
"Biar ku antar, ada perlu apa?" Rangga menarik tangan Hana namun di tahan oleh Hana.
"Tidak, Rang. Aku cuma mau ngeliat kondisi Paman Roy beliau anpal," jawab Hana memasang wajah sedih.
"Baiklah, biar aku yang antar," paksa Rangga lagi memegang kuat tangan Hana. Hana tidak menyukai itu dan melepaskan tangannya dari Rangga.
"Tidak, Rang. Aku pergi saja sendiri," tolak Hana. Hana tidak ingin Rangga ikut mencampuri urusan keluarganya karena itu akan membuatnya terbebani.
Rangga sempat melotot tajam tapi akhirnya mempersilahkan Hana pergi.
"Pergilah, kau harus kerja besok," tukas Rangga.
"Baik, Rang. Makasih..." Hana pergi dari hadapan Rangga.
Rangga tersenyum licik. Ia sudah menyiapkan sesuatu yang membuat Hana tidak akan menolak lagi keinginan hatinya untuk memiliki Hana.
"Pergilah peri cantikku, tapi setelah itu kau akan menjadi milikku untuk selama-lamanya."
...💐💐💐...
Hana sampai di tepi jalan Ia melihat Melvin berdiri disana. Melvin pasti juga sedang menunggu angkutan umum seperti dirinya.
"Vin...." Panggilnya.
Melvin tidak menoleh. Bukan tidak mendengar suara Hana tapi Ia merasa malu untuk memandang wajah Hana. Wajah yang sudah di sakiti olehnya. Hatinya berdenyur pilu. Ia sudah menjadi suami yang jahat pada wanita sebaik Hana selama Hana menjadi istri nya.
"Yang sabar ya, Vin. Aku akan selalu mendukungmu," imbuh Hana lagi. Bola matanya masih mengembun.
"Kenapa kamu masih peduli denganku?" tanya Melvin dingin. Melvin tetap enggan menoleh.
Hana tersenyum getir.
"Aku akan selalu mengganggap kau adalah bagian hidupku." Hana melangkah kan kaki berdiri di samping Melvin lalu menatap wajah Melvin dengan lekat. "Bagaimana pun kau pernah menjadi suamiku kan?" tambah Hana.
Melvin membalas tatapan Hana. Penyesalan menyelimuti hatinya kian dalam.
"Aku bukan orang baik, Hana." Melvin mengakui keburukan sikapnya pada wanita mulia seperti Hana. Seharusnya Ia bersyukur bisa menikahi Hana. Tapi karena keegoisan dan keangkuhannya. Ia melepaskan Hana begitu saja.
"Aku tidak peduli akan hal itu, aku tidak pernah menganggap kamu jahat," jawab Hana dengan ikhlas.
Sejenak Hana berbalik dan hendak melangkah pergi namun Melvin memegangi tangannya.
"Aku merindukan mu," ucap Melvin serta merta.
__ADS_1
Jantung Hana berdegup cepat mendengar ucapan langka itu keluar dari mulut Melvin. Ia merasa Melvin sangat serius.
"Kau simpan saja perasaan itu." Hana menarik tanganya pelan. "Bukankah semua sudah berakhir, Vin?" Tatapan Hana serasa menghujam relung batin Melvin.
"Kau benar, kau pasti menertawakan aku sekarang. Aku terima kebencian mu."
Hana menggeleng.
"Tidak, tapi mungkin kita tidak di satukan oleh takdir, Vin. Kau harus memantapkan hatimu lebih dulu, jangan katakan itu ketika kau dalam keadaan putus asa."
Apa yang dikatakan Hana bener adanya, Hana pasti tidak akan se percaya itu padanya saat ini. Apa lagi Hana menyaksikan sendiri ikrar talak yang di ucapkan Melvin dengan mudahnya pada Clara dihadapan orang banyak.
"Kau takut ku jadikan pelampiasan?" tanya Melvin membalas tatapan Hana.
"Tidak, tapi aku berharap jika menikah lagi semua itu dari hati, Vin. Bukan keterpaksaan dari diri ku maupun pasanganku," jawab Hana secara terang-terangan.
Melvin mengangguk mengerti.
"Maaf, Han."
"Tidak perlu, aku sudah memaafkan dirimu. Aku pergi...." pamitnya. Hana menjauhi Melvin dan memilih berjalan kaki sampai Ia mendapatkan ojek atau angkutan umum.
Melvin tak bisa berkata lagi. Ia merutuki kebodohan dirinya. "Maaf, Han. Maaf...."
Melvin tidak menghiraukan Rangga.
"Heh, Kau akan menangis darah, Melvin. Nikmatilah kesengsaraan hidupnya sampai ke liang lahat." Kata-kata Rangga membuat Melvin meradang tapi Ia berusaha mengabaikan itu dan tetap memilih pergi.
"Vin, bantuin Mama mu nanti dia tidur di jalanan kasihan kan sudah tua, takut kena rematik..!" teriak Rangga semakin berhasrat menyusahkan Melvin sembari tertawa.
Melvin kian mempercepat jenjang kakinya, Ia tidak berjanji mampu menahan diri jika lama ada di dekat Rangga.
Melvin mendatangi rumah Prabu dan benar saja ada beberapa mobil terparkir di depan rumahnya.
"Mama...!" teriaknya spontan.
Melvin melihat Maya ada dihadapan Prabu, Seorang wanita yang sudah pernah Melvin lihat dan beberapa orang lainnya.
"Silakan tanda tangani surat perceraian itu, May. Aku sudah tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan kita," kata Prabu tenang sedang Maya terisak-isak.
"Kau keterlaluan, Mas. Kau lebih memilih pelakor itu dari pada aku. Dimana otak mu, Mas?" maki Maya dengan sorot mata kemarahan.
"Sudahlah, May. Aku tidak mencintai kamu lagi," kata Prabu yakin.
__ADS_1
"Tapi apa salah aku, Mas. Bukan kah kau sudah membalasnya dengan menikahi perempuan itu." tunjuk Maya pada Diandra.
"Aku sudah bahagia dengannya," jawab Prabu.
"Sudah lah Mbak madu, terima sajalah kalau Mas Prabu lebih milih aku dari pada kamu," sahut Diandra disertai senyuman miring.
"Kau yakin ini, Mas?" tanya Maya sekali lagi memastikan.
"Ya," jawab Prabu seenaknya.
Melvin mengepalkan tangan, Ia langsung menghampiri Prabu mencengkram kerah baju Prabu lalu menariknya dari sofa.
"Bangs*t, Aku tidak menyangka kau se keji ini Pak Prabu yang terhormat," tukas Melvin memandang tembus ke bola mata Prabu. "Kau benar-benar iblis. Kau sudah hidup bersama Mama Maya selama hampir tiga puluh tahun. Tapi kau dengan mudahnya mencerai kan wanita yang menemani mu sejak nol.." Melvin menekankan setiap bait kalimatnya dan membuat bulatan ibu jari dan telunjuknya di depan wajah Prabu dengan sangat geram. Hilang sudah rasa hormat nya pada Prabu Wijaya, orang yang tidak pernah menyayangi dirinya.
Melvin kian memanas karena Prabu tidak mengindahkan ucapan yang terlontar dari mulutnya.
"Saya harap anda bersikap bijak, Pak. Kalau hanya alasan Mama pernah berselingkuh lalu apa bedanya dengan anda. Katakan padaku, Pak. Katakan.....! seberapa Mulia diri anda?" ucap Melvin meneriaki Prabu.
Semua yang disana hanya diam.
Prang!
Melvin melabuhkan tinjuan tanganya di atas meja kaca disampingnya hingga pecah bahkan darah segar mengalir dari jari jemarinya.
"Melvin..." Maya histeris dan berdiri menghampiri Melvin. Ia tak sanggup melihat tangan Melvin terluka. "Kenapa kamu lakukan ini, Nak? Mama tidak papa," tutur Maya membingkai wajah Melvin.
Air mata pemuda itu jatuh meluncur kebawah. Ia bukan kesakitan karena tangannya tapi sakit atas perbuatan Prabu Wijaya Ayahnya.
Maya menatap Prabu dan memukul dada Prabu sekuat tangannya.
"Kau puas sekarang, Mas. Kau puas melihat kita hancur oleh sikap mu itu? Otak mu dimana, Mas? tidak adakah ruang tersisa untuk memaafkan aku. Aku bahkan tidak tahu masih bisakah aku disebut seorang istri tanpa pernah kau sentuh lagi sejak kejadian itu. Aku sudah berlutut dan mengatakan berkali-kali Melvin itu anak mu, Mas. Bukan anak lelaki lain."
Hati Maya berapi-api cukup sudah Ia bertahan selama ini. Hanya menyandang status istri tanpa mendapatkan haknya sebagai istri.
Maya mengambil map di depan Pengacara Prabu dan menanda tangani map itu kemudian Ia lemparkan kewajah Prabu dengan kasar.
"Mulai saat ini aku pastikan tidak akan meminta maaf lagi padamu sampai kapan pun. Jika dibilang sakit, aku lah yang lebih sakit, Mas. Sakit..? tidak pernah mendapat perhatian seujung kuku pun dari suami."
Maya beralih memandang mereka yang duduk di sofa dengan pandangan hampa.
"Ck, munafik sekali. Aku bertahan dengan lelaki seperti mu demi Arya dan Melvin. Tapi hari ini, semua sudah berakhir. Tidak ada lagi tempatku menggantungkan diriku dan Melvin. Toh kami bukan lagi siapa-siapa untuk mu kan? Kau tidak mengakui Melvin putramu dan Arya juga sudah meninggal. Semoga kamu bahagia, Mas. Semoga kamu bahagia dengan mantan madu ku..." Imbuh Maya lagi memilih mengalah dan menyudahi semuanya.
Maya menggandeng Melvin meninggalkan tempat itu untuk selama-lamanya.
__ADS_1