Menikahi Mafia Arogan

Menikahi Mafia Arogan
Bab 35: Kecurigaan


__ADS_3

Seperti biasa, Cheryl duduk di meja kerjanya mengerjakan lapiran yang diberikan padanya. Dinda tampak menghampirinya namun tidak mengatakan apa-apa. Ia merasa tengah diawasi seperti saat awal bekerja.


"Cheryl sudah bukan karyawan baru lagi kan, Din? Kok masih diawasi terus," celetuk Vina yang duduk dekat Cheryl.


"Memangnya siapa yang sedang mengawasi? Apa tidak boleh kalau aku ingin berdiri di sini?" kilah Dinda.


Tak berapa lama berselang waktu istirahat tiba. Mereka bergegas mengemasi barang-barang dan bersiap makan siang.


"Mau coba menu di restoran yang baru buka di depan?" ajak Vina.


"Boleh," jawab Cheryl.


Ketika mereka hendak pergi, Dinda memahan Cheryl. "Bisa ikut denganku sebentar?" tanyanya.


"Ada urusan apa lagi?" Cheryl terlalu malas untuk berurusan dengan rekan kerjanya yang satu itu


Dinda menyunggingkan senyum. "Ikut saja, ini untuk kepentinganmu. Tak akan lebih dari lima menit," katanya.


"Kenapa tidak di sini saja? Katakan!" pinta Cheryl.


"Nanti kamu yang bakalan malu."


Cheryl menyerah. Ia akhirnya meminta Vina untuk pergi lebih dulu dengan teman yang lain, sementara ia mengikuti Dinda ke arah tangga.


"Sudah sepi kan, di sini? Katakan, cepat!" Cheryl tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin wanita itu sampaikan padanya.


Dinda kembali menyeringai. Ia mengambil ponsel dari sakunya dan mencari sesuatu di galeri. Ia memutarkan video yang menurutnya menarik.


Cheryl mengamati secara baik-baik video yang Dinda berikan padanya. Amarahnya seakan memuncak melihat Arsen bersama dokter Diana. Sepertinya kecurigaannya selama ini memang benar. Pasti ada apa-apa di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Kemarikan ponselku! Aku takut kamu akan membantingnya," ucap Dinda seraya mengambil kembali ponsel miliknya. "Biar aku kirim video ini ke ponselmu, ya ... Siapa tahu mau ditonton ulang," sindirnya. Ia seakan merasa bahagia melihat raut wajah Cheryl yang terlihat pucat. Saking kagetnya, Cheryl sampai tertegun diam saja.


"Ternyata kamu tidak seistimewa itu ya, di hadapan Pak Arsen? Di belakangmu masih ada wanita lain yang lebih diutamakannya. Pantas Beliau tidak pernah mengajakmu pulang bersama."


Cheryl menyesal kenapa harus Dinda orang yang mengetahuinya. Wanita yang memiliki dendam tersendiri padanya pasti akan menggunakan hal ini untuk terus mengolok-oloknya.


"Aku tahu kamu anak dari keluarga kaya. Tapi, setelah orang tuamu meninggal, sepertinya kondisimu juga terpuruk. Mungkin saja Pak Arsen ingin melepasmu karena alasan yang sama."


"Terima kasih atas informasinya, ya! Apa yang menjadi masalahku, tidak perlu kamu ikut campur!" Cheryl menatap tajam kepada Dinda.


Ia bergegas pergi dari sana meninggalkan Dinda. Ia mengambil ponselnya, mencari nomor Vina dan meneleponnya.


"Halo, Vin. Aku ada urusan. Maaf tidak bisa menyusulmu. Mungkin lain kali aku akan mencoba menu baru di restoran itu."


Setelah mengucapkan hal itu, ia kembali mematikan telepon. Tatapannya lurus ke depan, langkahnya tegas mengarah ke ruangan Arsen.


"Selamat siang," sapa sekertaris Arsen yang baru keluar dari ruangan.


"Oh, iya. Silakan."


Ia membiarkan Cheryl masuk ke dalam.


Arsen terlihat senang melihat kehadiran Cheryl. Ketika ia hendak memeluk kekasihnya itu, Cheryl menolak. "Kamu kenapa, Sayang?" Arsen heran melihat wajah murung yang Cheryl tunjukkan.


"Nggak usah pura-pura tidak tahu! Apa yang kamu sembunyikan dariku?" nada pertanyaannya terdengar penuh emosi.


Arsen tercengang karena tidak tahu menahu apa yang membuat Cheryl emosi. "Memangnya aku kenapa?" tanyanya polos.


Cheryl membuka ponselnya dan menunjukkan video kedekatan Arsen dengan Dokter Diana.

__ADS_1


"Ini ...." Arsen tidak menyangka akan ada yang memvideo dirinya saat bertemu Diana.


"Kalau memang kamu sudah berpaling pada wanita lain, tidak usah memberi aku harapan!" bentak Cheryl.


Arsen memegangi kedua pundak Cheryl. Ia menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Cheryl, dengarkan baik-baik! Apa yang terlihat di video ini tidak seperti yang kamu bayangkan." ia berusaha memberi penjelasan.


Cheryl tertawa kecil. "Ya, mana ada orang salah mau mengaku. Terus saja mengelak!"


"Aku berani sumpah, hanya kamu wanita yang aku cintai, Sayang. Hubunganku dengannya hanya sebatas dokter dan pasien!"


"Oh, ya? Aku baru tahu ada dokter dan pasien sedekat itu." Cheryl tak mau percaya pada ucapan Arsen.


"Memang sulit untuk dijelaskan. Tapi, Dokter Diana sudah menganggapku seperti adik sendiri. Memang terkadang kita kelihatan sekat seperti itu tapi tidak macam-macam. Orang yang sengaja merekamnya pasti memang ingin membuat kita bertengkar. Aku sungguh-sungguh mengatakan ini."


"Untuk apa aku mempertahankan hubungan kita kalau sudah tidak mencintaimu? Bahkan statusmu yang sekarang telah menikah tak membuatmu menyerah karena kamu memintaku untuk percaya padamu."


"Aku sangat percaya jika kamu tidak menyukai lelaki itu meskipun kalian telah menikah. Apa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama padaku? Aku dan Dokter Diana tidak ada hubungan khusus."


Cheryl termenung sejenak. Ia rasa apa yang Arsen katakan ada benarnya. Arsen saja bisa percaya tentang perasaannya. Tidak adil jika ia terlalu curiga. Apalagi Arsen juga sempat mengeluarkan bukti-bukti hasil pemeriksaan kesehatan jiwanya.


Tidak seharusnya ia mempercayai perkataan Dinda. Wanita itu sejak awal punya niat buruk padanya. Dinda pasti akan senang jika hubungannya dengan Arsen rusak. Wanita itu akan mencari kesempatan untuk menjatuhkannya.


Arsen memberikan pelukan kepada Cheryl yang telah terlihat tenang. "Katakan padaku, siapa yang telah membuatmu jadi over thinking seperti ini? Kalau dia orang kantor, akan aku pecat dia!" tegas Arsen


Cheryl tak berbicara apa-apa.


"Tolong percaya padaku, ya! Aku sangat mencintaimu, Cheryl."


Ucan Arsen terdengar begitu tulus, membuat Cheryl kembali luluh. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa dipercaya, Ar! Aku harap kamu tidak akan mengecewakanku," katanya.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku tidak akan mengecewakanmu."


__ADS_2