Menikahi Istri Amanah Kakak

Menikahi Istri Amanah Kakak
Part_74 Ketahuan


__ADS_3

Hana diam-diam mengintip lagi, Ia masih diliputi penasaran pada sosok seorang Rangga. Di lihatnya Rangga tertawa sendiri mengamati beberapa poto di dalam pegangannya.


"Heh, akhirnya tidak ada lagi semut liar pengganggu hubungan ku dengan orang yang ku cintai," decak Rangga seraya terkekeh.


Hana menganga, Ia cukup paham maksud ucapan Rangga. Itu artinya yang di ucapkan Rangga kemungkinan adalah dirinya.


Rangga memasukkan poto itu dalam sebuah buku tebal di atas nakas Ia selipkan buku itu di antara buku-buku lainnya.


Hana kembali bersembunyi, Rangga nampaknya akan keluar dari ruangan itu.


Rupanya benar, Rangga keluar dan menutup pintu. Ia seperti seorang tanpa dosa.


Melihat Rangga sudah jauh, Hana mengendap-endap masuk keruangan Rangga. Ia mau memastikan kebenarannya tentang Feeling nya pada Rangga.


Pelan Hana menutup pintu dan menuju ketempat buku besar dimana Rangga meletakkan tadi.


Tangan Hana bergetar, Ia akan melihat sesuatu yang mengejutkan hari ini pastinya.


Hana mulai membuka isi buku itu. Rupanya buku itu semacam catatan khusus diri Rangga lebih tepatnya seperti sebuah Diary untuk mencurahkan keluh kesah lewat sebuah tulisan.


Lembaran pertama adalah biodata tentang Rangga Ramadhan Ardian. Usianya satu tahun lebih muda dari Arya dan dua tahun lebih tua dari Melvin.


Hana membaca sekilas, Ia hanya ingin melihat poto di bagian buku itu.


Setumpuk poto Arya bersatu disana. Hana melotot, Ia mendapati beberapa poto Arya di penuhi coretan merah seperti darah tapi Hana yakin itu bukan darah. Mungkin cat dan sebagainya.


"Apa ini? apa Sebenci itu Rangga pada Mas Arya? Rangga sudah tidak waras, aku benar-benar sudah dibutakan olehnya."


Hana membuka satu persatu poto Arya, rupanya ada poto Melvin juga di bagian tengah poto itu bahkan ada tulisan yang semakin membuat Hana ketakutan.


"Melvin? target selanjutnya? Tidak, ini tidak mungkin." Hana gelisah membaca kalimat itu.


Hana jadi ingin tahu ada tulisan apa yang di catat Rangga di dalam buku besar itu.


Hana mulai membaca di salah satu bagiannya.


^^^6 Agustus 2021^^^


Aku Rangga...


Aku akan menyingkirkan penghalang kebahagian ku


Terutama pada keluarga Prabu Wijaya


Dialah yang telah membuat Ayahku terbunuh saat mereka bekerja sebagai kumpulan perampok di Genk KAO


Kulihat jelas dengan mata kepalaku. Prabu Wijaya meninggalkan Ayah saat Ayah tengah sekarat ditembak mati oleh polisi


Ia berhasil lolos seorang diri tanpa memikirkan Ayahku

__ADS_1


Lebih parahnya lagi. dua tahun setelah nya Prabu Wijaya malah datang dan memperistri Ibuku sebagai madu yang akan dibuat nya menderita


Dia sudah gila, dia pikir aku ikhlas dengan kenyatannya itu. Aku bersumpah akan menghancurkan keluarga Prabu Wijaya tanpa sisa


Kebencian ku kian menggumpal saat aku memergoki Arya saudara tiri ku menyatakan cinta pada Hana Agista. Gadis yang sangat aku cintai.


aku harus bermain cantik, syaratnya adalah tentu aku harus membayar orang untuk melakukan aksi nekat ku membunuh Arya. Kalaupun orang itu mati bukan aku yang kenakan? hahaha...


Aku memang cerdas...


Matilah Kau Arya... Matilah


...💐💐💐...


Hana menggeleng-geleng kan kepalanya, Ia tak mengerti ternyata Rangga bersifat sedemikian jahatnya. Tanggal yang tertera di buku itu memang tiga hari lebih cepat dari tanggal rencana pernikahan Hana dan Arya waktu itu.


Air mata Hana meluncur, Ia memikirkan bagaimana nasib Melvin saat ini. Nyawanya sedang dalam incaran seseorang. Bahkan Rangga bisa merencanakan pembunuhan Arya tanpa jejak sedikit pun.


Hana mengacak-acak rambutnya. Ia menyesal telah mendekati orang yang seharusnya Ia benci seumur hidupnya. Kejadian itu membuat Ia masuk kedalam jeratan orang yang sudah tidak waras seperti Rangga.


Gubrak!


Pintu mendadak terbuka.


Rangga berdiri menatap Hana dengan tatapan tajam. Hana terkejut, tubuhnya kian bergetar melihat sorot mata Rangga. Rangga mengetahui Ia telah masuk keruangan milik nya tanpa izin.


"Rangga...!" ucapnya. Poto di tangan Hana jatuh berserakan di lantai. Kakinya melangkah mundur melihat Rangga mendekat kearah dirinya.


"Kamu mengetahui semuanya ya? kamu sudah tahu siapa aku? Ayo jawab, Kamu takut, Ha?" Rangga menggertakan giginya menekan pundak Hana.


"Ma.. Maaf, Rang. A.. apa benar kamu yang su... sudah membunuh Mas Arya?" tanya Hana gelagapan sembari menangis menahan sakit.


Rangga mengkerut kan dahi, Ia malah tertawa.


"Aku tidak percaya ini, Rangga. Kenapa kau begitu menakutkan?" tanya Hana makin meringis akibat Rangga mencengkram kuat bahunya.


Rangga makin tertawa lebar dan melepaskan tangannya dari pundak Hana.


"Hahaha.. Aku hanya ingin melihat Keturunan Prabu Wijaya menderita, Han. Tentunya tak seorang pun bisa memiliki kamu yang jelas-jelas terpilih sebagai pemilik hati Seorang Rangga," ucapnya sombong.


Hana meleguk salivanya. Ia teramat bingung akan ucapan Rangga.


"Tapi ini bukan alasan, Rangga. Kau sudah dibutakan dendam dan benci yang tidak jelas," Ujar Hana tercekat.


Rangga melotot lagi.


"Tutup mulutmu, kau tidak tahu apapun, Hans. Kau harus mengumpulkan energi mu. Karena tiga hari lagi kita akan menikah," bentak Rangga nyaring di telinga Hana.


"Me.. menikah? bukankah kamu bilang seminggu setelah paman Roy operasi?"

__ADS_1


"Tidak, aku memutuskan mempercepat pernikahan ini. Karena aku tidak akan membiarkan kamu lari lagi dariku. Kecuali kau ingin aku mencabut paksa alat bantu untuk Paman Roy," gertak Rangga menakuti Hana


"A .. apa? jangan Rangga. Paman Roy masih butuh itu semua," melas Hana khawatir.


"Kalau begitu jangan membantah atau kau akan menyesal," sentak Rangga lagi mengamuk.


"Aku mohon hentikan niatmu menyakiti Malvin, Rang. Aku mohon. Sudah cukup kau membunuh Mas Arya dan jangan lakukan pula pada Melvin. Aku mohon, Rang!" Hana mengatupkan kedua tangan nya berharap Rangga mengabulkan permintaannya.


Rangga tidak menyukai permohonan Hana dan menekan kedua sisi bibir Hana.


"Jangan meminta sesuatu yang tidak mungkin aku kabulkan Hana. Aku tidak akan pernah membiarkan keturunan Prabu Wijaya bahagia. Hahaha.."


"Kamu sudah gila, Rangga!" maki Hana kesal


"Iya, aku sudah gila. Gila karena kamu dan tahta."


"Lalu kenapa kamu masih dendam pada Papa Prabu setelah kamu menguasai dirinya?" tanya Hana menekankan kalimatnya.


"Itu karena Prabu telah membiarkan Ayahku terbunuh," jawanb Rangga emosi.


"Itu bukan alasan, Rang. Apa kau pernah menanyakan masalah itu pada Papa Prabu?" tanya Hana lagi.


"Tidak, aku tidak sudi. Orang itu hidup melalang buana dan bergelimpangan harta di dunia sedang Ayahku meregang nyawa. Aku yakin perusahaan yang Ia dirikan adalah hasil dari merampok."


"Rangga, kau sudah ikut menikmatinya," ujar Hana dengan beraninya.


"A.. apa? aku gak salah denger?" tanya Rangga. Emisinya kian membumbung.


"Maaf, Rang. Mungkin kau salah paham," ucap Hana lirih. Ia sudah tidak berani melawan Rangga.


"Bodoh, kau itu terlalu polos, Hana. Melvin sudah menduakan kamu, dia meninggalkan kamu demi wanita lain. Kau masih memikirkan dia. Dimana otak mu itu sebagai perempuan? Melvin itu tak ada bedanya dengan Prabu Wijaya maka mereka pantas di enyahkan dari muka bumi," oceh Rangga emosi.


"Rangga, kendalikan dirimu. Kau akan menyesal, Rangga. Kau itu sudah gila," ucap Hana lagi.


Plak!


Rangga menggampar mulut Hana.


"Jangan pernah membela dia di hadapanku. Kecuali kau ingin menderita karena orang-orang hina itu!" amuk Rangga.


Rangga menyuruh beberapa orang membawa paksa Hana dari tempat itu.


"Kalian mau bawa aku kemana, Rangga?" teriak Hana berupaya memberontak.


"Tenanglah, Sayang. Sebentar lagi kau itu akan menjadi milikku. Jadi jangan pernah bermimpi kau bisa lolos begitu saja dari genggaman ku."


Hana diseret-seret oleh dua orang bertubuh besar itu masuk kedalam sebuah kamar. Hana di dorong jatuh keatas ranjang tempat tidur. Hana mengamati ruangan itu heran. Sejak kapan ada kamar di kantor Rangga, Hana tidak tahu.


Rangga mengisyaratkan anak buahnya keluar dan mengunci kamar. Hana memeluk guling. Ia takut Rangga ingin macam-macam.

__ADS_1


"Tenanglah Sayang. Kau aman disini," ucap Rangga menatap liar.


__ADS_2