Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_27 Penculikan


__ADS_3

Melvin yang masih duduk termenung ditaman memutuskan kembali ke penginapan. Ia akan melihat keadaan Hana terlebih dahulu, jika memungkinkan Melvin akan mengajak Hana pergi malam nanti.


Ceklek!


Melvin membuka pintu. Ia memperluas jangkauan bola matanya ke seluruh penjuru ruangan. Akan tetapi Ia tidak melihat Hana ada disana.


Melvin jadi heran dan memeriksa ke setiap sudut ruangan, baik di dapur maupun dikamar mandi. Nihil, tak ada siapa pun.


"Kemana perempuan itu? bukanya tadi dia ada dikamar mandi?"


Melvin terpaku pada sesuatu, Ia melihat ponsel Hana masih diatas sofa, itu artinya Hana pergi tampa berpikir untuk membawa barang penting tersebut.


Melvin jadi kebingungan, seharusnya Ia tidak perlu repot mencari Hana. Tapi bagaimana bisa, Melvin cukup dipercaya jika mengemban sebuah Amanah.


"Hana! Hana! kamu dimana?" Melvin membesarkan volume suaranya agar terdengar kalau seandainya Hana hanya berada disekitaran itu, namun rupanya tidak ada jawaban.


Melvin bergegas keluar penginapan guna menanyakan perihal Hana pada para penginap lainya. Melvin bertemu dengan seorang perempuan yang lima tahun lebih tua darinya.


"Mbak, tadi liat istriku tidak?" tanya Melvin.


"Mbak Hana?" tanya orang itu balik.


"Iya, Mbak," yakin Melvin.


"Kurang tahu, ya. Aku bahkan baru pulang dari kerja," tutur orang itu.


"Oh, iya terima kasih Mbak."


Orang itu berlalu, sedang Melvin jadi makin khawatir.


"Dasar perempuan aneh, mengapa hidupnya selalu membuat masalah," rutuk Melvin menggerutu.


Pusing dengan tingkah Hana, Melvin akhirnya memutuskan mencari Hama keluar. Melvin pergi ke beberapa tempat yang tidak jauh dari keberadaan penginapan.


Nampaknya Hana tetap juga tidak terlihat, entah kemana perempuan itu melenggang pergi.


Melvin menelpon Dafa, Ia berpikir mungkin saja Hana pergi kesana. Melvin mendekatkan benda pipih itu ke daun telinga miliknya. Panggilan tersambung.


"Ada apa, Bos?" sahut Dafa balas to the points karena Ia telah mendapat ilmu dari si Bos.


"Dafa, apa Hana pergi kesana?" tanya Melvin setengah gelisah dan bertanya langsung pada intinya.


"Ha?" Dafa terkejut rupanya.


"Hana, tidak ada di penginapan. Padahal aku baru saja meninggalkan dia." Melvin menjelaskan.


"Disini gak ada, Bos. Aku gak liat," jawab Dafa.


"Astaga, cepat kembali. Aku gak mungkin biarin perempuan lemah itu kesasar!" titah Melvin.

__ADS_1


"Iya, Bos. Aku otw, mudah-mudahan aman ya."


Usai menelpon, Melvin bergegas mencari ke beberapa titik daerah sekitaran penginapan. Cukup sulit mencari Hana, Melvin tidak menemukan tanda apa pun.


Dafa dalam perjalanan, Ia asyik menikmati daerah yang asri itu dengan senyum bahagia. Matanya bergerak menoleh ke kiri ke kanan mengikuti setia kawasan yang Ia lalui tampa meninggalkan satu pun pemandangan disana.


Tidak terlalu jauh dari arah penginapan, alangkah terkejutnya Dafa melihat beberapa orang menarik seorang perempuan dengan paksa kearah hutan.


"Wah, itu pasti korban penculikan tu. Edan, orang-orang seperti ini harusnya dibasmi dari muka bumi. Aku harus ikutin para bangsat itu membawa gadis yang menjadi tawanan mereka."


Dafa paling anti melihat kejahatan dan kekerasan di depan matanya. Salah satu kehebatan yang dia punya disisi lain seorang Dafa, itu sebabnya Melvin menjadikan dirinya seorang kaki tangan.


Jika dilihat dari raut wajah Dafa, pasti orang mengangap Dafa adalah orang yang kurang se'ons tapi otaknya sangat brilian.


Dafa menepikan mobilnya, Ia menanggalkan sit bell dn segera turun berhati-hati. Terdengar teriakan wanita itu dari tahanan mereka, wanita itu berupaya memberontak.


"Lepasin, kalian mau bawa saya kemana, ha?" Amuk perempuan itu.


"Gak usah, bawel ayo ikut!" bentak salah satu dari mereka.


"Kalian mau apa?" oceh gadis itu ingin terlepas dari cekalan mereka.


Dafa makin mendekat dari balik rerimbunan. Itu memudahkan dia memata-matai mereka kala melihat mereka berhenti di tempat sepi.


Mereka memaksa gadis itu duduk, Dafa tercekat. Ia lumayan kenal dengan postur tubuh wanita yang tengah berada di antara mereka. Dafa mengucek matanya berulang-ulang , ada rasa belum yakin dengan penglihatannya yang sesekali mengalami masalah saat Ia merasa kaget.


"Benar, itu Nona Hana. Wah, jadi Nona Hana adalah korban penculikan para pria biadab itu. Aku harus kabari Bos Melvin ni."


Melvin kaget bukan main saat membaca pesan dari asisten


menyebalkan itu baginya. Melvin tak punya waktu lagi untuk kembali dan memilih menyetop ojek yang melintas.


"Ojek, Bang!" teriak Melvin.


Ojek itu tak berhenti, Melvin tidak tahu kebodohan apa yang membuat tukang ojek itu tidak ingin di stop dan mendapat uang. Padahal Melvin akan membayar lebih jika Ia bersedia memberi tumpangan.


cukup lama menunggu, Melvin marah dan melayangkan tinjuan ke udara.


"Sialan, apa mereka tidak ingin mendapat uang, ha? mengapa tidak ada satu pun tukang ojek atau angkutan umum yang lewat." Melvin emosi sendiri.


Melvin melihat lagi layar ponselnya, Dafa telah mengirim Sherlok dimana Hana tengah berada. Diyakini tidak terlalu jauh. Melvin ambil jalan pintas dan akhirnya berlari cepat.


Para penculik itu sedang diskusi, mereka merencanakan sesuatu. "Mau kita apakan perempuan kota ini, Bos. Dia cantik banget?" tanya salah seorang pada ketua gank mereka.


"Iya, Bang. Jarang-jarang ketemu cewek bening kayak gini di daerah kita." Seseorang menambahkan.


Orang yang dianggap ketuanya mengusap janggut dengan tatapan tajam kearah Hana yang duduk dengan tangan terikat.


"Kita jual saja ke Bos bandar narkoba pasti uangnya banyak, tapi bolehlah kita main-main dulu sama dia," tukas Ketua gank.

__ADS_1


"Wah, boleh Bos. Siapa yang duluan?" tanya yang lain lagi.


Mereka tampak seperti orang kelaparan memandang Hana. Bahkan bisa dibilang ngiler dengan setiap bentuk tubuh Hana yang putih dan mulus.


Dafa membuang muka jijik.


"Ck, enak saja bilang begitu. Tunggu saja Bos ku datang. Habis kau dijadikan rempeyek udang. Tapi Bos Melvin mana sih kok lama banget, inikan gak jauh dari penginapan?" gerutu Dafa kesal.


Plok!


Ketua gank itu menampar teman seangkatan denganya.


"Sakit Bos," keluh orang itu.


Ketua gank melotot geram.


"Dasar gobl*k, kamu antri paling belakang sana, apa kamu tidak tahu pasti yang pertama itu bagian ku," ujar ketua gank.


Hana memandangi mereka yang berjumlah empat orang itu satu persatu disertai rasa takut dan amarah.


"Mau apa kalian, lelaki laknat. Apa kalian sudah gila, aku bukan barang yang bisa seenaknya kalian sentuh!" umpat Hana nyalang.


Ketua gank duduk berjongkok dan membelai dagu Hana.


"Cuih." Hana meludaaaahi wajah orang yang tertawa sangat menggelikan itu.


Plak!


Lelaki bertubuh besar itu marah dan menampar pipi Hana.


Hana tak berdaya dan hanya bisa pasrah menahan sakit tampa bisa mengusap pipinya dengan tangan yang masih terikat.


Ketua gank menjambak rambut Hana dan menggertakan rahangnya.


"Aw, sakit!" Hana menjerit kesakitan.


"Jangan main-main dengan ku perempuan kurang ajar, berani sekali kau meludahi wajahku!" marah ketua gank itu.


"Ayo ikut!" lelaki bertubuh besar itu menarik paksa tangan Hana.


"Tidak lepasin." Hana tetap menolak.


"Jangan melawan, atau kau tidak akan bisa menghela nafas," ancam orang itu.


Dafa membusungkan dada.


"Wah, wah. Gak bener ni pasti mereka mau berbuat bejat sama, Nona?" Dafa mencari sesuatu disekitaran tempatnya berdiri guna mempersenjatai tubuhnya. Ia menemukan sepotong kayu yang cukup besar.


"Bagus, ini bisa untuk mematahkan salah satu tulang mereka."

__ADS_1


"Ayo perempuan cantik, kita mencari tempat yang nikmat untuk memadu kasih." Orang itu tertawa liar dan masih dengan caranya memaksa Hana agar tidak menahan langkah kakinya."


"Berhenti!" teriakan Dafa mengagetkan mereka.


__ADS_2