Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 10: Alasan Kebencian


__ADS_3

Plak!


Saking emosinya, Janu melayangkan satu tamparan kepada Cheryl. "Kalau kamu mati, siapa yang akan membunuhku? Katamu ingin balas dendam untuk keluargamu?"


Cheryl memegangi pipinya. Matanya sudah berkaca-kaca. Rasa sakit yang dirasa membuat kemarahannya semakin menumpuk. Meskipun ia benci Janu, tapi ucapan lelaki itu ada benarnya. Tujuannya hidup memang untuk membalaskan dendam keluarganya.


"Aku ingin bercerai darimu," katanya dengan nada lirih.


"Akan aku penuhi permintaanmu tapi tidak untuk yang satu itu." Janu menolak kemauan Cheryl.


Cheryl tampak menghela napas. "Baiklah, aku akan mempertimbangkan untuk tidak bercerai darimu. Dengan satu syarat ... Aku ingin kembali tinggal di kotaku yang dulu," katanya.


Janu terdiam cukup lama. Ada banyak hal yang ia pertimbangkan, terutama masalah keselamatan mereka.


"Kenapa? Apa tempat yang aku sediakan tidak cukup baik untukmu?" tanya Janu.


"Aku tidak menilai semua itu. Aku hanya ingin kembali ke tempat aku dilahirkan," kata Cheryl.


"Baiklah, kalau itu memang maumu. Kita akan pindah ke kota sebelah."


Janu dan Cheryl saling beradu tatap. Keduanya melemparkan tatapan kebencian yang sama. Tidak akan ada yang menyangka dua orang yang saling bermusuhan itu bisa terikat dalam pernikahan.


"Tapi ingat, kamu adalah istriku. Kamu tidak boleh kembali lagi pada mantan pacarmu itu!" Janu menegaskan syaratnya.


Cheryl terkekeh. "Lalu, bagaimana denganmu? Kamu bisa dekat dengan wanita lain padahal statusmu adalah suamiku. Bukankah itu tidak adil?"


Janu tersenyum. Ia mengulurkan tangannya mengangkat dagu Cheryl. "Aku tidak suka dibantah. Kamu terima atau kita batalkan saja kepindahan yang kamu mau? Aku akan tetap mengurungmu di kota ini," ucapnya licik.


Cheryl menyingkirkan tangan itu darinya. "Baiklah! Terserah apa yang mau kamu lakukan. Aku hanya ingin pulang ke kotaku. Mau dengan siapapun kamu dekat, aku tidak akan peduli!"


Cheryl mendorong dada Janu seraya berjalan meninggalkannya. Ia sudah tidak sabar kembali ke kota yang menyimpan banyak kenangan terutama tentang keluarganya.


Fin membukakan mobil. Cheryl keluar tampak mengenakan dress berwarna hitam dan membawa buket bunga lili putih di tangannya. Matanya tampak sendu kala melihat sekeliling yang merupakan area pemakaman itu.

__ADS_1


Meskipun terlihat indah dan terawat, namun saat menyadari ia hendak mengunjungi makam kedua orang tuanya, ketegaran hatinya mulai luruh. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis.


"Ayo," ajak Janu seraya mengulurkan tangannya.


Cheryl tak menyambut uluran tangan itu. Ia lebih memilih melangkah sendiri.


Janu tak ada pilihan selain ikut berjalan di samping wanita itu. Sementara, para pengawalnya menging di belakang. Mereka tampak waspada melihat ke sekeliling.


Cheryl meletakkan bunga yang dibawa di atas pusara kedua orang tuanya. Melihat makam berlapis marmer bertuliskan nama kedua orang tuanya membuat butiran air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya luruh.


Cheryl menangis terisak-isak sembari memeluk makam itu. Dadanya terasa sangat sesak. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mengunjungi makam orang tuanya.


Ia menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa melihat sendiri pemakaman mereka. Sesekali muncul keinginan bahwa ia ingin ikut mati agar bisa ikut bersama orang tuanya.


Kakek nenek Cheryl dari pihak ayah sudah meninggal. Di luar negeri masih ada saudara ayahnya, namun tidak akrab dengannya. Ia merasa kini hidup sebatang kara.


"Kita pulang sekarang," ajak Janu.


"Aku masih mau di sini. Kalau kalian mau pergi, pergi saja! Aku bisa pulang sendiri," ucap Cheryl yang masih belum mau melepaskan pelukannya pada makam itu.


Mereka terpaksa kembali ke kota lama demi mempertahankan pernikahan. Janu juga mengizinkan Cheryl yang ingin mengunjungi makam orang tuanya.


"Memangnya kalau kamu terus berada di sini, menangis-nangis seperti ini, orang tuamu akan hidup lagi?" kata Janu dengan nada ketus.


"Orang yang tidak punya perasaan sepertimu tidak akan mengerti rasanya kehilangan," jawab Cheryl. Perkataan Janu membuatnya tersinggung seolah lelaki itu tidak punya empati sama sekali kepada dirinya.


"Hah! Lagi pula mana ada pembunuh yang punya perasaan," lanjutnya.


"Ya! Aku memang tidak terlalu sedih dengan kematian orang tuamu. Lagi pula, mereka memang pantas untuk mati!"


Cheryl langsung bangkit dan menoleh ke arah Janu. "Tarik ucapan sampahmu itu!" bentaknya.


Janu justru menyunggingkan senyum. Hal itu membuat Cheryl semakin marah dan berusaha menyerangnya. Saat para pengawal ingin maju, Janu memberi isyarat agar membiarkan saja sang istri mencakarnya.

__ADS_1


"Kamu yang seharusnya pantas mati! Dasar manusia bang sat!" umpat Cheryl sembari terus memukul dan mencakar Janu.


Janu seakan tidak merasakan sakit akibat kemarahan Cheryl. Bahkan, dengan gampangnya ia memegangi kedua tangan sang istri yang sejak tadi digunakan untuk memukulinya.


Ia menatap dalam-dalam mata Cheryl yang penuh amarah. Bukan hanya wanita itu yang emosi, dia juga sama.


"Kamu pikir hanya kamu yang pernah mengalami hal ini. Bagaimana rasanya kehilangan keluarga? Sangat menyakitkan, bukan?" tanya Janu.


"Saat mereka mati, aku bahkan masih kecil. Mau tahu siapa penyebab kematian mereka? Orang tuamu yang membuat mereka mati."


Cheryl tercengang tidak percaya mendengar perkataan Janu. "Itu tidak mungkin. Jangan mengarang cerita yang tidak-tidak tentang orang tuaku!"


Tidak mungkin orang tua Cheryl yang menjadi pembunuh keluarga Janu. Ia sangat yakin akan hal itu. Apalagi ayahnya selalu berbicara hal-hal baik tentang keluarga Janu, bahkan pernah berniat menjodohkan mereka.


Janu menyunggingkan senyum mengejek. "Tidak akan ada orang tua yang mau mengatakan sisi buruknya terhadap anak. Tapi, memang itu kenyataannya. Keluargaku mati karena ulah orang tuamu. Sekarang sudah impas, aku tidak harus kehilangan sendirian. Kita bernasib sama sebagai manusia yang hidup sebatang kara."


"Berani-beraninya kamu berkata bohong di depan makam orang tuaku."


"Kamu masih tidak percaya?" tanya Janu memastikan. "Cari tahu sendiri tentang kasus yang pernah menjerat perusahaan ayahku. Bagaimana bisa perusahaan itu bisa lepas ke tangan orang lain dan akhirnya seluruh keluargaku dihabisi. Itu gara-gara ayahmu, Cheryl!"


"Tidak mungkin!" bantah Cheryl.


"Bahkan sebelum ayahmu meninggal ia sempat menawariku untuk bekerja di perusahaannya. Mungkin karena kasihan dan merasa bersalah padaku. Sayangnya, aku bukan orang yang suka dikasihani."


"Sebaliknya, aku ingin mengasihani ayahmu. Tentunya dengan merawat anak semata wayangnya. Setidaknya dia bisa lega karena sekarang kamu sudah menjadi istriku." Janu tersenyum puas seolah telah memenangkan sesuatu.


"Ayo kita pulang sekarang!" Janu memaksa Cheryl pergi dari sana.


"Lepas! Aku tidak mau!" Cheryl berusaha melawan tarikan Janu meskipun ia sendiri yang harus terseok-seok mengikuti langkah kaki lelaki itu.


"Kalau mau melawanku, berusahalah lebih keras. Aku juga tidak akan menghindar dari balas dendammu."


"Dasar gila!" Cheryl tidak habis pikir dengan lelaki seperti Janu yang membiarkan orang dengan dendam tetap berada di sisinya.

__ADS_1


"Berarti kamu sangat payah. Melawan orang gila saja tidak bisa. Hahaha ...." Janu mengejek Cheryl.


__ADS_2