Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_72 Kuasa


__ADS_3

Melvin membelenggu Hana, Ia mencurahkan cinta itu segalanya pada Hana. Melvin menghiiisap jenjang leher Hana hingga meninggalkan beberapa noda merah disana.


"Vin..." Hana ingin menolak akan tetapi tubuhnya tidak.


"Aku mencintai mu, Hana. Aku mencintai mu..." Ucapnya. Hasratnya nampaknya tak terbendung. Nafas Melvin seolah-olah membantai jiwanya.


Melvin turun mencecapi dua gundil yang terpampang menakjubkan di sana. Ia tak mampu menahan diri.


"Ahk, jangan, Vin. Jangan...." Hana menangis. Ia tidak mengharapkan itu terjadi sekarang.


Sontak Melvin menghentikan aksinya, Melvin memandangi Hana menitikan air mata. Melvin mengusap wajahnya, Ia merasa bersalah.


"Maaf..." Melvin kembali berbaring di samping Hana.


Keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing jujur saja tubuh itu sangat mendamba tapi ikatan pemicunya. Hana takut kekeliruan itu akan menjerat mereka dalam jurang kenistaan.


Melvin meleguk salivanya, di tatapnya wajah Hana. Hatinya terenyuh. Iya, dia mengaku. Hana sebenarnya sudah lama mengisi ruang hati nya tapi egonya tak mampu Ia kendalikan.


"Maafkan aku, Hana. Maafkan aku..." Melvin menciumi punggung Hana. Air matanya ikut luruh. Jiwanya tersiksa jarak status telah memisahkan kesucian itu.


"Tidak, Vin. Aku hanya ingin kita melakukannya jika kita ditakdirkan Tuhan untuk bersama lagi. Aku ingin suci di hari dimana kita menyatu dalam ikatan cinta dan pernikahan, Vin." Hana mengusap air mata yang terus menerobos ingin keluar dari sudut bola mata itu.


Mata yang di ciptakan Tuhan untuk melihat hingga di cuci dengan air mata ketika kita menangis.


Melvin tersenyum kelu. Melvin memeluk perut Hana. Ia harus kuat demi kebaikan Hana.


"Kamu jangan takut, aku pasti akan mendapatkan kamu lagi, Hana. Sekarang tidurlah, kamu ikuti saja dulu apa mau nya Rangga." Melvin meminta Hana bersabar.


"Tapi kau tidak bohong kan?" Hana tidak ingin kecewa dan terluka untuk kesekian kali nantinya.


"Pegang lah kata-kata ku." Itu janji Melvin.


Malam semakin larut, hujan juga tak kunjung reda akan tetapi sudah lengang dari petir membuat Hana lelap tertidur.


Tidak dengan Melvin. Ia hanya memandangi Hana sepuas yang Ia mau.


Sekitar pukul lima pagi. Melvin bangun lebih dulu dan memakai pakaiannya yang sudah mulai mengering.


Di peras nya baju milik Hana, supaya sisa air itu habis mempercepat proses pengeringan.


Hana menggeliat, Ia tetap tertutup kandus dengan sempurna. Melvin mengerutkan dahi dan mengembangkan senyum, wanita di depannya sungguh menarik. Melvin telat menyadari kesempurnaan Hana.


"Pantas, Kak Arya sangat mencintainya. Dia memang lah berbeda. Hana, semoga takdir tetap memihak kita dan Rangga, aku tidak akan mengijinkan mu menyentuh wanitaku setelah ini."


Hana membuka matanya. Wajah Melvin terlihat samar. Senter ponsel Melvin telah meredup kemungkinan batre nya sudah mulai habis.


"Kau masih di sana?" tanya Hana pada Melvin.

__ADS_1


"Iya, Han. Apa tidurmu nyenyak?"


"Iya, makasih masih menjaga ku." Hana bangun dan mencari bajunya. Melvin mendekat dan memberikan baju itu dari tanganya.


"Masih agak lembab, tapi setidaknya tidak separah tadi," tutur Melvin. Melvin duduk dan memegangi Kardus itu. Di biarkan nya Hana memakai baju dari sisi lainnya.


"Makasih ya,Vin. Kau harus ingat janjimu. Aku akan menunggu mu datang untuk menyelamatkan aku. Bukan karena uangmu. Tapi karena Cinta." Hana mengingatkan lagi ucapan Melvin.


"Tentu, Jika aku tidak mendapatkannya disini Aku akan pergi, Hana. Ku harap kamu bisa menjaga diri."


Usai mengenakan pakaiannya Hana membuka kardus itu.


"Kau mau kemana?" tanya Hana khawatir dan kaget.


Melvin tersenyum tipis dan merengkuh tubuh Hana.


"Aku memperjuangkan cintaku. Kita harus berkorban dulu, bukan?" ucap Melvin tulus.


"Vin, aku takut kau berbohong." Mata Hana mulai mengembun lagi.


Melvin mengecup bibir Hana lembut. Ia tidak ingin Hana bersedih lagi. Melvin harap Hana tidak merindukan dirinya demi bisa bersama Hana selamanya.


Melvin menggaet tangan Hana dan mengantar Hana pulang. Mereka menaiki angkutan umum. Hari itu angkutan cukup sepi. Melvin duduk bersebelahan dengan Hana. Ia menyandarkan kepala Hana di pundaknya.


Wajah Hana sayu, Hana belum sepenuhnya yakin Melvin akan menolong dirinya dari penguasaan Rangga.


Hana mengulum bibir mendongak menatap Melvin. Sejak tadi Melvin diam saja dan tak mengatakan apa pun padanya.


Hana tidak mengetahui isi pikiran Melvin, entah apa yang sudang berkecamuk di dalam benak Melvin.


Hana melingkarkan tanganya ketubuh Melvin. Ia ingin Melvin sadar Ia ingin mengatakan kalau Ia takut kehilangan diri Melvin.


Melvin mengalah dan membalas tatapan Hana. Jika bukan karena dirinya tentu ini tidak akan mereka alami.


Rangga sudah memanfaatkan keadaan sangat baik, Ia menguasai Hana maupun Papanya Prabu sehalus mungkin.


"Hana, Mama. Aku berjanji, aku akan mengembalikan kebahagiaan kalian yang telah di renggut oleh Rangga dan Mamanya secepat mungkin."


Melvin mengusap pucuk kepala Hana, Ia juga mau Hana tahu bahwa Ia benar-benar serius.


Setelah turun dari angkutan umum, Hana dan Melvin tetap saling diam. Hana memutuskan pergi tapi Melvin menarik lengannya dan memeluk erat tubuh Hana.


"Aku mencintaimu," ucapnya mengulangi kalimat itu ditelinga Hana.


Hana pias, kalimat itu menyejukkan hatinya.


"Aku akan menunggumu, Melvin. Menunggu sampai engkau datang untukku," jawab Hana semakin merekatkan tubuh keduanya.

__ADS_1


Melvin dan Hana berpisah. Hanya air mata dan embun pagi yang mengiringi betapa tersiksanya hati mereka.


Melvin terus mengamati Hana sampai Hana masuk kedalam sebuah rumah sederhana. Barulah Melvin beranjak. Tujuannya adalah mendatangi kantor Wijaya Cooperation.


Melvin menemui sekertaris nya Rindy, Ia menanyakan perihal apakan Prabu ada di sana atau tidak.


"Rin, Papa sudah datang?" tanyanya.


"Belum, Pak. Kata Pak Rangga beliau sedang sakit," ucap Rindy menundukkan kepala.


"Apa? sakit? bukankah kemaren Papa sehat-sehat saja?"


"Iya, Pak. Hari ini Pak Rangga adalah pemimpin baru disini?" terang Rindy lagi.


Melvin membelalakkan bola matanya.


"Maksud mu apa, Rindy?" tanya Melvin penasaran.


"Pak Rangga di beri kuasa oleh Pak Prabu mengendalikan perusahaan ini sampai beliau sembuh," jawab Rindy takut-takut.


Melvin memanas dan menerobos masuk keruangan Prabu.


Gubrak!


Melvin mendorong pintu dengan keras.


Rangga yang sengaja duduk membelakangi pintu tertawa nyaring.


"Halo, tamuku. Kau butuh sesuatu?" tanya Rangga memutar kursinya menatap licik kearah Melvin.


"Papa sakit apa, Rang?" sentak Melvin geram.


Rangga beranjak dari duduknya dan menghampiri Melvin. Di pegang nya pakaian Melvin dengan tatapan hina.


"Baju mu basah, kau tidak punya baju pengganti ya? semelarat itu hidupmu sekarang?" tanya Rangga puas mendapati Melvin sengsara.


"Jawab pertanyaan ku, Rang?" desak Melvin kesal. Ia tidak suka meladeni ketidak warasan Rangga.


"Ooo.. kau sudah tahu rupanya. Dia struk, itu karena dia stress memiliki anak tidak berguna seperti kamu. Heh," jawab Rangga berdecak dan duduk lagi di kursi.


...💐💐💐💐💐...


Tinggalkan jejaknya ya Like, komen, vote, bintang lima dan gift nya. Thank You...


Mampir juga kesini ya Kakak🙏🙏🙏🙏 aku tunggu dukungan kalian disana. Di sana sudah sampai bab dua puluh dua. Cerita ini pertama kali aku buat dalam sebuah grup dan belum pernah di publikasikan di platform mana pun semoga suka😜😜😜😜


...(Cinta Arga Untuk Vania)...

__ADS_1


__ADS_2