengan Melvin, Melvin malah mematikan panggilan darinya sesuka hati. "Dasar Bos aneh!" Dafa cuma bisa mengumpat dari kejauhan.


Hana menatap lelaki tampan itu antara kesal dan tidak. Ia tidak mengerti harus seperti apa bersikap di depan Melvin.


Ia sudah tahu sejak pertama kali bertemu Melvin, Melvin memang memiliki dua kepribadian yang kapan saja bisa berubah dalam sekejap.


Melvin sebenarnya cuek, tapi jika di tela'ah Ia adalah orang yang sangat perhatian pada orang lain.


Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu lagi.


"Siang, pengantin baru!" Sapa Bu Niken.


"Oh, Ibu Niken. Silakan masuk Bu. Padahal aku mau kekamar Ibu sama Pak Dikha tadi," jawab Melvin ramah.


"Iya, aku dan Mas Dikha sudah dengar dari Dafa katanya istrimu sakit ya, aku bawakan bubur untuknya." Bu Niken menunjukkan rantang yang ada di tangan kanannya.


"Wah, kenapa repot-repot, Bu. Kami baru saja sarapan. Ayo Bu, Masuk!" Melvin mengambil alih rantang tersebut.


Bu Niken mengikuti Melvin kemudian duduk di tepi ranjang.


"Hana, kamu sakit apa? bukannya semalam baik-baik saja ya?"


"Bu Niken, saya baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit pusing," jawab Hana.


"Kamu mual, gak? Jangan-jangan kamu isi lagi?" tebak Bu Niken setengah bergurau.


Klonteng!


Melvin menjatuhkan tutup rantang yang baru saja Ia buka saking terkejutnya dengan penuturan Bu Niken.


Bu Niken dan Hana hanya menoleh ke arah pintu dapur sesaat. Hana jadi tak enak hati akan ucapan Bu Niken barusan, Melvin pasti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Enggak kok, Bu. Saya gak mual. Saya cuma kena dingin semalam karena mungkin daya tahan tubuh saya yang melemah," terang Hana. Ia tidak mau juga Bu Niken beranggapan kalau dia bukan wanita baik-baik dalam mengarungi sebuah pernikahan yang masih seumur jagung.


"Oh, Iya barang kali. Semalam hujannya lebat banget ditambah banyak petir lagi." Bu Niken merinding.

__ADS_1


Hana merasa puas, akhirnya Bu Niken tidak melanjutkan ucapannya lagi tentang kehamilan yang sudah pasti itu tidaklah benar adanya.


"Vin!" panggil Bu Niken setelah Melvin keluar.


"Iya, Bu."


"Jaga istrimu selama disini, karena hari ini kami akan kembali ke kota. Putri Ibu pulang dari Amerika sore nanti!" pamit Bu Niken.


"Iya, Bu. Pak Dikha juga bilang saat saya izin tidak bisa pergi ke proyek barusan lewat email," jawab Melvin.


Bu Niken menggenggam tangan Hana.


"Oh, Oke. Hana, kamu baik-baik ya, Hana. Ibu gak bisa nemenin lama-lama soalnya."


Hana menganggukkan kepala. Ia paham kalau Bu Niken adalah orang sibuk.


"Gak Papa, Bu. Ibu pasti kangen banget sama putrinya."


"Iya, lah. Emang nya kamu gak tahu, dulu putri Ibu mau Ibu jodohkan ama abangnya Melvin, tapi Arya nya malah menolak?" Bu Niken terlihat menyayangkan.


Hana menganga.


"Benarkah?"


"Iya, Han. Katanya Arya, dia sudah tidak bisa melepaskan gadis istimewanya. Aku jadi penasaran seistimewa apa pacar Arya dulu. Yah, mau gimana lagi mungkin bukan jodoh nya Arumi apa lagi Arya kan sudah meninggalkan sekarang." Bu Niken memasang raut wajah legowo.


Hana tersenyum kelu. Rupanya Ia juga telah menjadi penghalang sebuah hubungan dari Arya dan putri Bu Niken.


"Ya sudah, Ibu pergi dulu ya. Baik-baik disini?"


"Iya, Bu. Makasih makanannya."


"Sama-sama, jangan sungkan sama Ibu. Ibu ini care kok orangnya?"


Kepergian Bu Niken, membuat Hana tanda tanya tentang siapa putri Bu Niken yang hampir dijodohkan oleh Arya dulu dan itu baru saja Ia ketahui dari Bu Niken sendiri.


"Makasih, Mas Arya. Kamu hanya mencintai aku dengan tulus dan setia hingga akhir hayat mu." Lagi-lagi air mata bening itu terjun bebas dari ujung kelopak matanya.


Melvin yang tidak mengalihkan pandangan dari Hana sejak tadi jadi mendengkus kesal.


"Ya ampun, Hana. Kenapa kamu melo sekali, Kamu seharusnya bangga bisa di cintai Kak Arya sedalam itu?"


"Hig.. hig... maaf Vin, aku kangen." Hana terisak-isak meremas bantal yang ada di dalam pangkuannya.


"Berhenti menangis, aku paling benci melihat hal itu dari mata mu!" geram Melvin pada Hana.


Hana mengusap air matanya, Ia menjadikan bantal itu sebagai pelampiasan.


Melvin jadi menggelengkan kepala akan ulah dari istri nya itu.


"Dasar jorok."


...🎶🎶🎶🎶🎶...


Halo kawan yang paling unyuk, paling baik hati, tidak pelit, tidak sombong rajin menabung dan telah berbaik hati menyedekahkan like, komen and Votenya makasih ya. Jangan lupa sedekahin lagi sebanyak-banyaknya.


Thank You So much...

__ADS_1


Aku juga punya novel bagus and keren abis ni punya best friends ku mampir yok...



__ADS_2