
Melvin melipat tangan mencoba menebak siapa dalang dibalik dari nekatnya para udik itu. Tentu antara Pak Gany dan seorang yang Ia hajar sampai pingsan didalam sebuah gubuk tempo hari.
Melvin merasa bingung dan kembali menatap mereka.
"Mau apa Tuan mu menginginkan istri ku?" geram sekali Melvin selalu berada di situasi rumit karena istrinya.
"Kau tidak perlu tahu orang kota, kau sudah membuat Bos ku terluka. Maka kau harus membayar nya dengan menyerahkan perempuan didalam mobil mu," jawab Orang itu lantang.
Melvin tersenyum kecut sedikit menarik sudut bibirnya.
"Dasar gila, apa Bos mu tidak bisa mencari perempuan lain, ha?" Melvin meninggikan suaranya.
"Hahaha...." Mereka balik mengejek.
"Istrimu terlalu cantik kawan jadi bekerja samalah agar pembangunan taman hiburan yang sedang dalam pembangunan perusahaan mu aman terkendali," ucap Sang ketua mengangkat sebelah alisnya.
"Oh, kalian ingin dibasmi rupanya." Melvin memantik sebuah kaleng didekat kakinya. Diangkat nya kaleng itu hingga melambung ke udara dengan kakinya kemudian melakukan salto. Kaleng itu meluncur seperti kilat oleh tendangan kakinya kearah kening si ketua preman.
"Aduuh." Orang itu meringis mengerjap-ngerjapkan bola matanya terkejut. kemudian memerintahkan anggota lainya menyerang.
Tiga lainnya menyerang Dafa dan empat lainnya mengitari Melvin berbentuk lingkaran.
Tak ada tangan kosong semua menggenggam kayu untuk mulai menyerang.
Melvin menangkis kayu yang mengayun dari depannya dan menendang bagian belakang yang juga melalukan penyerangan. Dibelakang terdorong lalu dengan lincahnya Melvin memegang kayu itu melompat menumpukan kaki pada tubuh yang Ia tangkis tadi kemudian menerjang dua lainnya secara bersamaan.
Terakhir, Melvin meninju wajah orang pertama tadi dengan bogeman mentah dan pasti menyakitkan.
Keempatnya tersungkur sedang kan Dafa mengecoh tiga lawannya dengan ulah konyolnya.
"Ayo sini! kita semua senang-senang dulu!"
"Hehehe.. ." si kumis tertawa memainkan ujung kumisnya sedikit lancip melengkung. Tidak tahu bagaimana caranya kumis itu bisa terlihat unik.
Dafa berlari ke tepi jalan ada kayu Mahoni besar disana. Bukanya berkelahi Dafa bermain ciluk Ba sambil ngelel lidahnya. "Ayo sini, Mis."Melambaikan tangan kearah tubuh.
Anehnya ketiga orang itu sama lucunya dan ikut hanyut dalam permainan Dafa.
"Hehehe.. jangan berlari terus dong capek ni kita. Geluk aja yuk!" tukas si kumis.
"Yakin mau gelut?" tanya Dafa.
Mereka mengangguk.
Dafa cerdas juga orang nya. Ia memeluk kayu itu dan membuat gerakan melompat tiba-tiba menerjang dua orang di bagian dadanya.
__ADS_1
Kemudian yang seorang memukul Dafa, Dafa terpaksa terkena pukulan di lengannya saat hendak menahan.
"Aw..." lumayan sakit pukulan si jabrik.
Melvin kembali diserang, ternyata pukulan pertama tak membuat keempatnya jera. Si ketua punya kesempatan untuk memaksa Hana keluar ditengah kelengahan Melvin dan Dafa.
"Ayo keluar manis, cepat!" paksa orang itu mengintip dari jendela luar.
"Mbak Hana, Rindy takut." Wajah ketua itu amat seram tidak ada tampan-tamla ya jadi orang.
"Tenang, Rin. Kita keluar!"
"Jangan, Mbak. Pak Melvin kan melarang kita," cegah Rindy.
"Tidak apa-apa, Rin. Dia bisa saja nekat memecahkan kaca mobil kita kan?"
Hana mulai membuka pintu dan kaget ketika seseorang dari posisi belakang Melvin kembali meraih kayu dan mencuri cara dari pandangan Melvin untuk menyerang dari belakang.
"Tidak, Melvin!" teriak Hana. Hana buru-buru mendorong pintu hingga si ketua preman berada dibelakang terdorong keras. Hana memeluk Melvin menghalangi aksi orang itu hingga tengkuknya yang baru saja sembuh terkena hantaman lagi.
"Ak...." Hana mendongak kan kepala keatas menahan sakit teramat sangat hingga jatuh luruh kebawah. Melvin tersentak menoleh dan melihat Hana tergeletak. Melvin kian mengamuk, Urat wajahnya mengerang, merah padam penuh amarah. Rahangnya menggertakan garang kearah pemukulnya.
Si pemukul tampak ketakutan Ia jadi gugup antara mau me menyerang Melvin lagi atau tidak karena Melvin jadi menakutkan.
Melvin merampas kayu keras itu dari tangan pemukul dijadikan alat untuk ajang balas dendam. Orang itu tak berdaya dipukul berulang-ulang oleh Melvin. di terjang dan dihajar dengan bringas tampa ampun. Yang lainnya menyerang lagi tapi dengan mudahnya Melvin menghantam mereka dengan kayu yang masih sama ke perut, kewajah maupun ke kaki mereka. Mungkin tulang belulang mereka patah.
Kesekian kalinya Melvin menangkis serangam si ketua lalu meninju perut si ketua berulang-ulang tampa ampunan.
Entah tenaga dari mana kekuatan itu semakin bertambah meski mereka sudah tergeletak di tanah.
Dafa cerdik juga, Dua orang kiri kanan mulai menyerang Dafa menarik kepala keduanya dan membenturkannya satu sama lain.
Teleng sudah mereka. Satu lagi musuh Dafa yaitu si kumis.
Takut-takut kumis maju meninju Dafa dengan mudahnya juga Dafa melintir tangan si kumis ke belakang lalu Ia tendang bokongnya terjungkit kedepan jatuh terlengkurap.
Dafa tertawa bahagia.
"Hahaha.. mau lagi ayo kesini, hadapi aku!" menunjukkan tubuh dengan Ibu jarinya.
"Ampun, Tuan. Ampun..." ucap si kumis. Tampang sangarnya tak sekuat tenaganya.
Si ketua memutuskan meminta mereka mundur dan meninggalkan tempat itu.
"Ayo pergi!" teriaknya. Berkelahi belakangan kabur duluan.
__ADS_1
Melvin menoleh kearah Hana. Hana belum juga sadarkan diri. Rindy terlihat menepuk wajah Hana berkali-kali.
Melvin berlari mendekat dan mengangkat tubuh Hana.
"Rin, buka pintunya!" titah Melvin.
Rindy menurut, Melvin memangku Hana di jok belakang.
Dafa dan Rindy didepan.
"Kita kemana, Bos?" tanya Dafa.
"Ke rumah sakit di kota," pungkas Melvin.
"Oke, Bos." Dafa dan Rindy mengenakan sabuk pengaman melaju dengan kecepatan tinggi.
Melvin gelisah, Ia mengambil sebuah minyak aroma theoraphy dari tas Hana. Di bubuhkan nya ke tangan lalu dihirupkannya ke hidung Hana.
"Han, bangun Han. Kenapa dengan mu, ha? kenapa kamu tidak membiarkan aku saja yang terpukul tadi?" Melvin mengoceh tak henti-henti. Cemas terpancar jelas di guratan wajahnya.
"Tenang, Bos. Nona pasti baik-baik saja," tutur Rindy tak kalah khawatir.
Dafa tak sempat berkomentar dan memilih fokus. Cepat sampai dan melindungi keselamatan mereka dalam berkendara juga sama pentingnya.
Ada saja penghambatnya lampu merah berpijar di jalan simpang empat membuat perjalanan mereka tertunda.
Melvin bolak-balik melihat lampu lalu lintas berharap berganti warna.
"Kenapa lama sekali sih? apa lampu itu rusak!" gerutu dan emosi berbaur jadi satu.
Klik!
Lampu berubah hijau.
"Cepat, Daf!" perintah Melvin tak sabar.
"Iya, Bos."
Se jam dalam perjalanan antara panik dan melelahkan tidak lagi dirasa hingga akhirnya mereka berhenti di rumah sakit terbesar di kota mereka.
Melvin menggendong Hana kedalam.
"Tolong Sus, tolong!" teriak Melvin.
keempat perawat datang dengan ranjang fasien beroda dan meminta Hana direbahkan. Hana harus kembali lagi di masukkan ke ICU untuk menjalani pemeriksaan serius.
__ADS_1
Melvin sudah seperti anak ayam kehilangan induknya. Berkali-kali mengusap kepalanya dengan kasar dan geram menunggu sang Dokter keluar.
Dafa dan Rindy duduk terdiam memperhatikan kegamangan si Bos nya. Tak pernah sekali pun Dafa melihat kekhawatiran Melvin sebesar itu meski saat meninggalnya Arya.