
Hana mengemasi barang-barangnya. Ia harus pulang untuk bergantian menjaga Paman Roy dengan Bibi Yuna di rumah sakit. Bisa semalam suntuk di omeli Bibi Yuna jika dia ingkari ucapanya sendiri. Maklum saja Bibi Yuna sangat intens orangnya jika Ia sudah di beri janji.
Baru juga keluar dari pintu, Rangga muncul bersama sekretarisnya.
"Han, mau pulang?" tanya Rangga ingin tau.
"Oh iya, Rang. Ehk.. Pak," jawab Hana kagok. Ia sudah terbiasa memanggil Rangga dengan nama tapi Ia harus mulai menjaga sopan santunnya pada atasannya mulai sekarang.
"Santai saja, kau boleh panggil aku apa pun di depan sekertaris ku kecuali di antara para karyawan ku yang lain," ucap Rangga memberi tahu.
Rangga tidak mungkin menyakiti Hana, Ia harus memenangkan cintanya dari Hana.
"Begini, Han. Aku lupa mengatakan sesuatu. Malam ini seperti biasa dari tahun-tahun kemaren. Pak Dirga seorang pengusaha sukses dari Malaysia pemilik pertambangan besar di segala sektor mengadakan Party tahunan. Beliau adalah orang pertama yang betah menetap di negara kita selama kurun waktu lima tahun," papar Rangga.
"Lalu?" tanya Hana kurang paham.
"Aku ingin kau datang mendampingi ku kesana," pungkas Rangga seraya tersenyum simpul.
Hana jadi bingung, Ia belum memberitahu Rangga kalau Ia harus menjaga Paman Roy dirumah sakit.
"Kenapa, Han?" tanya Rangga sedikit menyipitkan kedua bolanya menangkap guratan gusar di area wajah Hana.
"Emz... Maaf, Rang. Kurasa aku harus membantah mu kali ini," tolak Hana halus membuat Rangga sedikit menganga.
Rangga memutuskan meminta sekretarisnya untuk meninggalkan Ia dan Hana berdua agar bisa leluasa mengobrol sembari Maratua Hana. Sekertaris itu pun pergi. Rangga kemudian mensejajari posisi Hana berdiri sambil melirik kearah Hana.
"Apa kau takut bertemu Melvin?" tanya Rangga lirih.
Hana balas menoleh, Ia tidak tahu juga perihal itu.
"Apa dia juga datang?" tanya Hana balik.
Rangga mengalihkan pandangan nya pada para Karyawan yang sudah mulai bersiap untuk pulang.
"Dulu, Arya adalah tamu yang tidak pernah Alfa di pesta itu. Ia akan datang sebagai tamu kehormatan. Aku yakin, kali ini Melvin menggantikan posisinya. O ya, untuk perceraian mu dengan Melvin aku turut prihatin," tukas Rangga.
Hana mengerutkan dahi.
"Dari mana kamu tahu, Rang. Padahal aku tidak pernah bercerita padamu soal itu?"
"Jika kau masih istri sah Melvin Prabu Wijaya, kau tidak akan mungkin bekerja di kantorku seperti saat ini," sindir Rangga.
"Iya, kau benar. Tapi siapa yang memberi tahukan kamu tentang statusku sekarang?" tanya Hana mengulangi pertanyaannya.
"Siapa lagi kalau bukan Bibi mu," ucap Rangga.
Hanya balik tersenyum tipis.
__ADS_1
"Bibi emang bawel, haruskan Ia menceritakan masalahku padamu?"
"Entahlah, beri tahu alasan apa yang membuatmu menolak ajakan ku?"
Hana menunduk kelu.
"Paman Roy sakit, Rang. Aku harus menjaga nya bergantian dengan Bibi."
Rangga mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi itu yang membebani mu?"
Hana mengangguk.
"Kalau begitu biar aku yang bicara pada Bibi Yuna, aku yakin dia tidak akan pernah menolak untuk mengijinkan mu, bagaimana?" saran Rangga. Ia yakin seyakin-yakinnya kalau Bibi Yuna akan mengijinkannya. Bagaimana tidak, dari dulu Bibi Yuna mendukung niatnya mendekati Hana.
"Kau yakin Bibi mau memberikannya?" tanya Hana. Entah berapa kali Ia bertanya tanpa lelah.
"Tunggu, dan dengarkan cara ku merayunya," tukas Rangga terkesan sombong.
"Oke," ringkas Hana.
Rangga menelpon Bibi yuna dan tidak lama di angkat oleh Bibi Yuna secepat kilat.
"Ada apa, Rang. Apa ada hal penting yang ingin kau katakan?" Bibi Yuna langsung bertanya ke intinya.
"Wah, kalian mau kemana? apa kalian akan berkencan? Bibi pasti tidak keberatan," jawab Sang Bibi.
Rangga tersenyum menoleh kearah Hana ber ekspetasi menggigit bibirnya mendengar ucapan Bibi Yuna begitu lembut pada Rangga.
"Aku akan mengajaknya ke pesta, Bi. Sayang jika aku mengabaikan wanita cantik seperti dia," jawab Rangga.
"Oh, iya. Kalian pergi saja Paman Roy aman disini," tukas Bibi Yuna.
"Oke, terimakasih Bi. Sampai jumpa nanti."
"Iya, bilang pada Hana dia tidak usah khawatir. Aku sangat senang jika Hana bersama mu."
Rangga mengakhiri panggilannya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Hana.
"Bagaimana? apa kau masih akan menolak?"
"Oke, aku akan pergi dengan mu," jawab Hana akhirnya. Walaupun sebenarnya Ia tidak nyaman pergi berdua dengan Rangga.
Setelah mendapat persetujuan Hana, Rangga melambaikan tangannya pada sekertaris yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Iya, Pak," ucapnya usai mendekat.
__ADS_1
"Bawa dia bersiap, aku mau dia bisa tampil elegan!" perintah Rangga tegas.
"Baik, Pak. Mari Nona." Sekertaris itu menghantar Hana kesebuah tempat untuk berganti pakaian.
Melvin baru saja sampai dirumah, dengan segala pertimbangan yang Ia pikirkan matang-matang untuk datang ke kafe Riman. Ia bertekad akan tetap pergi malam itu.
Melvin menaiki tangga menuju kamar dan melihat Clara sedang berias diri mengenakan gaun yang cantik di depan cermin.
"Clara, kau mau kemana?" tanya Melvin datar sembari melepas dasi yang mengalung di kerah bajunya kemudian Ia lemparkan keatas ranjang guna menghampiri Clara.
Melvin mau mendaratkan ciuman dipipi Clara tapi Clara memalingkan wajahnya. Tentu saja Melvin marah dengan penolakan itu.
"Hais, ada apa dengan mu? kenapa kau bersikap begitu?" seringai Melvin tak percaya.
"Gak mute, Nanti make-up ku rusak oleh bau keringat mu. Sana pergi aku gak tahan mencium aroma tubuhmu!" usir Clara mendengkus kasar disertai dorongan dari tanganya ke tubuh Melvin.
Melvin berdecak kesal, menurutnya Clara benar-benar sudah berubah tidak se agresif seperti waktu mereka masih berpacaran.
"Cla, aku ini suamimu. Apa pantas kamu menolak ku seperti tadi? Kenapa kamu jadi sangat berubah sekarang?"
Clara hanya menatap sinis lalu bangkit mengambil tas yang Ia sampaikan di pundak kirinya.
"Jangan cari aku, aku mau pergi ke pesta," ketus Clara.
"Tunggu, Cla. Apa mau tidak ingin mengajakku?" tawar Melvin setengah berteriak hanya untuk ber basa basi. Karena Ia sudah bisa menebak dan Ia sangat yakin jika Clara tidak akan melakukan itu.
"Tidak perlu. Aku pergi dengan teman," timpalnya. Suaranya hampir nyaris tidak terdengar dan semakin menjauh.
Melvin membuang nafas kasarnya berulang-ulang. Ia merasa di bodohi oleh wanita yang dulu selalu di puja nya di depan Hana.
Melvin kemudian mengenang lagi masa ketika Ia satu atap bersama Hana. Sikapnya yang Emosian, tegas, cuek dan datar selalu dihadapi Hana dengan kesabaran meski pun sesekali Hana juga membantah perkatanya. Kondisi itu jutru sangatlah unik. Momen itu tidak pernah lagi Ia dapatkan ketika Ia bersama Clara, boro-boro bersentuhan secara fisik, mengobrol saja hanya sepersekian detik.
"Sabarlah Melvin. Kau memang bodoh hingga kau layak mendapatkannya. Dari pada memikirkan hal ini lebih baik kau bersiap." gumam Melvin dalam hati.
Satu jam berlalu, di balik lampu remang-remang. Melvin telah tiba di kafe milik orang yang mengaku sahabatnya. Suasana mulai ramai, banyak para tamu undangan berdatangan.
Melvin menghampiri dan menyapa Riman yang tengah sibuk mengatur meja. "Man, aku datang," ucapnya.
Riman tidak membalas jawaban Melvin, mungkin Ia idak dengar atau karena terlalu sibuk.
...☘️☘️☘️☘️...
Ayo dong reader jangan pelit, Like, komen,Vote, rate bintang lima dan gift nya. Mohon dukungannya atas hasil karya ini.
Jangan lupa, mampir juga ke novel ku yang satunya ya. Haredang.. haredang.. panas...!!
__ADS_1