Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
part_86 Cemburu


__ADS_3

Bu Dokter mengangguk akan perkataan Hana.


"Bener, Nona. Anda ini sudah mengandung dan sudah di pastikan ini sudah berjalan sekitar tiga bulan," terang Sang Dokter itu.


Melvin dan Hana menganga.


"Apa? tiga bulan, Dok?" Melvin sangat kaget akan berita itu.


"Berapa lama pernikahan kalian?" telisik Bu Dokter. Ia menangkap keraguan di wajah Melvin.


Melvin mencoba mengingat masa itu. Iya pernah melakukanya pada Hana beberapa hari pernikahan mereka. Lalu ia lakukan lagi saat Dafa dan Rindy berulah dan itu memang tiga bulan lamanya.


"Lima bulan lalu, Dok," jawab Melvin cepat. apa pedulinya meski dua bulan terpisah. Ia anggap selama itu pernikahannya.


"Oh iya, itu normal, Tuan. Bahkan ada yang lebih cepat jika kondisi sangat memungkinkan. Saat pembuahan pertama Nona Hana dalam keadaan subur dan menyebab kan sel telur dan sperrma yang menyatu langsung berkembang cepat."


"Emm... sa_ saya boleh tanya, Dok?" tanya Melvin gugup.


"Silakan, Pak."


"Berarti meski hanya melakukannya satu sampai dua kali saat subur seperti di katakan Dokter bisa juga menyebabkan hamil, Dok." Terpaksa nya Melvin bertanya untuk membuang ketakutannya meski pun Ia merasa malu.


Sang Dokter tersenyum.


"Sekali atau semalam?" goda Dokter itu.


Wajah Hana jadi memerah dan menatap kesal pada Melvin.


Melvin menggaruk pelipisnya.


"Beda lo, Tuan. Pengertian sekali dan semalam. Bisa saja kau mengajak Nona Hana bergulat berkali-kali dalam semalam," ucap Sang Dokter membuat keduanya semakin kentara malunya.


"Tentu saja terjadi, Tuan. Sama seperti yang ku katakan tadi. Karena kondisi subur dan bibit yang di tanam juga unggul pasti sangat mudah mempercepat proses produksi," jawab Dokter itu meneruskan.


"Bayi kembar akan sangat merepotkan dibanding satu, Tuan. Dari itu tolong Tuan lebih waspada menjaga Nona Hana dan segala makanan yang Ia konsumsi. Mudah-mudahan Ibu dan Bayi akan selalu sehat," tambah Dokter itu lagi.


"Iya Dok, itu pasti. Ta_ tapi masih boleh kah_?" Melvin menghentikan ucapanya, sang Dokter paham maksudnya.


"Tidak papa, asal jangan bermain kasar. Takutnya berpengaruh pada si jabang bayi tapi di kurangi ya porsinya," ucap sang Dokter berpesan.


Melvin menggaruk pelipisnya lagi.


"Iya Dok, semoga gak khilaf."


"Ehk.. jangan begitu ya. Jewer aja Nona kalau suaminya bandel," ucap sang Dokter beralih menatap Hana tengah mengulum senyum.


Tebal sudah rasa mukanya akibat pertanyaan Melvin pada sang Dokter.


Sang Dokter menuliskan sebuah resep pada secarik kertas


"Beli ini untuk menjaga kondisi tubuh Nona Hana. Pastinya beliau istirahat' cukup dan kurangi kerja kelelahan atau mengangkat beban barat," pesan sang Dokter lagi.

__ADS_1


Melvin menerima kertas itu.


Setelah puas mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan. Melvin dan Hana berpamitan.


Melvin menggandeng Hana keluar dari ruangan sang Dokter. Dokter Litha sudah berdiri di depan mereka.


"Wah, apa ada kabar baik,Vin?" tanya Litha. Begitulah sikap sok akrabnya.


Melvin dan Hana saling berpandangan lalu tersenyum pada Dokter Litha.


"Alhamdulilah, istri ku hamil, Lit. O ya, aku lupa bertanya apa kau sudah menikah?" tanya Melvin balik.


Dokter Litha nampak gugup dan binggung.


"O_ e itu. Belum ketemu jodoh,Vin. Siapa juga yang mau pada aku," ujar Dokter Litha.


Kamu tidak tahu, Vin. Dari dulu aku sangat menyukai mu...


"Oke, Lith. Selamat bekerja kami permisi dulu!" Melvin dan Hana berlalu meninggalkan Dokter Litha yang terus memperhatikan langkah mereka.


Sampai di parkiran Melvin yang hendak membuka pintu mobil di tahan oleh Hana.


"Vin..."


"Kenapa, Sayang?" tanya Melvin tanpa dosa.


"Dokter itu mantan mu ya?"


"Ha? kenapa berpikir begitu?"


Melvin mengerutkan dahi. Ia kemudian terkekeh melihat wajah Hana teelihat kesal.


"Kau cemburu ya?" Melvin bukanya menjelaskan malah membuatnya semakin sewot.


"Jujur aja kenapa? wajar kan kalau mantan mu banyak?"


"Iya sih, kan aku ganteng," pedenya.


"Tu kan, suka begitu. Kenapa aku jadi ragu padamu."


Hana masuk kemobil dan membanting pintu cukup keras. Melvin yang cuma bercanda tak percaya akan aksi berlebihan dari sang istri.


Melvin ikut masuk dan berupaya membujuk Hana.


"Sayang, kamu beneran marah?"


"Enggak." Hana memalingkan wajah dan tak mau menoleh meski Melvin menarik wajahnya ke hadapan Melvin.


"Dia itu cuma temen, sayang. Dulu kami cukup akrab cuma itu saja kok."


"Ku harap kita tidak akan bertemu dia lagi," ucap Hana datar dan sangat ketus.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" tanya Melvin tak mengerti.


"Oh jadi kamu berencana mau bertemu lagi ya," ucap Hana. Kali ini meninggi kan nada suaranya sembari menoleh dan melotot pada Melvin.


Melvin terkekeh bingung. Tak biasanya Hana bersikap demikian.


"Kenapa sih, Sayang? Dokter Litha itu cuma temen kok dan selamanya begitu."


"Gak percaya..."


"Eum.. jadi kamu gk rela dia mencium pipi ku tadi."


"Enggak ahk biasa saja."


"Yakin? ya sudah aku pergi saja menemui dia pulanglah sendiri," ucap Melvin pura-pura hendak keluar namun Hana gelipungan di buatnya hingga akhirnya Ia menangis.


"Hiks.. pergi saja. Jangan peduli kan aku. Aku tahu kamu itu cuma mau mempermainkan aku kan? kamu cuma mau melihat aku menderita? kenapa tidak kau biarkan saja Rangga menikahi aku waktu itu," ucapnya mengamuk.


Melvin berbalik dan melihat Hana sesenggukan.


Melvin menyentuh kedua pipi Hana lalu melabuhkan ciuman di bibir sang istri.


Di usap-usapnya rambut Hana agar Hana menjadi tenang.


"Ada apa dengan mu, Sayang? Aku cuma becanda kok. Kenapa Malah menangis. Kamu tidak tahu ya kalau di hatiku saat ini cuma ada kamu, Sayang."


Melvin merengkuh tubuh Hana, Ia khawatir akan perubahan sikap Hana bisa mempengaruhi anak mereka.


Sebenarnya Melvin ingin bertanya soal mengapa Hana menyembunyikan kehamilan itu darinya selama itu. Tapi tidak untuk sekarang. Hana rupanya mudah sekali tersinggung.


"Maaf ya, Sayang. Kamu jangan nangis lagi ya. Maaf kalau aku menyakiti perasaan hati mu," ucap Melvin merayu.


"Tapi janji dulu, jangan mau di sentuh oleh cewek lain mulai sekarang," ungkap Hana.


Melvin mengangguk. Ia tak mau Hana kepikiran dan stress akhirnya.


"Kita pulang sekarang."


Melvin memasangkan tali pengaman di tubuh Sang istri tapi lelehan air mata Hana belum juga mengering.


Melvin tersenyum dan mengusap pipi itu lagi.


"Sayang, kamu gak kasihan sama dedek bayi. Nanti dia ikutan nangis lo."


Sulit juga membujuk Hana saat ini. Melvin menyentuh perut Hana dan sekali lagi merayu.


"Emang dia bisa nangis?" tanya Hana manyun.


"Ya iyalah, dia ikut merasa kan apa yang dirasakan Ibunya, Sayang." Melvin kurang tahu juga hal itu tapi setidaknya Ia mencoba membuat Hana membaik.


"Ahk.. dia gk boleh nangis. Kan kasihan," ucap Hana berubah tersenyum.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu mobil dari luar memecahkan kedamaian mereka.


__ADS_2