
Cukup lama menunggu Dokter usai, Melvin kembali bertanya. Ia khawatir ada hal serius di tubuh Clara.
"Bagaimana kondisi Clara, Dok. Apakah ada hal aneh?" tanya Melvin sembari mengernyitkan dahi.
"Tidak, dia hanya butuh asupan gizi yang lebih untuk memulihkan kondisinya," jawab Sang Dokter membuat Melvin bingung.
"Jadi, sakitnya apa Dok?" Melvin butuh kepastian.
"Anda tidak perlu khawatir, Pak. Ini bukan hal yang membahayakan," ucap Dokter terkesan berbelit-belit.
"Tolong ke intinya saja, Dok!"
"Saya paham, Pak. Tentu anda tidak sabar dengar kabar ini," ucap Dokter itu tersenyum. "Apa lagi kalian belum terlalu lama menikah," imbuhnya.
Lelah tak kunjung di beritahu Melvin menyeret kursi dan duduk. Sedang kan Clara tetap memasang wajah tidak suka ke arah Melvin.
Dokter itu tersenyum lagi.
"Begini, Pak Melvin." Sang Dokter menjeda kalimatnya.
"Ibu ini sedang masa ringkih, bisa di sebut juga dengan bahasa umumnya Ngidam," ungkap Dokter seketika mengejutkan Melvin hingga membuatnya bangun lagi dari duduknya termasuk Clara ikut tercengang.
"Ma.. maksud Dokter?" Bibir Melvin seakan bergetar.
"Istri Bapak sedang mengandung dua bulan, Pak," papar Sang Dokter.
Deg!
Jantung Melvin berdetak cepat antara percaya atau tidak dengan kabar yang seharusnya adalah kabar membahagiakan bagi pasangan menikah tapi tidak bagi Melvin.
"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Sang Dokter.
Melvin tak mampu berbicara lagi dan menatap tajam pada Clara. Bahkan air matanya jatuh berderai.
Clara ketakutan melihat ke bringasan wajah Melvin. Ia juga tidak menduga kalau Ia ternyata sedang mengandung. Pantas saja akhir-akhir ini kondisi tubuhnya melemah.
Melvin mengusap air matanya, Hatinya sama seperti pepatah SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA PULA. Bagaimana tidak, dia sudah hancur di hina habis-habisan di kafe tadi sekarang Ia kembali di hantam badai atas berita kehamilan Clara.
"Sekarang jelaskan padaku, anak siapa yang kamu kandung, Cla?" tanya Melvin parau dan pelan namun jelas sekali tersimpan amarah yang membara.
Clara menunduk takut.
"Kenapa diam?" tanya Melvin dingin.
__ADS_1
"Sejak kapan kau berkhianat dariku?" tanyanya masih santai.
Clara tetap bungkam membuat darah Melvin mendidik.
"Jelaskan, Cla!" teriaknya.
"Berarti kau sudah melakukanya sebelum aku menikahi Hana, benar begitu?" bentak Melvin kian membumbung tinggi emosinya.
"Kau bisu dan menutup telinga atau kau hanya ingin menghancurkan hidupku? jawab!" tambah Melvin lagi namun Clara semakin ketakutan.
Melvin merutuki kebodohannya.
"Kamu memang bodoh, Vin. Sangat, sangat bodoh. Kau meninggalkan semuanya hanya demi perempuan seperti Clara." Melvin mengepal kuat, Ia tak sanggup lagi menahan kemelut di hatinya.
"Kau tega, Cla. Kenapa kau lakukan ini. Cepat kasih tau aku siapa lelaki yang sudah meniduri kamu?" tanya Melvin sekali lagi.
"Saya," sahut seorang lelaki dari arah pintu. Ia lah Leo sendiri.
Clara menggigit bibir bawahnya, Ia tak kan bisa menghindar lagi.
Melvin menoleh dengan mata menyala-nyala hingga membuat semua otot-ototnya dapat terlihat jelas.
"Aku adalah orang yang telah menghamili Clara," ujar Leo lagi.
Bug!
"Biadab, berani nya kalian bermain di belakangku. Aku tidak akan mengampuni kalian lagi."
Bug!
Melvin mencengkram kerah baju Leo kemudian menyerang perut dan wajah Leo hingga Leo terdorong keluar pintu.
Bug!
Ini kempat kalinya dan seterusnya tangan itu membuat wajah Leo memar dan bibir Leo pecah.
Clara histeris, panik akan keselamatan Leo. Melvin sudah tak ubahnya seperti kesurupan. Ia membabi buta menyerang Leo berulang-ulang tanpa henti.
Clara bangkit ingin melerai mereka tapi keduanya tidak peduli dan saling serang walaupun tetap saja Leo kalah telak dari Melvin.
Seperti biasa, semua orang di ruang tunggu agak kaget melihat kebrutalan Melvin.
"Tolong, Mas, Mbak. Tolong pisahkan mereka. Mereka bisa saja saling membunuh, saya mohon," melas Clara pada orang disana namun di acuhkan. Tepaksa nya Ia mengatupkan tangan mengharap belas kasihan dari mereka.
__ADS_1
Beberapa orang dari mereka tergugah. Mereka menghentikan amukan Melvin.
"Brengsek kau Leo, dari awal aku sudah menduga sikap kalian tidak wajar. Ternyata kalian tak lebih dari hewan di kubangan lumpur, menjijikan," oceh Melvin sambil memberontak ingin lepas dari pegangan orang-orang disana. Ia belum puas menghakimi Leo. Masih berupaya menendang Leo yang sudah terkapar di lantai dengan jenjang kakinya.
Hana rupanya menyaksikan itu sekembalinya Ia dari mengantar Rangga di depan loby.
Plak!
Clara menampar Melvin membuat Melvin kembali tidak percaya.
"Dasar tidak berguna, kau pikir kau siapa, ha? kau hanya sampah sekarang.Cuih..." Clara meludah di depan Melvin.
Hanya ada sorot dendam di dalam bola mata Melvin, Clara tetap membela Leo di depan matanya.
"Sekarang aku tahu, kau hanyalah seorang perempuan jal*ng, Cla. Aku bersyukur tidak pernah menyentuhmu sampai saat ini. Mungkin ini jalan Tuhan untuk membuka mataku tentang siapa diri mu dan Leo," tilas Melvin meledak-ledak.
"Heh, aku juga tidak sudi hidup bersama pecundang seperti mu, Vin. Nyatanya kau hanya numpang di rumah ku."
"Cla_."
"Apa? kau mau menceraikan aku? lakukan, aku juga tidak mau menyandang status istri orang miskin yang tidak punya pekerjaan alias pengangguran seperti kamu," sinis Clara sembari membantu Leo berdiri.
"Jadi kau menantang ku?" tanya Melvin.
"Iya..."
"Oke, semua orang di sini adalah saksinya kalau aku menyatakan telah menalak tiga kamu mulai detik ini, camkan itu." tegas dan lantang Melvin Sampaikan keputusannya.
Hana menutup mulutnya, Bahkan nasi bungkus di tangannya untuk Bibi Yuna terjatuh kelantai. Baru dua bulan mengarungi hubungan pernikahan dengan Clara, Melvin dan Clara akhirnya berpisah jua.
Hana melihat lagi kearah mereka yang masih adu mulut.
"Oke, fine. Pergi dari sini dan ingat, jangan bawa apa pun pakaian dirumah ku karena kau hanya membawa satu setel pakaian saja ketika keluar dari rumah Prabu Wijaya," ucap Clara mengingatkan.
Melvin mengangguk-angguk kan kepalanya menyimpan sejuta luka duri kenestapaan di beberapa titik relung hatinya.
Melvin tak lagi melanjutkan drama mereka dirumah sakit itu karena tempat itu tempat orang-orang sakit.
Melvin berbalik dan mengetahui Hana ada di sana. Sejenak mereka saling tatap lalu Melvin berlalu disamping Hana.
"Kenapa kau semenderita ini, Vin? Aku merasa kesakitan melihat kau seolah dikucilkan di mana-mana. Vin, bersabarlah. Mungkin Tuhan ingin kau mengingat bahwa dialah penentu hidup seseorang," batin Hana dalam hati.
Melvin tiba diluar, Ia menendang ban mobil di parkiran sebagai pelampiasan amarahnya. Hanya sesaat saja menikahi Clara semua hancur tak bersisa.
__ADS_1
"Kamu bodoh, Melvin. Kamu bodoh...!" teriak Melvin memecah kesunyian.