
"Kau pikir semudah itu mengelabuhi aku, Rangga," gumam Melvin tersenyum. Mana mungkin Ia membiarkan Mamanya mendapat masalah di luar sana.
Melvin mengamati Hana takut jika mengganggu tidur Hana Melvin melangkah sedikit menjauh.
Melvin mengetik pesan baru untuk Rangga agar Rangga tak bisa seenaknya bertindak.
(Coba cek dulu siapa wanita itu, baru kau boleh mengancam aku) balas Melvin.
Rangga sudah terlanjur mengetahui identitas dirinya maka Melvin tidak akan menutupi kebenaran itu dari Rangga lagi.
Usai membaca pesan Melvin, Rangga menodong seorang yang di perintahnya dengan tatapan tajam.
"Kau yakin, dia Ibu dari orang yang ku maksud?" tanya Rangga sedikit bernada tinggi.
"Iya, Bos. Saat aku menculiknya dia baru saja keluar dari rumah Dafa."
"Dafa? kok bisa?" tanya Rangga menyipitkan bola matanya.
"Melvin dan keluarga tinggal di sana, Bos. Saya tidak menemukan Melvin dirumah Dafa. Itu sebabnya saya menculik wanita ini sebagai sandera an."
Rangga yang tidak sabar menautkan kedua alisnya. Secepatnya Ia menarik kain penutup wajah wanita yang masih terikat itu.
Sungguh terkejut hatinya, rupanya orang itu bukankah Tante Maya.
"Bangsat, kenapa bisa begini?" amuk Rangga emosi dan melempar kain penutup itu dengan jiwa yang meledak-ledak.
"Emang kenapa, Bos?" tanya orang itu heran.
"Dia ini siapa, Tolol?" maki Rangga pada pesuruhnya.
"Jadi saya salah orang, Bos?"
"Iya, Lepaskan wanita ini. Dia tidak ada urusannya dengan kita!" sentak Rangga geram lalu menendang kaleng yang meluncur bebas ke arah dinding. Gegas meninggalkan tempat itu.
Dafa yang masih setia mengikuti aksi mereka cekikikan sendiri di buatnya sudah seperti adegan lelucon menurut Dafa.
"Rasain, Lo. Mampus...," maki Dafa puas.
Melvin kembali mendekati Hana dan menari-narikan jari telunjuknya di pipi Hana.
Hana yang merasai sentuhan itu membuka mata, dilihatnya senyum Melvin mengembang sempurna.
"Aku mengganggu mu ya?" tanya Melvin menciumi punggung tangan sang istri.
Hana masih diam, Hatinya masih butuh penjelasan. Pria di depannya sudah membuatnya seperti berada dalam bayangan.
"Ini rumah siapa, Melvin? dan uang sebanyak itu dari mana?"
tanya Hana wajahnya nampak sedih lagi. Ia takut uang itu di dapat Melvin dengan cara hina. Mana mungkin Melvin bisa mendapat semua kemewahan di atas rata-rata umumnya dalam waktu singkat.
__ADS_1
Sudah di pastikan kekayaan Melvin kali ini melebihi kekayaan Kantor Rangga dan Prabu yang di satukan.
Melvin mengembangkan senyum.
"Aku tahu kekhawatiran mu, Hana. Tapi semua ini adalah milik kita. Jadi kau tak perlu takut ya," kata Melvin seraya memindahkan anak rambut yang melerap di wajah Hana.
Sejenak Hana terpaku semakin dalam pada wajah Melvin.
"Terima kasih sudah menepati janji," desis Hana lirih.
"Aku tidak ingin menyia kan kesempatan untuk bersama mu lagi setelah aku tahu kau telah memberi harapan lagi," kata Melvin bersungguh-sungguh.
"Ayo mandi, hari ini kau akan ku kenalkan pada tamu yang hadir di bawah. Kasihan kan kalau mereka lama menunggu," imbuh Melvin lagi.
Hana mengangguk.
Ia berusaha turun dari ranjang di temani selimut yang masih menggulung di tubuhnya.
Melvin terkekeh mengamati langkah kaki Hana bagaikan siput.
"Kapan kau akan sampai kalau begitu? buang saja selimutnya!" teriak Melvin menggoda setelah Hana sudah di ambang pintu.
Hana melirik sinis.
"Itu sih mau mu," ketusnya. Hana mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
Tentu itu adalah kebahagiaan sempurna yang pertama kali di dapatnya.
Lama di kamar mandi Hana menyelesaikan perseteruan nya dengan air dan sabun di ruangan tertutup itu. Tapi Ia baru sadar Ia melupakan satu hal.
"Aduh, dimana handuknya?"
Hana beralih kearah selimut tadi. Bahkan selimut itu sudah basah di lantai. Tidak mungkin kan jika Ia keluar tanpa sehelai kain pun.
Hana memutuskan membuka sedikit pintu itu, Ia sangat kaget saat Melvin sudah berdiri di depannya dengan handuk yang melingkar di leher.
"Maaf, Vin. Tolong berikan handuknya!" pinta Hana seembari mengulurkan tangan.
"Boleh, tapi ada syaratnya," tukas Melvin.
"Syarat? Syarat apa?" tanya Hana setengah berpikir.
Melvin tiba-tiba mendorong tubuh Hana dan ikut masuk ke dalam lalu mengunci pintu sampai Hana te jerembak di dinding.
Hana tak berkutik karna tubuh Melvin merekat kuat di tubuh polosnya.
"Melvin, apa yang kau lakukan?" wajahnya bersemu merah.
Melvin mengendusi tubuh Hana dan rambut yang masih menjatuhkan bintik-bintik air di ujungnya.
__ADS_1
Melvin tergugah akan wewangian itu.
"Aku sudah tidak sabar. Boleh dicicil kan?" kata Melvin nyaris tak terdengar di telinga Hana. Wajah itu sangat dekat bisa jadi hanya sebatas sehelai benang antara jarak satu dan yang lainnya.
Hana menatapi lagi secara liar wajah dari seorang Melvin.
Mungkin benar adanya, Melvin sudah mampu menggeser kedudukan Arya di dasar hatinya. Debaran itu meruntuhkan jiwanya bahkan membuatnya sangat bahagia.
Melvin tersenyum lagi, hidung dan bibir keduanya bergesekan. Hembusan nafas mulai menderu kuat, menelisik raksa jiwa kedua manusia berbeda jenis kelamin itu.
Ya, kali ini Melvin ingin melakukannya dalam sadar tidak lagi di buru karena keterpaksaan semata.
Setidaknya Ia bersyukur, meski berkali-kali di jebak oleh Clara. Tapi miliknya tetap memilih Hana.
Melvin tak ingin menunggu lagi Ia bebas menjejelajahi wajah wanitanya. Mereka sudah syah untuk berhubungan setelah beberapa jam lalu mengikrarkan janji Pernikahan di hadapan orang banyak meski tanpa kehadiran Hana.
Sentuhan itu menimbulkan senandung kecil yang terlepas dari mulut Hana. Ia menikmati sapuan lidah basah itu di bawah telinganya dan di sekitaran lehernya membuatnya harus mendongakkan sedikit kepalanya.
Melvin mencecapi kulit mulus itu tampa henti dan berpindah menyisir ke bibir merah muda istrinya.
Bibir itu adalah pelabuhan sakral yang tidak boleh terlewatkan.
Terdengar lengguuukan terus berirama mengikuti jejak rasa yang sulit di tuangkan lewat kata-kata.
Melvin tidak tega kala melihat Hana kesulitan mengambil nafas.
Melvin membingkai wajah itu, Ia ingin Hana tahu. Kalau kali ini Ia benar-benar mencintai Hana dalam seluruh jiwanya dan ingin memiliki Hana sepenuhnya.
Melvin dan Hana bertukar senyum.
Hana memberanikan diri mendorong sedikit tubuh Melvin untuk membantunya melepaskan kancing baju yang masih melekat di tubuh Melvin sedang mata Melvin tidak terlepas mengekspos kaki Hana dengan liar.
"Apa yang kau lihat?" kata Hana. Ia tidak melanjutkan aktivitasnya dan memilih memeluk dadanya. Rasa Malu itu seakan mengikis keberanian yang dikumpulkannya.
Ini bukan sifatnya, Ia bukan perempuan yang berani menggoda lebih dulu.
Hana pun membalikkan badan kearah dinding. Ia ingin mengendalikan diri dari gairah wanitanya.
Apa yang kulakukan? pasti Melvin mengira aku perempuan murahan lagi. Astaga Hana, kendalikan dirimu. Mungkin ini efek samping saking bahagianya bisa bersama Melvin lagi, jadi aku telah kehilangan akal...
Hana merutuki keagresifan yang Ia lakukan barusan. Hingga malunya sampai ke dasar jurang hatinya.
Melvin terkekeh membaca pergerakan Hana.
"Kenapa berbalik? apa kau malu?" tanya Melvin sengaja.
Hana memukul kecil keningnya kemudian melirik Melvin dan nyengir.
"Hehehe... enggak," elaknya berpaling.
__ADS_1