Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_90 Memupuk


__ADS_3

Makan malam sudah tersaji semua berkumpul dalam keadaan hening. Melvin dan Hana membisu ketika Arya yang kini sudah kembali rapi ikut duduk bersama mereka.


Seharusnya ini tidak terjadi, tapi mereka merasa canggung satu sama lain.


"Wah, nak Arya udah terlihat ganteng lagi sekarang?" puji Mama Maya mencairkan suasana. Kaku dan senyap bukanlah hal yamg etis saat orang yang ada disana berjumlah empat orang.


"Terima kasih, Ma," jawab Arya mengecilkan volumenya.


Melvin rigas menyuapi Hana di depan Arya. Ia ingin Arya melihat betapa bahagianya mereka sekarang.


"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar dedek bayi nya sehat," ucap Melvin mengulurkan satu sendok penuh ke mulut Hana.


Hana melahapnya juga, Meski ter gurat rasa tidak percaya diri di depan Arya.


"Hana sudah mengandung ya, Semoga kebahagian kalian semakin lengkap ya," tutur Arya lagi selembut mungkin.


Arya terus terpaku pada Hana. Ingin sekali ia memeluk Hana dan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini menggunduk di dalam dadanya.


Harapan memang tak sesuai kenyataan, Arya yang selalu bijak dalam bersikap sudah pasti berupaya berlapang dada.


Arya teringat akan slogan yang mengatakan kalau Cinta tak harus memiliki atau bisa jadi sekarang ini cintanya bertepuk sebelah tangan.


Arya memiliki tujuan lain, Ia ingin mencari tahu kebenaran tentang siapa pria yang di anggap mati menyerupai dirinya.


"Kak Arya, apa kau memiliki musuh?" Melvin mengeluarkan uneg-uneg di hatinya untuk memperjelas situasi yang menimpa Arya waktu itu.


"Hanya Rangga," jawab Arya singkat.


"Kau yakin itu? mungkin ada orang lain yang juga menginginkan Hana selain diri mu?"


Arya mempertajam ingatannya. Pada seorang sahabatnya yang mengaku memakai wajahnya.


"Vin, aku mempunyai sahabat. Dia mengalami kecelakaan dan wajahnya rusak. Saat itu ada suruhan orang tuanya mengambil foto di kamarnya untuk di gunakan Adit menjalani operasi."


Arya menjeda kalimatnya, pasti mustahil jika terdengar oleh mereka.


"Rupanya poto Adit adalah poto ku."


"Ma_ maksudmu? yang meninggal itu kemungkinan Adit?"


"Adit? apa dia berkhianat pada ku, Vin. Dia itu sahabat terbaikku dan dia sangat tahu kalau aku mencinta Hana waktu itu."


"Bisa jadikan, kalau Adit menyukai Hana juga?" cecar Melvin.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan_?" ucap Melvin dan Arya memiliki pemikiran serupa.


"Adit tahu kalau Rangga merencanakan hendak membunuh aku maka dia sengaja menggantikan aku, Vin?" ujar Arya asal menebak.


Barulah Hana sadar kalau Ia lupa memberi tahukan Melvin tentang dirinya yang pernah melihat poto Arya di ruangan pribadi Rangga.


"Iya, aku melihatnya sendiri, Vin. Kalau Rangga adalah dalangnya dan_ dan orang suruhannya masih berkeliaran, Vin."


Hana mulai ketakutan dan panik. Nyawa mereka sedang dalam bahaya.


"Tidak, Sayang. Tenang kan diri mu, ada aku disini."


"Iya, tapi_ tapi orang suruhan Rangga mengancam kamu,Vin. Kamulah targetnya sekarang," ucap Hana gelisah.


"Tidak, itu tidak benar, Sayang. Kamu yang tenang ya kasihan dedek bayinya," ucap Melvin lagi memberi tahu.


"Hana, ingat kamu masih mengandung. Jangan lakukan sesuatu yang bisa membuatmu menjadi stress." Mama Maya menambahi.


Kegelisahan Hana mulai mereda, Ia tidak ingin kekhawatirannya atas keselamatan Melvin membuat Ia tidak tenang.


"Melvin, kamu jangan pergi sendiri, ya. Aku takut kalau terjadi apa-apa sama kamu."


Melvin menarik kepala Han dalam dekapannya. Ia tidak mungkin tinggal diam jika Rangga berniat jahat.


Sebesar itu cinta Hana pada Melvin sekarang...


Selepas makan, Arya memilih keluar dan merenung di sebuah taman. Banyak pertanyaan liar yang mengganggu pikirannya.


Sedangkan Melvin harus pergi. Akan tetap tinggal setelah Hana melahirkan, Ia berjanji akan mengusung Hana menetap di Eropa.


Aku tidak akan membiarkan kamu menderita lagi, Sayang...


Melvin menggenggam jari jemari Hana, seolah takut mereka terpisah.


"Melvin, aku tidak tahu kenapa kamu mencintai aku sekarang, hm? dulu kau sangat acuh padaku?"


Kepala Hana ada di paha Melvin sehingga tanganya bergerilya di dagu sang suami.


Melvin merasa geli dan menahan tangan Hana lalu mengulumnya.


"Jangan tanyakan sesuatu yang aneh, Sayang. Itulah cinta, banyak misteri di dalamnya," jawab Melvin.


Tangannya merosot turun ke lutut Hana lalu memanjat naik ke inti wanitanya. Ada rakatnya yang timbul, sang istri terlihat sangat mempesona.

__ADS_1


Di balut polesan make-up tipis dan gincu berkilau memanggil batangan tumpul di dalam sana menegak.


Melvin menundukkan kepala menciumi wajah Hana dan mengikis pangutan hangat di bibir sang Istri hingga lama.


Keduanya saling bertatapan dan mengembang kan senyum memikat.


"Apa kau tidak menyadari kalau kau sebenarnya sudah hamil saat kita berpisah?" tanya Melvin seraya memainkan telunjuknya di organ penting milik Hana.


Hana meringis nikmat.


"Tidak, bahkan aku baru tahu dan itu kita dengar bersama," jawab Hana di sertai sendauan surgawi.


"Sayang, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Tetap lah disisi ku apa pun yang terjadi," kata Melvin lagi.


Cairan hangat milik Hana mulai meronta keluar membasahi tangan Melvin.


Hana mengangguk.


"Ahk.. iya, Vin. Itu terasa geli," ucapnya setengah memekik menahan lengan Melvin agar berhenti bergerak.


Melvin tidak menghiraukan Hana. Ia memindahkan tubuh Hana ketengah ranjang dan membuka bungkus yang melekat di tubuh mereka.


Melvin berpaku pada perut Hana. Ia harus jalankan saran Dokter Agar perlahan-lahan.


"Sebelum Anak kita yang nyusu, biar Papa nya duluan."


Melvin menyambar bukit kecil sejajar kembar milik Hana dengan rakus. Dihisap dan di jiiilati oleh nya dengan halus dan hanya terasa seperti menggitik tubuh Hana.


Hana tak pernah bosan mematut Wajah Melvin. Terbersit olehnya membandingkan ketampanan Arya dan Melvin.


Jujur saja, Ia tak munafik. Paras Melvin memang lebih menggoda tapi kebijakan dan kesabaran Arya lah yang punya. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing yang tidak bisa di pahami satu sama lain.


"Kenapa kau tersenyum, ha? kau ingin aku melakukan atraksi ya? tidak boleh kita pelan-pelan saja," gagas Melvin.


Hana terpingkal.


"Iya, Vin. Biar lututnya tidak cepat gempor," ucap Hana menggoda.


"Haih, kau menantang ku, ya? lutut ku kuat akibat makan bayam. Buktikan saja jika nanti anak kita sudah lahir," tantang Melvin mendesis dan menggigit kecil jenjang leher Hana.


"Aw... sakit," teriak Hana spontan dan kaget.


"Ssst... ini masih siang. Nanti Mama dengar lagi," ucap Melvin membumkam mulut Hana segera dengan bibirnya.

__ADS_1


Bahaya jika sang Mama mendengar pekerjaan mereka di siang bolong panas matahari sangat terik.


Melvin memasukkan miliknya perlahan-lahan. Memang kurang rasanya, Ia juga belum puas menyatukan diri dengan istrinya. Bahkan bisa di hitung oleh jari berapa kali mereka berhubungan.


__ADS_2